
Siang hari Zahra telah usai, kini langit telah berganti gelap, Zahra sibuk membantu Nur menyiapkan makan malam.
Zahra memilih kegiatan itu karena merasa bosan, tidak ada apa pun yang bisa dilakukannya, Bian juga hanya mengabaikannya sejak pulang tadi siang.
"Zahra, mana Suami kamu?" tanya Inggrid.
"Dia di atas, nanti aku panggil."
"Kenapa dia tidak ikut membantu mu?"
"Tidak apa Oma, biarkan saja."
Inggrid lantas duduk, ia melihat makanan yang dihidangkan di meja, banyak juga dan itu artinya mereka harus makan bersama.
"Sudah, kamu panggilkan saja Suami kamu, jangan biarkan makanan ini dingin."
"Ya sudah, aku ke atas dulu."
Zahra berlalu pergi, biarkan saja Nur yang menyelesaikan semuanya, lagi pula hanya tinggal sedikit saja.
Dan lagi sudah ada Inggrid di sana, mungkin saja Inggrid bisa membantunya sedikit demi sedikit.
"Bian, Oma panggil kamu."
Zahra melihat ruangan, tidak ada Bian di sana, seingat Zahra langkah kaki Bian memang menuju kamar, tapi kemana lelaki itu.
"Bian, kamu di kamar mandi?"
Tak ada jawaban, Zahra berjalan dan membuka pintu belakang, rupanya Bian ada di balkon sana.
Zahra tersenyum melihat tubuh tegap itu, ia tidak bisa lupa dengan semua rasa kecewanya, tapi ia juga tidak bisa menutupi jika harapannya benar-benar ada terhadap lelaki itu.
"Kamu disini, apa yang kamu lakukan?"
"Diamlah, pergi saja untuk apa kesini?"
"Oma mencari mu, dia ingin makan malam bersama mu."
"Aku tidak lapar, kamu saja temani makan."
Zahra mengangguk, perlahan ia mendekat dan berdiri di belakang Bian, entah sampai kapan lelaki itu akan bersikap demikian padanya.
Tapi meski begitu, Zahra tidak bisa untuk pergi darinya, sekali pun terkadang keadaan selalu memaksanya untuk menyerah.
Kedua tangan Zahra mengepal beberapa saat, perlahan terangkat, dan dengan ragu Zahra memeluk tubuh tegap suaminya itu.
Bian sedikit terkejut, ia melirik tangan yang melingkar di pinggangnya itu.
"Aku tidak mengizinkan mu untuk ini."
"Tapi sepertinya aku punya hak untuk ini."
"Lepaskan."
"Diamlah, biarkan aku melakukan apa yang aku inginkan, aku tidak pernah melarang mu untuk melakukan apa yang kamu inginkan."
Bian sedikit menoleh, itu memang benar, Zahra tidak pernah melarangnya untuk apa pun.
__ADS_1
"Kamu akan pergi demi lelaki itu?"
"Siapa?"
"Tidak perlu berpura-pura."
Zahra diam, bukankah Zahra sudah memutuskan untuk bertahan dengan suaminya, mana mungkin Zahra memikirkan lelaki lain.
"Dia sudah membuka semuanya," ucap Bian.
"Lalu kenapa?"
"Itu artinya dia akan mulai berontak, dia tidak akan diam lagi untuk mendapatkan kamu."
"Aku akan pergi kalau kamu yang melepaskan aku."
Keduanya diam, Bian memang selalu memikirkan Vanessa, ia menginginkan Vanessa bukan Zahra.
Tapi sepertinya Bian tidak bisa melepaskan Zahra, egonya untuk kembali mendapatkan perusahaan masih sangat besar, dan hanya Zahra yang bisa membantunya untuk itu.
"Kamu masih memikirkan wanita itu?"
"Diamlah."
"Aku tidak pernah berbohong untuk hal apa pun, jadi aku harap kamu bisa melakukan yang sama."
"Bukankah kejujuran ku hanya akan menyakiti mu."
"Berarti jawabannya benar?"
Tak ada jawaban, Zahra tersenyum sekilas, seharusnya Zahra tidak perlu pertanyakan itu.
Bian mengangkat tangannya, menarik Zahra agar berpindah ke hadapannya, Zahra tersenyum dengan mempertahankan pelukannya.
"Lepaskan ini, untuk apa seperti ini?"
"Kamu selalu berusaha mencari kesenangan kamu sendiri, jadi biarkan aku juga berusaha mencari kesenangan ku sendiri, dengan seperti ini aku sudah bisa mendapatkan kesenangan ku sendiri."
"Tapi aku tidak suka."
"Itu yang aku rasakan dari kesenangan mu sendiri, aku tidak menyukainya sama sekali."
"Kamu sedang membalas ku?"
"Tentu saja, aku tidak akan diam saja."
Zahra mengangkat kepalanya untuk bisa melihat wajah Bian, Zahra tersenyum meski hanya kekesalan yang dilihatnya di sana.
Biarkan saja, Zahra akan melakukan dan mengatakan apa yang memang diinginkan dirinya saja, tanpa perduli dengan yang lainnya.
"Ada yang lebih bisa menyenangkan dirimu."
"Itu hanya menurut mu saja."
"Sepandai itu dirimu berpura-pura."
"Nilailah sendiri, satu yang harus kamu ingat, kamu tidak akan bisa sepandai diri ku."
__ADS_1
Bian tersenyum seraya berpaling, itu juga benar, semua kesalahan Bian akan terbuka meski Bian berjuang menutupinya.
Tangan Zahra terangkat, ia menyentuh pipi Bian agar kembali menatapnya, tak ada penolakan karena Bian juga mengikutinya.
"Segala yang dipaksakan memang tidak akan benar, perubahan yang aku rasa terhadap kamu, biarkan jadi urusan ku, jangan pernah memaksa untuk membalas itu karena kebebasan mu tetap ada."
"Sampai kapan kamu sanggup bertahan?"
"Sampai kamu tidak lagi membutuhkan aku, setelah itu aku tidak akan lagi bertahan, lagi pula kamu yang menentukan waktu tersebut, jadi jangan tanya aku."
Bian diam, apa Bian akan mengalah pada bocah seperti Zahra, wanita yang mendekapnya begitu jujur dengan semuanya.
Tapi sampai detik ini, Bian tidak bisa merubah diri dan perasaannya terhadap wanitanya itu, Bian tetaplah Bian yang tidak siap dengan hubungan serius.
"Ada yang kamu fikirkan?" tanya Zahra.
"Tidak."
"Semua yang akan terjadi setelah hari ini, itu yang harus kita jalani, itu yang harus aku lewati dan itu yang harus kamu akui."
"Apa yang harus aku akui."
"Akui jika kamu memang sudah memiliki aku, selebihnya lakukan semau mu."
Bian mengangkat kedua alisnya, ia menatap kedua manik mata Zahra, Inggrid selalu berkata jika ia selalu sia-siakan kebaikan istrinya.
Tapi Bian juga tidak bisa memaksa untuk menerimanya apa lagi menyukainya, semua memang kesalahannya, tapi semua sudah terjadi atas pilihannya sendiri.
"Berhenti menatap ku seperti itu, aku tahu kalau aku sangatlah cantik."
Zahra menutup mata Bian dengan satu tangannya, ia tersenyum saat melihat bibir Bian juga menunjukan senyuman.
Satu detik kemudian, Bian mengangkat tubuh Zahra dan mendudukannya di pagar, Zahra sedikit menjerit dan berpegang pada pundak Bian dengan eratnya.
"Ada apa?" tanya Bian menahan tawa.
"Aku memang selalu kau sakiti, tapi aku tidak siap untuk mati."
"Apa maksud mu?"
"Kamu ingin membunuh ku?"
Bian menarik kedua tangan Zahra dari pundaknya, dan sedikit mendorongnya, jelas saja itu membuat Zahra semakin panik, jeritannya semakin keras menusuk telinga Bian.
"Berisik sekali bocah ini."
Zahra menelan ludahnya, apa Bian tidak waras, kenapa bisa melakukan itu padanya.
"Tidak perlu terlalu kuat berpegangan, biasa saja, aku tidak mau menghabiskan waktu ku di penjara."
Bian kembali menyimpan tangan Zahra di pundaknya, ia tersenyum melihat wajah panik Zahra saat ini.
"Kalau kamu mati, semua akan berhenti, termasuk sakit hati mu."
"Tapi aku masih ingin menikmati rasa sakit ini, jadi aku harus tetap hidup."
Keduanya tersenyum, Bian menarik kepala Zahra perlahan dan menciumnya begitu saja.
__ADS_1
Entah apa yang mereka fikirkan sekarang, yang jelas mereka hanya akan bertahan dalam ego masing-masing.
Bertahan meski harus kecewa dan sakit hati, juga bertahan meski harus mengecewakan dan menyakiti.