Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Aku Tidak Menyangka


__ADS_3

Frans berjalan ke halaman belakang rumahnya, ia duduk di samping Zahra yang sejak tadi bertahan di sana.


"Minumlah, ini teh manis hangat."


Zahra menoleh dan menerimanya, ia meneguknya sedikit, cukup untuk menghangatkan perutnya.


"Apa kurang manis?"


"Bagi ku kurang manis, aku pecintan manis."


"Baiklah, mulai sekarang kamu harus menguranginya."


Zahra tersenyum dan kembali meneguknya, Frans melihat sekitar, di sana hanya ada pemohonan dan tumbuhan kecil lainnya, rerumputan hijau yang dipijaknya.


Tapi Zahra tampak begitu nyaman berada di sana, entah sudah berapa jam ia berada di tempat tersebut, dan bahkan sendirian.


"Tidak ada yang mencari mu, ini sudah larut malam?"


"Tidak ada yang memperdulikan ku."


"Benarkah, biar aku saja yang memperdulikan mu, kamu sudah makan?"


Zahra menoleh, ia mengangguk perlahan, bukan makan yang dibutuhkannya sekarang.


Frans turut mengangguk, ia mengeluarkan ponsel dan berkutat di sana, Zahra merapatkan bibirnya tanpa minat mengganggungnya.


"Apa kamu suka ngemil?"


"Suka."


"Kamu mau ngemil sekarang?"


"Aku mau minum."


"Itu kan teh manis minum juga."


Zahra tersenyum, ia mengangguk tanpa menjawab apa pun.


Frans kembali berkutat dengan ponselnya, ini sudah waktunya istirahat, sampai kapan mereka akan di luar seperti itu.


"Frans."


"Emmm."


Zahra menoleh, lelaki itu masih saja sibuk dengan ponselnya.


"Kenapa?"


"Gak jadi."


Frans menoleh, ia lantas menyimpan ponselnya dan memeluk kakinya.


"Kenapa?"


"Berapa usia mu, sepertinya kamu lebih dewasa dari ku."


"Tentu saja, kamu itu memang masih bocah kan?"


Zahra tersenyum, ia kembali berpaling tanpa menjawab, baguslah berarti Zahra memang awet muda.


"Kenapa bertanya soal umur?"

__ADS_1


"Aku takut dianggap tidak sopan, makanya aku bertanya agar aku tahu harus panggil kamu apa?"


"Tidak masalah, panggil saja sesuka mu."


"Baiklah."


Keduanya sama-sama terdiam, sibuk dengan fikirannya sendiri, padahal begitu banyak hal yang ingin Zahra bicarakan, tapi rasanya malas sekali.


Frans merubah posisi duduknya, ia merasa pegal duduk di bawah seperti itu, kenapa Zahra tidak duduk di sofa dalam saja.


"Zahra, kamu baik-baik saja?"


"Tentu saja, memangnya aku kenapa?"


"Mama bilang, kamu datang dan menangis tanpa henti, berbicara panjang lebar padanya."


"Dia Mama ku, aku merasa nyaman cerita sama dia."


"Kalian baru saja bertemu."


"Tapi perasaan ku sangat tidak asing."


Frans mengangguk, baguslah kalau memang seperti itu, Zahra jadi melepaskan perasaan penatnya.


Frans memang akui jika Isma adalah wanita lembut dan penyayang, wajar saja jika akan dengan mudah membuat orang lain nyaman.


"Zahra, kamu tahu kalau sempat menginginkan wanita seperti Mama."


"Dan kamu mendapatkannya?"


"Tentu saja, aku menemukannya dan aku sempat memilikinya."


Zahra menoleh, pernah memiliki, apa Frans sedang bercerita tentang mantan kekasihnya saat ini.


"Lalu, mana dia sekarang?"


"Sudah pergi," ucap Frans seraya menoleh.


"Pergi?"


Frans mengangguk, Zahra sedikit mengernyit, kalimat Frans terasa menggantung, Zahra tidak bisa mengartikannya sendiri.


Frans berdecak seraya berpaling, itu sungguh mengembalikan rindu pada wanitanya dulu.


"Pergi, apa dia ...."


"Tidak, dia tidak meninggal, dia pergi karena dibawa orang tuanya, mereka memaksa aku dan dia berpisah bahkan saat waktu kebersamaan kami baru saja terjalin."


"Baru jadian?"


"Aku menikahinya."


Zahra mengangkat kedua alisnya, apa ini kisah buruk, atau justru manis karena Frans pernah mendapatkan wanita impiannya.


Frans meluruskan kakinya, ia memunduk sesaat, mungkin saja Zahra sedang merasakan perasaan yang sama sekarang.


"Aku menikahinya, kita bersama selama 3 bulan, dan aku harus menceraikannya di bulan keempat."


"Kenapa seperti itu?"


"Aku tidak mengerti."

__ADS_1


Frans menggeleng, ia melirik Zahra seraya tersenyum.


Zahra justru merasa heran dengan itu, Frans yang menjalaninya tapi Frans juga yang tidak mengerti dengan kisahnya.


"Perjuangan ku mendapatkan dia bukan main-main, dia begitu sulit didapatkan, dia begitu cuek saat aku mendekatinya."


"Lalu, dari mana kamu tahu kalau dia sama seperti Mama?"


"Wajahnya begitu menggambarkan kebaikannya, sorot matanya juga lembut, dan senyumannya begitu menghangatkan."


Zahra mengangguk, baiklah, sayang sekali Zahra tidak bisa melihat wanita itu secara langsung.


Frans melihat ke langit sana, ia sedikit tersenyum melihat bulan di sana, Zahra yang menyadarinya turut melihat bulan itu.


"Mungkin kamu perlu tahu, kalau aku pernah ada diposisi kamu saat ini."


"Kamu tidak tahu apa yang terjadi padaku."


"Apa yang terjadi, kamu dibenci mertua, kamu dibenci Suami kamu, tidak dihargai keluar Suami kamu?"


Keduanya saling lirik, bertahan dalam tatapan satu sama lain, apa benar kisah hidup mereka sama.


Zahra memang merasakan semuanya, semua perlakuan tidak baik itu, semua kebencian itu, dan semua hal buruk lainnya.


"Tapi kamu terjebak dalam cinta kamu sendiri, sampai kamu tidak bisa pergi, sekali pun demi mendapatkan kebahagiaan mu sendiri."


Zahra berpaling, ia menatap lurus halaman itu, memang benar semua itu, Zahra selalu mengingkari jika ia harus pergi dan pergi.


Frans mengangguk, ia menghembuskan nafasnya perlahan, mungkin saja terkaannya kemarin tentang Zahra adalah benar.


"Aku tidak bisa mengendalikan perasaan, aku kecewa dan aku sakit hati, tapi aku tidak pernah bisa untuk pergi."


"Karena kamu terlalu baik."


"Tidak, aku jahat sekarang, aku menyakiti banyak orang."


"Karena sekarang kamu mulai sadar, bertahan dalam diam tidak lagi semudah yang biasa kamu lakukan, tidak sebaik akan hasil yang kamu bayangkan."


Zahra tersenyum, tidak ada satu kejadian pun yang sesuai dengan keinginannya, semua mengecewakannya.


Zahra benar-benar menyesal pernah jadi orang baik, mengalah demi menjaga perasaan orang lain, sampai mengorbankan perasaannya sendiri tanpa sedikit pun perhatian.


"Kamu harus paham, jika berkorban tidak selamanya harus dilakukan, dan melawan pun tidak selalu jadi jalan keluar yang baik, dua hal itu memiliki porsi yang sama yang harus kita atur agar seimbang."


"Bagaimana bisa kamu ceraikan Istri mu?"


"Dia menderita saat memilih bertahan dengan ku, kebencian orang tuanya selalu membuat perhatiannya terhadap ku seolah menghilang, dan dia merasa bersalah dengan itu."


"Jadi, siapa yang minta berpisah?"


"Tidak ada, memang aku yang melepaskannya, saat cinta yang dimiliki tidak lagi membahagiakan, saat itu kita harus merelakan, aku menyimpan cinta ku sendiri untuknya dan begitu juga sebaliknya."


Zahra mengangguk pelan, kenapa Bian tidak bisa melakukan hal itu, bahkan meski Zahra telah memintanya berulang kali.


Zahra juga ingin lepas dari deritanya, tapi kenapa begitu sulit jalan yang harus dilaluinya sampai saat ini.


"Zahra, kehilangan dia membuat ku gila, bertahan dalam kebencian orang tuanya juga membuat ku gila, bertahan dalam cinta ku sendiri semakin membuat ku gila, aku pernah ada difase terendah dalam kondisi mental yang tak normal."


"Lalu apa yang kamu lakukan?"


"Aku banyak bercerita dengan Mama, aku katakan semua yang ingin aku katakan, bahkan meski itu hal tidak penting untuk dikatakan, asalkan aku merasa puas dan tenang, aku melakukannya."

__ADS_1


Zahra diam, tapi Zahra tidak bisa melakukan itu dengan Mamanya, Zahra sudah kehilangan mereka.


Sandaran dan tempat ternyaman Zahra sudah tak lagi ada, mereka pergi sebelum Zahra mengerti cara menjalani hidup dengan baik.


__ADS_2