Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Tidak Berarti Lagi


__ADS_3

"Non Ayra, ini makanannya, Bibi sudah buatkan yang baru."


Nur memasuki kamar, ia melihat Zahra yang tetap saja berbaring dengan mata terpejam.


Nur menyimpan makanannya, ia lantas duduk di samping Zahra dan mengusap tangannya.


"Ayo makan, kapan Non mau makan, ini sudah terlalu lama."


Tak ada respon apa pun, Zahra hanya diam saja, sejak keributan itu Zahra memang jadi patung.


Wanita itu hanya berbaring saja tanpa melakukan apa pun, bahkan untuk sekedar membuka mata sepertinya ia tak mampu.


"Non, ayo bangun dulu, atau makan saja tidak apa Bibi suapi."


Zahra sama sekali tak bergeming, padahal biasanya ia selalu sempat membuka mata atau sekedar menggeleng.


Wajah pucat Zahra memang sangat menjelaskan keadaannya, kalimat terakhir yang Nur dengar adalah Zahra ingin berhenti dari semuanya.


"Non Ayra, jangan seperti ini terus, ini salah, ayo bangun dan makan dulu, atau paling tidak minumlah sedikit."


Tak ada apa pun yang masuk ke tubuh Zahra, Nur sudah mencoba memanggil dokter, tapi Zahra selalu menolak, ia tidak pernah mau diperiksa.


Entah harus bagaimana Nur bersikap, ia bisa kena marah Inggrid jika tahu keadaan Zahra saat ini.


"Non Ayra, dengar Bibi, ayo bangun."


Nur menempuk kedua pipi Zahra bergantian, perasaannya mulai panik karena tidak ada respon apa pun dari Zahra.


Wanita itu benar-benar diam sudah seperti orang mati, Nur melihat sekitar, ia hanya sendirian di sana.


"Non Ayra."


Nur meraih tangannya, memeriksa denyut nadinya, itu nyaris hilang, Nur bangkit dan segera keluar dari kamar.


Bagaimana bisa Zahra melakukan hal bodoh seperti itu, bisa-bisanya ia membuat hidup dan usahanya sia-sia.


Nur meraih telepon, ia menghubungi dokter berulang kali, tapi berulang kali juga Nur tidak mendapatkan jawaban.


"Bagaimana ini, sebaiknya aku cari taxi langsung."


Nur berlari keluar, ia mencari taxi untuk membantunya saat ini, Zahra harus dibawa ke dokter secepatnya.


"Mana taxi, kenapa tidak ada satu pun yang lewat."


Nur semakin panik, ia mengerti jika diamnya Zahra karena wanita itu tak sadarkan diri.


Entah sejak kapan Zahra seperti itu, karena saat Nur bangun tidur, ia sempat menemui Zahra dan masih melihatnya membuka mata.


"Taxi," teriak Nur seraya mengulurkan tangan.


Tapi taxi itu melaju tanpa perduli Nur, ya tentu saja itu artinya taxi tersebut ada penumpang.


"Ya Tuhan bagaimana ini."


Nur diam, apa sebaiknya dia menghubungi Kemal atau Kania saja, mungkin salah satu dari mereka ada yang mau perduli dengan Zahran.


Nur mengangguk, ia lantas berbalik dan kembali ke rumah, tapi baru menginjak teras luar, Nur kembali berbalik karena suara klakson di belakang sana.


"Apa itu Ibu."


Nur diam, ia mengernyit melihat Damar yang ternyata datang pagi ini, lelaki itu tampak memeluk boneka dan berjalan menghampiri Nur.

__ADS_1


"Maafkan aku mengganggu pagi-pagi, aku ada urusan dekat sini, sekalian aku mampir untuk mengantarkan boneka milik Ayra."


Nur mengangguk, itu kebetulan yang sangat baik, Nur bisa meminta bantuan padanya.


Nur melirik taxi yang masih bertahan di sana, Damar pasti belum membayarnya, ia berniat untuk pergi lagi setelah memberikan bonekanya.


"Ayra ada kan?"


"Tolong dia, cepat tolong dia sekarang."


"Tolong?"


Nur mengangguk, ia lantas berjalan cepat memasuki rumah, tidak ada waktu untuk menjelaskan, Zahra lebih penting untuk saat ini.


Damar melirik supir taxi di sana, dan memintanya untuk menunggu sebentar, ia lantas memasuki rumah menyusul Nur.


"Bibi," panggil Damar.


"Non Ayra," teriak Nur.


Damar melirik tangga, dengan cepat ia menaikinya dan masuk ke kamar Zahra.


Damar melihat wanita itu terbaring tak berdaya, dengan wajah yang pucat sekali.


"Ada apa ini?" tanya Damar.


"Cepat bawa dia ke Rumah Sakit, sekarang."


Damar mengangguk, ia lantas menggendong Zahra, boneka yang terjatuh begitu saja diraih Nur.


Keduanya keluar dengan membawa Zahra, mereka pergi dengan taxi yang tadi ditumpangi Damar.


"Baik."


"Ayra, kenapa dia, kenapa seperti ini?"


"Non Ayra tidak mau makan dan minum, ia hanya tidur saja setiap waktunya."


Damar diam, seharusnya ia datang lebih cepat dari hari ini, jika saja ia tahu kalau Zahra sedang tidak baik-baik saja.


Damar menatap wajah pucat itu, semua pasti karena Bian, Zahra masih berat dengan semua yang dilakukannya.


 -----


"Ini sudah terlalu lama, saya harus segera pulang," ucap Inggrid.


"Mami, sabarlah dulu," sahut Kania.


Inggrid menatap dokter dengan penuh harap, keadaannya sudah sangat membaik, tapi kenapa Inggrid masih tidak diizinkan pulang.


"Saya janji akan lebih hati-hati, tapi saya harus segera pulang, tolong mengerti."


"Keadaan seperti ini akan terus terulang dan semakin parah, saya khawatir dengan semua itu."


"Tidak, saya di rumah bersama dengan cucu saya, dia selalu menjaga dan merawat saya, saya akan baik-baik saja bersama dia."


Dokter melirik Kania, tentu saja Kania paham jika yang dimaksud Inggrid adalah Zahra.


Sampai seperti itu mereka berdua, Inggrid bahkan tega mengabaikan Bian yang jelas cucunya yang sebenarnya.


Kania tersenyum sekilas, mungkin memang anaknya itu terlalu buruk, sehingga Inggrid tak bisa lagi untuk menyayanginya.

__ADS_1


"Dokter, harus seperti apa saya memohon?"


"Untuk dua hari lagi saja."


"Tidak, saya tidak mau, saya sudah sehat sejak saat ini."


Dokter kembali melirik Kania, ia sudah menjelaskan semuanya, jika memang tidak bisa melarang maka tergantung dari tanggung jawab keluarganya.


"Kalau memang diizinkan, saya bisa tanggung jawab."


"Ya, silahkan saja, tapi harap diingat semua yang saya sampaikan."


"Iya."


Dokter mengangguk, Inggrid memang begitu keras atas keinginannya, padahal Kania sudah mengatakan kalau Zahra baik-baik saja di rumah.


Inggrid tampak bangun, dua orang itu kenapa malah diam saja, bukannya mengurus kepulangan Inggrid.


"Mami, tunggu dulu."


"Kalau gitu saya permisi, silahkan selesaikan urusan lainnya."


"Baik, Dokter."


Dokter itu pergi meninggalkan keduanya, Inggrid menatap Kania yang kembali diam, itu sangat tidak bisa dimengerti olehnya.


Entah apa yang sedang difikirkannya, Kania terlalu banyak melamun dan itu membuat Inggrid kesal.


"Sampai kapan kamu akan diam?"


"Aku akan selesaikan pembayarannya dulu, Mami tunggu dulu."


"Pergi cepat."


Kania mengangguk dan keluar meninggalkan ruangan, ia memejamkan matanya sesaat, Kemal juga masih saja uring-uringan sampai sekarang.


Kania merasa kesal sendiri sekarang, pusing sekali kepalanya, meski Kania berusaha untuk tidak memikirkan, tapi tetap saja itu terfikirkan diotaknya.


"Ayolah cepat, kenapa lama sekali."


"Sabar Pak, tolong tenang kami akan menanganinya sebaik mungkin."


"Banyak bicara sekali."


Kania melirik sumber suara, ia mengernyit melihat Nur di sana, kenapa mereka panik sekali.


Kania melihat penghuni brankar itu, matanya seketika membulat saat melihat Zahra yang dibawa melewatinya.


"Bibi," panggil Kania.


Nur dan Damar menoleh bersamaan, tapi Damar kembali berpaling dan mengikuti kemana Zahra dibawa.


"Ibu disini juga."


"Kenapa dengan Ayra?"


"Non Ayra tidak sadarkan diri, dia sangat tidak baik-baik saja."


Kania menutup mulutnya, ia kembali melirik arah pergi Zahra, tapi sudah tidak terlihat lagi.


Jadi benar kalau Zahra tidak baik-baik saja, pantas saja Inggrid begitu gelisah dan ingin pulang.

__ADS_1


__ADS_2