
Zahra bergerak, ia terusik kembali pada kesadarannya, kedua matanya perlahan terbuka meski tidak begitu jelas melihat sekitarnya.
"Kamu sudah bangun?"
Zahra mengerjap, sakit di kepalanya masih sana terasa, ia menoleh dan melihat satu sosok wanita di sana.
Jantungnya seketika bergemuruh, Zahra kembali mengerjap untuk memastikan penglihatannya tidaklah salah.
"Apa yang kamu rasakan?"
Zahra mengernyit, matanya seketika panas, apa yang ada di hadapan Zahra saat ini, kenapa Zahra melihat wajah mamanya di sana.
"Minumlah dulu, kamu sejak kemarin tidak sadarkan diri."
Zahra menelan ludahnya, ia tak minta menerima gelas yang diberikan wanita itu, dalam pandangan Zahra sosok itu begitu mirip dengan mamanya.
Hanya saja matanya yang tampak berbeda, jika mamanya dulu memiliki mata bulat, maka ini tampak lebih sipit, mata itu tampak sayup dan memang berbeda dengan mata mamanya dulu.
"Kamu baik-baik saja, ayo minum dulu."
"Mama kembali?" tanya Zahra bergetar.
Air matanya menetes begitu saja, hal itu membuat wanita di hadapannya merasa heran.
"Mama mendengar ku, Tuhan mengizinkan Mama kembali padaku."
"Apa maksud kamu, saya bukan Mama kamu."
Zahra merapatkan bibirnya, tangisnya begitu kuat menerjang keluar dari matanya.
"Kamu kenapa, jangan berfikir tentang apa pun, ayo minum."
Zahra menepis gelas itu dan memeluk wanita tersebut dengan eratnya, ia benar-benar menangis sekarang.
"Ada apa?" tanya seseorang seraya masuk.
Suara pecahan gelas itu telah menarik perhatiannya, ia berjalan mendekat dan diam menatap keduanya.
Ia tampak bingung melihat mamanya yang begitu erat dipeluk wanita itu, apa yang terjadi kenapa gelas itu sampai pecah.
"Kamu kenapa, jangan seperti ini."
"Mama tidak boleh pergi lagi, aku butuh Mama untuk hidup aku."
Wanita tersebut tampak melirik anaknya, tentu saja mereka tidak mengerti dengan itu.
Tapi tidak ada ragu, ia membalas pelukan Zahra, mengusap kepala dan punggungnya, berharap tangisnya akan usai.
"Dia baru bangun?"
__ADS_1
"Iya, tapi tiba-tiba seperti ini."
"Bisa aku periksa dulu."
Ia mengangguk, perlahan melepaskan pelukan Zahra dan membantunya untuk berbaring.
"Tidak masalah, tenanglah, kamu tidak akan diperlakukan buruk, anak saya seorang Dokter, dia bisa memastikan kondisi baik dan buruk mu saat ini."
Zahra melihat lelaki itu, suaranya yang Zahra dengar di pemakaman kala itu, jadi seperti itu wajahnya, dan Zahra memang tidak mengenalnya.
Lelaki itu benar-benar memeriksa Zahra, sesuai dengan seorang dokter, ia melakukan pemeriksaan yang seperti seharusnya.
"Apa kamu sedang menjalani pengobatan?"
Zahra tak menjawab, mungkin itu benar, karena mereka semua selalu sangkut pautkan Zahra dengan dokter dan obat-obatan.
"Sejak kapan kamu seperti ini?"
Tetap tak ada jawaban, Zahra memilih memejamkan matanya, pertanyaan itu tidak mau dijawabnya.
Zahra tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya sendiri, tapi yang jelas mereka semua selalu memperlakukan Zahra seperti orang yang sakit parah.
"Ada apa dengan dia?"
"Sepertinya dia mengalami depresi, aku rasa ini cukup buruk, mental dia sangat tidak baik-baik saja."
Telinga Zahra tentu saja mendengarnya dengan sangat baik, tidak ada yang mengatakan itu pada Zahra sebelumnya.
"Lalu bagaimana sekarang?"
"Bagaimana lagi, kita antarkan saja dia pada keluarganya."
"Tidak," ucap Zahra cepat.
Ia kembali duduk dan menatap keduanya bergantian, mereka juga tampak menatap Zahra.
"Aku tidak mau pulang, aku tidak punya rumah, aku tidak punya siapa-siapa, aku mau disini saja."
Keduanya saling lirik, bagaimana mungkin seperti itu, apa yang akan dikatakan orang nanti jika Zahra ada di sana.
"Aku mohon, biarkan aku disini, jangan bawa aku pulang."
"Sudahlah, biar Mama yang bicara sama dia, kamu keluar saja."
Lelaki itu mengangguk, ia sempat kembali melihat Zahra, sampai akhirnya ia pergi dari kamar tersebut.
Zahra tak bergeming menatap wanita itu saat kembali duduk di hadapannya, iya, itu memang wajah mamanya, itu sangatlah mirip.
"Jangan menatap saya seperti itu."
__ADS_1
"Ibu siapa?"
"Saya Isma, dan tadi anak saya Frans, dia bilang kalau dia melihat mu di Pemakaman tapi kamu tiba-tiba saja pingsan, sehingga Frans membawa kamu kesini."
"Ibu bukan Mama?"
"Tentu saja Mama, tapi Mamanya Frans bukan Mamanya kamu."
Zahra menunduk, itu bukan jawaban yang diinginkannya, lalu kemana mamanya sendiri, kenapa tidak membantu Zahra kala itu.
Isma tersenyum, ia mengusap pundak Zahra lembut, tidak akan salah apa yang ada difikirannya saat ini.
"Jangan khawatir, kamu akan baik-baik saja disini, meski saya bukan Mama kamu."
"Tidak, wajah Ibu begitu mirip dengan Mama, bagaimana bisa aku percaya ini, aku selalu berharap Mama bisa kembali, dan sekarang aku melihatnya lagi."
Isma kembali tersenyum, ia mengangguk dan meraih kedua tangan Zahra, kedua mata itu kembali berlinang air mata.
"Kamu tahu, pernah ada yang bilang kalau di dunia ini ada 7 manusia yang bisa memiliki rupa sama, dan mungkin saya salah satunya yang seperti Mama kamu, tapi kamu tetap harus menerima semua kebenarannya."
"Aku tidak mau Mama pergi."
"Saya juga dilahirkan seorang wanita, saya menyebutnya Mama, dia sudah pergi sekarang, dan saya juga pernah melihat wajah serupa dengannya tapi itu tidak lantas bisa saya menganggapnya sebagai Mama yang pernah saya miliki."
Zahra menarik tangannya, ia mengusap air matanya, berusaha agar tidak sampai menangis berlebihan.
"Tidak masalah, manusia selalu memiliki harapan yang berlebihan, harapan yang bahkan tidak akan mampu ia gapai, tapi dibalik itu kamu harus selalu menjaga kewarasan kamu, jangan sampai harapan itu merusak hidup kamu."
Zahra tak bergeming, ia ingin mamanya kembali, dan sekarang ada Isma di hadapannya, apa itu artinya Tuhan memberikan jalan lain untuk harapan Zahra.
"Siapa nama kamu, dan dimana kamu tinggal?"
"Zahra, aku tidak di rumah Suami ku."
"Suami, kamu sudah menikah?"
Zahra mengangguk pasti, bukankah memang itu yang sebenarnya, Zahra tidak bisa menutupinya sekali pun Zahra tidak menginginkannya.
Isma turut mengangguk, ia tidak bisa menerka permasalahan apa yang dialami Zahra, tapi apa yang dikatakan Frans sudah cukup menarik perhatiannya terhadap Zahra.
"Aku mau disini, tolong biarkan aku disini, aku janji tidak akan buat masalah apa pun di rumah ini."
"Tidak ada yang melarang, tapi kamu harus ingat siapa kamu, kamu sudah menikah, kamu ada Suami dan tentunya kamu memiliki tugas mulia atas rumah tangga mu, atas Suami mu."
Zahra kembali menunduk, Zahra tidak mau itu, Zahra tidak mau kembali pada Bian, sama sekali tidak mau.
Frans kembali masuk dengan membawa makan dan minum, ia menghampiri keduanya dan menyimpan apa yang dibawanya itu di meja.
"Dia harus makan, tubuhnya sangat lemah, dan ini obat yang harus diminumnya."
__ADS_1
Isma mengangguk, semoga saja memang Zahra mau dengan semua itu.