Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Tolong Percaya


__ADS_3

Saat sampai di rumah, Bian tak melihat ada orang di sana, makanan di meja makan pun tampaknya utuh.


Bahkan Bian tak melihat Zahra ada di kamar, apa mungkin wanita itu pergi lagi ke tempat persembunyiannya kemarin.


"Tidak mungkin, dia pasti ada di kamar Oma."


Bian keluar dan berjalan menuju kamar Inggrid, dengan hati-hati ia membuka sedikit pintu tersebut.


Bian membungkukan tubuhnya untuk bisa melihat ke dalam sana, dan memang benar, Zahra sedang tidur di ranjang Inggrid.


Tapi tidak ada wanita tua itu di sana, apa benar Inggrid telah pulang ke rumah, Bian sempat mendengar kalimat itu sebelumnya.


"Oma," panggil Bian pelan.


Merasa tak ada jawaban, Bian memasuki kamar perlahan, ia mendekati Zahra yang mungkin terlelap di sana.


Posisi tidur yang menyamping, baju piama lengan pendek, jelas saja menunjukan luka Zahra.


Bian diam menatapnya, luka apa itu, kenapa Zahra bisa terluka seperti itu, bisakah Bian membangunkannya sekarang.


"Non Zahra."


Bian menoleh, kaget sekali, ia befikir jika yang datang adalah Inggrid.


"Den Bian, sudah pulang."


"Kenapa Zahra tidur disini, mana Oma?"


"Ibu di Rumah Sakit."


Bian mengernyit, rumah sakit, jadi keadaan Inggrid benar-benar drop setelah tidak sadarkan diri tadi.


Bian kembali melirik Zahra, benarkah wanita itu tertidur, atau ia hanya sedang bersandiwara saja.


"Non Ayra bilang mau tidur disini, dan dia tidak mau diganggu."


"Tapi aku perlu bicara sama dia."


"Nanti Ibu marah."


"Oma tidak ada disini, seharusnya itu tidak perlu dikhawatirkan."


Perbincangan mereka cukup mampu mengusik tidur Zahra, keduanya menoleh dan terdiam saat melihat kedua mata itu terbuka.


Melihat sosok Bian, membuat perasaan Zahra senang, seharusnya Zahra percaya jika pada akhirnya lelaki itu tetap akan kembali padanya.


"Bibi permisi," ucap Nur seraya berlalu.


Zahra terlihat bangun, ia masih ingin istirahat, tapi sepertinya ia harus tahu kondisi Inggrid saat ini.


"Kamu mau kemana?" tanya Bian.


Zahra tak menjawab, ia berjalan lurus melewati Bian, Zahra hanya akan menangis jika harus bicara dengannya.


"Zahra," panggil Bian.


Kaki itu terus terayun meninggalkan kamar, sudah cukup lama Zahra tertidur, dan sudah cukup lama juga ia mengabaikan Inggrid.


"Zahra, tunggu dulu."


Tetap saja tak ada respon, Bian menyusul wanita itu yang memasuki kamarnya, Bian sempat diam memperhatikan pergerakannya.

__ADS_1


Zahra hanya memakai jakat dan membawa tas kecilnya, tentu saja Bian mengerti jika Zahra akan segera pergi.


"Kamu baru saja bangun tidur, mau kemana?"


Bian menghalangi langkah Zahra yang hendak kembali keluar, Zahra menoleh, dengan kuat ia menatap suaminya itu.


Bian terlihat biasa saja, seolah tak pernah terjadi apa-apa, tapi Zahra sadar, suaminya memang selalu seperti itu dari sejak mereka bersama.


"Tolong diam," pinta Bian.


"Aku selalu menuruti apa pun yang kamu mau, aku diam bahkan meski aku tidak merasa nyaman, aku tidak punya kebebasan, sebagian hak hidup ku telah hilang atau mungkin semuanya sekarang telah hilang, aku tidak bisa menuntut apa pun, aku hanya harus menuruti semuanya, hak terhadap diriku sendiri pun telah aku lupakan, apa tidak ada sedikit pun imbalan baik untuk semua yang aku lepaskan?"


Bian diam, tatapan keduanya begitu kuat untuk satu sama lain, fikiran Bian berputar pada semua hal yang telah terjadi selama mereka bersama.


"Bian, orang tua ku selalu memperjuangkan kebahagiaan aku dengan sangat sempurna, mereka selalu berusaha mempertahan kebahagiaan itu meski sesulit apa pun, kamu tahu seberapa berat kehidupan aku setelah mereka tidak ada, kamu masih tidak mengerti jika sekarang hanya kamu yang jadi harapan dari kebahagiaan hidup aku?"


"Dan kamu tahu kalau aku tidak bisa menjadi harapan mu, kamu akan pergi?"


"Iya, aku akan pergi, ternyata aku tidak bisa menggantungkan hidup ku pada siapa pun, bahkan terhadap Suami ku sendiri, mungkin aku akan mulai hidup tanpa harapan, aku hanya akan melangkah mengikuti keharusannya, Bian aku selalu berusaha sebaik mungkin dalam kebersamaan kita, tapi yang memiliki harapan disini hanya aku."


Bian mengangguk perlahan, ia menunduk, perasaannya mulai kacau saat ini, kalimat panjang Zahra tak lagi membuatnya muak.


Meski tipis, tapi rasa bersalah mulai bisa dirasakan Bian, ia bukan lelaki baik, apa lagi suami yang baik.


"Aku tidak akan mempermasalahkan perlakuan buruk mu, aku selalu menerima dan melupakannya, aku selalu bertahan dalam harapan perubahan baik kamu, tapi sepertinya memang aku yang terlalu bodoh, semua perlakuan buruk mu bukan membuat ku membenci mu, tapi justru membuat ku menyayangi mu, bukankah ini lelucon yang buruk?"


Zahra sedikit tersenyum, ia mengejek dirinya sendiri saat ini, rasanya Zahra sudah puas dengan ejekan Bian.


Diamnya memang sama sekali tak berharga, harapannya pun tak berharga, semua hanya jadi hinaan bagi Zahra.


"Aku selalu membuat mu marah, kesal, jengkel, aku terlalu buruk dalam penilaian mu, jadi sebaiknya memang aku pergi, hidup ku tidak akan baik-baik saja jika aku membuat hidup orang lain tidak baik, kamu berhak mendapatkan kebahagiaan kamu sendiri, dan begitu juga dengan aku sendiri."


"Aku ...."


Bian kembali menatap Zahra, apa maksud ucapannya, apa mungkin Zahra akan meninggalkannya sekarang.


Siapkah Bian untuk itu, bukankah selama ini Bian tidak pernah menyukainya, tapi Bian juga tidak ingin melepaskannya.


Kalimat Zahra adalah kebenaran, suara yang kerap membuat perasaannya jengkel, kini tidak ada lagi, Bian bisa menerima semuanya.


"Aku minta maaf, setelah ini mungkin tidak akan ada lagi kesabaran yang aku pertahankan, sikap baik yang aku tunjukan, itu tidak akan ada lagi."


"Apa maksud kamu?"


Zahra menggeleng, semua masih harus difikirkannya, Zahra masih gelisah mengambil langkahnya, itu terlalu berat baginya.


Zahra harus siap dibenci lagi, bahkan mungkin sampai tidak ada sisa sedikit pun keperdulian baginya, Zahra harus siap dengan itu.


Hidupnya adalah tanggung jawabnya sendiri, Zahra sudah mengatakan jika tidak akan ada harapan lagi dalam hidupnya setelah ini.


"Berhenti berfikir, dan berhenti berbicara, aku tidak mau mendengar apa pun lagi."


"Aku tidak mau menuruti kamu lagi, kamu mengerti?"


"Zahra, aku minta maaf."


"Tidak ada siapa pun disini, kamu tidak perlu bersandiwara."


Bian mengangguk, ia meraih kedua pergelangan tangan Zahra, entah benar atau tidak, tapi Bian perlahan berlutut di hadapan Zahra.


Ia menunduk di sana, tingkah Bian membuat Zahra tersenyum, entah niatan seperti apa lagi yang sedang Bian rencanakan sekarang.

__ADS_1


"Aku minta maaf, aku sudah sangat keterlaluan, aku hanya memikirkan diriku sendiri, aku yang memaksa mu datang dan tinggal bersama ku, tapi aku yang tidak memperlakukan mu dengan baik."


Zahra menarik kedua tangannya, Bian juga tak menahannya, tapi lelaki itu justru menyentuh kakinya, Bian nyaris bersujud jika saja Zahra tidak mundur menjauhinya.


Zahra bukan Tuhan yang harus disembah, itu bukan solusi untuk memperbaiki keadaan yang telah sangat memburuk.


"Aku selalu berbohong dalam segala hal, hidup ku hanya kebohongan setelah kita bersama, tolong percaya, aku menyesal dengan semuanya."


Zahra berpaling, ia lantas duduk di kursi sana, tentu saja Zahra percaya dengan itu, selama ini Zahra selalu percaya dengan semua kebohongan Bian.


Bian berbalik dan segera menghampiri Zahra, ia menunduk di pangkuan Zahra, biarkan saja apa yang akan difikirkan Zahra sekarang.


"Semua masalah terjadi karena aku sendiri, tapi aku selalu menyalahkan mu, aku minta maaf."


Zahra mengerjapkan matanya, berusaha mengontrol emosinya, Zahra tidak boleh menangis sekarang.


"Zahra, kamu bisa melakukan apa pun sekarang, kamu lakukan saja apa yang sudah aku lakukan terhadap mu selama ini, lakukan saja."


Bian benar, Zahra akan melakukan apa yang selama ini Bian lakukan terhadapnya, Bian akan tahu jika ada diposisi Zahra tidaklah enak.


"Lakukan saja, kamu mau memukul ku, kamu mau membentak ku, lakukan saja sekarang, buat semua sakit hati mu terlampiaskan, aku tidak akan menghindar."


Bian bangkit dan menarik Zahra untuk bangkit juga, ia melihat sekitarnya, entahlah Bian tidak tahu harus seperti apa.


"Lakukan apa yang mau kamu lakukan, kamu mau pukul aku, lakukan saja, maki aku sampai kamu puas, lakukan semua yang pernah aku lakukan terhadap mu, ayo lakukan Zahra."


Bian menarik tangan Zahra, tapi Zahra menepisnya, Zahra tidak bisa melakukannya, sedikit pun tidak ada keberanian untuk itu.


"Lakukan, ayo lakukan."


"Diamlah."


"Lakukan aku tidak akan menghindari sedikit pun juga."


"Aku bilang diam."


"Aku tidak akan diam, aku tidak pernah bisa diam kamu tahu itu, aku memang bersalah dan aku siap membayar semuanya, pukul aku saja, ambil apa yang mau kamu jadi alat, lakukan."


"Diam!" bentak Zahra.


Dua pasang mata itu kembali bertemu tatap, tidak ada lagi sorot ketenangan dari keduanya, Zahra sadar jika kekacauan Bian saat ini tidak seperti biasanya.


Apa mungkin benar jika Bian menyesali semuanya, apa Zahra harus percaya dan perduli dengan itu.


"Apa, ayo bentak lagi, luapkan semuanya."


"Diam, apa kamu tidak bisa diam?"


"Aku minta maaf, bisakah kamu percaya?"


Zahra menggeleng, Bian memeluknya begitu saja, jika tidak ada kepercayaan untuknya, mungkin itu sudah sepantasnya.


Bian hanya harus menerimanya, sama seperti yang kerap Zahra lakukan, Bian juga harus melakukannya, menerima kebencian dari wanita yang mengaku menyayanginya.


"Aku minta maaf, bisakah kamu terima ini, aku minta maaf."


Zahra memejamkan matanya, nada bicara Bian mulai bergetar, Zahra tidak mau tersentuh dan harus mengalah lagi.


"Aku minta maaf, tolong ampuni aku, aku akan mencoba menjadi apa yang kamu mau, aku mohon."


Zahra menunduk pada pundak Bian, tubuh Bian yang membungkuk membuat Zahra bisa meraih pundaknya.

__ADS_1


Bian benar-benar terisak saat ini, apa itu bukti jika Bian memang menyesal, kapan Bian menangis untuknya, itu tidak pernah terjadi selama mereka bersama.


__ADS_2