Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Semua Selesai


__ADS_3

Bian melihat Zahra yang memasuki kamar, ia tersenyum dan bangkit dari duduknya, Bian menghampiri Zahra yang berdiri di pintu sana.


"Ada apa?" tanya Zahra kaku.


"Kenapa, memangnya harus ada apa agar aku bisa mendekati mu?"


Zahra diam, ia berpaling dan berjalan melewati Bian.


Bian menggeleng, masih saja menghindar, padahal sekarang Bian sudah kembali rapi, ia tak lagi kusam seperti sebelumnya.


"Zahra, kamu dapat kabar dari Oma?"


Zahra menoleh, sejak Inggrid pergi, memang tak ada kabar apa pun darinya, entah apa saja yang mereka lakukan di sana.


"Kenapa dengan Oma?" tanya Zahra.


"Kamu bertanya padaku, itu lucu sekali."


Zahra mengernyit, berbalik saat Bian berjalan mendekatinya.


"Aku belum bertemu Oma, dan aku juga tidak,pegang ponsel, dari mana aku dapat kabar Oma."


Zahra tak menjawab, ia berlagak sibuk merapikan pakaian di dalam lemarinya.


Zahra menarik satu baris tumpukan bajunya, karena itu ia tak sengaja menjatuhkan map yang tersimpan di bawahnya.


Keduanya melihat map itu bersamaan, Zahra segera menyimpan kembali bajunya, tapi Bian lebih dulu mengambil map tersebut.


"Apa ini?" tanya Bian membukanya.


"Kembalikan itu miliki ku."


Bian menjauh, ia menghindari Zahra yang hendak merebut mapnya.


Bian membukanya dan membacanya sesaat, senyumnya sedikit terlihat, Bian mengambil lembar kertas itu.


"Kamu masih simpan ini dengan baik."


"Itu penting bagi ku."


Bian mengangguk, ia juga membuka laci lemarinya, mengambil kertas yang sama yang dimilikinya.


Itu adalah perjanjian tertulis yang mereka buat sebelum menikah, perjanjian selama satu tahun pernikahan sesuai dengan yang Bian inginkan.


"Kertas ini lebih penting dari pada pernikahan kita?" tanya Bian.


"Tentu saja, pernikahan sandiwara tidak ada arti apa-apa, kembalikan."


Bian kembali menghindar, ia menyatukan dua kertas itu dan tersenyum menatapnya, entah apa maksudnya tapi Zahra ingin kertas itu kembali.


"Kembalikan, apa kamu tidak dengar?"


"Tentu saja aku dengar, tapi aku tidak mau memberikannya, kita tidak perlukan ini lagi."


"Jangan banyak bicara, cepat kembalikan."


Zahra merebutnya paksa, ia menarik kertas ke kiri, tapi Bian sengaja menariknya kearah berlawanan, hingga yang terjadi kertas itu terpisah jadi dua bagian.

__ADS_1


Zahra diam menatap potongan kertas di tangannya, jantungnya mendadak bergemuruh, emosinya seketika naik tanpa bisa ditahan.


"Kamu masih bersikap semena-mena, bahkan saat aku belum memaafkan mu."


Bian menatap Zahra tanpa celah, tentu saja ia bisa melihat kemarahan Zahra saat ini.


Tanpa berkata apa pun, Bian kembali merebut kertas di tangan Zahra, ia merobeknya hingga menjadi potongan terkecilnya.


"Ini tidak berlaku lagi, aku memang membenci mu sejak awal, tapi kamu begitu menyayangi ku sejak awal, dan sekarang kamu balik membenci ku saat aku mulai menyayangi mu, ini tidak akan ada lagi, aku akan berusaha kembalikan perasaan sayang mu itu lagi sekarang."


Zahra mengepalkan kedua tangannya, ia tetap diam saja, Zahra begitu sulit mengontrol dirinya sekarang, dan itu sangat sulit untuk dimengerti olehnya sendiri.


Bian menarik dan memeluk begitu saja, ia mempererat pelukannya saat Zahra mulai berontak.


"Lakukan saja apa yang kamu mau, sejak dulu kamu hanya diam saja dengan semua perlakuan ku, sekarang aku akan melakukan hal yang sama seperti apa yang kamu lakukan, jangan berfikir ulang ketika kamu ingin bertindak terhadap ku."


Zahra mendorongnya sekuat tenaga, dengan tanpa perasaan Zahra menampar lelaki di hadapannya itu.


Bian sedikit tersenyum, ia diam tanpa berniat untuk melawannya sama sekali.


"Kamu sudah merobeknya, kamu sudah menghancurkan semuanya, semua selesai, tidak ada apa pun lagi yang bisa menahan ku disini."


"Itu tidak benar."


"Kalau kamu tidak mau urus perpisahan kita, biar aku yang selesaikan semuanya."


"Tidak bisa seperti itu."


"Berhenti bicara, aku hanya akan melakukan apa yang ingin aku lakukan saja, dan bukankah kamu mengizinkan itu, jadi jangan mendebat ku kali ini."


Zahra beranjak, ia menurunkan koper besarnya dan membukanya, tanpa memperhatikan kerapihan pakaiannya, Zahra memindahkan semua.


"Ayra, kamu tidak bisa pergi begitu saja."


"Tidak ada lagi hak untuk mu melarang ku."


"Tentu saja berhak, pernikahan kita itu benar adanya, pernikahan itu diakui."


Zahra menoleh, ia kembali menatap Bian, apa yang bisa dipercayanya dari semua perkataan Bian, jika sampai sekarang Zahra masih menganggapnya sandiwara.


Tapi meski begitu, segelintir rasa percaya yang sejak dulu ada, masih bertahan dengan sempurna, Zahra semakin tertekan karena dirinya sendiri.


"Jangan lakukan ini, aku baru beberapa hari ada di rumah, kenapa kamu harus pergi, diamlah dan tenangkan dirimu, aku minta kita bicara baik-baik."


"Tidak ada kebaikan yang bisa dibicarakan bersama mu, apa kamu merasa dirimu baik, sehingga kamu yakin bisa menciptakan kebaikan disetiap keadaan?"


"Iya, aku memang bukan orang baik, aku sudah katakan aku akan berusaha merubah semuanya, aku hanya minta kesempatan itu dari mu, sudahlah jangan terus berdebat seperti ini."


Zahra menghindar saat Bian hendak meraih tangannya, ia memejamkan matanya sesaat, kenapa kepalanya selalu sakit ketika Zahra merasa kesal.


Bian tetap berusaha mendekatinya, ia begitu berhati-hati, entah harus bagaimana caranya ia bisa mengerti Zahra.


"Kemarilah, tidak perlu seperti ini, aku tidak pintar untuk mengerti perempuan, bukankah kamu tahu itu."


"Tidak ada yang meminta mu mengerti, lebih baik kamu diam dan biarkan aku pergi."


"Itu tidak akan pernah terjadi."

__ADS_1


Zahra menarik kopernya dan berlalu begitu saja, tidak akan ada akhirnya berbicara dengan lelaki itu.


Tidak ada yang berubah, Bian masih saja memikirkan keinginannya sendiri.


"Zahra."


Tak ada jawaban, Bian memukulkan tangannya tanpa tumpuan, ia lantas berjalan cepat untuk menghentikannya.


"Lepaskan ini."


Bian merebut kopernya dengan kasar, ia menendangnya kesal.


"Berhenti berlaku sesuka mu," jerit Zahra.


"Apa, kamu mau tampar aku lagi, mau apa, kamu mau pukul aku, mau maki aku, lakukan, tapi kamu jangan pernah mencoba untuk pergi dari ku."


Zahra menekan kepalanya, ia jongkok, tangisnya datang begitu saja, Bian benar-benar membuatnya gila.


Bian berpaling seraya mengusap wajahnya, bagaimana cara agar dia bisa tetap mengontrol dirinya sendiri saat ini.


"Aaaaa," jerit Zahra


Itu terdengar berulang kali, Bian turut jongkok dan memeluknya, tak perduli meski Zahra berontak dari pelukannya.


"Lepas, jangan berani menyentuh ku lagi, lepas."


Zahra masih saja berteriak, Bian tidak mengerti dengan itu, padahal Bian tidak sedikit pun membentaknya.


"Non Ayra," panggil Nur seraya mengetuk pintu.


Bian melirik pintu itu, Nur pasti berfikir buruk saat ini, apa Bian harus memperdulikannya.


"Non, ada apa?"


"Tidak ada apa-apa, biarkan kami selesaikan ini, pergilah," ucap Bian setenang mungkin.


"Gak, jangan pergi, bawa aku keluar dari sini," teriak Zahra.


Bian seketika membungkamnya, apa yang telah dilakukannya sampai membuat Zahra seperti itu.


"Non Ayra sedang tidak baik-baik saja, jangan melakukan paksaan untuk hal apa pun," ucap Nur.


Zahra menggigit tangan Bian dengan kuatnya, lelaki itu meringis tanpa bisa mempertahankan pelukannya lagi.


"Non Ayra," panggil Nur.


Zahra mendorong Bian, ia bangkit dan langsung keluar.


"Non ...."


Kalimat Nur tak selesai, Zahra justru menabraknya dan pergi.


"Non Ayra."


"Kemana dia?"


Nur menoleh sekilas, ia tak menjawab dan memilih mengejar Zahra saja, Nur memang belum sempat menyampaikan pesan Inggrid pada Bian tentang Zahra.

__ADS_1


Bian turut menyusul, tidak ada yang bisa dimengertinya dari keadaan saat ini.


__ADS_2