
Sintia dan Vanessa menikmati makanan yang dipesan Sintia tadi, kedunya tidak niat untuk tidur malam ini, karena besok Vanessa masih santai di rumah tanpa kesibukan kantor.
"Jadi, kamu menyukainya?" tanya Sintia.
"Entahlah, tapi sepertinya dia yang menyukai ku."
"Benarkah, bagaimana bisa kamu bicara seperti itu?"
"Karena dia begitu baik padaku, dia sangat memperhatikan aku, bahkan meski kita baru pertama kali bertemu dan bersama."
"Benarkah?"
Vanessa mengangguk pasti, bukankah itu yang dirasakannya selama bersama Bian, jadi memang itu yang akan dikatakannya tentang Bian.
"Sintia, tadi kamu sempat bicara kan sama dia, bicara apa?"
"Ya, tentu saja, aku mengingatkan dia agar tak perlu mempermainkan mu."
"Maksud kamu?"
Sintia diam, ia tersenyum seraya menggeleng, apa Sintia harus menjelaskannya sekarang juga.
"Sintia, kenapa, ada apa?"
"Makanlah dulu, kamu mau tenggorokan kamu sakit karena banyak bicara."
Vanessa menggeleng, ia meneguk minumannya dan sesekali memperhatikan Sintia.
"Kamu selamanya disini, gak ada niat pergi ke luar lagi?"
"Tidak, aku sudah bosan ada di luar, aku mau disini untuk sekarang."
"Apa karena Bian?"
Vanessa tersenyum, Sintia lagi yang mulai membahasnya, padahal Vanessa sudah melupakan itu.
"Kamu serius akan menerima dia mendekati kamu?"
"Kenapa, kamu suka juga sama dia?"
Sintia berdecak seraya melemparkan sedotan minumannya itu, Vanessa sedikit tertawa melihat wajah kesal Sintia.
"Gak apa-apa, kalau kamu suka juga, silahkan saja, mungkin Bian bisa suka juga sama kamu."
"Gak, enak saja, aku sudah punya kok."
"Seriusan, kamu punya pacar, siapa, kok gak cerita sama aku sih?"
"Heboh deh, kita juga baru bertemu sekarang, makanya aku kesini karena aku mau cerita."
Vanessa mengangguk, ia memukul lengan Sintia begitu saja, sejak dulu, Vanessa memang selalu saja ingin tahu tentang kisah asmara Sintia.
"Awas ya kalau kamu berisik."
"Gak, aku akan diam, aku akan simak cerita kamu dengan baik, ayo mulai."
Sintia menghembuskan nafasnya sekaligus, padahal mereka masih sibuk mengunyah, tapi Vanessa sudah ribut dengan hal lainnya.
"Ayo, Sintia."
"Sabar ah, aku masih ingin makan."
Vanesaa berdecak seraya berpaling, memang menyebalkan wanita itu, padahal Vanessa sudah sangat antusias akan ceritanya.
"Eh tapi, tunggu dulu, sepertinya aku masih ingin tahu, apa yang mau kamu katakan tentang Bian."
"Masih Bian?" tanya Sintia malas.
"Gak apa-apa ih, jangan-jangan kamu kenal ya sama dia sebelumnya?"
__ADS_1
Sintia seketika diam, tidak mungkin jika ia mengatakan lelaki yang selama ini diceritakannya adalah Bian.
"Benar kan, itu pasti benar, kamu sedang berbohong kan sama aku, pasti kekasih yang kamu maksud itu adalah Bian."
"Ih, ngaco."
Kali ini Sintia balik memukul Vanessa, mereka tersenyum bersamaan, lama-lama Sintia akan keceplosan juga tentang Bian dan dirinya.
"Baiklah, aku akan cari tahu sendiri nanti, aku tidak akan memaksa kamu untuk bicara sekarang, tenang saja aku ini pintar bukan?"
Sintia mendelik, percaya diri sekali sepupunya itu, padahal ia akan kecewa jika nanti tahu tentang siapa Bian nantinya.
"Jadi, mau cerita atau tidak?"
"Ya baiklah, sedikit lagi."
Vanessa mengangguk, ia anteng menikmati minumannya sambil menunggu Sintia selesai makan, waktu pertemuan mereka tidak boleh sia-sia hanya karena mengantuk saja.
"Baiklah, aku harus mulai dari mana?"
"Emmm, dari nama kekasih kamu itu, siapa dia, ayo katakan."
Sintia justru tertawa melihat wajah serius Vanessa, hal itu membuat Vanessa semakin kesal saja.
"Kamu percaya aku punya pacar?"
"Ya tadi kamu bilang kayak gitu."
"Tapi aku bohong, kasihan sekali kamu kena tipu."
Vanessa diam menatap kesal sepupunya itu, ketika Sintia kembali tertawa, dengan sengaja Vanessa menjejalinya dengan sisa makanan miliknya.
"Emmm."
"Rasakan, menyebalkan sekali."
"Apa, lebih baik aku tidur saja dari pada dengar omong kosong kamu."
"Iya maaf, gitu saja marah, sensitif sekali kamu ini."
"Mau cerita gak?"
"Iya, iya aku cerita, tapi bukan soal kekasih ku karena aku jomblo."
"Bohong."
"Lebih bohong kalau aku bilang aku punya pacar."
Vanessa kembali beranjak, Sintia seketika menariknya duduk kembali, Vanessa sempat menolaknya tapi Sintia lebih kuat darinya.
"Oke, santai sepupu, jangan emosian."
"Lepas."
"Iya, aku cerita, serius aku akan cerita."
"Soal apa?"
"Soal ...."
Vanessa mengernyit, ekspresi Sintia sangatlah membuatnya jengkel.
"Sintia."
"Hahaha .... Iya soal Bian."
Vanessa seketika diam, kenapa jadi Bian lagi, bukankah mereka sudah melupakan tentang lelaki itu.
"Aku serius."
__ADS_1
"Berarti benar kan, kamu sudah kenal dia sebelumnya?"
"Iya, tentu saja kamu benar."
"Jangan bilang kalau kamu mantannya, atau benar kamu menyukainya?"
"Benar sekali."
"Sintia," jerit Vanessa.
Sintia menahan tawa, kasihan juga Vanessa sampai prustasi seperti itu, tapi sebaiknya memang Sintia katakan semuanya sejak awal.
"Aku mau tidur."
"Gak bisa, dengarkan aku dulu."
"Aku gak mau."
"Kamu harus dengarkan aku."
"Aku gak mau."
"Bian sudah menikah."
Vanessa yang hendak bangkit, kembali diam, ia menatap Sintia dengan tidak percaya, bisa sekali Sintia berkata seperti itu.
"Ini sumpah, aku serius, gak bohong lagi."
"Aku gak percaya."
"Nama Istrinya Ayra, atau Zahra, itulah namanya Ayrazahra."
Vanessa balik tertawa, renyah sekali balasan tawa untuk kalimat Sintia kali ini, apa Sintia fikir Vanessa tidak mempertanyakan itu sewaktu dengan Bian.
"Tutup mulut mu, kamu sakit hati nanti."
Vanessa seketika diam, ia menutup mulut dengan punggung tangannya, bukankah itu terdengar seperti lelucon.
"Aku serius, mereka menikah sekitar dua bulan lalu, atau kira-kira sebulanan lebih belum sampai dua bulan."
"Ya, lalu?"
"Lalu kamu harus percaya, kamu tidak boleh melanjutkan pendekatan kalian."
"Emmm, lalu?"
"Vanessa, aku serius."
"Iya, aku dengarkan kamu dengan serius, tenang saja."
Sintia menyipitkan matanya, mana ada orang serius tapi senyum-senyum seperti itu, awas saja kalau nanti Vanessa nangis-nangis karena tidak percaya padanya.
"Lalu apa lagi, kenapa kamu diam?"
"Percuma, kamu sudah suka kan sama dia, kamu suka pada pandangan pertama, iya kan?"
"Ih kok kamu pintar."
Sintia menghembuskan nafasnya sekaligus, ia menunduk ke meja di depannya, tingkah Sintia membuat Vanessa kembali tertawa.
"Diam kamu, lelaki itu sudah menikah, kalau kamu tidak percaya, besok aku tunjukan kebenarannya, aku tahu mereka tinggal dimana."
Vanessa diam, kali ini perasaannya terasa harus mempercayai ucapan Sintia, apa benar semua itu, benarkah Bian sudah menikah.
"Lihat saja, kamu akan menyesal karena sudah mentertawakan aku."
"Kamu apaan sih, kalau kamu suka juga sama dia, kita bersaing saja, sehat, jangan kayak gini, kamu terkesan menjelekan Bian di depan aku."
Sintia kembali menghembuskan nafasnya sekaligus, ia menggeleng pasrah, terserahlah, Sintia akan buktikan ucapannya itu segera.
__ADS_1