Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Aku Tahu


__ADS_3

Satu minggu sudah Zahra menjalani hari sesuai keinginannya, Bian yang tak memperdulikannya, Zahra juga tak ingin terus menerus memikirkannya.


Zahra selalu menghabiskan waktunya di luar rumah, meski hanya untuk sekedar jalan-jalan saja, Zahra selalu pergi sesaat setelah Bian pergi.


"Pak, orange jus satu ya."


"Baik, sebentar."


Zahra tersenyum seraya melihat sekitar, udara pagi hari memang selalu menyegarkan, tapi meski terasa dingin, Zahra tetap ingin minun jus.


"Ini ya."


Zahra menerimanya dan membayarnya, ia lantas pergi seraya menikmati minumannya.


"Zahra."


Zahra menoleh dan tersenyum melihat Dion di mobil sana, jujur itu alasan Zahra kenapa selalu keluar rumah sejak pagi hari, karena Zahra ingin bertemu dengan Dion.


"Kebiasaan ya, pagi-pagi sudah jus saja."


"Biar saja, sana kamu berangkat."


"Mau aku antar pulang?"


"Tidak, aku hanya ingin jalan-jalan saja."


"Baiklah, makan siang kita bisa sama-sama?"


Zahra diam, tentu saja bisa, lagi pula Zahra malas makan sendirian.


"Bagaimana?"


"Oke, kita ketemu di tempat saja ya, nanti kamu kabari aku makan dimana."


"Siap, terimakasih, duluan ya."


"Hati-hati."


"Kamu juga."


Keduanya tersenyum, Dion melaju pergi meninggalkan Zahra, lagi dan lagi Zahra tersenyum.


Tid .... Tid .... Tid


Zahra yang hendak melangkah, harus kembali diam, ia melihat Kania yang keluar dari dalam mobil, Zahra juga melihat Kemal di dalam sana.


"Sedang apa, kamu pagi-pagi di pinggir jalan seperti ini?"


"Aku sedang olahraga."


"Olahraga kamu minum jus."


Zahra mengangguk, Kania memperhatikan Zahra dari atas sampai bawah, memang memakai stelan olahraga.


"Mama, ada apa?"


"Saya hanya mau bertanya, sejauh mana usaha kalian untuk memberi saya cucu."


Zahra mengernyit, kalimat apa itu, bisa sekali Kania berkata seperti itu.

__ADS_1


"Kenapa diam, kapan saya bisa punya cucu?"


Zahra tak menjawab, apa yang harus dikatakannya sekarang, Bian saja tidak pernah menyentuhnya, bagaimana bisa Zahra hamil.


"Ada apa, apa ada masalah?"


"Tidak, tidak ada apa-apa."


Kania tersenyum sekilas, ia kembali diam menatap Zahra, dan kali ini tatapan itu cukup membuat Zahra salah tingkah.


"Apa kamu masuk salah satu wanita yang sulit hamil??


"Maksud Mama?"


"Sudah satu bulan lebih kalian menikah, apa tidak ada tanda-tanda kalau kamu sudah hamil."


Zahra menggeleng, apa boleh Zahra mengatakan jika Bian tidak pernah menyentuhnya.


"Zahra, kamu harus berobat, jangan sampai Bian kecewa karena dia tidak bisa mendapatkan keturunan dari Istrinya."


"Kenapa harus aku saja yang berobat, bisa saja kan Bian juga bermasalah."


"Bagaimana mungkin, anak saya pasti sehat, justru kamu pasti yang bermasalah."


Zahra mengangguk perlahan, ya terserah saja, Zahra tidak akan banyak bicara, selagi Zahra bisa bersabar, Zahra akan diam saja.


"Segera berikan saya cucu, kalau tidak, saya akan pastikan kalian pisah."


Zahra tak bergeming, kenapa Kania berbicara itu pada dirinya, kenapa tidak berkata juga pada Bian.


"Kamu dengar saya?"


"Iya, aku dengar."


Kania berlalu begitu saja, Zahra berpaling, apa lagi sekarang, Zahra tidak mau dipusingkan oleh apa pun juga, tapi Kania malah datang dan membuatnya pusing.


Kringg ....


Zahra mengerjap, ia mengeluarkan ponselnya, ada panggilan dari Bian, tumben lelaki itu menghubunginya pagi-pagi.


"Ada apa?" tanya Zahra malas.


Ia terdiam mendengarkan kalimat panjang dari Bian, ekspresinya berubah saat mendengar kalau Inggrid sakit dan masuk rumah sakit.


"Apa kamu bercanda?"


Tak berselang lama, sambungan terputus, Zahra segera mencari taxi dan segera pulang ke rumahnya, Zahra akan ke tempat Inggrid secepat mungkin.


 


Bian memasukan ponselnya ke saku, ia melanjutkan langkahnya menuju tempat meeting.


"Bian."


Bian menoleh, ia diam menatap kedatangan Sintia, setelah sekian lama, Bian bisa kembali melihat wanita itu.


"Bian, aku hanya sebentar saja."


"Ada apa?"

__ADS_1


Sintia berjalan mendekat dan memeluknya begitu saja, Bian melihat sekitar, ada beberapa orang yang melihatnya saat ini.


"Ini tempat umum, apa kamu tidak punya malu?"


"Tidak, aku tidak perduli, aku tahu kamu akan mengusir ku, jadi biarkan saja aku menggunakan sedikit waktu ini untuk memeluk mu."


Bian diam, tentu saja Bian akan mengusirnya, karena Bian tidak mau berurusan lagi dengan Sintia, dan itu sudah dikatakannya sejak awal.


"Bian, aku tidak bisa melupakan kamu sampai detik ini, apa kamu bahagia dengan pernikahan kamu, aku masih menunggu kamu kalau saja kamu mau berpisah dari wanita itu."


Bian seketika melepaskan pelukannya, ia menatap Sintia dengan kesalnya.


"Berfikir sebelum berbicara, kamu tahu, aku menikahinya karena aku menginginkannya, bukan karena keterpaksaan, jadi jangan berfikir kalau aku akan melepaskannya."


"Kamu tidak akan selamanya sama dia, kamu fikir aku tidak tahu jika diam-diam Istri kamu itu masih sering bertemu dengan masa lalunya."


"Masa lalu siapa?"


"Dion, sahabat kamu sendiri."


Bian diam, Bian memang pernah melihat itu, jadi mereka membiasakan diri untuk bertemu di belakang Bian.


"Istri kamu tidak pernah menginginkan kamu, dia hanya menginginkan Dion, kenapa kamu tidak mengerti itu?"


"Pergi kamu sekarang, Istri ku urusan ku, jadi kamu tidak perlu repot-repot membicarakan apa pun tentang dia, apa pun yang dia lakukan pasti selalu aku ketahui."


"Termasuk jalan dengan Dion?"


"Tentu saja, dia selalu mengantarkan Zahra pulang ke rumah, jadi aku tahu kapan mereka jalan berdua."


"Kamu membiarkan itu?"


"Karena aku sudah bilang, itu urusan ku, silahkan kamu pergi saja sekarang, urus urusan mu sendiri."


Bian berlalu tanpa perduli lagi dengan Sintia, Bian kesal sekali karena Zahra masih saja bertemu dengan Dion, dan sekarang sudah ada yang mengetahui tentang itu.


 


"Non, mau kemana?"


"Bibi, aku harus temui Oma, Bian bilang Oma masuk Rumah Sakit dan aku akan kesana."


"Ya Tuhan, kenapa Non, kecelakaan?"


"Tidak tahu, tapi Bian bilang Oma sakit, aku akan kesana sekarang."


"Hati-hati, Non."


Zahra mengangguk, tentu saja ia akan hati-hati, Zahra lantas berlalu meninggalkan rumah, biarkan saja Bian pasti mengerti meski ia pergi sendirian saja.


"Pak, jalan cepat."


Zahra telah memasuki taxi, ia benar-benar tidak bisa tenang saat ini, Zahra ingin melihat Inggrid, sudah satu minggu Inggrid tak kembali, dan sekarang justru ada kabar kalau Inggrid masuk rumah sakit.


"Pak, lebih cepat lagi, ini darurat."


"Maaf, Bu, tapi saya juga bertanggung jawab untuk keselamatan penumpang saya."


Zahra berdecak, benarkan seperti itu, tapi Zahra yang minta agar lajunya dipercepat, seharusnya dia menurut saja.

__ADS_1


"Sabar saja, Bu, kita akan sampai dengan selamat, selebihnya, berdoa saja untuk kebaikan semuanya."


"Ya, cepatlah, fokus saja untuk menyetir."


__ADS_2