Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Sebatas Mimpi


__ADS_3

Hujan kembali turun malam ini, guyuran deras itu terasa sangat mengerikan, cahaya petir dan sura guntur menambah seram malam kali ini.


Zahra terduduk di teras luar rumahnya, ia terdiam dengan lamunannya saat ini, makan dan minuman yang Bian siapkan di meja sampingnya tak disentuh sedikit pun juga.


"Zahra, kamu masih di luar," ucap Bian.


Zahra tak bergeming, seolah tak mendengar apa pun Zahra mematung dengan sempurna.


Bian memasangkan jaket ke pundak Zahra, wanita itu pasti sedang kedinginan sekarang.


"Kita masuk ya," ucap Bian jongkok di hadapannya.


Zahra tetap diam, bahkan melirik Bian pun tidak, Zahra sudah seperti mayat hidup dengan wajah pucatnya.


Kedua tangan itu diraih Bian, dingin sekali, bukankah itu artinya Zahra memang kedinginan.


"Ayo masuk, kamu tidak boleh seperti ini."


Bian bangkit dan menarik Zahra untuk bangkit juga, tapi Zahra menolaknya, ia tak ingin memasuki rumah itu lagi.


"Zahra, kalau memang ini menjadi waktu terakhir ku untuk bersama kamu, biarkan aku melakukan sebaik yang aku bisa."


Bian kembali menarik Zahra hingga berdiri, ia memapahnya perlahan, kaki Zahra begitu berat untuk melangkah, entah karena lemah atau memang tidak mau.


"Non Ayra, kenapa?"


"Zahra kedinginan Bi, bawakan air hangat ke kamar."


"Baik, Den."


Bian membawa Zahra menaiki tangga, itu tidak terlalu sulit hanya saja memang sangat lambat.


Bian ingin menggendongnya, tapi takut kalau Zahra justru akan kembali marah padanya, Bian harus berhati-hati dengan semuanya.


"Kaki kamu sakit, boleh aku menggendong mu saja?"


Tak ada jawaban, Bian menatap Zahra, kedipan mata itu begitu lemah, Bian merasa perasaannya seketika hancur.


"Zahra, aku minta maaf."


Bian menggendongnya untuk segera sampai ke kamar, tidak ada penolakan, bahkan sampai Bian membaringkannya Zahra tetap saja diam.


"Ini minumnya, Den."


"Terimakasih."


Bian menerimanya dan membantu Zahra untuk meminumnya, setelah gelas itu disimpan, Bian menyelimuti Zahra.


Tidak ada Inggrid sekarang, sehingga Bian bisa bergerak leluasa tanpa merasa terganggu oleh wanita tua itu.


"Bibi permisi, Den."


"Iya, Bi."


Bian diam hingga pintu itu tertutup, ia melirik.Zahra yang masih diam saja.

__ADS_1


"Tidurlah, aku akan menjaga mu malam ini."


Zahra memejamkan matanya, Bian tersenyum dan dengan ragu ia meraih tangan Zahra.


Senang sekali karena wanita itu tidak menolaknya, melihat Zahra yang seperti ini sedikit membuat Bian merasa ingin mengalah.


Bian mencium tangan itu lama, sekarang ia hanya bisa berharap pada Tuhan agar bisa mengembalikan kebaikan hati Zahra terhadapnya.


** "Aku tidak akan pergi selama kamu tidak menyuruh ku pergi, dan selama itu biarkan aku berjuang dengan cara ku sendiri." **


Kalimat Zahra itu masih jelas diingatan Bian, sekarang kalimat itu tidak lagi berlaku karena meski Bian menahannya, Zahra tetap ingin meninggalkannya.


** "Aku menyayangi mu, aku tidak tahu kapan persaan ku berubah tapi sekarang aku menyayangi mu, perasaan ku biar jadi urusan ku, kamu fokus saja pada keinginan mu sendiri." **


Bian sadar, ia terlalu senang dan merasa santai dengan semua perkataan Zahra yang membebaskannya.


Bian tak mampu menyadari jika Zahra tidak pernah main-main dengan perasaannya, sikap yang selalu menyepelekan Zahra telah menghancurkan Zahra dan membuat Bian menyesal sekarang.


** "Bian, pernikahan kita adalah keterpaksaan, dan segala sesuatu yang dipaksakan tidak akan menghasilkan hal baik." **


Bian menunduk pada tangan yang digenggamnya, puluhan kali Bian menyakiti Zahra, mengecewakan wanita itu, tapi bertahan juga yang berulang kali dilakukan Zahra.


** "Berhenti memperlakukan ku sesuka hati mu, aku juga memiliki perasaan yang ingin dimengerti." **


Bian kembali mencium tangan Zahra, ia ingat sewaktu dulu telah dengan sengaja menjepit tangan itu, Bian selalu saja kasar padanya.


Bentakan, caci maki selalu dilontarkan pada Zahra, Bian memang tidak punya perasaan sama sekali.


** "Aku harus menghamili mu, aku harus menyentuh mu malam ini." **


Genggaman Bian semakin kuat pada tangan Zahra, semua memori buruk itu terputar sempurna di benak Bian.


Jahat dan memang sangat jahat Bian terhadap Zahra, benar perkataan Inggrid, Bian telah sangat mensia-siakan wanita sebaik Zahra.


"Aku harus memohon seperti apa padamu, agar kamu percaya kalau aku menyesali semuanya," ucap Bian pelan.


Bian melepaskan tangan itu, ia berpindah duduk di sofa sana, Bian hanya akan mengganggu Zahra saja.


 -----


Zahra berjalan santai di jalan yang bahkan tidak dikenalinya sama sekali, ia berjalan seorang diri tanpa siapa pun yang menemaninya.


Kakinya terhenti saat melihat ikan-ikan cantik yang berenang bebas di sana, senyuman Zahra terpancar sempurna karenanya.


"Cantik sekali," ucap Zahra pelan.


Ia jongkok dan menatap ikan itu dengan lebih dekat, ingin sekali Zahra menangkapnya, tapi sayang itu terlalu sulit dilakukannya.


"Apa tidak orang sekitar sini, aku ingin menangkap ikannya."


Zahra melihat sekitar, ia tidak melihat siapa pun di sana, tempat asing itu tak membuatnya takut, tapi justru membuatnya teramat senang.


"Kemarilah, ayo ikut dengan ku pulang, aku akan merawat mu dengan baik," ucap Zahra mengulurkan tangannya.


"Zahra."

__ADS_1


Zahra menoleh, ia berdiri dan terdiam menatap Bian yang berjalan mendekatinya.


"Lihatlah, apa yang aku bawa."


Zahra tersenyum, kelinci putih kecil itu ada dalam dekapan Bian, Zahra pernah sangat menginginkan kelinci itu.


"Aaaa," jerit Zahra saat kelinci itu melompat dan kabur.


"Yaah," ucap Bian.


"Bian, lihatlah itu," ucap Zahra.


Bian menoleh, ia ikut tersenyum melihat ikan di sana.


Zahra melirik Bian sesaat, lelaki itu tampak menyukai ikannya juga, apa bisa Bian membawakan untuknya.


"Kamu bisa bawakan itu untuk ku?"


"Kamu mau?"


"Tentu saja."


Bian mengangguk, ia lantas jongkok dan mengulurkan tangannya ke air.


Bian nyaris saja tercebur karena kakinya yang terlalu depan, untunglah Zahra dengan sigap menahannya dan menariknya ke belakang.


"Aaww," eluh Bian yang jatuh terjengkang.


Zahra dengan sengaja menjatuhkan tubuhnya di samping Bian dan mengaduh juga.


Bian menoleh, ia heran dengan sikap Zahra, tapi kemudian keduanya tertawa, entah hal konyol apa yang terasa lucu tapi mereka tertawa lepas.


 


"Zahra," panggil Bian pelan.


Zahra mengernyit, ia bergerak saat merasakan sentuhan di pipinya.


"Zahra," panggil Bian lagi.


Mata itu perlahan terbuka, Zahra melihat Bian yang tersenyum padanya.


"Mimpi mu begitu indah?, kamu tersenyum berulang kali."


Zahra diam, mimpi, jadi semua itu hanya mimpi, ikan dan kelinci itu hanya mimpi.


"Maafkan aku mengganggu mimpi indah mu, tapi kamu harus makan dan minum obat, kamu ke kamar mandi dulu, biar aku bantu, sebentar."


Zahra menahan tangan Bian yang hendak pergi, Bian menoleh dan diam setelah sempat melihat tangannya.


"Aku sedang membenci mu, tapi mimpi indah itu justru bersama mu."


Bian mengernyit, jadi Zahra memimpikannya semalam, apakah itu bantuan Tuhan yang akan membebaskannya dari gugatan Zahra.


"Kenapa hal indah itu hanya dalam mimpi, aku hidup dalam kenyataan, tapi kamu tidak bisa seperti itu, apa selamanya aku hanya akan hidup dengan angan-angan?"

__ADS_1


__ADS_2