
Bian terlihat sibuk saat ini, pekerjaannya banyak lebih dari biasanya, meski lama tidak melakukan kegiatan tersebut tapi Bian tidak merasa kerepotan dengan itu.
Perusahaan adalah mimpinya sejak lama, ia sudah terlalu kama kehilangan kesempatan ada di tempat tersebut.
Drrrttttt .....
Bian meraih ponselnya, ada pesan masuk yang sedikit mengganggu fokusnya saat ini.
"Dia sudah kembali, lama juga tidak melihatnya."
Untuk sesaat Bian berkutat dengan ponselnya, ia sedikit tersenyum membaca balasan pesannya.
"Baiklah, segera datang."
Ponsel itu kembali disimpan, Bian kembali berkutat dengan laptop dan beberapa berkas pentingnya.
Bian ingin selesaikan semuanya lebih cepat, ia akan pulang saat makan siang nanti, tentunya dengan harapan jika Zahra sudah baik-baik saja di sana.
"Permisi."
"Iya, masuk saja."
Pintu terbuka, Bian tersenyum menyapa karyawannya.
"Permisi Pak, ini ada berkas pengajuan dana untuk kerjasama pertama perusahaan Pak Melvin."
"Kenapa kesini?"
"Karena memang seperti itu perintah Bu Inggrid, kantor itu belum diberikan kebebasan atas dana perusahaan pribadi, dan kata beliau kalau ada kebutuhan dana seperti ini harus minta persetujuan Pak Bian."
Bian mengangkat kedua alisnya, bukankah Inggrid sudah sangat percaya dengan lelaki itu, tapi kenapa harus seperti sekarang.
"Silahkan Pak, katanya ini dibutuhkan cepat."
"Benarkah, tapi saya belum dapat laporan keuangan sampai sekarang, dan saya belum tahu harus setuju atau tidak."
"Tapi ini untuk perusahaan Bu Inggrid juga."
"Tapi perhitungannya juga harus jelas, lagi pula kenapa tidak lelaki itu saja yang datang kesini?"
Wanita itu hanya mengangguk saja, lalu apa yang harus dikatakannya lagi sekarang, ia sudah menyampaikan pesannya dan itu sesuai dengan aturan yang dibuat.
Bian menggeleng dan mengambil berkas yang masih saja didekap wanita itu, Bian membukanya dan membacanya beberapa saat.
"Ini cukup besar, apa harus sebesar ini, kerjasama seperti apa yang dibuatnya?"
"Saya hanya menyampaikan itu Pak, jadi maaf saya tidak bisa menjelaskan semuanya."
"Itulah, kamu harusnya suruh Marvel sendiri yang datang kesini."
"Baik Pak, akan saya sampaikan, permisi."
Bian mengangguk, wanita itu lantas pergi dari ruangan, tidak ada hasil apa-apa atas kedatangannya.
Berkas itu disimpan, Bian menggeleng karena ia tak tahu jika aturan perusahaan baru itu masih bergantung pada perusahannya juga.
"Seharusnya kalau memang percaya, biarkan saja dan berikan semua kebutuhannya, lepas biar tahu nanti hasilnya."
Bian sedikit tersenyum, apa itu artinya Inggrid masih belum percaya padanya, lagi pula kenapa bisa secepat itu percaya pada orang asing.
"Orang asing?"
Bian menoleh, ia tersenyum seraya bangkit saat melihat Dion datang.
"Orang asing datang," ucap Bian.
__ADS_1
Keduanya berjabat tangan, kini mereka kembali bertemu setelah cukup lama terlewati.
"Apa kabar, silahkan duduk."
"Terimakasih, Bos."
Bian memukul Dion asal, menyebalkan sekali kalimatnya itu, keduanya lantas duduk bersamaan.
"Kau berhasil mendapatkannya lagi."
"Mungkin iya, tapi entahlah, baru beberapa hari juga."
"Bagaimana, semua baik-baik saja?"
"Ya, seperti yang terlihat memang baik-baik saja, dan semoga memang baik."
"Zahra, gimana?"
Bian menggeleng pelan, ia mendadak merasa keberatan saat Dion menyebutkan Zahra.
Lelaki itu bisa saja merindukan Zahra karena lama tidak jumpa, dan mungkin setelah ini Dion akan kembali mendekati Zahra.
"Kamu sudah mendapatkan keinginan mu bahkan sebelum satu tahun pernikahan."
"Lalu kenapa, bukankah itu bagus, berarti aku berhasil."
"Ya, selamat kamu berhasil."
Keduanya tersenyum bersamaan, Dion mengangguk seraya melihat sekitar.
Sebenarnya Dion ingin menemui Zahra, tapi kabar Bian yang telah kembali mengurus perusahaan, lebih menarik minatnya untuk datang.
"Bagaimana keadaan keluarga mu?"
"Lumayan membaik, sebenarnya aku akan pindah kesana."
Dion mengangguk, tapi ia bisa mencari pekerjaan baru di tempat barunya nanti.
Yang terpenting Dion bisa menemani keluarganya, memang terasa sulit karena mereka bisa sakit bersamaan seperti itu.
"Kenapa tidak mereka saja yang dibawa kesini, mereka bisa tinggal disini dengan mu."
"Tempatnya tidak cukup, mereka akan kesulitan bernafas nanti."
Bian sedikit tertawa mendengarnya, bisa sekali Dion berkata seperti itu, tapi memang benar tempat Dion tidak begitu luas.
"Aku belum menemui yang lain, nanti malam mereka mau kumpul di tempat ku, kamu mau gabung?"
"Nanti malam?"
Dion mengangguk, Bian diam, apa bisa dia pergi nanti malam, bukankah Zahra sedang tidak baik-baik saja.
Tapi bukankah Zahra juga tidak mau melihat Bian, mungkin saja itu bisa jadi jalan untuk Bian bisa pergi nanti malam.
"Tidak perlu memaksakan kalau memang tidak bisa, kamu pasti sibuk di rumah."
"Entahlah, lihat nanti saja kalau memang bisa, aku akan datang."
"Tentu saja kami akan sangat menunggu mu."
Bian tersenyum seraya mengangguk, sudah lama juga mereka tidak berkumpul, dan Bian merindukan kebersamaan itu.
Keduanya menoleh saat pintu terbuka, Bian bangkit saat melihat Zahra memasuki ruangannya.
"Kamu kesini," ucap Bian.
__ADS_1
Dion sekilas melirik Bian dan kembali pada Zahra, akhirnya ia bisa melihat wanita itu, tentu saja itu bisa mengurangi kerinduannya.
"Aku bawa makan untuk mu."
Bian tersenyum, ia meraih kotak makannya dan memeluk Zahra beberapa saat.
Perlakuan itu mampu membuat Dion berpaling, jujur saja Dion tidak suka itu, tapi ia tidak bisa melarangnya juga.
"Terimakasih, kamu duduklah."
"Tidak."
Zahra melirik Dion, lelaki itu ada lagi di pandangannya, benar juga berapa lama Zahra tidak melihatnya.
Dion mengangguk, ia ingin bicara banyak, bahkan ia juga ingin memeluk Zahra, tapi itu tidak mungkin dan sangat tidak mungkin karena ada Bian.
"Apa kabar?" tanya Dion.
"Baik, bagaimana dengan dirimu?" tanya balik Zahra.
"Aku baik, tentu saja aku baik."
Zahra mengangguk, Bian tampak memperhatikan keduanya bergantian, hanya seperti itu saja Bian merasa keberatan.
Apa lagi dengan tatapan Dion terjahadap Zahra, itu cukup membuatnya kesal, dan tidak bisa terima.
"Baiklah, kalau gitu sebaiknya aku pergi saja sekarang," ucap Dion seraya bangkit.
"Mau kemana, kenapa buru-buru?" tanya Zahra.
"Aku bahkan belum sempat ke rumah, aku langsung kesini saat sampai tadi, kita tunggu nanti malam ya."
"Semoga saja bisa," ucap Bian.
Dion mengangguk, ia kembali pamit dan pergi dari keduanya.
Zahra menoleh, ia terdiam menatap Bian, tatapan yang masih saja kosong, entah apa yang sedang difikirkannya.
"Kenapa, ayo duduk, jangan berdisi terus nanti kaki kamu sakit."
"Aku tidak apa-apa, aku kesini hanya untuk mengantakan makanan itu, aku akan kembali pulang."
Bian mengernyit, benarkah seperti itu, atau mungkin Zahra datang karena ia sengaja ingin bertemu dengan Dion.
Bukankah bisa saja Dion juga mengabari Zahra tentang kepulangannya, dan mereka sepakat untuk bertemu hari ini juga.
"Kita akan pulang sama-sama, tunggu sebentar satu jam lagi waktu istirahat Kantor."
"Tidak, aku mau pulang sekarang."
"Kamu buat janji juga dengan Dion?"
Zahra diam, ekspresi wajahnya begitu datar, entah harus diartikan sebagai apa ekspresi itu.
Zahra mengangguk pelan, ia tidak ingin bicara banyak, ia tidak mau memaksa untuk bisa mengatur fikiran Bian juga.
"Aku pulang, fikirkan saja apa yang mau kamu fikirkan, aku tidak perduli."
"Zahra."
"Permisi."
Zahra berlalu begitu saja, ia malas mendengar apa pun yang hanya membuat kepalanya sakit.
Bian terlihat memukul mejanya pelan, lihat saja kalau sampai benar mereka janji temu di luar sana.
__ADS_1
Bian tidak perduli meski mereka istri dan teman baiknya sendiri, Bian tetap akan marah pada mereka.