Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Karena Aku Percaya


__ADS_3

Dion menegapkan tubuhnya, ia benar-benar menatap Zahra tanpa celah sedikit pun juga.


"Untuk apa melakukan itu?" tanya Kania.


"Aku sudah berulang kali meminta kamu untuk diam, jadi tolong diam."


"Kamu sampai melakukan ini padaku?"


"Aku gak perduli, kamu juga tak memperdulikan ku."


"Zahra, aku melakukan ini karena aku perduli sama kamu, sampai kapan kamu akan bertahan dalam keadaan seperti ini?"


"Bukan urusan kamu."


"Hey, kenapa jadi ribut seperti itu?" tanya Kania.


Zahra menoleh, ia diam beberapa saat menatap mertuanya itu, Zahra tidak mau perduli tentang apa pun yang sedang difikirkan Kania saat ini.


Tanpa berkata apa pun, Zahra pergi meninggalkan keduanya, saat ini Zahra tidak mau bicara lagi dengan mereka.


"Zahra," panggil Dion.


"Apa dia tidak waras?"


"Jaga bicara Tante, dia itu menantu Tante sendiri."


Dion turut pergi meninggalkan Kania, wanita itu hanya mengangguk saja melihat kepergian Dion.


Langkah kaki Zahra sepertinya tidak bisa terkontrol, kekesalan yang begitu menekannya sangat tidak bisa diajak kerjasama.


"Zahra," panggil Dion.


Sedikit pun Zahra tak ingin perduli dengan itu, bahkan meski berulang kali ia mendengar suara Dion memanggilnya.


"Zahra, awaas," teriak Dion.


Teriakan itu terdengar bersamaan dengan kerasnya suara klakson mobil, Zahra hanya memejamkan matanya tanpa berniat menghindar.


Biarkan saja, mungkin Zahra akan lebih tenang jika ia pergi menyusul kedua orang tuanya saja.


"Apa yang kamu lakukan?"


Perlahan mata itu kembali terbuka, Zahra melihat dirinya sendiri, ia masih baik-baik saja tanpa luka apa pun.


"Hallo."


Zahra menoleh, ia sedikit tersenyum melihat Bian, rupanya suara klakson itu berasal dari mobil Bian.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Dion.


Zahra menepis tangan Dion yang menyentuh pundaknya, ia berpindah ke samping Bian.


Mereka sama-sama menoleh saat Kania menghampiri, rupanya Kania masih berniat untuk mengusik mereka.


"Mama," ucap Bian.


"Apa kabar?" tanya Kania seraya tersenyum.


Bian mengernyit, ia melirik Dion dan Zahra bergantian, apa mungkin sejak tadi Kania ada bersama mereka.


"Benar sekali, apa yang kamu fikirkan pasti sesuai dengan keadaan saat ini," ucap Kania.

__ADS_1


Zahra melirik Bian, lelaki itu masih menatapnya sampai saat ini.


"Kamu belum pulang?" tanya Bian.


"Belum."


"Bagaimana dia pulang, dia sedang bahagia bersama selingkuhannya disini," sahut Kania.


Bian balik menatap Kania, bukankah itu cukup menjelaskan jika Kania sudah tahu beberapa hal tentang mereka.


"Kenapa, kamu tidak percaya, Mama lihat sendiri mereka begitu mesra di kursi sana."


"Benarkah?" tanya Bian.


"Tentu saja, kamu fikir Mama sedang berbohong?"


Bian berpindah menatap Dion, lelaki itu tampak tenang saja dengan posisinya.


Sepertinya Bian harus hati-hati, Dion pasti akan sangat cekatan dengan kesempatan sekecil apa pun.


"Sebaiknya kamu dengarkan Mama, sekarang juga kamu ceraikan saja dia, kamu tidak akan terima jika diselingkuhi bukan?"


"Tentu saja, tapi aku hanya akan mengusir lelaki ini saja."


Kania mengernyit, apa itu artinya Bian sedang membela Zahra saat ini, bagaimana bisa seperti itu.


"Aku yakin kamu cukup pintar dalam menilai keadaan, kamu cukup mampu mengontrol diri untuk tidak mengganggu Istri teman mu sendiri."


Zahra melirik Dion, tentu saja ia juga merasa jika Bian sedang membelanya, meski Zahra tidak tahu untuk tujuan apa Bian melakukannya.


"Bian, apa kamu sedang bercanda?" tanya Kania.


"Kamu terima meski dia ...."


"Dia tidak pernah selingkuh, sekali pun ada yang harus disalahkan dalam hal ini, dia orang yang tepat."


Bian sedikit menggerakan kepalanya untuk menunjuk Dion, Kania menggeleng, semua itu tidak bisa diterimanya.


Kania tidak habis fikir, kenapa bisa Bian begitu membela Zahra, padahal Kania sudah katakan semuanya dengan jelas.


"Ayo kita pulang," ucap Bian


"Iya."


Zahra melirik tangan Bian yang meraih tangannya, Zahra tahu itu hanya sesaat saja, tapi meski begitu Zahra tetap merasa senang.


"Tunggu," ucap Kania.


Bian yang hendak melangkah harus kembali diam, ia melirik Kania dengan sedikit rasa cemas, Bian tidak mau berdebat masalah Zahra lagi.


"Siapa Vanessa?"


Zahra merapatkan bibirnya seraya memejamkan matanya, sedangkan Dion justru tersenyum seraya mengangguk perlahan.


"Siapa Vanessa, apa kamu tidak dengar pertanyaan Mama?"


"Siapa dia?" tanya balik Bian.


"Kenapa kamu bertanya sama Mama, siapa Vanessa?"


"Dia selingkuhan mu?" tanya Dion.

__ADS_1


Bian menyipitkan matanya, jadi lelaki itu sudah mengatakan tentang Vanessa, bagus sekali itu artinya benar jika Dion memang berniat cari masalah dengannya.


"Siapa Vanessa, Bian?" tanya Kania.


"Dia rekan bisnis sewaktu aku masuk Kantor kemarin, tepatnya dia sekretaris rekan bisnis ku."


"Benarkah seperti itu, bukankah kamu menyukainya?"


"Mama tidak perlu bicara apa pun, ini bukan urusan Mama."


"Berarti itu benar?"


"Mama harusnya lebih percaya pada anak Mama sendiri," sela Zahra.


Mereka menoleh kompak, sejak tadi wanita itu hanya diam saja, tapi sekarang dia bicara lagi.


Tapi itu tak akan membuat Kania berhenti, sampai nanti ia mendapatkan jawaban yang sesuai dengan keinginannya.


"Mama harusnya lebih mengenal anak Mama, bagaimana mungkin dia melakukan hal itu, jika pun memang ada salah, pasti karena wanita itu yang membuat kesalahan."


"Kalian sedang berusaha saling membela?"


"Tidak, tapi itu memang keharusannya, seorang Ibu seharusnya bisa memberi kepercayaan penuh pada anaknya, dan tidak seharunya Mama percaya begitu saja dengan omongan orang lain tentang hal buruk dari anak Mama."


"Hebat sekali kalian, kompak memang, dan sepertinya memang akan sulit untuk bisa memisahkan kalian."


"Kita tidak akan pernah berpisah," ucap Bian.


Zahra diam, perlahan ia menunduk, dalam hati ia meminta agar Tuhan mencatat ucapan Bian, dan akan mengabulkannya juga.


"Kita tidak butuh kepercayaan orang lain dalam hubungan ini, karena yang menjalani ini hanya kita berdua."


"Meski kalian saling mengkhianati?" tanya Kania.


"Tidak akan ada pengkhianatan, kita akan saling menjaga," ucap Zahra.


Kania menarik dalam nafasnya dan menghembuskannya perlahan seraya berpaling, baiklah kali ini mereka boleh merasa menang, tapi lain waktu tidak akan lagi.


"Berhenti mengganggu Zahra," ucap Bian.


Dion hanya menggerakan alisnya untuk merespon kalimat Bian.


"Ayo kita pulang," ajak Bian.


"Iya," ucap Zahra.


"Permisi."


Bian membawa Zahra pergi meninggalkan Kania dan Dion di sana, sudah cukup, Bian akan muak sendiri dengan semua yang dilontarkan mulutnya itu.


Bagaimana bisa Bian begitu membela wanita di sampingnya, pasti itu akan membuat Zahra semakin besar kepala.


"Bian, aku ...."


"Masuk, jangan bicara apa pun lagi."


Zahra melihat tangan Bian yang melepaskan genggamannya, bukankah benar jika semua itu hanya sementara saja.


Bian memang masih melanjutkan sandiwara atas semua impiannya sendiri, dan Zahra masih harus mengikutinya juga.


Zahra mengepalkan tangannya yang sempat digenggam Bian, senyumannya menyembul meski sesaat saja.

__ADS_1


__ADS_2