
"Oma, baru saja bertemu dengan Suami kamu."
"Dimana?"
"Di rumah."
"Oma kesana, bagaimana keadaannya, dia baik-baik saja, ah dia pasti marah lagi sama aku."
Inggrid mengangguk, mungkin benar, karena bisa saja Bian hanya berpura-pura baik di depan Inggrid, seperti itu juga selama ini.
Zahra menggeleng, rasanya Bian memang tidak akan pernah bisa untuk menerimanya, lelaki itu hanya bisa membencinya saja.
"Ayra, kamu betah di tempat tinggal kamu sekarang?"
"Tentu saja, aku bisa sangat tenang disana."
"Kamu tidak mau kembali bersama Bian?"
Zahra diam, tentu saja ia mau, apa Inggrid tidak tahu jika Zahra begitu merindukan lelaki kasar itu.
Tapi Zahra tidak mau jika sampai lukanya kembali ada, Zahra ingin baik-baik saja untuk dirinya sendiri saat ini.
"Ayra."
"Aku mau kembali kesana, tapi aku takut kalau Bian akan mengulanginya lagi."
"Mungkin saja kali ini dia akan baik sama kamu."
"Oma bicara apa tadi?"
"Bian minta kamu kembali, dia bilang dia akan minta maaf sama kamu."
Zahra diam, benarkah seperti itu, apa Zahra bisa percaya itu setelah semua yang dialaminya.
Rasanya terlalu sulit untuk Bian bisa berubah baik, apa lagi jika ia tahu sekarang Zahra sudah ada di perusahaan impiannya.
"Oma memang tidak percaya dengan itu, tapi sepertinya, tidak ada salahnya jika kamu percaya."
"Aku sudah sering mempercayainya, tapi hasilnya selalu saja mengecewakan."
"Meski begitu, kamu tetap saja tidak mau meninggalkannya."
Zahra tersenyum, itulah kebodohan Zahra, dan memang itu diakuinya, Zahra terlalu memaksakan untuk bisa bertahan.
Dan sekarang, keadaan sudah seperti itu, Zahra sudah cukup lama meninggalkan Bian, apa Zahra bisa kembali lagi.
"Oma tidak akan memaksa, semua keputusan ada ditangan kamu, jadi silahkan kamu fikirkan dan kamu putusakan sendiri."
"Iya, aku akan memikirkannya terlebih dahulu."
"Ambil keputusan terbaik, apa pun itu kamu harus siap untuk hasilnya."
"Iya, Oma."
Keduanya tersenyum, paling tidak Inggrid sudah bicara, selebihnya biarkan wanita itu yang memutuskan sendiri.
Lagi pula, kembali atau pun tidak kembali, Inggrid tidak akan berubah untuk tetep menjaga dan menyayangi Zahra.
Laju mobil Bian tak lagi terkendali, emosinya cukup tinggi saat ini, pertemuannya dengan Dion tak lantas membuatnya menemukan Zahra.
__ADS_1
Saat ini Bian sedang melaju menuju kantor, fikirannya tiba-tiba membawa Bian untuk datang kesana, dengan harapan yang sama yaitu untuk menemukan Zahra.
Kringg ....
Bian berdecak dan melihat ponselnya, ada panggilan masuk dari Vanessa, tapi kali ini Bian tidak ingin memperdulikannya.
"Tidak bisakah diam saja, aku tidak mau berurusan dengan siapa pun."
Dengan sengaja Bian menolak panggilan Vanessa, ia juga mematikan total ponselnya agar tak ada lagi yang mengganggunya.
Bian hanya ingin melihat Zahra, entah kenapa ucapan Inggrid tentang kepergian Zahra cukup mengusik ketenangannya.
"Aku tidak menginginkannya, tapi aku juga tidak bisa melepaskannya, kebodohan macam apa ini."
Bian mengusap wajahnya sekilas, ia melihat sekitarnya, bagus sekali karena jalanan memang kosong, tidak ada yang menghalangi lajunya sama sekali.
Emosi yang sedang menguasai dirinya, telah menghilangkan kesadaran Bian akan laju yang melewati batas kecepatan.
Kantor adalah harapan terakhir Bian, jika Zahra tidak ada di sana, entah kemana lagi Bian harus mencarinya.
Tiiid ....
Klakson kendaraan lain mulai terdengar, Bian tetap saja tidak sadar jika ia sedang mengancam dirinya dan orang lain.
"Diamlah, menyetir dengan benar, tidak perlu mengusik ku."
Bian kembali melihat sekitar, gedung tinggi yang jadi tujuannya semakin dekat pada penglihatannya.
"Baguslah, wanita itu harus ada disana, tidak ada tempat lain lagi untuknya diam saat ini."
Bian sedikit tersenyum, kakinya semakin menginjak habis pedal gas, menaikan kecepatan lajunya.
Bian tak lagi sempat melihat sekitar sebelum ia berpindah posisi menyebrangi jalan, hingga akhirnya.
"Aaaaa ...."
Teriak Bian, matanya terpejam kuat ketika mobil yang dikemudikannya terhempas hingga terguling berulang kali.
Beberapa kendaraan di jalur tersebut segera menghentikan lajunya, orang-orang sekitar tampak berjalan untuk melihat kejadian tersebut.
"Ada apa?" tanya security.
"Sepertinya ada kecelakaan," ucap salah satu karyawati.
Keduanya berjalan keluar gerbang, mereka melihat kerumunan orang di depan sana.
Mobil Bian berhenti bergerak tepat di depan perusahaan Inggrid, sehingga menimbulkan keramaian di sana.
"Cepatlah kita lihat."
"Ya, sebaiknya memang begitu."
Mereka melanjutkan langkah mendekati kerumunan, berusaha menerobos masuk untuk bisa sampai kebagian paling depan.
"Pak, ini ...."
Security itu meneliti mobil yang terbalik di depannya, tentu saja ia mengenali mobil Bian.
Satu detik kemudian ia membungkuk untuk melihat penghuni di dalamnya, buruk sekali, dengan penglihatan yang sedikit buram karena kaca yang gelap.
Security itu melihat Bian yang tak sadarkan diri, cukup banyak darah yang berhasil dilihatnya.
__ADS_1
"Pak Bian," ucapnya seraya menggedor kaca.
Kebisingan orang-orang di sana, sepertinya telah menenggelamkan suaranya, dan Bian tidak akan bisa mendengarnya.
"Ada apa, Pak."
"Ini Pak Bian, ayo cepat tolong bantu keluarkan dia," ucapnya panik.
Mereka sama-sama berusaha untuk mengeluarkan Bian, cukup sulit karena posisi mobil yang tidak seharusnya.
"Cepat, beri tahu Bos besar, bukankah beliau ada di dalam?"
"Benar, aku akan segera kembali."
Wanita itu segera memisahkan diri dan berlari memasuki kantor, meninggalkan mereka yang masih berusaha mengeluarkan Bian.
Kebisingan di luar sepertinya tidak sampai ke dalam, karena ternyata Inggrid dan Zahra masih asyik dengan perbincangannya.
"Permisi, Bu Inggrid," ucapnya seraya menggedor pintu.
Keduanya menoleh bersamaan, itu cukup membuatnya kaget, dan jelas jika orang di luar sana sedang panik.
"Bu Inggrid," ulangnya.
"Biar aku kesana," ucap Zahra seraya berjalan membuka pintu.
"Bu Zahra, maaf kalau saya tidak sopan."
"Ada apa, kenapa kamu panik seperti ini?"
"Di luar, Pak Bian, dia kecelakaan."
Zahra mengernyit, itu kabar buruk, apa Zahra harus mempercayainya, mungkin saja wanita itu telah salah mengenali orang.
"Apa maksud kamu?" tanya Inggrid menyusul.
"Di luar ramai sekali Bu, dan saya sudah memastikan jika ada kecelakaan, mobil Pak Bian jadi korban, Pak Bian terjebak di dalamnya."
"Gak mungkin, jangan bercanda kamu," ucap Zahra.
"Security bersama warga sedang berusaha mengeluarkan Pak Bian, saya kesini untuk memberi tahu Ibu."
Zahra menggeleng, tanpa berkata apa pun lagi, ia berlari meninggalkan keduanya, Zahra tak perduli dengan panggilan Inggrid yang didengarnya.
"Awas kalau kamu salah," ucap Inggrid yang kemudian menyusul kepergian Zahra.
"Awas, hati-hati."
"Banyak sekali darahnya."
"Kasihan sekali dia."
"Kenapa harus berkendara seperti itu?"
Kalimat demi kalimat itu terus saja terlontar, mereka berhasil mengembalikan posisi mobil Bian seperti seharusnya, dan sekarang Bian telah berhasil dikeluarkan.
Zahra dengan tidak sabar menerobos kerumunan tersebut, perasaannya sunggung tidak baik-baik saja meski Zahra belum melihat kebenarannya.
"Pak Bian, Pak, bangun Pak."
Langkah Zahra terhenti, ia menutup mulutnya yang menganga tanpa bisa terkontrol, matanya mendadak panas, detak jantungnya pun seketika bergemuruh hebat.
__ADS_1
"Bian ...." jerit Zahra.