
Zahra berjalan-jalan dikeramaian pusat perbelanjaan, sejak bertemu Kania kemarin keadaan baiknya seketika menghilang dan enggan untuk kembali.
Zahra muak dengan keadaan seperti itu, malam ini Zahra memilih pergi setelah puas berpusing dengan pekerjaannya.
Ya, Marvel memang membuatnya bekerja keras bahkan dihari libur sekali pun, lelaki itu sangat menyebalkan bagi Zahra saat ini.
"Terimakasih, Mbak."
"Sama-sama."
Zahra seketika menghentikan langkahnya saat berpapasan dengan Sintia di sana, ia berpaling dan bergegas pergi.
"Ayra," panggil Sintia.
Zahra tak perduli, ia terus berjalan menyusuri jalan yang lumayan kosong.
"Ayra, tunggu dulu, aku akan terus mengikuti mu sampai kamu berhenti."
Zahra menunduk seraya memejamkan matanya, sesaat kemudain Zahra kembali fokus pada langkahnya.
Zahra ingin mendapatkan ketenangan, ia keluar untuk mencari sedikit hiburan, tapi kenapa di sana Zahra justru bertemu dengan Sintia.
"Ayra."
"Mba, ada yang panggil."
Tentu saja Zahra menghentikan langkahnya, saat seseorang menahan bahunya, Zahra menghembuskan nafasnya pasrah.
Orang asing itu lantas pergi setelah membuat keduanya bertemu, Zahra menoleh saat Sintia berdiri di hadapannya.
"Disini memang ramai, tapi tidak mungkin jika kamu tidak mendengar suara ku."
"Kamu benar, aku memang sedang pura-pura saja."
"Ayra, aku ....."
"Jangan bicara, bahasan mu tidak mau aku dengar."
"Zahra."
Keduanya menoleh, Zahra sedikit berdecak seraya berpaling, ada apa ini, apa Zahra tidak bisa tenang sedikit saja.
Setelah Sintia yang gagal dihindarinya, kini ditambah lagi dengan kedatangan Vanessa, bisakah Zahra lari saja dari keduanya.
"Kamu disini juga?" tanya Sintia.
"Seperti yang terlihat," ucap Vanessa.
"Kalian bisa bersama sekarang, maaf aku ada urusan."
__ADS_1
Zahra segera beranjak dari tempatnya, tapi dua orang itu menahan kedua tangan Zahra.
Zahra tersenyum kesal, bukankah mereka bisa menikmati waktu berdua saja, tanpa harus melibatkan Zahra.
"Jangan menghindar, bukankah sekarang kamu sudah jadi pemberani?" tanya Vanessa.
"Lepas," ucap Zahra setenang mungkin.
"Aku tidak akan menuruti mu, semakin kamu menghindar, semakin juga aku akan menahan mu."
Zahra mendelik, ia menunduk sesaat, dan menarik kedua tangannya, tapi mereka menahannya dengan kuat.
"Oke lepas, aku tidak akan kemana-mana, jangan khawatir."
"Apa bisa kami percaya pada pembangkang seperti mu, kamu bukan wanita lugu lagi sekarang."
Zahra menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya perlahan, apa mereka sedang cari ribut sekarang.
Zahra tidak perduli akan jadi tonton di sana, tapi yang jelas Zahra tidak akan mengalah pada mereka berdua.
"Lepas, aku bilang lepas, kalian tahu aku pembangkang sekarang, aku bukan wanita lugu lagi, jadi lepas sebelum aku berontak dengan cara yang tidak baik, kalian akan malu, bukankah kalian masih memiliki gengsi yang tinggi?"
Sintia dan Vanessa saling lirik, keduanya melepaskan tangan Zahra bersamaan.
Zahra mengusap tangannya bergantian, ia terlihat sangat angkuh dimata Sintia dan Vanessa.
"Ada apa?" tanya Zahra.
"Dan seharusnya kalian juga tahu, aku tidak mau mendengar apa pun dari kalian."
"Zahra, sudahlah cukup, kita bisa bicara baik-baik sekarang," sela Sintia.
"Lalu ada apa, aku sudah bilang kalau aku ada urusan, apa itu terlalu sulit untuk kalian mengerti?"
"Besar kepala sekali," ucap Vanessa.
"Bukankah aku ini buruk, seharusnya kamu tidak perlu banyak bicara dengan orang buruk seperti ku."
"Vanessa, diamlah," ucap Sintia.
Zahra menggeleng, gagal sudah niatnya untuk menenangkan diri, dua orang itu justru membuat emosi Zahra semakin menjadi.
Tapi tidak mungkin kalau Zahra membuat ribut di sana, Zahra sudah terlalu jahat pada banyak orang selama ini.
"Ayra, aku harap besok kamu mau temui Bian bersama dengan kami," ucap Sintia.
Zahra menoleh, ia melihat tas belanjaan Sintia di tangannya.
"Kamu juga membeli kado untuknya, bagaimana dengan dirimu, pasti lebih spesial kan?" tanya Zahra pada Vanessa.
__ADS_1
Mereka diam, apa mungkin Zahra juga sedang mencarikan sesuatu untuk Bian, mungkin saja Zahra sudah memiliki rencana sendiri untuk suaminya.
Tapi tidak, itu tidak mungkin, bukankah Zahra sudah tidak memperdulikannya lagi, mana mungkin dia merepotkan dirinya sendiri untuk membelikan hadiah.
"Besok keluarga Bian akan ada disana, dan sekarang aku tahu kalau kalian berdua akan ada disana, tidak akan salah teman-teman Bian juga pasti datang karena besok bukan hari kerja, itu sudah cukup untuk membuat sesak tempat Bian."
"Zahra," panggil Vanessa.
"Tidak perlu berpura-pura, bukankah kamu senang dengan keadaan aku dan Bian sekarang, kamu begitu ingin aku dan Bian berpisah, jadi jangan bersandiwara dengan berusaha mempertemukan kita berdua."
Zahra menatap Vanessa disisa kesabarannya, Zahra sudah tidak mau lagi mengalah, tidak perduli dengan akhir yang akan terjadi, Zahra hanyalah Zahra yang sampai saat ini bertahan dalam keegoisannya.
"Sudah jelas, silahkan belikan hadiah untuk Bian, temui dia dan temani dia sepuas kalian, aku tidak perduli, berhenti mengikuti ku, atau kalian akan menyesal."
Zahra berlalu begitu saja meninggalkan keduanya, dan sepertinya mereka juga membiarkan kepergiannya.
Baguslah, Zahra bisa bernafas jika seperti itu, Zahra tidak mau lagi banyak bicara hanya untuk membahas hal yang itu-itu saja.
"Apa dia sudah gila?" tanya Vanessa.
"Kamu harusnya bisa lebih hati-hati dalam berbicara."
"Apa?"
"Kamu senang dengan keadaan mereka, tapi seharusnya kamu bisa sedikit menghargai Ayra."
Vanessa mengernyit, ia merasa lucu dengan kalimat Sintia, benarkah wanita itu membela Zahra.
Keduanya bertahan dalam tatapan satu sama lain, Sintia kesal dengan sosok Vanessa, awal ia memang senang mendengar Vanessa menyukai Bian.
Tapi sekarang, Sintia tidak terima itu, bukan karena harapannya yang masih ada terhadap Bian, tapi karena Sintia paham jika Vanessa terlibat dalam kekacauan keluarga Bian.
"Apa kamu menyukai Bian, kamu merasa aku menghalangi mu saat ini, kamu berharap bisa mendapatkan Bian setelah Zahra mengabaikannya?"
"Jaga bicara mu."
"Kenapa, kok kamu marah, kamu selalu dukung aku kan kalau soal Bian, kenapa sekarang seperti ini, oh aku tahu, rasa empati kamu terlalu besar untuk wanita itu kan."
"Vanessa, apa kamu tidak bisa bicara lebih benar lagi?"
"Lalu yang benar apa, apa kamu mau bersaing dengan ku, kita harus sama-sama singkirkan wanita itu dulu, baru kita bisa fokus berdua."
"Vanessa."
Vanessa sedikit tertawa dan berlalu begitu saja, Sintia menggeleng, ingin sekali ia mengatakan jika Bian lebih dulu dengan Sintia dari pada Vanessa.
Sintia berdecak, menyebalkan sekali, ia melihat arah pergi Zahra tadi, tapi wanita itu sudah menghilang entah kemana.
"Baiklah, aku juga akan pergi."
__ADS_1
Sintia mengambil langkah sendiri, Zahra sudah hilang, dan akan sulit untuk menemukannya lagi.
Lagi pula Sintia masih ada urusan lain dengan keluarganya, jadi ia harus pulang cepat sekarang.