Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Jangan Pergi


__ADS_3

Zahra benar-benar datang ke tempat Isma, sudah seharian ia berada di sana, pada wanita yang serupa mamanya itu, Zahra menceritakan semuanya dengan sempurna.


Apa yang terjadi padanya sebelum datang, apa yang dilakukannya saat kejadian itu, dan banyak hal lagi yang memang membuatnya sakit jiwa.


Meski cerita itu seolah tak ingin berhenti, Isma tak sedikit pun merasa keberatan, ia merasa senang dan turut lega dengan kalimat panjang yang Zahra lontarkan.


"Aku ingin pergi."


"Tidak salah, kamu berhak menginginkan perpisahan itu, tapi selagi waktu masih ada, fikirkan dengan baik semuanya, imbas dari perpisahan itu apa akan benar-benar baik buat kamu, atau justru sebaliknya."


"Aku tidak tahu."


Isma tersenyum, ia meraih gelas minum dan memberikan pada Zahra.


"Kamu sudah seharian bebicara, minum dulu."


"Aku tidak haus."


"Tapi minum adalah wajib dilakukan."


Zahra meraihnya dan meneguknya habis, tapi sepertinya Zahra memang haus, hanya saja Zahra malas untuk minum.


Isma menghembuskan nafasnya lega, ia yakin jika Zahra juga merasakan lega yang luar biasa karena telah menceritakan semuanya.


"Bu, aku tidak mau pulang."


"Tapi itu bukan hal baik."


"Aku mau disini, sehari saja aku mohon.'


"Izin dulu."


Zahra mengangguk, ia akan minta izin nanti saja, Inggrid pasti bisa mengerti dan mau mengizinkannya juga.


"Frans, pulang jam berapa?"


"Nanti malam, jam 8."


"Setiap hari seperti itu?"


"Itu sudah jadwalnya."


Zahra mengangguk, menyenangkan mana jadi dokter atau pemimpin perusahaan.


Zahra sepertinya akan cari tahu jawabannya, itu bisa sedikit jadi topik pembicaraan mereka kalau bertemu nanti.


"Kamu mandi dulu sana, ini sudah sore."


"Tapi aku tidak bawa pakaian ganti."


"Tenang saja, nanti Ibu siapkan, kamu tinggal pakai saja."


Zahra tersenyum, ia begitu saja memeluk Isma, Zahra tidak bisa mengingkari jika ia merasa Isma adalah mamanya yang sudah lama pergi.


Zahra tidak mau jauh darinya, biar apa pun alasannya Zahra ingin tetap bersamanya, dan meski apa pun keadaannya Zahra akan tetap menemuinya.


"Sudah sana mandi, biar Ibu siapkan bajunya."


"Terimakasih."


"Jangan menangis lagi, sudah tidak ada gunanya."

__ADS_1


Zahra melepaskan pelukannya, ia kembali tersenyum seraya mengangguk.


Keduanya bangkit, Zahra akan mandi sesuai dengan perintah Isma tadi, Zahra pasti akan senang saat memakai pakaian yang Isma siapakan.


 


"Zahra," panggil Bian.


Lelaki itu baru saja selesai dengan urusan kantornya, sepanjang waktu di kantor, Bian terus saja terfikirkan Zahra.


Bagaimana keadaannya sekarang, Bian harus segera melihatnya, tapi kemana, kenapa Zahra tidak menjawabnya.


"Zahra."


"Dia tidak ada."


Bian menoleh, kemana lagi perginya wanita itu, apa Zahra tidak lagi kembali sejak tadi, dan dia mengulang tingkahnya lagi.


"Apa yang terjadi kali ini?" tanya Inggrid.


"Apa maksud Oma?"


"Apa maksud Oma?" ulang Inggrid.


Bian berpaling sesaat, mungkin Zahra sempat pulang dan ceritakan semuanya pada Inggrid.


Setelah itu mungkin baru Zahra pergi, dan belum kembali sampai saat ini.


"Kenapa kamu diam?"


"Zahra pergi kemana?"


"Ke tempat orang-orang baik."


Inggrid menggeleng, ia berjalan dan duduk di kursi sana, kenapa jadi Bian yang banyak bertanya padanya.


Sedangkan pertanyaan Inggrid yang hanya satu saja, belum dijawabnya atau mungkin memang tidak akan dijawabnya.


"Katakan, dimana dia, biar aku menjemputnya sekarang."


"Jangan menganggunya, kamu fikirkan dengan baik, apa yang sebenarnya kamu inginkan sekarang."


"Apa maksud Oma?"


"Jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan, apa kamu ini bodoh?"


Bian diam, apa benar Inggrid tidak tahu masalahnya, apa Bian harus ceritakan semuanya sendiri saja.


Tapi apa yang akan didapatkannya nanti, apa Bian akan kembali kehilangan kesempatan yang didapatkannya sekarang.


"Kamu tinggalkan Zahra."


Bian mengernyit, itu sangat tidak mau didengarnya apa lagi dilakukannya.


"Kalau kamu tidak bisa melakukan itu, Oma yang akan memisahkan kalian, kamu bisa pilih wanita mana saja yang kamu inginkan, Oma tidak akan permasalahkan itu dan tidak akan menghilangkan hak mu atas perusahaan, tapi tinggalkan Zahra."


"Oma bicara apa, bagaimana bisa Oma bicara seperti itu, Oma tidak menginginkan Zahra lagi."


"Dia akan tetap jadi Cucu Oma meski tidak lagi dengan mu, jadi jangan fikirkan hal lain, kamy fikirkan keinginan mu sendiri."


"Oma, kejadian tadi benar-benar bukan salah ku, aku tidak tahu kalau Vanessa akan datang ke Kantor."

__ADS_1


"Dan kamu sedih karena ternyata Zahra juga datang, dia mengganggu waktu mu dengan wanita itu."


"Mana mungkin seperti itu, aku sudah berulang kali memintanya pergi, tapi dia yang keras kepala dan tetap disana."


"Dan itu salah satu kesenangan mu juga."


Bian menghembuskan nafasnya berat, kenapa tidak bisa percaya pada ucapannya.


Bian sudah mengatakan yang sebenarnya, jadi benar jika Zahra sudah ceritakan semuanya pada Inggrid.


"Kamu sudah merubah orang baik menjadi jahat, bagaimana bisa kamu melakukan itu, apa kamu tidak bisa berubah sedikit saja?"


"Aku sudah menahannya, tapi Zahra juga tidak bisa menuruti aku."


"Karena kamu memang tidak pantas untuk dituruti, sudah cukup, perdebatan seperti ini sudah sering terjadi tapi kamu tidak memberi perubahan apa pun."


"Aku tidak bisa lepaskan Zahra, aku menginginkannya sekarang."


"Ingin untuk menyiksanya terus?"


"Oma ...."


"Tidak ada pilihan, kamu lepaskan dia."


Inggrid berlalu begitu saja, Inggrid bisa mati karena terlalu stres memikirkan mereka berdua, mungkin memang hanya perpisahan yang bisa menghentikan semuanya.


Bian melempar tas kerjanya, menjengkelkan sekali, kenapa harus selalu perpisahan yang mereka bicarakan.


"Kemana perginya wanita itu, kenapa sampai sekarang tidak juga kembali."


Bian diam sesaat, ia lantas keluar dan memanggil sopir pribadi Zahra.


"Ada apa, Pak?"


"Kemana Zahra, dia belum kembali."


"Tadi pergi ke tempat Bu Isma, dan katanya tidak boleh dijemput sebelum meminta dijemput."


"Isma, siapa?"


"Tidak tahu, tapi katanya Bu Inggrid tahu dengan Frans."


Bian menyipitkan matanya, Frans siapa lagi Frans, kenapa banyak sekali orang yang mengganggu Zahra.


"Antar saya kesana."


"Bu Zahra tidak mau ada yang menyusul, bahkan Pak Bian sendiri."


Bian mengangkat kedua alisnya, bisa sekali Zahra melakukan itu, siapa Frans sampai ia tidak mau diganggu sama sekali.


Bian menggeleng, ia lantas masuk tanpa bicara apa pun lagi, menjengkelkan sekali semua sangat menguji kesabarannya.


"Pak Bian."


Tak ada jawaban, sopir itu turut pergi kembali ke tempatnya sendiri.


Terserah saja, karena apa yang dikatakan olehnya sesuai dengan pesan Zahra.


"Den, mau minum atau yang lain?" tanya Nur.


"Tidak perlu, telepon Zahra saja suruh dia pulang."

__ADS_1


Nur diam, ia menatap Bian yang berjalan menaiki tangga.


Sangat tidak bisa dimengerti dengan hubungan mereka berdua, kenapa selalu saja buruk, apa tidak ada sedikit saja sisi baik dari hubungan itu.


__ADS_2