Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Claudia


__ADS_3

Sesuai dengan apa yang dikatakan Inggrid, ia datang saat selesai makan siang, dan tentu saja Marvel sudah ada di ruangannya.


"Selamat siang, Bu," sapa karyawan.


Inggrid mengangguk seraya tersenyum, ia terus berjalan hingga sampai di ruangan Marvel.


"Selamat siang, Bu," Sapa Marvel bangkit dari duduknya.


Ia mengangguk hormat saat melihat seorang wanita yang menyusul masuk setelah Inggrid.


"Bagaimana, Kantor mu baik-baik saja?"


"Masih terkendali, Bu, semua baik-baik saja."


"Baguslah, bagaimana dengan lowongan pekerjaan mu."


"Ah, silahkan duduk dulu Bu."


Inggrid lantas duduk dan meminta orang di belakangnya untuk duduk juga, Marvel terakhir duduk setelah mereka.


"Kamu sudah dapatkan Sekretaris?"


"Tidak, belum ada yang datang."


"Perkenalkan dulu, saya bawa dia kesini untuk jadi Sekretaris kamu, mungkin saja kalian cocok."


Marvel melirik wanita itu, ia tersenyum hangat padanya, memang cantik modelan pas untuk jadi sekretaris.


"Hallo Pak, saya Claudia," ucapnya mengulurkan tangan.


"Oh iya, Marvel," jawabnya seraya menjabat sekilas.


"Dia bisa diajak kerjasama, pintar dan bertanggung jawab, tidak beda jauh dengan dirimu."


Marvel tersenyum seraya mengangguk, itu penjelasan yang bagus, Marvel menyukainya.


Ia kembali melirik Claudia, memang terlihat berkelas, dari mana Inggrid menemukan wania itu.


"Dia tadinya di Perusahaan saya yang disana, tapi saya fikir tempat mu membutuhkan dia, makanya saya tarik dia kesini."


Marvel mengangguk, jadi wanita itu juga kepercayaan Inggrid, dan akan disatukan dengan dirinya.


Itu bisa jadi kerjasama yang menyenangkan, sepertinya Marvel tidak perlu berfikir panjang untuk menyetujuinya.


"Kalian bisa berbincang dulu, kalau memang kamu tidak setuju, saya bisa kembalikan dia ke tempatnya semula."


"Itu benar, kita harus berbincang dulu, bukan begitu Claudia?"


"Benar Pak, sebaiknya memang seperti itu."


Keduanya tersenyum bersamaan, Inggrid mengangguk, semoga saja Claudia bisa membantu Marvel membesarkan perusahaan yang baru dirintis itu.


Inggrid akan sangat bangga dengan mereka jika sampai berhasil, tidak akan ada ragu untuk memberikan penghargaan terbaik nantinya.


"Baiklah, saya harus kembali ke rumah, Zahra sedang sakit."


"Bu Zahra sakit, sakit apa dia?" tanya Marvel.


"Belum diperiksa, katanya pusing dan sakit kepalanya."


"Semoga lekas sembuh, Bu."


"Terimakasih, Claudia kamu bisa ke tempat tadi kalau kamu sudah selesai disini."

__ADS_1


"Baik Bu."


Inggrid lantas bangkit dan pergi meninggalkan keduanya, tujuan kedatangannya memang hanya untuk mengantarkan Claudia.


Sebelum ada orang lain masuk, lebih baik Inggrid yang carikan orang untuk posisi itu, dengan begitu Inggrid tidak ragu untuk percaya sepenuhnya.


"Jadi kamu orang beruntung yang mendapatkan kepercayaan Bu Inggrid," ucap Claudia.


"Dan apa kabar dengan mu, bukankah kita sama?"


"Tidak, kamu lebih beruntung, aku tidak sampai diberi Kantor seperti ini."


Marvel mengangguk, baiklah mungkin itu perbedaannya, tapi mereka tetap jadi orang terpilih.


"Sejak kapan kamu bekerja dengan Bu Inggrid?" tanya Claudia.


"Belum lama, sekitar 3 tahun."


"Tiga tahun, kamu sudah mendapatkan ini, waaah hebat sekali."


"Dan kamu?"


"Emmm, aku hampir lima tahun."


Marvel mengangguk, keberuntungan seseorang memang berbeda-beda, meski keinginan sama tapi jalan selalu berbeda.


Mungkin kali ini bisa jadi kesempatan terbaik Claudia untuk bisa seperti Marvel, menjadi pemimpin yang sesungguhnya.


"Emmm, kamu perlu tahu kalau aku sedikit emosian orangnya, aku gampang kesal apa lagi sama orang yang gak konsisten."


"Benarkah, bagaimana kalau dengan orang yang lambat?"


"Aah apa lagi itu, untuk apa kamu bertanya?"


"Sebenarnya aku juga seperti itu, aku lebih suka yang sat set sat set selesai, meski akhirnya gagal."


"Karena untuk sukses memang harus merasakan kegagalan dulu."


"Itulah."


Keduanya tersenyum, mereka berbincang banyak hal, Marvel sampai melupakan sisa pekerjaannya demi berbicang dengan Claudia.


Keduanya merasa cocok, mereka merasa akan bisa bekerjsama dengan baik, beberapa sifat yang sama mungkin cukup untuk membuat mereka saling mengerti.


 


Damar berlari dengan cepatnya demi bisa menghentikan langkah Sintia, lelaki itu berhasil membuat Sintia terkejut.


"Apa kamu gila?" tanya Sintia seraya memukulnya.


"Hanya ini caranya."


"Ish apa lagi."


Damar tersenyum, ia menunjukan kertas yang didapatkannya dari Marvel tadi.


Sintia menerimanya dan membacanya, apa maksudnya, Sintia tidak berniat untuk mencari pekerjaan baru.


"Untuk apa ini?"


"Aku akan melamar kesana, kamu setuju?"


"Kenapa seperti itu, kenapa dengan pekerjaan mu yang sekarang?"

__ADS_1


"Aku mau menyeimbangkan diri dengan mu, agar bisa terlihat lebih pantas untuk memiliki mu."


Sintia mengernyit, bisa sekali Damar berkata seperti itu, dapat pemikiran dari mana sampai bisa berkata seperti itu.


"Apa kamu setuju?"


"Kamu yang akan menjalaninya, kamu sanggup atau tidak dengan pekerjaan baru, tempat baru, orang baru, tantangan baru dan hal baru lainnya."


"Aku akan sangat siap, demi bisa menjalani hubungan baru dengan mu."


Sintia kembali mengernyit, ia merasa konyol dengan kalimat Damar yang terus saja seperti itu.


Waktu itu, Sintia memang belum sempat menjawab, ia tidak menerima tapi tidak menolak juga.


"Aku akan melamar besok, aku harap kamu mau mendoakan aku agar bisa lolos."


"Iya, aku doakan semoga kamu berhasil."


"Dan kamu bisa pertimbangkan untuk keputusan mu terhadap ku?"


Sintia diam, ia berpaling begitu saja, saat ini Sintia tidak memikirkan tentang itu.


Damar mengangguk, ia merebut kertasnya lagi, tentu saja itu membuat Sintia kaget.


"Damar," ucap Sintia kesal.


"Tidak masalah, aku tidak akan memaksa, baiklah, sekarang kamu mau kemana dijam kerja malah ada di luar."


"Aku mau foto copy ini, di dalam rusak semua jadi harus keluar."


"Boleh aku temani?"


"Apa kamu ini pengangguran, kamu selalu ada setiap waktu."


"Karena aku akan selalu ada untuk kamu."


Sintia mendelik, ia sedikit tersenyum, memang menyebalkan tapi sedikit lucu.


Damar menarik tangan Sintia agar segera berjalan saja, tidak ada gunanya berdiri terus di sana karena tempat foto copy tidak akan menghampiri.


"Kamu sudah makan, makan apa tadi, apa kamu asal makan?"


"Aku makan nasi, enak saja asal makan, kamu fikir aku ini anak TK?"


"Lalu kamu minum apa, jangan berani kamu minum alkohol, memegang gelasnya saja tidak boleh."


"Sejak kapan aku seperti itu, ih."


Sintia menarik tangannya dan memukul Damar berulang kali, itu justru membuat Damar tertawa dan semakin membuat Sintia jengkel.


Meski seperti itu, tak lantas membuat Sintia membencinya, wanita itu tampak lebih santai menjalani hidupnya sekarang.


Jarang marah, bahkan meski keadaan begitu menguji kesabarannya, sejak keributan di pesta Riana kala itu, Damar tidak pernah lagi melihat Sintia kesal dan marah.


"Kamu memang istimewa," ucap Damar.


"Ya, aku memang martabak dengan 2000 telur, sehingga aku begitu istimewa."


Damar sedikit tertawa, ia menoyor pelan kepala Sintia.


"Ih, Damaaar," jerit Sintia.


Damar menghindar saat Sintia hendak memukulnya, Sintia tertawa kesal karena lelaki itu.

__ADS_1


Sintia menghentakan kakinya, dan mengejar Damar demi bisa memukulnya.


__ADS_2