Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Kini, Aku Berbeda


__ADS_3

Kala malam datang, Kemal dan Kania datang untuk menemui Zahra, tepat sekali karena saat ini Zahra sedang bersantai bersama dengan Inggrid.


Kemal bertepuk tangan melihat betapa tenangnya wanita itu, seperti tidak ada beban sama sekali, hidupnya teramat penuh kemenangan.


Zahra dan Inggrid menoleh bersamaan, keduanya saling lirik untuk beberapa saat, hingga Zahra bangkit dan mengulurkan tangannya.


"Sudah merdeka hidup mu?" tanya Kemal.


Zahra sedikit mengangguk, tangannya kembali turun, Zahra masih berniat sopan pada mereka, tapi jika tidak diterima lagi, terserah.


"Senang kamu sekarang?" tanya Kemal.


"Iya."


"Puas?"


"Tentu saja."


Kemal mengangguk, ia melirik Inggrid dan Kania bergantian, bagus sekali, mereka bisa mendengar dengan jelas.


"Aku minta maaf karena sudah mengecewakan kalian, tolong maafkan aku."


"Bebaskan Bian sekarang," ucap Kania.


"Aku tidak bisa."


"Apa sebenarnya yang kamu inginkan, kamu mau rumah ini?"


"Tidak."


"Jangan bermain-main dengan kami," sela Kemal.


Zahra berpaling sesaat, mereka tidak pernah perduli dengan perasaan Zahra bahkan sejak awal.


Dan hingga saat ini pun mereka tetap tidak mengerti, mereka tidak mengerti betapa Zahra juga berat melakukan semua itu.


"Sandiwara mu memang terbaik, Zahra."


"Kamu berhasil menipu kami semua dengan sikap polos kamu itu."


Zahra diam, ia menatap suami istri itu bergantian, sandiwara apa, Zahra tidak pernah berniat membohongi mereka, Zahra hanya mengikuti keinginan Bian saja.


Dan sekarang, meski Zahra menyesal pun, tidak akan ada gunanya, Zahra tidak akan bisa memutar waktu kembali ke awal ia bertemu Bian.


"Tidak bisakah kalian duduk dulu, baru kalian bicara?" tanya Inggrid yang akhirnya bangkit.


"Mami duduk saja, dan dengarkan kami bicara," ucap Kemal.


"Mami selalu saja membela wanita itu," tambah Kania.


Inggrid melirik Zahra sekilas, sejak wanita itu datang, Inggrid langsung merasa harus membelanya.


Dan itu memang sudah terbukti benar, Zahra memang harus dibela dalam berbagai hal, termasuk saat menghadapi mereka.


"Untuk apa kamu begitu membela Bian dari lelaki itu, dengan keras kepala kamu ingin membela Bian dari jerat hukum lelaki itu."


"Aku sudah katakan jika itu adalah keharusannya."


"Tapi apa yang kamu lakukan sekarang, kamu fikir kamu paling pintar?" tanya Kania.

__ADS_1


"Bukankah itu benar?" tanya balik Zahra.


Inggrid diam, fokus memperhatikan Zahra, wanita itu terlihat lebih berani dalam berbicara.


Ia yang selalu berfikir berulang kali sebelum berbicara, kini sepertinya tidak lagi, Zahra begitu mudah mengatakan apa yang ada difikirannya.


"Kamu sengaja melakukan ini, kamu membuat dirimu menjadi pahlawan penyelamat Bian dari lelaki itu, tapi pada akhirnya kamu yang mencelakainya?"


"Tapi aku berhasil membuktikan kalau aku bisa selamatkan Bian dari lelaki itu."


"Tapi itu gak ada gunanya, kalau akhirnya kamu melakukan ini semua!" bentak Kania.


Zahra memejamkan matanya sesaat, tidak, Zahra tidak boleh terbawa emosi, biarkan saja mereka mau membentak dan memakinya sekali pun.


Tapi Zahra juga tidak akan mengalah untuk kali ini, Zahra akan membela diri dari siapa pun yang tidak menghargainya.


"Bebaskan Bian."


"Aku gak bisa."


"Apa alasannya, jangan kurang ajar kamu."


"Bicara baik-baik padanya," ucap Inggrid.


Zahra diam, kalau mereka terus ribut, kasihan Inggrid, wanita tua itu pasti akan merasa pusing dan tertekan.


Dan pasti Zahra lagi yang akan disalahkan oleh mereka, tapi untuk meminta Inggrid pergi pun tidak akan ada hasilnya, karena pasti akan menolaknya.


"Bebaskan Bian, kamu dengar, kamu bisa ambil rumah ini kalau memang itu tujuan mu yang sebenarnya," ucap Kemal.


"Rumah ini memang tujuan ku, pernikahan ku dengan Bian adalah untuk mengembalikan hak ku atas rumah ini."


Zahra menggeleng, tidak sedikit pun Zahra ingin menuruti mereka, Zahra hanya akan mengikuti pemikirannya sendiri.


"Aku memang menginginkan rumah ini, semua perjanjian aku dan Bian adalah untuk rumah ini, tapi Bian sudah melanggar semua perjanjian yang telah dibuatnya sendiri, bagaimana bisa aku menerima itu."


Mereka diam, mungkin memang seharusnya untuk Zahra ceritakan semua tanpa ada yang terlewat.


Mereka harus tahu seberapa berat hidup Zahra setelah menikah dengan Bian, semua terasa lebih berat dari kehilangan orang tuanya.


"Apa kalian tahu, Bian memaksa ku menikah dengannya untuk mendapatkan perusahaan, dengan imbalan rumah ini kembali padaku, dia membuat perjanjian yang mengharuskan aku menuruti dia, tidak boleh menuntut apa pun, tidak boleh menyentuhnya sedikit pun, tidak boleh mengaturnya, melarang atau memerintah itu haram untuk ku, dan aku meminta semua dari perjanjian yang dibuat Bian berlaku juga atas diriku."


Tak ada yang berbicara, mereka benar-benar mendengarkan Zahra saat ini, itu cukup memudahkan Zahra untuk berbicara dengan tenang.


Terserah apa yang akan mereka fikirkan nanti, yang terpenting sekarang, Zahra bisa selesaikan semua kalimatnya.


"Apa kalian tahu kalau Bian melanggar semuanya, aku tidak pernah menuntutnya tapi dia selalu menuntut ku, aku tidak pernah memaksanya tapi dia memaksa ku, aku tidak pernah menyentuhnya tapi dia berani menyentuh ku, aku tidak pernah kasar padanya tapi dia selalu saja kasar padaku, ucapannya dan semua perlakuannya tidak pernah baik padaku, apa kalian tahu itu?"


Inggrid tampak berpaling, memang hanya Inggrid yang tahu itu, dan itulah sebabnya Inggrid tidak bisa marah saat kecewa pada Zahra.


Berbulan-bulan dengan Bian, Zahra memang hanya mendapatkan luka, mungkin sudah sepantasnya untuk Bian mendapatkan balasan saat ini.


"Kalian tahu, aku tidak bisa hidup tenang selama bersama lelaki itu, aku tidak memiliki kebebasan untuk hal apa pun, semua dibatasinya, semua dalam aturannya tapi dia tidak pernah menghargai aku, sampai kapan aku harus diam?"


"Ayra," panggil Inggrid.


"Mama ingat, Mama pernah minta diberikan cucu pada Bian, bukankah Mama tidak tahu jika selama itu Bian tidak pernah menyentuh ku, tapi saat Mama meminta permintaan itu, Bian melanggar aturan yang aku minta, dia menyentuh ku dengan paksa, apa aku bisa rela dengan itu?"


Jantung Zahra mulai bergemuruh, semua bayangan buruk atas perlakuan Bian kembali menari indah diingatan Zahra.

__ADS_1


Bisakah Zahra tetap tenang sekarang, emosinya tidak akan stabil jika Zahra ingat semua kesakitannya.


"Kalian tahu pernikahan kami hanya sandiwara, tapi Bian melupakan semuanya, dia setuju untuk tidak melarang ku dekat bahkan menyukai lelaki lain, tapi dia melarang ku, lalu apa yang dia lakukan, dia bersama wanita lain tanpa perduli dengan ku, dia melakukan semua dengan wanita itu di depan mata ku, aku masih harus diam?"


"Zahra," panggil Inggrid.


"Aku tidak pernah meminta apa pun, aku hanya selalu mengingatkan agar Bian menghargai aku, tapi apa yang aku dapat, amarah, bentakan Bian, makian Bian, dan semua kekerasan yang dilakukannya, sampai kapan aku diam?"


Nafas Zahra mulai memburu, ketenangannya semakin menghilang, diam mereka tetap saja menjadikan emosi Zahra mudah memuncak.


Inggrid bergerak mendekati Zahra, ia mengusap pundaknya, tapi Zahra menepisnya, tak perduli etika, Zahra hanya ingin mereka tahu semua.


"Aku memohon di depan lelaki itu, demi bisa menyelamatkan Bian dari hukuman yang diancamkan, aku datang ke rumah lelaki itu, sampai aku terluka, apa kalian tahu kalau aku nyaris mati disana hanya untuk membela Bian, tapi kalian tahu apa yang dilakukannya disini?"


Tak ada yang menjawab, bahkan Inggrid yang mengetahui itu pertama kali pun hanya diam saja.


Tidak ada gunanya memotong kalimat Zahra, biarkan saja ia meluapkan semuanya, deritanya sudah terlalu berat dan lama tertahan.


"Kalian tahu apa yang dilakukannya disini, Mama tahu atau Papa tahu?"


Mereka tetap saja diam, Kania memang sudah mendengar semuanya dari Inggrid, tapi mulutnya cukup kaku untuk menjawab Zahra sekarang.


"Kalian tahu saat aku nyaris mati disana, Bian justru bercumbu dengan wanita itu disini, disini apa kalian tahu itu?" bentak Zahra.


Bibirnya rapat, Zahra tidak boleh menangis, ia mengerjap berusaha menghilangkan embun yang menghalangi penglihatannya.


"Dan kalian tahu, sampai Bian sadar dengan keberadaan ku, dia masih tidak memperdulikan ku, dia justru membela wanita itu, dia panik dan pergi untuk menyelamatkan wanita itu, padahal aku disini terluka dan dia tahu itu tapi dia tidak perduli, apa aku masih harus diam?"


"Zahra sudah," ucap Inggrid.


"Bian pantas mendapatkan hukuman saat ini, jangan berani memaksa ku untuk merubah keputusan ini, kalian tidak punya hak untuk itu."


"Zahra ...."


"Papa diam."


Kemal mengernyit, benarkah wanita itu berani kurang ajar padanya, bagaimana bisa Kemal terima semua itu.


Zahra melirik Kania, sesaat wanita itu baik padanya, tapi sekarang semua kembali buruk, itu terlalu menyedihkan bagi Zahra.


"Kalian membenci ku, silahkan saja, kalian mau mengusir ku dari sini, silahkan saja, kalian mau melaporkan ku balik dan mengurung ku seperti Bian, silahkan saja, tapi aku tidak akan membebaskan Bian selama aku mau melihatnya di sel tahanan."


"Tutup mulut mu itu."


"Sebaiknya Papa yang tutup mulut, aku bukan menantu harapan kalian, apa kalian tidak tahu kalau Bian juga bukan suami harapan, dia bukan yang aku inginkan tapi dia berani menyiksaku disini, siapa yang sebenarnya yang harus diam?"


Inggrid menggeleng, Zahra akan semakin kehilangan kontrol jika terus dibiarkan seperti itu, Kemal tidak akan bisa menerima tentangan Zahra.


Sebenar apa pun Zahra saat ini, dia tetap akan kalah jika harus mengahadapi sifat keras Kemal.


"Kalian tahu ...."


"Zahra diam, sudah cukup," ucap Inggrid seraya memukul bibir Zahra.


"Kalian berdua pulang, tidak perlu datang lagi kesini, cepat pulang."


Mereka semua diam, sangat menjengkelkan bagi Kemal, Inggrid benar-benar keterlaluan dalam penilaiannya.


Ia terus saja membela wanita kurang ajar itu, bahkan setelah Inggrid mendengar dan melihat semuanya.

__ADS_1


__ADS_2