Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Bertahan


__ADS_3

Dengan ditemani Isma, Zahra datang ke pengadilan agama untuk proses mediasi.


Ia menolak datang bersama dengan Bian atau keluarganya, dan lebih memilih menghubungi Isma untuk menemaninya.


"Semangat, kamu harus fokus, harus tenang dan harus yakin," ucap Isma.


Zahra mengangguk, ia melirik Bian yang ternyata sudah sampai.


"Zahra," panggil Kania.


"Aku hanya akan bicara dengan Bian di hadapan Hakim, jadi jangan katakan apa pun."


Isma melirik Kania dan mengangguk, biarkan Zahra bertahan dalam sedikit ketenangan yang dimilikinya saat ini.


Keduanya memasuki ruangan dan meninggalkan mereka semua, di dalam saan mereka dipersilahkan duduk.


Zahra berusaha untuk tak melihat Bian meski sedikit saja, ia tak mau pertahanannya runtuk hanya karena melihat cintanya.


"Ini keputusan serius, jadi mohon difikirkan dengan serius juga," ucap hakim.


Zahra menghela nafasnya, jantungnya mulai tak terkontrol, ia merasa takut akan rayuan penengah itu nantinya.


 


Sintia bersama Damar tampak menemui Dion di rumah sakit, lelaki itu masih saja bertahan di sana menemani Ibunya yang tak kunjung sehat.


"Aku senang kalian kesini," ucap Dion.


"Tapi kami membawa kabar yang tidak menyenangkan," ucap Sintia.


"Ada apa?" tanya Dion mendadak serius.


"Zahra dan Bian sudah mulai masuk persidangan."


Dion mengernyit, ia melupakan hal itu karena fokusnya mengurus sang Mama.


Tapi tidak, Zahra mengatakan akan memberi kabar kalau memang ketuk palu itu akan dilakukan.


"Persidangan apa yang sedang mereka lakukan?"


"Mediasi, mereka sedang disana sekarang."


Dion kembali diam, untuk apa dilakukan hal semacam itu, apa Zahra akan merubah pemikirannya.


Sintia melambaikan tangannya, kenapa lelaki itu hanya diam saja.


"Kita mau kesana, kamu mau ikut?" tanya Damar.


Dion melirik pintu ruang rawat mamanya, wanita itu sedang tidur, mungkin Dion bisa pergi kesana sebentar saja.


"Kalau tidak, kita akan langsung kesana."


"Oke, aku ikut."


Sintia mengangguk, mereka langsung pergi meninggalkan rumah sakit.


Bagaimana pun Dion ingin tahu tentang perkembangan Zahra, berpisah atau tidak mereka pada akhirnya.

__ADS_1


 


"Aku sudah mengatakan kalau aku akan memperbaiki semuanya," ucap Bian.


"Tapi aku tidak mau lagi menunggu," sahut Zahra.


"Mohong tenang, bicara baik-baik jangan dengan emosi, kita disini untuk mencari solusi terbaiknya."


"Solusi terbaik disini adalah perpisahan, apa itu tidak jelas untuk diputuskan."


Bian seketika meraih tangan Zahra, wanita itu sudah mulai emosi saat ini.


Hakim menggeleng, melihat keduanya yang begitu bertentangan, mungkin memang tidak bisa disatukan kembali.


Zahra berusaha melepaskan genggaman Bian, tapi terlalu sulit dan itu semakin membuatnya jengkel.


"Zahra, aku mohon."


"Memohon saja sampai kamu tidak bisa melakukannya lagi, aku tidak akan merubah apa pun juga."


"Zahra, kita bisa perbaiki ini, hanya satu kesempatan lagi."


"Lepas."


Bian menggeleng, itu tidak ingin dilakukannya, bagaimana caranya agar Zahra mau luluh kali ini.


Ditengah suasan panas di dalam sana, orang yang menunggu di luar juga teramat gelisah, mereka sama-sama berharao hasil terbaik untuk tidak berpisah.


"Permisi," ucap Sintia.


Mereka menoleh bersamaan, Kemal mengernyit melihat tiga orang itu.


"Maaf, tapi kamu mendengar kabarnya," ucap Sintia.


"Dari mana?"


"Bu Inggrid."


Kemal diam, Inggrid memang sudah tidak ada ditengah mereka, wanita tua itu benar-benar pergi meninggalkan Zahra.


"Bagaimana, mereka sudah selesai?" tanya Dion.


"Mereka masih di dalam, kami tidak tahu seperti apa hasilnya," sahut Kania.


Dion berpaling, berjalan dan bersandar pada tembok di sana.


Dion berusaha menunjukan ketenangannya, meski jujur ia sangat takut kalau mediasinya itu berhasil.


"Duduk," ucap Damar.


"Tidak, aku berdiri saja."


Damar mengangguk, terserah Sintia saja, Damar melirik Dion di sana, ada apa dengan lelaki itu.


"Kenapa lama sekali, apa Hakim itu berhasil menyatukan mereka kembali?" tanya Isma.


"Seharusnya bisa, Hakim pasti tahu banyak permasalahan rumah tangga dari semua orang yang datang padanya," ucap Sintia.

__ADS_1


Dion mengusap wajahnya, ia kecewa dengan kalimat Sintia, kenapa malah mendukung mereka kembali seperti itu.


Damar kembali melirik Dion, ingin sekali ia bertanya tapi rasanya tidak tepat untuk mereka bicara berdua saat ini.


"Ya Tuhan, berikan jalan untuk mereka tetap bersama," ucap Kania.


Isma menoleh dan menatapnya, benarkah yang didengarnya itu, bukankah mereka tidak pernah juga menerima Zahra dengan baik.


Apa benar mereka sudah berubah sekarang, kalau benar adanya, seharusnya memang Zahra bisa memberi mereka kesempatan untuk membuktikan semuanya.


"Berapa lama biasanya hal seperti ini dilakukan?" tanya Dion.


"Kami tidak tahu, tapi mediasi seperti ini bisa dilakukan untuk kedua kalinya jika yang pertama gagal, tapi dirasa masih bisa diperbaiki diwaktu berikutnya," ucap Kemal.


Dion diam, mungkin disini hanya Dion satu orang yang mengharapkan perpisahan itu benar-benar terjadi.


Bisakah Dion melihat itu terjadi, Dion tidak akan buang waktu untuk bisa menggantikan Bian nantinya.


"Apa kita tidak bisa masuk saja?" tanya Kania kesal.


"Kita masuk untuk memperkeruh suasan, Ibu mau masalah semakin runyam?" tanya Isma.


"Tapi mereka lama sekali."


"Sabar Bu, mereka lebih tahu permasalahannya, kita hanya melihat mereka dari jauh tanpa bisa tahu seperti apa jelasnya masalah yang mereka alami."


Kania diam, keterlaluan sekali kalau Zahra benar-benar menutup pintu maafnya.


Mereka sudah berusaha memperbaiki semuanya, tapi Zahra justru menutup kesempatan untuk mereka.


"Bu Kania, memangnya apa yang dialami Zahra sampai mereka harus berada disini sekarang?" tanya Isma.


Kania melirik Kemal, apa harus mereka ceritakan semuanya, memangnya siapa Isma sampai harus tahu permasalahan keluarganya itu.


Isma tersenyum seraya mengangguk, mereka tidak akan mau bicara, bukankah mereka juga terlibat dalam kekecewaan dan luka yang Zahra rasakan.


"Maafkan saya Bu, saya sudah lancang dengan bertanya seperti itu."


Kania hanya sedikit tersenyum, baguslah kalau memang Isma sadar, dia memang tidak berhak mengetahui apa pun.


Lagi pula memang aneh sekali Zahra, kenapa dia harus mengajak orang asing seperti Isma ke persidangannya saat ini.


"Bu Zahra, jangan buat keributan disini."


"Kalau begitu segera putusakan sidang perceraian kami."


"Zahra," panggil Bian.


"Pak, saya sudah putusakan semuanya, saya tidak butuh lagi mediasi seperti ini, kami masih tinggal bersama sampai saat ini dan kami masih bicarakan semuanya, tapi perpisahan adalah tetap keputusan saya."


Bian mengusap wajahnya, susah sekali membuat Zahra luluh saat ini, emosi sudah sangat menguasai wanita itu.


"Aku rasa ini sudah cukup, terimakasih."


Bian menahan Zahra yang bangkit dari duduknya, dengan segera ia bangkit dan memeluk Zahra.


"Aku masih bisa mengemis belas kasihan dari mu, tolong aku Zahra, jangan lakukan ini."

__ADS_1


Zahra diam, ia memejamkan matanya, dekapan seperti itu tidak pernah Zahra rasakan sewaktu dulu.


Dekapan yang penuh harap, dekapan yang memang mampu terasa tulusnya di hati Zahra.


__ADS_2