Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Ini Sebentar Saja


__ADS_3

Dion merasa memang begitu mudah untuknya bisa mendekati Zahra, setiap kali ada niat untuk mendatanginya, Zahra selalu dengan mudah ada dipandangannya.


Sepanjang perjalanan, Dion berulang kali melirik Zahra, wanita itu hanya diam saja bertahan dalam lamunannya.


"Zahra, kamu baik-baik saja?"


Zahra menoleh, ia tersenyum seraya mengangguk.


"Kamu mau kemana?"


"Aku tidak tahu, kalau kamu ada urusan lain, turunkan saja aku disini."


"Ya aku memang harus kerja."


Zahra mengangguk, yang penting ia sudah berhasil keluar dari rumah, selebihnya biar Zahra sendiri saja melangkah.


Bukankah Zahra memang sedang butuh waktu untuk sendiri, tanpa harus ada yang mengganggu, itu akan lebih menyenangkan baginya.


"Zahra, aku sudah tahu semuanya."


"Dan lebih baik kamu tidak berkata apa pun tentang apa yang kamu tahu."


"Tapi kenapa?"


Zahra diam, kenapa apanya bukankah Dion sudah tahu semuanya, jadi untuk apa lagi bertanya kenapa.


Zahra melihat sekitar, mungkin saja ada yang menarik perhatiannya sehingga ia bisa turun di sana.


"Zahra."


"Berhenti disini saja, aku melihat Damar disana."


"Damar?"


Zahra menoleh, dan kembali memintanya untuk berhenti, Dion juga menurutinya tanpa banyak bertanya.


Zahra tersenyum, ia berterimakasih dan bahkan sangat berterimakasih pada Dion, lelaki itu sudah membantunya bebas.


"Kamu mau kemana?"


"Tenang saja, aku akan baik-baik saja."


Zahra keluar tanpa menunggu Dion bicara, ia tidak mau mendapatkan pertanyaan apa pun tentang masalahnya dengan Bian.


Dion masih bertahan memperhatikan langkah Zahra, nama Damar yang disebutkannya cukup membuatnya berfikir.


Zahra memang terlihat menghampiri seseorang di sana, apa itu yang disebut Damar, siapa dia, Dion ingin menyusulnya tapi ia harus segera kembali ke kantor.


"Lain waktu aku akan perjelas semuanya."


Dion melajukan mobilnya, ia akan hubungi Zahra untuk memastikan keadaannya nanti, pertemuan itu tidak menghasilkan apa pun, karena Zahra tidak mau bicara apa pun.


"Apa yang kamu cari?" tanya Zahra.


"Entahlah, aku hanya sedang iseng jalan saja, masih kerja malam jadi bosan di rumah."


Zahra mengangguk, kebetulan kedua yang cukup baik, setelah Dion sekarang ia bertemu dengan Damar.


Bisa saja Zahra sedikit berbicara dengannya, tanpa harus mengingat hal-hal pahit yang dialaminya.


"Kamu sengaja kesini?"


"Aku gak sengaja lihat kamu, aku juga cuma iseng jalan tadi."


"Jangan-jangan kita jodoh?"


Zahra mengernyit seraya menoleh, kalimat macam apa itu, sepertinya terlalu buruk untuk diucapkan.


"Lupakan, aku hanya bercanda."


"Tentu saja aku akan melupakannya."


Damar mengangguk, keduanya berjalan dalam diam, sama-sama tak memiliki tujuan, mereka hanya melangkah menyusuri jalanan.


Damar sesekali melirik Zahra, wanita itu masih tampak murung, mungkin saja memang ia masih memikirkan semuanya.

__ADS_1


"Gimana kabar Bu Inggrid?"


"Oma, baik-baik saja, dia sedang sibuk sekarang."


"Keadaan mu sendiri, luka mu bagaimana?"


"Sudah sembuh, tenang saja aku baik-baik saja."


"Oke."


Mereka kembali diam, memang sedikit canggung, Damar takut salah berbicara untuk membuka topik bersama Zahra.


Dan sepertinya Zahra memang sedang tidak ingin banyak bicara, tidak masalah, Damar akan menemaninya saja, menjawab jika diajak bicara dan diam jika didiamkan.


"Damar, bagaimana keadaan Ibu mu?"


"Ibu ku sudah tidak ada, aku tidak tahu dia dimana."


"Maksud aku, Ibu tiri mu, maafkan aku."


Damar tersenyum seraya mengangguk, tentu saja ia paham, tapi biarkan saja agar pembicaraan mereka bisa sedikit panjang.


"Aku belum menjenguknya, tapi semoga saja dia lebih baik sekarang."


"Lalu Ayah mu?"


"Dia selalu ke Rumah Sakit, dia juga kadang tidur disana."


Zahra mengangguk, apa sebaiknya Zahra temui mereka, tapi tidak, Zahra tidak mau terluka lagi saat bertemu wanita itu.


Lukanya masih ada, mana mungkin harus ditambah lagi, itu terlalu mengerikan baginya.


"Zahra, kamu mau belanja sesuatu?"


"Belanja apa?"


"Sepertinya ada toko buah disana."


"Boleh."


Mereka tampak memilih apa yang memang diinginkannya, semua tampak segar dan pasti enak kalau dimakan.


"Aaa apa ini," ucap Damar sedikit berteriak.


Zahra dan penjaga tokonya tampak kaget dan segera menghampiri.


"Ada apa?" tanya Zahra.


"Ini apa ini?"


"Apa sih?"


Zahra semakin mendekat dan melihat apa yang ditunjuk Damar, ia seketika menjerit saat Damar melemparkan kecoa padanya.


Damar balik tertawa, begitu juga dengan penjaga tokonya, melihat Zahra yang kaget dan berlari menjauh cukup membuatnya terlihat lucu.


"Kenapa kalian tertawa?"


"Kamu takut?" tanya Damar.


"Gak, aku hanya kaget saja."


"Benarkah?"


Damar tampak mengambil kecoanya lagi, itu memang bangkai jadi Damar berani menyentuhnya.


Zahra menggeleng dan segera menjauh saat Damar mendekatinya, apa yang mereka lakukan, mereka malah bercandaan dengan kecoa itu.


Penjaga toko hanya bisa tersenyum melihat tingkah dua orang itu, nasib buah-buahnya terabaikan begitu saja.


"Menjauh, jorok sekali," ucap Zahra seraya mendorongnya.


Dorongan itu membuat Damar terjengkang dan kaget sendiri karena kecoanya terlempar ke wajahnya sendiri.


Zahra balik mentertawakannya, kenapa dengan lelaki itu, aneh sekali, Zahra menggeleng dan mengambil asal buahnya.

__ADS_1


"Mbak, Mbak bayar ini sekarang, cepat."


"Baik."


Ia mengambil buahnya dan segera menghitungnya, Zahra tersenyum melihat Damar yang datang dengan membawa buah pilihannya.


"Perlu aku yang bayar?" tanya Damar.


"Ah tidak, aku bawa uang juga."


"Baiklah."


Setelah selesai, mereka lantas keluar, Damar sempat menoleh dan mencari keberadaan penjaga toko itu.


"Kenapa?" tanya Zahra.


"Mbak, lain kali tolong bersihkan tempat mu, jangan sampai ada kecoa lagi."


Zahra mengernyit, mereka tersenyum bersamaan, Zahra menarik Damar agar segera pergi saja.


Penjaga toko itu menggeleng, ia bergerak mengikuti permintaan Damar, memeriksa mungkin saja ada binatang lainnya lagi.


"Kamu sudah makan?" tanya Damar.


"Sudah, tapi sepertinya aku lapar lagi."


"Aku ada tempat makan enak, tapi pinggir jalan bukan Restoran mewah."


Zahra berdecak seraya menggeleng, apa maksud perkataannya itu, kenapa terdengar mengejek sekali.


Damar tiba-tiba saja menarik tangan Zahra, membawanya berlari menyebrangi jalan, tanpa sempat berfikir, Zahra ikut saja karena ia melihat laju kendaraan sedang ramai.


"Oke maaf," ucap Damar melepaskan tangan Zahra.


"Jadi, kita makan dimana?"


"Ikuti aku saja, tidak jauh dari sini, kamu tidak akan sampai kelelahan."


Zahra mengangguk, ia melihat sekitar, entah dimana Zahra sekarang, tapi yang jelas Zahra jauh dari rumah.


Semoga saja tidak ada yang melihatnya selama di luar, Zahra ingin bebas tanpa pertanyaan atau perdebatan berarti.


"Hey, bukankah kita membeli buah, kenapa kita tidak makan saja?" tanya Bian.


"Belum juga dicuci."


"Kamu beli buah apa?"


"Apel."


"Baiklah, aku beli jeruk, kita bisa makan buah yang ku beli."


Damar mengeluarkan jeruknya, ia hanya mengambil satu dan membukanya sendiri, Zahra mengernyit, bukankah yang akan makan itu kita, tapi kenapa Damar cuma membawa satu saja.


Zahra berpaling sesaat, dan ia kembali menoleh saat Damar memberikan sebagian buahnya yang sudah dikupas.


"Makanlah, ini tidak perlu dicuci, tidak akan beracun."


"Baiklah, terimakasih."


Damar mengangguk, mereka melahapnya bersamaan, Damar yang berniat diam ternyata tidak bisa, karena sepanjang perjalanan Damar terus saja mengajak Zahra berbicara.


Kalimat demi kalimat yang Zahra dengar, nyaris semua lelucon, Damar menceritakan hal-hal konyol, sehingga berkali-kali membuat Zahra tersendak.


"Apa kamu tidak bisa diam?" tanya Zahra kesal.


Ia tidak bisa fokus menghabiskan jeruknya, karena terus saja tertawa dan terganggu karena tersendak.


"Ayolah, nikmati waktu bahagia, keadaan akan berubah setiap detiknya, kamu harus menikmati saat ini, saat kita tertawa."


Zahra diam menatap Damar, langkah keduanya melambat, Damar benar, Zahra harus menikmati waktu bahagianya.


Damar dengan sengaja menggoda Zahra, ia menarik turunkan alisnya, mengedipkan sebelah matanya, lengkap dengan senyuman manisnya.


Zahra berdecak, tanpa perasaan ia menjejali mulut Damar dengan sisa jeruk di tangannya, keduanya tertawa bersamaan.

__ADS_1


Damar mengangguk, ia lebih dulu menghentikan tawanya, ia tersenyum melihat Zahra yang masih saja tertawa karena ulahnya sendiri.


__ADS_2