
Saat malam datang, Bian sudah lebih dulu sampai ke rumah, ia mencari Inggrid dan juga Zahra.
"Ibu tadi pamit pulang, katanya ada yang harus diurus disana."
"Lalu Zahra?"
"Non Zahra, tadi pergi, katanya mau belanja."
"Belanja?"
"Iya, katanya ada beberapa kebutuhan yang harus dibeli."
"Kapan dia pergi?"
"Sejak pagi, tak lama setelah Den Bian dan Ibu keluar dari rumah."
Bian diam, jadi Zahra langsung pergi setelah Bian berikan kartu debitnya.
"Ya sudah, terimakasih Bi."
"Sama-sama Den, permisi."
Bian mengangguk, ia lantas menaiki tangga untuk sampai ke kamarnya, Bian melihat sekitar, tidak ada apa pun.
"Kemana wanita itu, belanja sampai malam seperti ini belum kembali."
Bian berjalan memasuki kamar mandi, ia membersihkan diri terlebih dahulu sebelum nanti menghubungi Zahra.
Jauh di jalan sana, Zahra dan Dion terjebak macet, mereka mengakui terlalu asyik berbincang dan bercandaan, sampai akhirnya Zahra lupa waktu pulang.
"Zahra, aku akan minta maaf sama Bian nanti, kamu gak akan kena marah meski pulang terlambat."
"Ngapain minta maaf, dia gak akan perduli juga."
"Aku gak mau kamu kena marah nantinya."
"Gak apa-apa, gak akan marah juga, kan kamu sudah tahu gimana keadaannya."
"Ya sudah, kalau ada apa-apa, kamu jangan lupa cerita sama aku ya."
Zahra mengangguk seraya tersenyum, itu bukan hal sulit, Zahra akan mengatakannya kalau memang menginginkannya.
Cukup menghabiskan waktu, mereka akhirnya sampai di rumah Bian, tentu saja keduanya melihat mobil Bian yang sudah ada di sana.
"Aku masuk ya."
"Kamu yakin akan baik-baik saja?"
"Yakin, kamu kenapa sih, sudah jangan berlebihan."
Keduanya lantas keluar, Dion melihat sekitar, tidak ada penjaga di sana, bagaimana kalau Zahra kenapa-kenapa.
"Aku masuk ya, terimakasih sudah antar pulang, dan terimakasih juga untuk semuanya hari ini."
"Tidak masalah, kalau memang boleh, lain waktu aku akan ajak kamu jalan lagi."
"Siap."
__ADS_1
Dion mengangguk, Zahra lantas berjalan memasuki rumah, sudah selesai semuanya, Zahra harus kembali ke dalam keadaan menjengkelkan.
"Kenapa harus bertahan kalau memang tidak diakui."
Dion menggeleng dan kembali memasuki mobil dan pergi, ia sudah mendapatkan kontak Zahra, sehingga tidak akan sulit untuk menghubunginya nanti.
"Sepertinya senang sekali jalan-jalannya?"
Zahra menoleh, ia melihat Bian di samping kaca sana, jelas sudah jika lelaki itu pasti melihatnya dengan Dion tadi.
"Janjian?"
"Tidak, kita tidak sengaja bertemu di Supermarket tadi."
"Dari pagi, baru pulang jam segini, kemana saja seharian?"
Zahra diam, apa urusannya dengan Bian, Zahra juga tidak pernah bertanya apa pun juga jika Bian pulang malam.
"Kenapa diam?"
"Aku hanya makan, dan berbincang disana, tidak kemana pun lagi."
Bian mengangguk, ia melihat belanjaan Zahra yang cukup banyak, apa saja yang dibelinya itu sampai terlihat kerepotan.
"Aku hanya beli keperluan ku saja, aku juga beli jaket, tidak beli macam-macam, dan aku tidak sampai menghabiskan uang mu."
Bian kembali mengangguk, baguslah kalau memang seperti itu, tapi meski dihabiskan, Bian tidak akan mempermasalahkan itu.
Zahra berjalan mendekat, ia menyimpan jinjingan di tangan kanannya, dan mengulurkan tangannya.
"Ada apa?"
Bian mengulurkan tangannya, Zahra menjabatnya dan menciumnya sekilas.
"Bukankah Oma sudah tidak disini, jadi kamu tidak perlu melakukan ini lagi."
"Maaf."
"Ya sudah sana masuk."
Zahra mengangguk dan berlalu dengan membawa semua belanjaannya, Bian juga mengikutinya dari belakang, bersama memasuki kamar.
"Lain kali, kalau mau jalan sama laki-laki, jangan diantar sampai rumah, cari masalah itu namanya."
Zahra tak menjawab, ia merapikan belanjaannya pada tempatnya, Zahra menyimpan jaket pada tempat cucian.
"Kamu dengar aku atau tidak, apa lagi kamu jalan sama Dion, mereka tahu siapa Dion."
Zahra menoleh, ia turut duduk di samping Bian, terdiam beberapa saat dengan fikirannya sendiri.
"Aku sengaja bawa dia kesini, agar kamu tahu dengan siapa aku pergi."
"Lalu apa gunanya?"
"Aku fikir, kamu akan mengkhawatirkan aku, karena aku pergi seharian."
Bian sedikit tersenyum, bisa sekali Zahra berfikir seperti itu tentangnya, semakin jelas saja jika wanita di sampingnya memang memiliki harapan tentang kebersamaan mereka.
__ADS_1
"Zahra, kamu seharusnya tidak seperti itu, kedekatan kita selama ini hanya karena ada Oma."
Zahra mengangguk pelan, itu akan selalu diingatnya, tapi tentang hati, Zahra tidak bisa mengatur sepenuhnya.
"Kamu akan kecewa, aku sudah ingatkan itu berulang kali."
"Dan aku selalu mengingatnya juga."
"Lalu kenapa kamu masih seperti itu?"
"Kamu fikir aku punya jawabannya?"
Keduanya sama-sama diam dalam tatapan satu sama lain, Zahra selalu kesal karena perasaannya sendiri, dan Bian selalu saja seolah menyalahkannya.
"Suatu hari, kamu akan tahu bagaimana rasanya ketika kamu tidak bisa mengarahkan perasaan kamu sendiri, entah pada siapa pun itu, yang jelas kamu akan merasa tidak mampu lagi menjaganya."
Bian tak menjawab, tapi dalam hal pernikahan mereka, Zahra harusnya tahu batasan, karena kesepakatan itu mereka buat sejak awal pertemuan.
"Kamu tidak akan bisa mengatur perasaan aku, karena aku sendiri pun tidak bisa, seharusnya kamu tidak perlu perdulikan ini, semua yang ada pada diriku biar jadi urusan ku, kalau kamu merasa keberatan dengan itu, kamu lepaskan saja aku."
Zahra bangkit dan berlalu keluar kamar, ada di dekat Bian memang hanya membuatnya kesal, membuatnya kecewa, dan banyak perasaan buruk lainnya lagi.
"Kenapa jadi dia yang marah, sekedar mengingatkan, dasar bocah bukannya terima malah ngambek."
Bian menggeleng dan merebahkan tubuhnya, biarkan saja Zahra mau kemana, tidak ada Inggrid di rumah itu, jadi Bian tidak perlu terlalu memperhatikannya.
Zahra duduk di ruang makan sana, berkutat dengan ponselnya, ia mengirim pesan pada Dion, mungkin saja lelaki itu bisa menemaninya sebelum merasa ngantuk.
Kringg ....
Zahra mengernyit, bukan membalas chat, Dion justru menghubunginya lewat sambungan video, Zahra pun menjawabnya tanpa ragu.
"Ada apa, dia marah padamu?"
"Tidak, dia tidak marah, aku sudah bilang kalau dia tidak akan perduli padaku."
"Syukurlah, aku khawatir kamu kena marah."
Zahra tersenyum tanpa menjawab, Dion sepertinya sudah sampai rumah, karena tidak ada keramaian yang terdengar.
"Kamu gak langsung tidur?"
"Nanti saja, aku belum ngantuk, kamu mau tidur, maaf ya aku ganggu."
"Gak, gak sama sekali, aku tunggu kabar dari kamu, tadi pas ada chat langsung saja aku telepon, aku fikir lelaki itu marah padamu."
Zahra menggeleng, bukankah itu bentuk perhatian, bahkan sekecil itu pun Bian tidak pernah memperhatikannya.
"Zahra."
"Iya."
"Ada apa?"
"Tidak, tidak ada apa-apa, aku hanya senang saja ada teman ngobrol."
Dion tersenyum dan mengangguk, bukankah jelas jika sekedar ngobrol saja Bian tidak mau menemani Zahra.
__ADS_1