Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Jangan Buat Masalah


__ADS_3

Bian berjalan keluar rumah dengan diantar Zahra, pagi ini Bian akan kembali ke kantor karena sudah beberapa hari ia tidak hadir.


Inggrid memintanya untuk menemani Zahra saja, dengan begitu Zahra tidak akan keluyuran sendiri lagi, dan memang benar sekarang Zahra sudah terlihat lebih baik lagi.


"Aku pergi ya, kalau ada apa-apa telepon aku."


Zahra mengangguk, Bian tampak memeluk Zahra, mencium keningnya sesaat dan berlalu memasuki mobil.


"Bilang Oma kalau mau apa-apa."


"Iya."


Bian tersenyum, ia memina sopir untuk segera pergi saja, bukankah Bian sudah terlambat saat ini.


Zahra menyipitkan matanya saat melihat taxi melewati rumahnya, pagi-pagi seperti ini jarang ada taxi lewat.


"Ayra, Bian sudah berangkat?" tanya Inggrid.


"Baru saja pergi, aku mau menyusulnya."


"Untuk apa, kamu disini saja temani Oma, rasanya kepala Oma sedikit pusing."


"Biar aku antar ke Dokter."


"Tidak perlu, kamu temani Oma saja di rumah, kamu bisa?"


Zahra mengangguk kemudian tersenyum, ia lantas membawa Inggrid masuk kembali ke rumah.


Kenapa tidak, bukankah sejak dulu Zahra selalu memurut pada wanita tua itu, Zahra selalu mendahulukannya dari pada diri sendiri.


"Oma mau kembali ke kamar?"


"Tidak, Oma mau duduk saja disini."


"Oh ya sudah, hati-hati."


Inggrid tersenyum, sebenarnya ia baik-baik saja, tapi sedikit pun Inggrid tidak bisa biarkan Zahra pergi dari rumah.


Entah kemana lagi akan pergi jika sampai keluar dari rumah, dan entah akan sesulit apa lagi Inggrid mencarinya, juga belum tentu kepergiannya kali ini bisa bertemu dengan orang baik lagi.


"Ayra, kamu sudah minum obat?"


"Aku sudah selesaikan semuanya."


"Baguslah, kamu mau apa sekarang, mungkin saja ada kebutuhan pribadi kamu yang habis."


Zahra menggeleng, itu tidak sama sekali, Zahra tidak membutuhkan apa pun sekarang ini.


Zahra ingin pergi dari rumah, tapi sudah jelas jika Inggrid tidak akan mengizinkan itu, wanita tua itu pasti akan sangat melarangnya pergi.


 


"Pulang saja, Pak."


"Baik, kalau ada apa-apa segera hubungi saya saja."


"Tenang saja, tolong pastikan Zahra baik-baik di rumah."

__ADS_1


Sopir itu mengangguk dan melaju pergi meninggalkan kantor, tugasnya mengantar Bian sudah selesai.


Bian berjalan memasuki Kantor, tapi baru beberapa langkah saja, kakinya harus kembali diam.


Ia melirik tangan yang begitu saja memeluknya dari belakang, Bian mengernyit, ia melihat mereka yang tampak menatapnya.


"Apa-apaan ini," ucap Bian melepaskannya.


Ia berbalik dan mengernyit saat melihat sosok Vanessa.


"Sampai kapan kamu akan mengabaikan aku?"


"Untuk apa kamu kesini?"


"Untuk menemui mu, karena aku sudah tidak bisa lagi menahan rindu padamu."


Bian berpaling, ia kembali melihat mereka, tentu saja Bian sadar mereka masih memperhatikannya.


Bian menarik Vanessa menuju ruangannya, dia bukan layar bioskop yang bisa ditonton banyak orang.


"Aku tidak meminta mu untuk datang, lagi pula dari mana kamu tahu tempat ini?"


Bian melepaskan tarikannya dan menutup pintunya, ia bahkan menguncinya agar tidak ada yang tiba-tiba masuk.


Vanessa tersenyum melihat itu, keyakinannya semakin kuat jika Bian juga masih menginginkannya sampai sekarang.


"Aku tidak mau kamu terus mengabaikan aku seperti kemarin."


"Lalu harus bagaimana, sebaiknya kamu pergi saja, aku tidak mau lagi dapat masalah karena kamu."


"Kenapa, kamu sudah mendapatkan perusahaan ini kan, kamu tidak perlu lagi memaksakan diri untuk bersama Istri mu itu."


Vanessa mengangguk, ia meraih kedua tangan Bian, membuat tas kerja itu terjatuh begitu saja.


Vanessa menariknya, melingkarkan di pinggangnya, tangannya terangkat ke pundak Bian dan memeluknya.


"Kamu tahu kalau aku tidak bisa menghilangkan perasaan ini, kamu yang sudah membuat ku seperti ini, mana mungkin kamu bisa buang aku begitu saja."


Bian diam, ia memang masih menginginkan Vanessa, tapi bagaimana lagi jika Bian juga mulai menginginkan Zahra.


Sekarang Bian sudah semakin bebas menyentuh wanita itu, Bian sudah mendapatkan perusahaan, Bian mendapatkan semuanya sekarang.


"Aku tidak masalah dengan pernikahan mu, tapi apa bisa kamu tetap bersama ku, jangan abaikan aku lagi meski kamu tidak bisa meninggalkan dia."


"Jangan bodoh."


Bian mencoba melepaskan pelukan itu, tapi Vanessa menahannya kuat, kalau Bian berbuat kasar, mereka pasti akan berfikir buruk.


"Vanessa, pergilah, aku kesini untuk bekerja."


"Aku sudah mengambil cuti hari ini, dan khusus untuk menemani kamu, biarkan aku disini bersama kamu."


"Vanessa."


"Diamlah."


Vanessa merenggangkan tubuhnya, menarik tubuh Bian mundur hingga ia membentur pintu, dan memeluknya lagi.

__ADS_1


Bian meluruskan tanganya untuk menahan tubuhnya agar tak menghimpit tubuh Vanessa, sudah terbiasa menyentuh Zahra, Bian tidak akan bisa menahan hasratnya dengan mudah.


"Hentikan, apa kamu tidak malu seperti ini?"


"Tidak, bukankah kamu yang sudah menghilangkan rasa malu ku?"


"Vanessa, aku tidak mau dapat masalah lagi, jadi sebaiknya kamu pergi."


Vanessa menggeleng, bagaimana bisa seperti itu, Vanessa sudah sangat memikirkan semuanya.


Hingga ia berhasil menemui Bian dan bersama dengannya saat ini, bagaimana bisa Vanessa pergi begitu saja.


"Bian, aku tidak perduli apa pun, kamu tahu kalau cinta itu buta, aku akan lalukan apa pun untuk bisa dapatkan kamu."


"Lepas, aku harus bekerja, cepat pergi."


"Aku tidak mau."


Bian memejamkan matanya sesaat, sampai kapan akan seperti itu, lama-lama pasti akan ada juga yang perlu masuk menemuinya.


Bian menahan nafasnya sesaat, ia tidak beniat buruk, tapi Vanessa yang memulai semuanya.


Dengan menambah sedikit tenaganya, Bian melepaskan pelukan Vanessa, ia mundur menjauhinya.


"Ini Kantior, kamu hanya akan mengacaukan semuanya."


"Bagus sekali, kamu mengerti itu dan aku memang akan mengacaukan semuanya."


"Vanessa."


"Aaaaa," jerit Vanessa tiba-tiba.


Bian dengan cepat membungkamnya, apa Vanessa sudah gila, apa yang dilakukannya itu.


Vanessa berontak, tapi Bian menahannya dengan kuat, tidak boleh ada keributan apa pun atau Bian yang akan dapat imbasnya.


"Diam."


"Emmm."


"Diam, jangan buat aku kasar sama kamu, kamu tahu bisa kasar pada Zahra, jadi jangan main-main sama aku."


Vanessa mengernyit, itu tidak akan mungkin terjadi, Bian kasar pada Zahra karena ia memang tidak menginginkan wanita itu.


Berbeda dengan Vanessa, Bian juga sama menginginkannya, selama ini Bian selalu bersikap baik padanya, mana mungkin Bian bisa kasar padanya.


"Pulang dengan baik-baik, jangan buat keadaan kacau, atau kamu akan menyesal."


Vanessa menginjak kaki Bian dengan kuatnya, tentu saja itu berhasil melepaskan bungkaman Bian.


"Kamu mengancam ku, aku bisa melakukan hal yang lebih buruk kalau kamu mau."


"Vanessa, cukup."


"Kalau begitu biarkan aku disini, apa itu terlalu sulit."


"Tentu saja, kamu fikir itu akan berimbas baik untuk ku, jangan bodoh kamu."

__ADS_1


Vanessa diam, ia memang ingin memiliki pasangan seorang pemimpin perusahaan, dan Bian sudah mendapatkan kekuasaannya.


Tidak mungkin Vanessa biarkan Bian kehilangan kekuasaannya lagi, Vanessa bisa gagal mendapatkan pasangan seorang pemimpin perusahaan.


__ADS_2