Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Masih Sama


__ADS_3

Keluarga Bian terlihat sedang makan malam bersama malam ini, Kania dan Kemal datang ke tempat Bian, sengaja untuk makan di sana.


Mereka makan tanpa kehadiran Zahra, sudah berusaha membujuknya, tapi Zahra tetap saja menolaknya.


"Makanan sebanyak ini, apa akan habis semua?" tanya Kania.


"Kalau tidak habis, kamu bawa pulang saja," ucap Inggrid.


Kania mengangguk, sepertinya itu lebih baik dari pada harus dibuang, dan Kania juga tidak perlu repot memasak lagi di rumah.


Nur terlihat berjalan dengan membawa nampan, tentu saja ia berniat untuk mengantarkan makanan itu ke kamar.


"Bibi," panggil Bian.


Kegiatan mereka terhenti, Nur juga tampak menghampiri Bian.


"Itu untuk Zahra?" tanya Bian.


"Iya, mungkin saja mau makan di kamar."


"Biar aku yang bawa."


"Hey, kamu sendiri sedang makan," ucap Kemal.


Bian menoleh, tentu saja Bian ingat itu, tapi mungkin akan lebih menyenangkan jika makan bareng Zahra di sana.


Bian tersenyum seraya mengangguk, tidak ada salahnya mencoba, siapa tahu Zahra sudah bisa lebih tenang lagi sekarang.


"Makan dulu, nanti baru urus wanita itu, utamakan kesehatan mu," ucap Kemal.


"Aku baik-baik saja, jangan khawatir."


"Bian," panggil Kania.


"Aku tidak apa-apa, kenapa kalian ini?"


Bian bangkit dan mengambil nampannya, tidak ada penolakan, Nur memberikannya juga.


Bian melirik mereka semua, tanpa berkata lagi, Bian pergi meninggalkan mereka semua di sana.


"Permisi, Bu," ucap Nur.


"Iya, terimakasih," sahut Inggrid.


Nur turut pergi, kini tinggal mereka bertiga di sana, Inggrid sempat menatap Kemal sesaat, lelaki itu sepertinya masih tidak suka saja dengan Zahra.


Tapi biarlah, Inggrid tidak mau perdulikan itu, selama Kemal tidak bertingkah, ketidak sukaannya terhadap Zahra bukan masalah.


"Kenapa kalian diam saja, ayo makan," ucap Inggrid.


"Ayo makan, Pah," ucap Kania.


Kemal tak menjawab, mereka kembali menikmati makanannya.


Langkah Bian tertuju ke balkon kamar, pintu yang terbuka cukup meyakinkan Bian jika Zahra ada di sana.


Bian tersenyum saat melihatnya berdiri di sana, Bian menyimpan makanannya dan meraih selimut kecil yang selalu ada di kursi sana.

__ADS_1


"Kenapa kamu diam disini?" tanya Bian seraya memakaikan selimutnya.


"Ini sudah malam, kamu bisa masuk angin kalau terus disini," tambahnya.


Bian berdiri di samping Zahra, wanita itu tampak diam saja tanpa menjawab.


"Aku bawakan makanan untuk mu, makan dulu ya mumpung masih hangat."


Zahra tetap saja diam, entah apa yang sedang difikirkannya saat ini, Bian tidak bisa menerkanya.


Tangan Bian terangkat menyentuh pundak Zahra, perlahan ia memutar tubuh itu, mencoba tersenyum saat pandangan keduanya bertemu.


"Makan ya, Oma sudah siapkan makanannya buat kamu."


"Kamu makan saja sendiri."


"Aku sudah makan di bawah, makanan itu aku bawa buat kamu."


Tak ada jawaban, Zahra berpaling melihat asal tanpa tujuan, tapi itu hanya sesaat karena Bian mengembalikan arah padanya.


"Berhenti seperti ini, sampai kapan akan diam seperti ini, kamu tidak terlihat kuat kalau seperti ini."


Bian merapikan rambut Zahra, ia juga menarik selimut yang hendak lepas dari pundaknya.


"Aku tidak akan tahu kalau kamu tidak bicara, aku tidak sepintar kamu dalam mengerti pemikiran orang lain, jadi bicara apa yang kamu inginkan."


"Aku mau pergi."


"Pergi kemana, ini sudah malam dan kamu tidak akan mendapat izin dari Oma, aku yakin itu karena dia akan sangat mengkhawatirkan kamu saat kamu jauh."


Bian menghembuskan nafasnya sekaligus, baiklah ia akan berusaha untuk tetap sabar.


"Baiklah, katakan kamu mau pergi kemana, biar aku antar."


"Aku mau pergi sendiri."


"Jangan seperti itu, kamu sedang tidak baik-baik saja sekarang."


Tak ada jawaban, perlahan Bian menarik tubuh Zahra, memeluknya meski ragu.


Tapi sepertinya Zahra memang sedang tenang, ia tak berontak untuk pelukan Bian kali ini.


"Apa kamu lihat, kalau langit begitu gelap saat ini, tidak ada terangnya sama sekali, dan anginnya pun terasa sangat dingin."


Tetap tak ada jawaban, Zahra sudah melihat itu, Zahra sudah lebih lama berada di sana.


"Kita masuk ya, kalau kamu tidak mau masuk, sebaiknya kamu akan agar tidak sampai masuk angin."


"Zahra, bukankah besok kita akan pergi keacara teman Sintia, itu artinya kamu harus sehat agar kita bisa pergi, emmm maksud ku agar kamu bisa pergi," tambah Bian.


"Aku pergi sama siapa?"


"Emmm tentu saja aku tidak tahu, kamu mau pergi sama siapa biar aku bantu sampaikan."


"Sama kamu."


Bian mengernyit, apakah itu benar, tentu saja Bian tidak akan menolaknya, ia akan menemani Zahra di sana.

__ADS_1


Zahra melepaskan pelukan Bian tanpa sempat membalasnya, Bian tersenyum dan kembali membenarkan selimutnya.


"Berarti sekarang kamu harus makan, kita masuk dan kamu makan."


"Kita makan sama-sama?"


"Tergantung, kamu maunya seperti apa, aku ikut."


Zahra diam, meski ia berbicara, tapi ekspresi wajahnya tetap saja datar.


Bian mengangguk, tidak akan ada habisnya jika terus berbicara, ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang difikirkan Zahra.


"Ayo masuk, kita makan sama-sama ya, jangan terus disini kamu bisa sakit."


"Biarkan saja, kamu akan senang dengan begitu."


"Tidak lagi."


Bian meraih tangan Zahra, sedikit menariknya untuk melangkah, ia membawa makanan itu masuk bersama dengan Zahra.


Sampai di dalam, mereka memang makan bersama, Bian yang mengaku sudah makan pun ikut makan agar Zahra ada teman makan.


Sepanjang itu, Zahra hanya diam saja, ia tidak menolak saat Bian menyuapinya makanan.


 


"Biarkan aku menemui Ayra sebentar saja," ucap Kania.


"Itu tidak perlu, jangan lagi mengganggunya sekarang," sahut Inggrid.


"Aku tidak akan mengganggunya, aku hanya ingin menemuinya."


"Mami bilang tidak perlu."


Kania diam, ia melirik Kemal sesaat, apa salahnya Kania menemui menantunya sendiri.


Kania sudah tidak merasa bermasalah dengan wanita itu, kenapa Inggrid jadi melarangnya.


"Hanya Ayra yang boleh menemui kalian saat dia mau, jika tidak, jangan berani menemuinya lebih dulu."


"Aku tidak akan macam-macam, aku hanya ingin menemuinya saja."


"Tapi itu tidak boleh kamu lakukan."


"Sudahlah," sela Kemal.


Kania kembali diam, baiklah terserah Inggrid saja mau seperti apa, paling tidak ia sudah berusaha kembali baik pada Zahra.


Inggrid melihat ponselnya, ia melihat jam di layarnya, seharusnya mereka sudah istirahat sekarang ini.


"Kita pulang saja," ucap Kemal.


"Itu benar, ini sudah malam, kalian bisa kembali besok kalau memang ingin kembali."


Kania sedikit mengangguk, bahkan Inggrid tidak menawari mereka untuk menginap.


Kemal meneguk minumannya dan mengusap pundak Kania, ia lantas bangkit disusul Kania, keduanya pamit dan pergi meninggalkan Inggrid di sana.

__ADS_1


__ADS_2