Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Tuhan Tidak Adil


__ADS_3

Frans berlari menuju ruangan Shafira, dokter menghubunginya dan mengatakan jika keadaan Shafira benar-benar buruk.


"Shafira," ucap Frans memasuki ruangan.


Frans terdiam mematung saat suster menutup seluruh tubuh Shafira, jantungnya semakin bergemuruh saat dokter itu menggeleng.


"Omong kosong," ucap Frans.


Ia segera mendekat dan membuka kembali kain yang menutupi wajah Shafira.


"Shafira, Shafira aku datang, kamu dengan aku, lihat aku disini."


Wajah pucat dengan mata tertutup itu tak.memberi respon apa pun, Frans menggeng dengan kedua tangan mengepal kuat.


"Shafira, kita belum bisa bercerita satu sama lain, Shafira bangun!" bentak Frans.


Ia mengoyak tubuh itu kasar, hingga suster dan dokter itu berusaha menenangkannya.


"Shafira," teriak Frans yang mulai menangis.


Pertemuan bodoh apa yang telah terjadi antara dirinya dan Shafira, untuk apa mereka bertemu jika pada akhirnya berpisah lagi.


"Shafira," teriak Frans.


Mereka menarik Frans menjauhi tubuh tak bernyawa itu, tidak ada gunanya karena telinganya tidak akan lagi bisa mendengar.


"Shafira, kenapa kalian biarkan dia pergi, kenapa kalian tidak mengurusnya dengan baik, kenapa!" bentak Frans.


Mereka diam, usaha mereka sudah sangat maksimal, tapi mau bagaimana lagi karena kehendak Tuhan tidak akan ada yang bisa menentang.


"Aaaaa Shafira."


"Pak, sabar Pak."


"Lepas."


Frans berontak dari tahanan mereka, hingga terlepas Frans langsung memeluk tubuh Shafira.


Ini salah, keadaan ini sangatlah salah, Shafira tidak boleh pergi dari dunia ini sekarang.


"Shafira bangun, aku tahu kamu kembali untuk ku, tapi kenapa seperti ini, Shafira aku mohon buka mata kamu."


Frans benar-benar menangis tersedu, ini terlalu singkat, kerinduan yang sejak lama ditahannya belum sepenuhnya terobati.


Shafira harus hidup untuk waktu yang lebih lama, bukan sesingkat ini, Frans tidak bisa merelakannya sama sekali.


"Shafira, bangun aku mohon."

__ADS_1


"Pak, kami minta maaf, tapi semua sudah kehendak Tuhan," ucap dokter.


Frans tak menjawab, ini sangat tidak adil untuknya, Frans tidak pernah ingin perpisahan yang seperti ini terjadi dalam hidupnya lagi.


Cukup papanya yang meninggalkannya karena kematian, kenapa sekarang harus terjadi lagi pada Shafira.


"aapa maksud semua ini, Tuhan," teriak Frans.


Dokter dan suster itu tidak bisa melakukan apa-apa selain membiarkannya saja, mereka juga tidak pernah menginginkan kematian terjadi pada pasiennya.


Frans mengangkup kedua pipi Shafira, mengusap lembut dengan kedua tangannya, air mata itu menetes tepat di wajah Shafira tapi sedikit pun tak membuat Shafira bergeming.


"Kamu benar-benar pergi, jahat sekali kamu meninggalkan aku dengan cara seperti ini, Shafira aku hanya pergi sebentar saja harusnya kamu bisa menunggu aku kembali."


Frans memejamkan matanya kuat, berharap mata Shafira akan terbuka bersamaan dengan matanya.


Tapi harapan tinggal harapan, Shafira benar-benar pergi untuk selamanya, Frans terduduk tak berdaya di samping ranjang Shafira.


"Pak, kami turut berduka cita, semoga Bapak dan keluarga diberikan kekuatan dan keikhlasan untuk menerimanya."


Frans menggeleng, tidak ada yang bisa diterimanya, semua sangatlah buruk, kematian tidak pernah diinginkan Frans terjadi pada orang-orang terkasihnya.


"Kami permisi, Pak."


"Terimakasih."


Ini buruk, ini sangatlah buruk, Frans tidak bisa mengerti semua ini, kenapa harus kematian yang terjadi.


"Kamu tahu aku sangat menunggu mu selama ini, aku merindukan mu, aku masih menyimpan cinta kita dengan utuh."


 


Bian masih mempertahankan pelukannya terhadap Zahra, wanita itu tak bergeming meski tak juga membalas pelukannya.


Keduanya memang sama-sama terisak, baik Bian atau pun Zahra, mereka merasa berat dengan perasaannya sendiri.


"Aku tidak tahu lagi harus bagaimana Zahra, tolong berikan aku pilihan lain selain dari pada perpisahan ini, aku mohon."


Hakim tampak bangkit, ia berlalu begitu saja meninggalkan keduanya.


Mereka yang melihat hakim itu keluar, langsung mendekat dan bertanya hasilnya.


"Kami akan melakukan pemanggilan mediasi berikutnya, tidak ada hasil apa pun untuk mediasi kali ini."


Mereka saling lirik, ada perasaan lega dan berat juga dengan perkataan hakim itu.


Perasaan lega bagi mereka yang mengharapkan rujuk, dan berat bagi Dion yang mengaharpkan perpisahan itu.

__ADS_1


"Kami boleh masuk?" tanya Kania.


"Silahkan saja, tapi jangan buat keributan."


Mereka lantas masuk bersamaan dan melihat Bian juga Zahra di sana, Dion tampak menghentikan langkah hakim itu.


"Pak, apa tidak bisa diputuskan langsung, bukankah pihak wanita sudah bulat dengan keputusannya untuk berpisah?"


"Saya tidak melihat itu, saya merasa ini masih bisa diperbaiki, hanya pelu ketenangan dan kesadaran saat mereka berbicara, dan saya rasa itu bisa didapatkan dipertemuan mediasi berikutnya."


Dion mengeraskan rahangnya, omong kosong macam apa itu, bukankah Zahra sudah keras dengan keputusannya untuk berpisah.


Hakim tampak pergi, Dion menendang tembok di sampingnya dengan kesal, tidak bisakah perpisahan itu dipermudah.


"Zahra, katakan, selain dari perpisahan ini, apa yang bisa membuat kamu mau memaafkan aku."


Zahra tak menjawab, ia tidak tahu, ia berusaha tidak menginginkan apa pun selain dari pada perpisahan itu.


"Zahra," panggil Isma.


Bian melepaskan pelukannya, melihat Isma yang mendekati Zahra, Bian berharap wanita itu bisa membujuk Zahra.


"Jernihkan fikiran kamu, jangan biarkan emosi menguasai mu terus menerus, kamu saat ini sedang merasakan penyesalan, semakin kamu mengikuti emosi kamu maka penyesalan akan semakin menekan kamu."


Zahra menelan ludahnya, kali ini benar-benar menatap Bian di hadapannya.


Lelaki itu sudah berulang kali menangisinya, seperti itu saja memang sudah bisa mengusik hati Zahra.


Tapi Zahra berusaha terus menepisnya, dengan menganggap semua itu hanya sandiwara semata.


"Orang jahat pasti memiliki sisi baik meski sekecil apa pun itu, dan Mama percaya kalau kamu orang baik yang juga memiliki sisi jahat, tapi jangan biarkan sisi jahat itu menguasai mu melebihi sisi baik kamu, karena nanti kamu sendiri yang akan merasa rugi."


Zahra tak bergeming, ia bertahan dalam tatapannya terhadap Bian, tatapan lelaki itu juga tak berpaling meski sesaat saja.


Sorot mata Bian menunjukan ketidak berdayaannya, tidak ada keangkuhan sama sekali yang terlihat oleh Zahra.


"Bisikan hati kecil kamu yang harus kamu dengar disaat seperti ini, fikiran kamu yang menekan amarah kamu jangan terlalu kamu ikuti, Zahra memperbaiki keadaan harus dengan sikap dan pemikiran baik, bukan dengan emosi seperti yang kamu lakukan akhir-akhir ini."


Zahra menutup wajah dengan kedua tangannya, ia jongkok dan kembali menangis tersedu.


Zahra memang egois akhir-akhir ini, dia tidak melihat sekitarnya yang mungkin telah terluka oleh sikap dan perkatannya.


Dion berjalan memasuki ruangan, langkah beratnya tetap saja berhasil membawanya masuk, Dion diam melihat Bian yang jongkok di hadapan Zahra.


"Zahra, aku tidak sedang merendahkan mu, aku tidak sedang meremehkan mu, tapi aku tahu kamu masih memiliki sisi baik untuk bisa menerima ku lagi."


Tangis Zahra justru semakin menjadi, mereka telah mengikis pertahan Zahra yang begitu diperjuangkannya.

__ADS_1


Zahra lemah dan selamanya akan lemah, menghadapi cintanya terhadap Bian akan membuatnya semakin tenggelam dalam kelemahan.


__ADS_2