Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Sakit Hati Bukan Bertarti Mati


__ADS_3

Tok .... Tok .... Tok


Damar menoleh, dengan cepat ia membuka pintunya.


"Damar Anugerah?"


"Benar, Pak."


"Silahkan."


Damar menerima pesanan makanannya, dan kembali masuk setelah urusannya selelsai.


Sudah setengah jam membiarkan Zahra tidur, entah tidur entah apa, yang jelas mata Zahra terpejam.


"Ayra, makanan sudah datang, ayo kita makan, kamu mau temani aku makan?"


Damar membuka semua makanannya, ia menelan ludahnya tergoda sendiri oleh makanan tersebut.


"Ayra, dia sudah merindukan melihat orang makan, dia akan senang kalau kamu makan sekarang."


Zahra tetap diam saja, Damar menikmati minumannya, segar sekali rasanya, jus sirsak adalah kesukannya.


"Ayra, apa kamu tidak kasihan padaku, aku sudah menghabiskan uang untuk membeli ini, gaji ku bulan ini habis seketika untuk membeli ini buat mu, apa kamu sejahat itu?"


Damar melahap udang goreng tepungnya, kriuknya terdengar begitu renyah, Damar mengangguk merasakan cita rasanya yang lumayan bagi lidahnya.


Damar juga menyeruput ramen kuahnya, terdengar begitu nikmat, Damar kembali mengangguk, rasanya sangat nikmat.


"Ssss haaaah."


Damar menganga sesaaat, rasanya amat pedas, sepertinya Damar sudah salah memesan.


Entahlah, apa saja jenis makanannya, yang jelas Damar memesan semua yang muncul dari hasil pencariannya.


"Ayra, kamu tahu, ini enak sekali, kamu wajib mencobanya."


Suara Damar tak jelas karena mulutnya yang penuh makanan, ia menyeruput minumannya.


Suara-suara itu cukup mengganggu telinga Zahra, ia merasa penasaran dengan apa yang sedang dimakan Damar.


"Emmm, ini nih enak banget, emmm gak ada dua ini pesanan paling tepat."


Zahra mengernyit, pesana apa itu, sebanyak apa makanan yang dipesannya itu.


"Apa kamu suka coca cola, atau jus manis, atau kamu hanya suka air mineral, lihatlah aku sudah siapkan semuanya."


Damar diam, alisnya mengkerut, ia melihat satu keresek yang belum dibukanya, apa itu, setelah sebanyak itu makanan dan minuman yang dibukanya, ternyata masih ada yang tersisa.


Damar meraihnya dan membukanya, ia menghembuskan nafasnya pasrah, rupanya ia lupa jika telah memesan ice cream.


"Setelah makanan dan minum, bukankah enak jika akhirnya kita menikmati sekotak ice cream?"


Damar membukanya dan melahapnya tanpa aba-aba, Zahra menoleh, ia memperhatikan Damar yang sedang menikmati ice creamnya.


"Kamu tahu, selama boneka itu bersama ku, dia selalu di samping ku setiap makan, dia selalu jadi penonton setia selama aku makan, dan dia seperti menikmati itu."


"Tahu dari mana kamu?"


Damar seketika menghentikan suapannya, ia melirik Zahra, akhirnya Damar mendapat respon juga.


Usahanya menjadi cerewet tidak sia-sia, kini mata itu telah kembali terbuka, dan Damar bisa mendengar suaranya.


"Tentu saja aku tahu, karena makan ku jadi begitu lahap jika ada dia, kamu pernah merasa risih saat makan dilihat orang lain, saat kamu merasa risih itu artinya orang tersebut tidak suka dan tidak menikmati saat ia melihat mu makan."


"Benarkah?"


"Ah apa-apaan kamu ini, kamu tidak pernah mengalami itu?"


Zahra menggeleng, Damar berdecak seraya mengusap wajahnya, lalu pengalaman apa yang pernah Zahra alami, apa cuma duka saja.

__ADS_1


"Aku selalu makan banyak, aku tidak perduli menunya apa, jika orang selalu mencocokan makanan ini dengan minuman itu, aku tidak pernah seperti itu."


"Lalu?"


"Ya, aku akan makan dan minum sesuai yang aku mau, entah itu cocok atau tidak, kamu tahu kalau aku pernah makan bubur dengan minum susu, dan aku pernah makan bakwan dengan minum soda, apa menurut mu itu bagus?"


"Entahlah."


"Entahlah, jawaban yang tepat, mungkin itu pun hanya aku yang pernah mencobanya."


Damar berbicara panjang lebar tanpa menghentikan kegiatan makannya sama sekali, Zahra yang melihat itu merasa lucu sendiri jadinya.


Wewangian dari makanan itu memang begitu mengganggu penciuman Zahra, sesekali ia menelan ludahnya saat melihat Damar menikmati makanan itu.


"Ayra, baru kali ini aku makan seperti ini, kamu lihat banyak macam makanan dan minuman disini, dan aku menikmatinya bersamaan, lengkap dengan diselingi ice cream ini, apa menurut mu ini benar?"


"Kamu aneh."


"Tepat sekali, ya aku memang aneh, tapi sikap aneh membuat ku hidup nyaman, aku sangat menikmatinya, dan kamu harus mencobanya."


Zahra menyimpan bonekanya dan berusaha untuk duduk, melihat itu, Damar seketika menyimpan ice creamnya, ia bangkit dan membungkukan badannya.


Pergerakan Damar itu membuat Zahra kaget, ia menatap Damar dengan heran, lelaki itu tersenyum seraya mengangguk.


"Aku hanya akan membantu mu, aku tidak mau melihat mu susah sendiri."


Zahra tersenyum, ia menggeleng seraya menunduk, Damar benar-benar membantunya duduk.


Membuatnya duduk dengan benar dan nyaman, Zahra kembali meraih bonekanya dan memeluknya.


"Uang ku habis untuk semua ini," ucap Damar kembali duduk.


Zahra diam mengamati semua yang tersedia di sana, banyak sekali, bagaimana bisa Damar melakukan semua itu.


"Kamu mau yang mana, mau makan sendiri atau aku suapi, ayo mau udang atau mie atau apa, mau ice cream ini, ah tidak bisa, perut mu kosong tidak boleh langsung makan ice cream apa lagi pedas."


"Baiklah, sebaiknya kamu makan nasi sama sayur ini, kamu tahu sayurnya enak sekali, aku baru pertama memesannya dan benar-benar merasa beruntung."


Damar mencampur nasi dan sayurnya, lantas memberikannya pada Zahra, tapi sedetik kemudian Damar menariknya lagi.


"Apa-apaan kamu ini?" tanya Zahra.


"Bukankah kamu masih lemas, tidak masalah aku akan menyuapi mu, setelah kamu kuat nanti kamu bisa memukul ku, menampar ku atau apa pun itu karena aku sudah lancang menyuapi mu sekarang."


Damar menyodorkan sendok berisi itu, Zahra tersenyum dan menerimanya, lagi pula Zahra hanya ingin memeluk bonekanya.


Satu suap, dua suap, tiga suap, hingga suap dan suap selanjutnya, berhasil masuk ke mulut Zahra.


Keduanya tersenyum saat makanan itu mulai habis, Damar berdecak, seraya menggeleng.


"Kenapa?"


"Tidak, aku baru sadar kalau aku begitu pintar membujuk wanita yang sedang marah."


Zahra seketika diam, apa maksud dari perkataannya, apa Damar sedang mengejeknya.


"Tidak tidak, aku akan lebih diam sekarang, jadi sebaiknya kamu fokus makan."


Beberapa waktu terlewati, makanan itu berhasil dihabiskan Zahra, Damar memberikan minuman jusnya.


"Mungkin kamu mau ini?"


"Tidak, aku air putih saja."


"Oke."


Damar menggantinya, dan membantu Zahra untuk meminumannya, setelahnya ia menyimpan kembali gelasnya dan melirik boneka itu.


Zahra turut melihat bonekanya, sangat tidak boleh jika Damar akan membawanya kembali.

__ADS_1


"Ah itu benar, kamu memang pintar."


"Apa?" ucap Zahra mengernyit.


"Dia mengatakan kalau kamu begitu menggemaskan saat makan, dia ingin lebih sering melihat mu makan seperti itu, apa kamu mau aku menyuapinya lebih sering?, ah mana bisa seperti itu, kemauan mu tidak bisa ditoleransi negara."


Zahra lagi-lagi tersenyum karena celotehan Damar, lelaki itu begitu banyak bicara, bisakah dia diam sebentar saja.


Bahkan dengan boneka pun lelaki itu berbincang sampai seperti itu, Zahra menyimpan bonekanya agar berhenti ditatap Damar.


"Oke baiklah, kamu mau apa lagi, mau ice cream?"


Damar meraih ice cream yang tadi disimpannya di lantai sana, dan membukanya lagi.


"Sekarang kamu bisa menikmati ini, kamu mau, apa kamu mau ini?"


Damar menggoyang-goyangkan kotak ice creamnya, dengan wajah konyolnya Damar menggoda Zahra.


"Hentikan," ucap Zahra seraya menutup wajahnya.


Damar tersenyum seraya menarik tangan Zahra, itu menutupi pemandangannya, bagaimana bisa Damar melihat wajahnya jika ditutupi seperti itu.


"Ayo makan, jangan seperti itu."


Damar kembali menyuapinya, bukankah itu tidak susah, mereka kurang bisa merayu sehingga menyebut sulit membuat Zahra mau makan.


"Enak kan?"


Zahra mengangguk, mungkin enak meski dilidahnya terasa sedikit hambar.


"Ayra, apa yang kamu lakukan, kenapa kamu seperti ini?"


"Aku tidak tahu."


"Itu bukan jawaban sama sekali, seharusnya kamu bisa lebih menyayangi diri kamu sendiri, kamu fikir dengan seperti ini semua akan perduli padamu, mereka yang tidak suka padamu hanya akan mengejek mu saja, dan pada akhirnya kamu sendiri juga yang akan terluka."


Zahra diam, bukankah Zahra memang tidak mengerti dengan dirinya sendiri, Zahra tidak bisa mengontrol semuanya.


Zahra ingin Bian kembali, tapi disisi lain, Zahra juga tidak mau melihatnya bebasnya, lalu harus seperti apa.


"Ayra, aku memang tidak pernah punya pasangan, aku tidak tahu seperti apa rasanya dikecewakan pasangan, tapi mungkin akan lebih baik kalau kamu kuat untuk dirimu sendiri, sebelum ada pasangan kamu pasti kamu begitu menjaga diri dan hati mu."


Zahra mengangguk, tapi tatapannya sama sekali tak memiliki tumpuan, Zahra tidak mengerti dengan keadaan saat ini.


"Kamu harus bangun Ayra, hidup kamu tanggung jawab kamu, pilihan kamu dan keputusan kamu adalah tanggung jawab kamu, kalau kamu lemah seperti ini hanya akan semakin membuat hidup mu tak berarti."


"Bukankah memang tak berarti?"


"Ketika kamu memutuskan sesuatu, maka saat itu kamu merasa ada yang harus dipertahankan, entah itu diri sendiri atau orang lain tergantung keadaannya, dan apa yang kamu lakukan menurut ku adalah untuk mempertahankan dirimu sendiri, aku tidak tahu permasalahan yang sebenarnya tapi apa pun itu kamu tahu seperti apa hal baik untuk dirimu sendiri."


"Aku mau Bian bebas, dan kembali pada keluarganya."


"Itu hak kamu, bukankah keputusan itu ada pada dirimu sepenuhnya."


"Tapi aku tidak mau kecewa lagi, aku tidak mau terluka lagi."


"Perbaiki keadaan mu sendiri, setelah pribadi mu membaik, kamu bisa memperbaiki keadaan lainnya, termasuk perihal Bian."


Zahra kembali diam, apa yang harus difikirkannya, Zahra pusing dengan keinginannya sendiri.


Semua terasa sangat menyiksanya, tidak ada keuntungan baginya sama sekali, fikiran tentang ketenangan setelah Bian ditahan pun tidak pernah terjadi.


Mereka semakin membenci Zahra, semakin tak menghargai Zahra, lalu harus seperti apa Zahra membela dirinya sendiri.


"Aku bilang perbaiki dirimu sendiri, untuk apa kamu melamun seperti ini, ayo makan masih banyak makanan yang harus kamu habiskan."


Zahra menoleh, Damar menyimpan ice creamnya dan memberikan minum pada Zahra.


Mereka kembali menikmati makanannya, tidak ada gunanya terus membicarakan masalah itu, Zahra butuh untuk benar-benar istirahat dari semuanya.

__ADS_1


__ADS_2