
Zahra dan Bian benar-benar kembali ke rumah, kedatangan mereka disambut hangat oleh penghuni lainnya.
"Akhirnya kamu sampai juga," ucap Inggrid.
Zahra tersenyum seraya memeluk wanita tua itu, rindunya cukup besar untuk Inggrid, entah akan seperti apa jika Zahra benar keluar dari keluarga itu.
"Mama, sehat?"
"Tentu saja, bagaimana dengan mu?"
Zahra berpindah memeluk Kania di sana, tidak ada Kemal diantara mereka, mungkin saja lelaki itu masih sibuk dengan bisnisnya.
"Bian, kamu baik-baik saja?" tanya Kania.
Zahra melepaskan pelukannya dan membiarkan Kania memeluk putranya, Zahra sadar memang Bian tidak menunjukan dirinya baik-baik saja saat ini.
"Ada apa, kalian bertengkar lagi?" tanya Inggrid.
"Aku memang selalu membuat Bian kesal, biarkan saja aku sudah meminta maaf padanya."
"Sudahlah Bian, masalah apa lagi sekarang, Zahra belum benar-benar pulih, untuk apa ribut lagi," ucap Kania.
Bian hanya sedikit tersenyum menanggapi ucapan Kania, bukan waktu yang tepat Bian mengatakan semuanya.
Inggrid menggeleng, ia memilih membawa Zahra pergi saja ke kamar, tidak ada guna memikirkan masalah dengan lelaki itu.
"Ada apa lagi, masalah apa lagi sekarang, kamu menyakitinya lagi?" tanya Kania.
Bian melirik dua wanita yang berlalu itu, tidak ada lagi Zahra, mungkin Bian bisa cerita pada Kania terlebih dahulu.
Bian menghela nafasnya panjang, entah Kania akan membela dirinya atau membela Zahra setelah tahu masalahnya.
"Kamu akan diam saja?"
"Zahra memaksa untuk tetap berpisah dengan ku."
Kania mengernyit, itu bukan kabar baik, kenapa Zahra berfikir seperti itu, bukankah semua masalah sudah selesai sewaktu di rumah sakit.
Kania membawa Bian duduk, akan lebih tenang jika mereka berbicara sambil duduk.
"Kamu sudah makan, ini sudah lewat jam makan?" tanya Inggrid.
"Aku sudah makan tadi di jalan."
"Baguslah, bagaimana dengan obatnya?"
"Semua sudah selesai."
__ADS_1
Inggrid tersenyum, perlahan Inggrid membantu Zahra berbaring.
"Oma aku sudah sehat, tidak perlu seperti ini."
"Diamlah, wajah mu masih saja pucat."
Zahra tersenyum, ia kembali duduk dan menarik Inggrid perlahan agar turut duduk.
"Ada apa, apa lagi yang dilakukan lelaki itu sekarang?"
"Oma, aku tidak tahu benar atau salah, tapi kali ini mungkin aku yang membuat masalah."
"Masalah apa, Oma tahu kalau kamu tidak pernah buat masalah apa pun."
"Aku sudah katakan sama Bian, aku mau pisah saja."
Inggrid diam, Zahra masih saja mempertahankan pemikiran itu, mungkin memang Zahra sudah menyerah dengan semuanya.
"Oma, aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini, aku merasa memang tidak akan ada baiknya jika kami terus bersama."
"Tapi Bian sudah mulai berubah sekarang, apa kamu tidak merasakan hal itu?"
"Aku tahu."
Inggrid mengangguk, ia mengusap pundak Zahra, semua keputusan baik atau pun buruknya memang terserah Zahra.
Tapi Inggrid tetap tidak rela jika harus kehilangan wanita itu, Zahra sudah menjadi sosok berarti bagi Inggrid.
"Masalahnya memang hanya kalian berdua yang tahu, Oma tidak bisa melarang kamu memutuskan pilihan kamu, tapi Zahra semua hak yang tidak baik bukan berarti akan selamanya tidak baik."
"Bian hanya akan tertekan jika terus seperti ini, Oma pernikahan aku dan Bian hanya untuk Perusahaan dan Rumah ini saja, kami sudah mendapatkan keinginan masing-masing sekarang."
Inggrid kembali mengangguk, itu memang benar adanya, tapi tetap saja Inggrid ingin mempertahankan Zahra.
Sedikit ketidak yakinan Inggrid terhadap Bian, rasanya masih ada dan tidak bisa dihilangkan, Inggrid yakin jika sampai saat ini masih Zahra yang bisa diandalkan.
"Kalau kamu lelah dengan Bian, kamu bisa pertimbangkan dengan memikirkan Oma."
"Aku tetap perduli terhadap Oma meski aku tak lagi bersama Bian."
"Zahra, semua akan berubah jika perpisahan kalian terjadi, cerita akan berbeda jika status kalian berganti."
"Jadi, Oma juga tetap mau aku bertahan?"
Kania mengusap wajahnya, solusi apa yang bisa diberikannya untuk Bian saat ini, mereka yang bermasalah dan tentulah mereka bisa menyelesaikan masalahnya.
"Aku sudah memohon padanya, tapi Zahra sama sekali tak perduli, dia tetap pada keputusannya."
__ADS_1
"Mungkin Zahra hanya butuh pembuktian saja, Bian pengajuan perceraian itu bisa memakan waktu, kamu bisa manfaatkan waktu itu untuk meyakinkan Zahra."
"Mama setuju aku ajukan perceraian?"
Kania menggeleng, sebenarnya tidak, semua itu tidak boleh terjadi karena Kania sudah berusaha untuk mengembalikan kepercayaannya terhadap Zahra.
Bian menghembuskan nafasnya prustasi, ingin sekali Bian menyakiti Vanessa, wanita itu telah merusak semuanya.
"Kamu ikuti saja kemauan Zahra, tapi perlahan, kamu bisa sampaikan kalau kamu sudah mengajukan perceraian itu tapi belum ada hasil."
"Aku harus berbohong, Zahra akan semakin marah kalau tahu hal itu."
Kania kembali diam, benar juga, bukankah kesabaran Zahra sudah habis untuk Bian, tidak mungkin jika harus memakai kebohongan lagi.
Kania memainkan jemarinya, lalu cara apa yang bisa mereka lakukan untuk bisa mempertahankan pernikahan itu.
"Mama, kali ini aku serius dengan ucapan ku, aku serius dengan janji ku, aku akan berubah aku akan membahagiakan Zahra sebisa ku."
Kania diam menatap putranya, memang tidak ada sorot kebohongan di matanya, semoga saja Bian memang bisa membuktikan ucapannya.
Bian menunduk, apa Zahra juga sedang menceritakan semuanya pada Inggrid, bisakah wanita tua itu membela Bian kali ini.
"Biar Mama bicara dulu sama Papa, siapa tahu Papa memiliki solusi terbaiknya."
"Papa tidak suka dengan Zahra, dia akan senang saja kalau kami berpisah."
"Jangan bicara seperti itu, sama dengan mu, Papa juga sedang berusaha menyayangi Zahra."
Bian diam, tapi Bian tidak memiliki banyak waktu, Zahra pasti akan mendesaknya lagi esok lusa.
Apa lagi kalau sampai Zahra melakukannya sendiri, Bian tidak akan bisa melakukan apa pun lagi.
"Sudahlah Bian, sekarang lebih baik kamu istirahat saja, kita fikirkan ini besok lagi."
"Aku tidak akan bisa tidur kalau seperti ini, apa Mama tidak mengerti?"
"Iya Mama mengerti, tapi berfikir dengan terburu-buru juga tidak baik, kita cari solusinya sama-sama tapi selagi kita belum mendapatkan itu, kamu harus bersikap sebaik mungkin terhadap Zahra."
"Kenapa seperti itu?" tanya Inggrid.
Keduanya menoleh bersamaan, Inggrid sudah meninggalkan Zahra, apa saja yang mereka bicarakan di kamar sana.
Kania mengangguk perlahan, bukankah Inggrid begitu menyayangi Zahra, seharusnya Inggrid bisa mempertahankan pernikahan itu.
"Bian, kamu tidur saja, biar Mama bicara dengan Oma."
Bian mengangguk, ia lantas bangkit dan berlalu meninggalkan keduanya.
"Jangan berani mengganggu tidur Zahra," ucap Inggrid.
__ADS_1
Bian menoleh sesaat, bisa saja Inggrid belum mendengar apa pun dari Zahra.
Semoga Kania bisa meyakinkan Inggrid jika Bian tidak main-main kali ini, Bian begitu ingin pernikahannya tetap bertahan bahkan untuk selamanya.