
"Apa kamu tidak bekerja?" tanya Damar.
"Tidak, sejak kemarin aku tidak bekerja."
"Kenapa?"
"Entahlah, malas saja."
"Kamu pemilik perusahaan?"
Sintia sedikit tertawa mendengarnya, semoga saja itu bisa jadi kenyataan, agar Sintia bisa lebih bebas lagi.
Tapi apa benar, pemilik perusahaan bisa bebas dalam keseharian, Sintia menggeleng, sepertinya itu tidak benar.
"Untuk apa bertanya seperti itu, dirimu sendiri kenapa ada disini, bukannya bekerja saja?"
"Tidak, aku kerja nanti sore."
"Kerja apa, bisa beda waktu begitu?"
"Menurut mu?"
Sintia berdecak, kenapa malah balik bertanya, kalau tahu jawabannya kenapa harus Sintia bertanya.
Damar tersenyum seraya menggeleng, ia melirik Zahra sesaat, wanita itu sepertinya tidak terusik oleh suara perbincangan mereka.
"Apa kamu punya teman laki-laki?" tanya Sintia.
"Untuk apa?"
"Untuk aku bawa ke pesta ulang tahun teman ku."
"Kenapa harus teman ku, kemana teman mu?"
"Kalau aku bawa teman ku, sama saja bohong."
"Apa itu semacam pengenalan pasangan?"
Sintia mengangkat kedua bahunya sekilas, mungkin saja seperti itu, tapi Sintia tidak mau mengiyakannya.
Damar menghembuskan nafasnya sekaligus, masih ada saja acara seperti itu, tidak bisa dimengerti.
"Sebaiknya kamu datang, itu acara terbuka, dia seperti mengadakan acara besar untuk umum, yang mau gabung bebas saja."
"Mana bisa seperti itu."
"Tapi memang seperti itu adanya."
"Konser?"
Sintia tertawa, kenapa jadi konser, sudah dibilang acara ulang tahun, apanya yang bisa dianggap konser.
Damar sedikit berdecak, mudah sekali wanita itu tertawa, saat bersama Zahra pun Damar kerap melihatnya tertawa, dan sekarang Sintia juga sama saja.
"Kamu mau datang?" tanya Sintia
"Kamu mau sewa aku jadi pasangan mu?"
Keduanya diam, bertahan dalam tatapan satu sama lain, apa bisa seperti itu, bukankah teman sintia tidak ada yang mengenal Damar.
"Ah baiklah lupakan, kamu tidak akan sanggup membayar sewanya."
"Dih, jual mahal, ngarep banget dipaksa?"
__ADS_1
"Berarti minta kan?" tanya Damar seraya menunjuk Sintia.
"Apaan sih, kontrol kepercayaan dirimu itu, berlebihan."
Sintia menepis tangan Damar, keduanya tersenyum bersamaan, bagus sekali kalau seperti itu.
Damar mengangguk saja, entah apa lagi yang harus dikatakannya, karena ia hanya menanti Zahra untuk bersuara.
"Kenapa Oma lama sekali," ucap Sintia.
"Benar juga, apa seserius itu kondisi Ayra?"
"Mana aku tahu, apa kita susul saja?"
Keduanya melirik Zahra bersamaan, tapi siapa yang akan menjaga wanita itu, khawatir juga kalau ditinggal sendirian saja.
Sintia menghembuskan nafasnya berat, makin kesini keperduliannya terhadap Zahra semakin besar, dan Sintia tidak bisa mengingkari itu.
"Jadi, kamu mau datang dengan ku saja?"
Sintia menoleh, ia mengernyit, untuk apa Damar kembali membahasnya.
"Kapan acaranya, aku akan siapkan pakaian bagus agar tidak membuat mu malu."
"Siapa juga yang mau ajak kamu kesana, ih mending sewa orang luar."
"Emmm baiklah, terserah saja, padahal ini amal tidak ada pungutan biaya apa pun, hanya minta doa saja agar Tuhan menggantinya dengan berkah."
Sintia lagi-lagi tertawa karena ucapan Damar, lelaki itu diam, apanya yang lucu bukannya beri amin dia malah tertawa.
"Aku mau datang."
Tawa Sintia seketika terhenti, keduanya melirik Zahra bersamaan.
"Aku mau datang."
Dua orang itu saling lirik beberapa saat, Damar mengangguk saja, biar nanti mereka fikirkan lagi.
"Apa kamu sudah baik-baik saja?" tanya Sintia.
"Aku mau datang saja, bukankah itu untuk umum?"
Sintia mengangkat kedua alisnya, apa bicaranya tadi begitu serius sampai Zahra mempercayainya.
Jelas saja bukan untuk umum, tidak mungkin juga temannya melakukan itu, ia hanya akan pusing dengan acara yang dibuatnya sendiri.
"Kamu berbohong?"
"Ah tidak, aku tidak berbohong, kalau kamu mau datang juga silahkan saja, mau sama Bian?"
"Tidak."
"Tapi yang datang harus bawa pasangan."
"Aku sama Damar."
Damar mengernyit, bisa sekali Zahra berkata seperti itu, apa lagi yang akan jadi tanggapan keluarganya nanti.
Sintia melirik lelaki itu, ekpresinya seperti tidak senang, apa benar Damar tidak menyukai Zahra.
"Kenapa harus aku, kamu tahu, Sintia mau sewa aku untuk jadi pasangannya disana nanti."
"Hey, jaga bicara mu itu," sela Sintia.
__ADS_1
"Kalau begitu aku sama Dion saja."
Keduanya diam, apa lagi Zahra ini, kenapa masih lelaki lain yang disebutnya, seharusnya dia mengingat Bian saja.
Bukankah suaminya itu juga seorang laki-laki, seharusnya Zahra datang bersama Bian saja, bukan malah memilih lelaki lain.
Ditengah diamnya, pintu terbuka, mereka tampak masuk bersamaan.
"Apa Ayra sudah bangun?" tanya Inggrid.
"Sudah, dia ...."
Kalimat Sintia menggantung, ia mengernyit saat melihat Zahra yang kembali menutup matanya.
"Ada apa?" tanya Bian.
Sintia melirik Damar, ia sedikit menggerakan kepalanya keatas, bertanya sejak kapan Zahra kembali seperti itu.
Damar tak bergeming, ia sendiri heran kenapa Zahra seperti itu, padahal baru beberapa detik saja wanita itu membuka mata dan mau berbicara.
"Kenapa kalian ini?" tanya Kania.
"Oh, tidak, tidak ada apa-apa, kami juga masih menunggu Zahra bangun," ucap Sintia.
Ia kembali melirik Damar, dengan ekspresi bingungnya ia diam menatap Damar.
Lalu apa yang harus dikatakan Damar, jika ia sendiri pun tidak mengerti kenapa Zahra seperti itu.
"Ayra, kamu mau pulang kan, kamu harus cepat sembuh," ucap Inggrid.
"Apa dia tidur?" tanya Bian.
Tak ada yang menjawab, seharusnya Bian bisa membedakan orang tidur dengan pura-pura tidur.
Damar memilih pamit dari mereka semua, sebaiknya ia menunggu di luar saja, lagi pula sudah dari tadi ia di dalam ruangan.
"Aku juga pamit saja," ucap Sintia ikut-ikut.
"Baiklah, terimakasih sudah menemani Ayra," ucap Inggrid.
"Kami akan kembali nanti, mungkin saja Oma bisa kabari aku kalau Ayra sudah membaik."
Inggrid mengangguk pasti, itu bukan hal yang sulit, Inggrid akan mengabari mereka nanti.
Keduanya lantas pergi, Damar sempat menatap Bian ketika melewatinya, ia juga sedikit merasa kesal terhadap lelaki itu.
Kenapa bisa-bisanya Bian selalu menyusahkan Zahra, padahal wanita itu sudah sangat berbaik hati padanya.
"Zahra," panggil Bian.
"Jangan menganggunya, apa kamu masih tidak mengerti?" tanya Inggrid.
"Mami, sudahlah," sela Kania.
"Sebaiknya kalian pulang saja, sama seperti mereka tadi, biar Ayra disini sama Mami."
Kania melirik Bian, kalau memang itu bisa memperbaiki keadaan, maka tidak ada salahnya dilakukan.
Kania mengajak Bian pergi, meski sempat menolak tapi Kania memaksanya hingga Bian mau, jika terus di sana bisa saja keadaan Inggrid juga jadi buruk.
"Ayra, kamu dengar Oma, sampai kapan kamu akan seperti ini, kamu jangan buat Oma khawatir."
Mata Zahra seketika terbuka, ia melirik Inggrid dengan tatapan normalnya, seperti tidak ada apa pun yang dirasakannya, Zahra tampak baik-baik saja.
__ADS_1
Inggrid diam menatapnya, apa ini yang dikatakan dokter tadi, kondisinya akan berubah tiba-tiba.