Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Sepertinya Tidak Mungkin


__ADS_3

Malam yang begitu gemerlap, pesta mewah tengah terjadi saat ini, begitu banyak manusia yang bergembira di sana.


"Tempat apa ini, apa ini semacam bar?" tanya Bian.


Sintia mengangkat kedua bahunya sekilas, entah apa namanya, yang jelas teman Sintia memang selalu melakukan hal-hal aneh.


"Kamu yakin mau masuk?" tanya Bian.


"Aku mau masuk," ucap Zahra datar.


Bian dan Zahra, juga Sintia dan Damar sudah sampai di tempat pesta yang dimaksud Sintia.


Mereka terlihat manis, bahkan Sintia dan Damar benar-benar terlihat seperti sepasang kekasih sesungguhnya.


"Hati-hati memilih makanan dan minuman di dalam, kalian harus mengerti itu."


"Apa dia terbiasa dengan kehidupan buruk?" tanya Damar.


"Dia mengikuti kehidupan luar, termasuk kebebasan dalam bergaulnya, tapi dia baik pada orang lain, jangan khawatir."


"Khawatirkan dirimu sendiri."


Sintia mengernyit, memangnya kenapa dengan Sintia, dia baik-baik saja sekarang tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


"Kapan kita akan masuk?" tanya Zahra.


Mereka menoleh dan segera masuk, berbaur dengan banyaknya orang di sana, dan itu cukup membuat pusing.


Bian tak bisa melepaskan genggamannya terhadap Zahra, wanita itu belum tentu bisa menjaga dirinya.


"Berisik sekali, ini seperti Diskotik," ucap Damar tepat di telinga Sintia.


Sinta tersenyum seraya mengangguk, Damar terdiam sesaat menatapnya, apa kehidupan Sintia tidak ada aturan.


Mungkin saja pergaulannya buruk selama ini, ia memiliki teman seperti itu, bisa saja Sintia tak sebaik yang terlihat.


"Kita akan diam disini, sepertinya kita butuh duduk," ucap Bian.


"Disebelah sana," sahut Sintia.


Mereka kembali berjalan menuju tempat duduk, Sintia belum bisa malihat pemilik acara, entah dimana orang itu sekarang.


Mereka lantas duduk, Bian benar-benar memastikan jika Zahra baik-baik saja saat ini.


"Yang mana teman kamu?" tanya Damar.


"Aku belum melihatnya."


"Aku suka ini," ucap Zahra.


Bian menoleh, sebenarnya sedikit heran, tapi biarkan saja kalau memang itu bisa buat Zahra senang.


"Kamu mau aku ambilkan minum?" tanya Bian.


"Aku mau ambil sendiri, dimana tempatnya?"


"Emmm, aku juga tidak tahu."


Bian mencari keberadaan hidangan di sana, tidak mungkin tidak disediakan, karena memang acaranya begitu mewah.


"Kita kesana," ucap Sintia.


"Kemana?" tanya Damar.

__ADS_1


Sintia menoleh, ia berisyarat untuk ikut saja, rasanya mereka harus biarkan Bian dan Zahra bersama.


Damar menghembuskan nafasnya sekaligus, baiklah, itu cukup mudah untuk dimengerti.


"Kita kesana dulu ya, aku harus ketemu dulu sama pemilik acaranya," ucap Sintia.


Bian mengangguk saja, suaranya samar terdengar tapi memang bisa dimengerti.


Sintia dan Damar lantas pergi, mereka akan kembali bertemu nanti.


"Aku cari minum," ucap Zahra.


"Kita sama-sama ya."


Zahra mengangguk, keduanya turut pergi meninggalkan tempat duduknya, langkah mereka cukup sulit karena banyaknya orang.


Musik yang berdentum keras dan kerlip lampu di sana cukup membuat pusing, mereka berusaha menikmati keadaannya saat ini.


"Riana," panggil Sintia.


Damar melirik arah pandang Sintia, jadi temannya itu perempuan.


"Hallo, datang juga," ucap Riana.


"Iyalah, tamu penting kan?" tanya Sintia.


Keduanya tertawa dan sempat saling memeluk beberapa saat, Riana melirik Damar, ia diam mengamati lelaki yang datang bersama teman baiknya itu.


Damar berpaling, wanita itu memang cantik, pakaiannya memang berkelas, tapi sayang terlalu seksi dan Damar tidak suka itu.


"Jangan tatap dia seperti itu, kau melanggar peraturan," ucap Sintia kesal.


Riana justru tertawa mendengarnya, ia mengangguk seraya kembali menatap Damar.


"Apa dia petinju, dia habis main di ring?"


"Makeup yang kamu pasangkan kurang tebal, aku bisa melihat memarnya walau sedikit."


Riana dengan sengaja menyentuh memar di wajah Damar, dan itu cukup membuat Damar meringis.


Tapi meski begitu, Sintia justru tersenyum seraya menepis tangan Riana, Damar menggeleng dan berbalik ke arah lain.


"Oh, dia lelaki pendiam, selera mu seperti ini sekarang?" tanya Riana.


"Diamlah, jangan mengejeknya, kamu belum mengenalnya sama sekali."


"Oke, jadi boleh kita berkenalan?" tanya Riana seraya mengulurkan tangan.


Damar menoleh, ia sempat melirik Sintia sesaat, kenapa harus seperti itu, tinggal sebutkan nama saja.


Sintia mengernyit, ia melirik tangan Riana sekilas, dan meminta Damar menjabatnya juga.


"Damar," ucap Damar malas seraya menjabat tangan Riana.


"Riana, senang berkenalan dengan mu, tapi kamu harus merubah sikap diam mu selama ada disini, kau akan jadi bahan ejekan kalau seperti ini."


"Hey tutup mulut mu itu."


Sintia dan Riana tersenyum bersamaan, Damar mendelik, menjengkelkan sekali wanita itu, masih mending cantik, kalau tidak, sudah pasti Damar akan memarahinya.


"Kamu mau ini?" tanya Bian.


"Aku suka itu."

__ADS_1


Bian tersenyum, ia menyuapi Zahra kue kering di sana, keduanya sedang asyik berburu makanan saat ini.


Sedikit lebih tenang di tempat itu, Bian bisa bicara dengan leluasa tanpa harus teriak agar bisa terdengar.


"Oke, selamat malam semuanya, ayo kemari perhatikan orang disini."


Semua seketika diam, mereka melihat kearah MC sana, mendengarkan celotehan panjangnya tentang acara malam ini.


Semua bersorak saat mendengar akan ada kejutan di akhir acara, dan itu pasti akan menahan mereka untuk tetap bertahan.


"Kejutan apa?" tanya Zahra.


"Mungkin kita akan dapat uang banyak."


Keduanya tersenyum, apa harus seperti itu, tapi biarlah Zahra ingin ikut bersenang-senang saja.


"Kemana ini pemilik acaranya, ayo sampaikan sesuatu pada mereka semua."


Riana pamit pada Sintia dan Damar, ia lantas menghampiri MC di sana.


Zahra mengernyit, ia memperhatikan sosok itu dengan seksama, ingatannya berputar pada masa dimana ia masih bebas dulu.


"Selamat malam semuanya, terimakasih sudah hadir malam ini diacara ku."


Zahra memejamkan matanya sesaat, apa benar wanita itu yang melintas diingatannya.


"Aku baru balik kesini, dan aku sengaja datang untuk membuat pesta ini, semoga kalian menyukainya."


Mereka sedikit bersorak, bagaimana tidak, acaranya sangat menyenangkan, live musik sangat melengkapi kebahagiaan mereka.


"Kalian siap?" tanya Riana berteriak.


"Siap," jawab mereka kompak.


"Lupakan semua masalah yang ada, kita bahagia malam ini," teriak Riana lagi.


Sorakan mereka terdengar lebih keras dan kompak lagi, Zahra tersenyum seraya menutup kedua telinganya.


Musik diputar dengan volume tertinggi, sungguh persis seperti hiburan malam, mereka benar-benar menikmatinya.


"Hey, apa kamu gila?" tanya Damar menahan tangan Sintia.


"Apanya yang gila, ini minuman biasa."


"Gak ada, enak saja, air putih masih banyak."


Damar menarik pergi Sintia dari tempat minuman menjijikan itu, Sintia sedikit tertawa karena sikap Damar.


Apa dia fikir Sintia seburuk itu, tentu saja tidak, tapi apa salahnya untuk mencoba.


"Kamu mau pulang?" tanya Bian.


Zahra menggeleng, ia berjalan mendekati kerumunan, ikut bergerak asal membahagiakan diri sendiri.


Bian menatapnya heran, apa sebelumnya juga seperti ini pergaulan Zahra, tapi dia terlihat seperti wanita baik-baik.


"Mana Ayra?" tanya Sintia.


Bian menoleh dan menunjuk keberadaan Zahra ditengah mereka semua, tak hanya Bian, tapi Sintia dan Damar pun merasa heran dengan itu.


"Dia anak malam?" tanya Sintia.


"Jaga bicara mu," sahut Damar.

__ADS_1


Sintia merapatkan bibirnya, mereka diam kembali memperhatikan Zahra.


Benarkah seperti itu, Zahra terlihat bahagia, ia begitu menikmati keadaannya, seperti orang yang sudah terbiasa dengan keramaian seperti saat ini.


__ADS_2