
Bian menarik bangkit Zahra, ia balik mendorong wanita itu seperti apa yang sempat dilakukannya terhadap Bian.
"Aaw," eluh Zahra pelan.
Ia menyentuh keningnya yang membentur tembok tersebut, ingin sekali Zahra menangis, tapi bukankah itu percuma.
Air matanya tak akan berpengaruh apa-apa untuk menghentikan Bian, tidak ada gunanya sama sekali.
"Kenapa diam saja, bukankah kamu sudah merasa hebat sekarang?"
Zahra meringis, cengkraman Bian di lengan kanannya sangat kuat.
"Ada apa, kenapa sepertinya kamu kesakitan sekali."
"Lepas, tidak waras."
"Sudah berapa kata yang kamu lontarkan untuk mengatai ku, siapa yang tidak waras sebenarnya?" bentak Bian.
Zahra menelan ludahnya, keras sekali benatakannya, Zahra bisa tuli jika terus seperti ini.
"Jawab, kurang ajar."
"Lepas, aku bilang lepas," jerit Zahra.
Dengan kuat ia menginjak kaki Bian, dan segera pergi, tapi hanya dua langkah saja Zahra harus kembali terjatuh karena Bian yang menjegal langkahnya.
Zahra diam di lantai sana, kedua lututnya terasa begitu sakit, Zahra memejamkan matanya menahan cairan bening itu agar tak sampai keluar.
"Bagaimana, mau aku lakukan apa lagi sekarang?"
Tak ada jawaban, Bian kembali mendekat dan menarik Zahra bangkit.
"Setelah ini, aku peringkatkan kamu agar lebih berhati-hati saat bertingkah."
"Lepas, fikirkan saja itu juga berlaku untuk mu, kamu tidak akan bisa selamanya seperti ini, kamu akan malu sendiri nanti."
"Benarkah, apa itu ancaman untuk ku?"
"Bukan, tentu saja bukan, tapi itu janji yang akan jadi kenyataan, lepas."
Bian mengangkat kedua tangannya, ia begitu saja melepaskan Zahra, keduanya terdiam dengan tatapan satu sama lain.
Zahra akan buat Bian malu dengan semua tindakannya, lelaki itu akan menyesali semuanya dalam keadaan yang sangat terlambat.
"Ayra," panggil Inggrid.
Keduanya melirik pintu, wanita itu tua itu mungkin sudah mendengar keributan keduanya sejak tadi.
"Ayra, kamu sudah makan?"
__ADS_1
Zahra melangkah, tapi lagi-lagi Bian menahannya, ia menarik Zahra mundur menjauhi pintu.
Zahra berdecak, ia menarik tangannya dari tahannya Bian, sudah cukup, Zahra akan diam lagi.
"Ayra."
"Ya, Oma."
Zahra kembali melangkah dan membuka pintu, Bian hanya bisa mengusap wajahnya untuk menahan amarahnya.
"Kenapa?"
"Kamu yang kenapa, ada apa kalian ribut seperti itu?"
"Aku mau pergi jalan-jalan tapi dia menghalangi ku."
"Jalan-jalan, bukannya kamu sedang sakit?"
"Tidak, aku hanya malas saja terus menerus diperlakukan tidak baik disini, lebih baik aku pergi saja."
Bian menoleh, ia mengepalkan kedua tangannya, sengaja sekali Zahra berkata seperti itu pada Inggrid.
"Kenapa kamu seperti itu?" tanya Inggrid.
Bian membuka kembali kepalan tangannya, ia menunduk sesaat tanpa berani menjawab pertanyaan Inggrid.
"Oma, sebaiknya Oma fikirkan lagi untuk memberikan perusahaan padanya, atau semua itu akan hancur tak berarti lagi."
"Entahlah, aku merasa jika keadaan ini salah, aku mau jalan-jalan, jadi biarkan aku pergi."
"Silahkan saja, siapa yang melarang mu."
Zahra mengangguk, ia pergi begitu saja meninggalkan keduanya, tak ada kalimat apa pun lagi untuk Zahra, karena Inggrid justru berbalik mendekati Bian di dalam sana.
"Kenapa Oma biarkan dia pergi?"
"Lalu harus bagaimana, Oma harus biarkan dia tertekan karena perlakuan kasar kamu?"
"Dia sendiri yang kurang ajar, dia berani menampar ku, apa itu harus dibiarkan?"
"Berapa kali kamu membentaknya, apa kamu fikir itu tidak mengecewakannya, Oma akan fikirkan perkataan Ayra, kamu tidak akan bisa lagi mengurus perusahaan."
"Apa maksudnya, untuk apa mendengarkan dia, dia tidak tahu apa-apa."
"Dia tidak tahu apa-apa soal perusahaan, tapi dia tahu jika dia harus melindungi diri dan perasaannya sendiri, kamu ceraikan saja dia, lupakan semua perjanjian kalian."
Bian diam, perjanjian apa, dari mana Inggrid tahu perihal perjanjian, bukankah hanya Bian dan Zahra saja yang tahu, selebihnya hanya Dion yang sedikit tahu.
"Tidak perlu banyak berfikir, mulai besok kamu tidak perlu lagi ke Kantor, Oma akan kembalikan tugas itu pada orang lain saja, ternyata orang asing lebih bisa dipercaya dari pada Cucu Oma sendiri."
__ADS_1
"Apa-apaan ini, mudah sekali Oma mengikuti perkataan wanita itu."
"Karena dia wanita kesayangan Oma, jadi jangan berani lagi kamu sakiti dia, Oma sudah diam sejak tadi mendengarkan semuanya, dan Oma mau mengikuti permintaan Zahra, kamu lepaskan dia dan semua keinginan kamu terhadap perusahaan."
"Oma."
"Diam."
Inggrid berlalu meninggalkannya, masalah itu ada karena dirinya sendiri, Inggrid sudah membuat syarat bodoh atas perusahaan itu, dan sekarang wanita tak tahu apa-apa harus jadi korbannya.
"Oma, Oma tunggu dulu, aku tidak akan bisa bekerja kalau perusahaan itu diberikan pada orang lain, aku akan mengurusnya dengan baik, Oma."
Inggrid tak merespon, ia terus berjalan meski terus diikuti Bian, Inggrid akan fikirkan ulang semuanya jika Bian mau berubah.
"Oma, apa Oma tidak mendengar ku?"
"Apa, dengar apa?"
"Oma jangan begitu saja menuruti Zahra, dia akan besar kepala nantinya."
Inggrid berbalik, Bian seketika menghentikan langkahnya, ia diam tanpa menghindari tatapan Inggrid.
"Kamu bicara apa, besar kepala kamu bilang, lihatlah dirimu sendiri, baru beberapa hari memimpin perusahaan, mainan mu sudah wanita saja, apa itu tidak besar kepala?"
"Oma aku sudah bilang, aku akan jauhi dia, aku akan lupakan dia."
"Untuk apa, kalau kamu tetap tidak bisa menghargai Istri kamu, semua itu tidak ada gunanya."
"Oma, aku tidak ...."
"Perlakukan Istrimu dengan baik, maka kamu bisa mendapatkan apa yang kamu mau, jika kamu tidak mampu, terima saja apa yang bisa kamu dapatkan dari itu."
"Oma, aku ...."
"Diam, berhenti berbicara dan mulai berfikir, apa kamu merasa masih sangat muda untuk bersikap seperti itu?"
Bian diam, ia berpaling sesaat, harus bagaimana lagi, Bian memang tidak suka dengan istrinya itu, dan Bian tidak bisa terus menerus berpura-pura, apa lagi sekarang Inggrid sudah tahu keadaannya.
"Oma masih disini, dan selama Oma hidup, kamu tidak bisa kasar lagi pada Zahra, kamu harus ingat itu."
Bian tak lagi menyusul kepergian Inggrid, ia diam saja dengan segunung emosinya, Zahra benar-benar pembawa sial, sepertinya Bian menyesal karena telah memaksa menikah dengan wanita itu.
"Dia juga tidak akan mendapatkan apa-apa, rumah ini akan tetap menjadi milik ku, lihat saja hidupnya akan sia-sia."
Bian sedikit tersenyum seraya mengangguk, jika Zahra bisa berubah fikiran dan sampai merubah fikiran Inggrid, Bian juga bisa merubah semuanya.
Zahra akan kembali kehilangan semuanya, jika Bian juga kehilangan semuanya, Bian tak perduli dengan keegoisannya sendiri, selama Bian bisa tentu akan dilakukan.
"Kemana wanita itu sekerang, apa dia menemui selingkuhannya."
__ADS_1
Bian mengeraskan rahangnya, ia lantas berjalan keluar dari rumah.