
Bian memasuki ruangan Vanessa, sudah berjam-jam mereka di sana, langit pun telah berubah gelap, tapi orang tua Vanessa masih belum datang juga.
Bian ingin pulang, tapi ia tidak bisa untuk meninggalkan Vanessa begitu saja, wanita itu harus ada yang menemani agar Bian bisa pergi dengan tenang.
"Kamu makan sekarang ya," ucap Bian.
"Aku gak lapar, kamu makan saja sendiri."
"Tidak bisa seperti itu, kamu gak makan sejak siang, jadi sekarang kamu harus makan."
Tak ada jawaban, Bian membuka makanan yang dibelinya di luar, meski Vanessa menolak, tapi Bian terus memaksanya hingga mau.
Bian telah bersalah, jadi selagi bisa biarkan ia akan membalas kesalahannya itu, entah apa yang akan dilakukan keluarganya nanti saat melihat Bian.
"Van, aku minta maaf untuk semuanya."
Vanessa tak menjawab, entah apa yang sedang difikirkannya, tapi sejak sadar tadi, Vanessa jadi lebih diam.
"Hal seperti ini tidak akan terulang lagi, aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi."
"Kenapa kamu tidak pulang saja?"
"Aku akan pulang setelah ada orang yang temani kamu disini."
"Aku bisa sendiri, aku tidak apa-apa."
Bian mengangguk, ia terus mengulang suapannya, meski Vanessa berkata seperti itu, yang jelas Bian akan tetap di sana.
Keadaan Vanessa memang tidak terlalu buruk, tidak ada luka parah yang dialaminya, hanya luka dikepala akibat benturan yang berulang kali.
Tapi itu tidak mengakibatkan sesuatu yang fatal, Vanessa baik-baik saja hanya harus istirahat, tapi orang tuanya meminta agar Vanessa tetap di sana sampai mereka datang.
"Aku sudah kenyang, simpan saja akan ku makan lagi nanti."
"Baiklah."
Bian menyimpannya, ia mengganti dengan minum dan memberikannya pada Vanessa.
"Vanessa."
Keduanya menoleh, pintu terbuka dan menunjukan ibu dari Vanessa memasuki ruangan.
Disusul oleh Sintia yang juga turut datang, Bian segera bangkit setelah menyimpan gelas yang dikembalikan Vanessa.
"Kamu ini kenapa?" tanya Risa.
"Tidak apa-apa, aku hanya terjatuh tadi."
"Bagaimana bisa?"
Vanessa tersenyum seraya menggeleng, tidak perlu mengatakan apa pun, karena Vanessa memang sadari kesalahannya.
Sintia sepertinya tidak bisa berhanti untuk memperhatikan Bian, keyakinannya sangat kuat jika ini ada hubungannya dengan Zahra.
"Maaf Tante, saya kurang menjaganya tadi, sehingga dia ada disini sekarang?"
__ADS_1
"Kamu siapa?"
"Aku ...."
"Bian, bukankah kamu harus pulang?" sela Vanessa.
Bian menoleh, sesaat ia menatap Vanessa dan kemudian mengangguk.
Bian pamit begitu saja tanpa melanjutkan niat perkenalannya, meski begitu Risa tak mau ambil pusing, terserah saja mau seperti apa.
"Aku permisi dulu," ucap Sintia.
Ia bergegas menyusul kepergian Bian, tidak bisa pergi begitu saja, karena Sintia membutuhkan penjelasan meski hanya sedikit.
"Bian, berhenti."
Bian menghentikan langkahnya tanpa menoleh, wanita itu tidak akan menerima begitu saja keadaan Vanessa.
"Jangan menutupi apa pun, katakan apa yang membuat Vanessa seperti itu?"
"Dia terjatuh saat menuruni tangga."
"Benarkah, kenapa bisa seperti itu?"
"Aku tidak mengerti."
Sintia mengangguk, ia berpaling sesaat, kenapa Sintia tidak bisa percaya ucapan Bian itu.
"Bagaimana dengan Zahra, dia baik-baik saja?"
"Tentu."
Bian tak menjawab, mungkin memang Sintia begitu mencurigainya, tapi biarkan saja bukankah memang Bian bersalah.
Hanya saja Bian tidak akan mengatakan apa pun, biarkan Sintia dengan pemikirannya sendiri saat ini.
"Tidak masalah kalau kamu tidak mau mengatakan apa pun sekarang, tapi nanti saat semua terbuka dengan sendirinya, sedikit pun kamu tidak akan bisa mengelak."
"Terserah apa katamu, yang jelas sekarang aku harus pulang."
"Tentu saja, dan tolong berfikir ulang sebelum kamu kembali mengganggu Vanessa."
Bian mengernyit, kenapa Sintia jadi mengaturnya, bukankah awalnya juga Vanessa yang menemuinya.
Bahkan Bian tidak memintanya untuk datang, Vanessa juga yang telah menggodanya hingga terjadi hal bodoh itu.
"Cara berfikir mu memang terlalu sulit untuk aku mengerti, tapi apa pun itu, kamu harus tahu kalau tidak semua yang kamu inginkan akan selalu kamu dapatkan."
"Masuklah dan berhenti bicara."
"Selamat malam."
Sintia berlalu begitu saja, Bian menatap kepergian wanita itu, apa pun yang akan terjadi nanti, Bian tidak ingin memikirkannya.
Ia lantas melanjutkan langkahnya, sekarang ia harus bersiap untuk menghadapi orang rumah, Inggrid pasti akan mengamuk padanya.
__ADS_1
"Apa kabar wanita itu sekarang?"
Bian menggeleng, ia teringat dengan darah yang sempat mengotori tangannya, dan Bian tidak mendapat penjelasan apa pun tentang itu.
-----
Damar telah kembali ke rumahnya, ia duduk di kursi dengan lelahnya, kepalanya terasa pusing akibat semua yang terjadi satu hari ini.
Damar telah mengetahui jika Bian dan Zahra adalah suami istri, sangat tidak bisa dipercaya karena sejak awal bicara dengan Inggrid, tak sekali pun Inggrid menjelaskan jika mereka ada suami istri.
Damar mengusap wajahnya, ia tersenyum sekilas mengingat apa yang dilihat di sana, buruk sekali kelakuan suami Zahra.
"Terlalu buruk, tapi kenapa Ayra masih begitu membelanya, seharusnya ia tak perlu sampai histeris seperti itu menangisi lelaki buruk seperti Bian."
Damar memejamkan matanya sesaat, semua sangat membuatnya pusing, tapi pertemuan dengan Zahra sepertinya tidak akan bisa dilupakannya begitu saja.
"Dia benar-benar membela Suaminya, padahal sudah jelas kesalahannya, dan akhirnya semua perjuangannya hanya memberikan luka."
"Dimana wanita itu?"
Damar menoleh, ia langsung bangkit saat Yosep menghampirinya, Damar melihat sekitar, apa wanita gila itu kembali juga ke rumah.
"Dimana dia, bagaimana keadaannya?"
"Untuk apa bertanya seperti itu, mau menambah lagi lukanya?"
Yosep diam, ia lantas duduk dengan tatapan kosongnya.
"Yang bersalah adalah Suaminya, dia datang dengan niat terbaiknya, tidak seharusnya kalian memperlakukan dia seperti itu."
Yosep tak menjawab, ia hanya diam dengan fikirannya sendiri, Damar sedikit berdecak, ia turut duduk kembali di tempatnya.
"Mereka bukan orang sembarangan, mereka bisa saja menuntut balik kalian atas semua yang terjadi hari ini, kalian bisa celaka karena ulah sendiri."
"Aku akan menemuinya nanti."
"Untuk apa?"
"Tenang saja, aku akan minta maaf padanya, masalah akan selesai."
Damar diam, apa bisa perkataannya itu dipercaya, bukankah lelaki yang mengangkatnya menjadi anak itu sangatlah tidak punya hati.
"Tidak masalah kalau memang tidak percaya, aku akan pergi sekarang."
"Jangan ganggu mereka, ulah Istri mu sudah sangat menyusahkan mereka, biarkan mereka istirahat sekarang."
Yosep diam, ia sibuk dengan fikirannya sendiri, apa yang dilihatnya sudah bisa mengurangi sakit hatinya.
Wanita itu pasti cukup menderita karena ulah istrinya, rasakan saja, itu sedikit membayar luka dirinya dan istrinya.
"Aku pamit, butuh istirahat juga," ucap Damar.
"Silahkan saja."
"Jangan mengusik mereka, datangi mereka kalau memang niat mu itu baik."
__ADS_1
Tak ada jawaban, Damar lantas bangkit dan berlalu pergi, biarkan saja lelaki itu mau berfikir seperti apa sekarang.
Kelakuannya memang selalu membuat Damar muak, kenapa bisa Damar ada di tengah keluarga seperti Yosep.