Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Memang Untuk Mu


__ADS_3

"Jangan pergi sebelum dijemput," ucap Bian.


"Iya."


"Ya sudah sana."


Bian mencium kening Zahra sesaat, memeluknya juga.


Zahra lantas keluar, ia tersenyum saat kaca mobil terbuka.


"Hati-hati," ucap Zahra.


"Oke."


Mobil lantas melaju, Zahra menghembuskan nafasnya sekaligus, ia melirik rumah di belakangnya.


Pagi ini, Zahra diminta datang ke rumah oleh Kemal, entah untuk apa tapi yang jelas Zahra tak lagi merasa khawatir terhadap sosok Kemal.


Zahra berjalan memasuki halaman rumah, ia menekan bel setelah sampai di depan pintu.


"Mama," panggil Zahra.


Pintu terbuka, Zahra tersenyum saat melihat Kania, mereka sempat berpelukan sesaat, dan memasuki rumah bersamaan.


"Ada apa, bukankah Papa harus ke Kantor?"


"Mama tidak tahu, kamu temui saja sendiri."


Zahra mengangguk, mereka menaiki tangga dan masuk ke ruang kerja Kemal.


Lelaki itu menoleh dan memintanya untuk duduk, dengan tetap ditemani Kania, Zahra duduk di depan Kemal.


"Ada apa?" tanya Zahra.


"Kenapa, kamu sedang sibuk?" tanya balik Kemal.


"Tidak, tapi mungkin Papa harus ke Kantor."


"Bagaimana keadaan mu sekarang?"


Zahra melirik Kania, kenapa bertanya seperti itu, bukankah Zahra baik-baik saja dan mereka bisa melihatnya sendiri.


Kania menggeleng, ia tak berniat untuk bicara sedikit pun juga, biarkan saja bukankah Kemal dan Zahra yang memiliki urusan saat ini.


"Aku baik-baik saja, memangnya kenapa dengan aku?"


"Tidak, baguslah kalau kamu baik-baik saja."


Zahra mengangguk pelan, sebenarnya untuk apa Kemal memintanya datang kali ini.


"Kamu kurang istirahat semalam, kamu harus cepat pulang."


"Tidak masalah, aku akan pulang kalau sopirnya sudah datang, dia sedang mengantarkan Bian ke Kantor."


"Kenapa Bian gak bawa mobil sendiri?" tanya Kania.


"Tidak, tadi dia mau antar aku kesini, jadi sekalian diantar saja ke Kantor."


Kania mengangguk, baiklah itu cukup bisa dimengerti, mungkin saja Bian merasa khawatir membiarkan Zahra pergi sendiri.


Kemal menggeser map ke hadapan Zahra, ia mengangguk agar Zahra membukanya saja.


"Tapi ini apa?"


"Itu hadiah ulang tahun mu."


Zahra melirik Kania sekilas, ia lantas membuka mapnya dan mengeluarkan isinya.


Zahra mengernyit, itu adalah akta tanah dan rumah, sekilas Zahra melirik Kemal dan kembali membacanya.


Surat sah dari rumah yang ditempati Zahra saat ini bersama Bian, rumah yang telah menjadi milik Kemal.


"Tapi ini ...."

__ADS_1


Zahra menelan ludahnya, kepemilikan itu tertulis atas namanya, Ayrazahra begitu jelas tertulis di sana.


"Tapi ini ...."


"Ambillah, bukankah itu rumah mu," ucap Kemal tenang.


"Tapi, aku tidak bisa membayar hutang Papa aku, bukankah jumlahnya sangat besar dan aku tidak punya uang sebanyak itu."


Kemal mengangguk, itu memang benar, Zahra tidak akan mampu membayarnya bahkan meski hanya setengahnya saja.


Kania memajukan tubuhnya, ia mengusap punggung Zahra sayang, senang rasanya melihat Kemal yang baik pada menantunya itu.


"Aku tidak bisa ambil ini."


"Kenapa, itu rumah kamu, tentu saja itu untuk kamu bukan untuk kami."


"Tapi aku ...."


"Kamu bisa bayar hutang orang tua kamu, kamu harus janji sama Mama sama Papa, kalau kamu akan selalu membahagiakan Bian."


Zahra mengangkat kedua alisnya, bisakah seperti itu, Zahra selalu berusaha untuk itu sejak dulu, tapi memang Bian yang tidak pernah bisa menerimanya dengan baik.


"Mama tahu, sekarang Bian sudah berubah, dia bisa lebih baik lagi memperlakukan kamu, Mama yakin kalau Bian mulai bisa menerima dan menyayangi kamu."


"Jangan buat dia kecewa," sahut Kemal.


Zahra menoleh, ia diam tanpa menjawab, hal apa yang membuat Bian kecewa, semua yang dilakukan Zahra adalah untuk membuktikan jika Bian salah.


Zahra memang pernah jahat pada mereka semua, terutama Bian, tapi bukankah dengan begitu mereka jadi sadar dengan kesalahannya.


"Ayra, apa pun masalah kalian nanti, tolong jangan sampai seperti kemarin, Mama yakin Bian benar-benar berubah."


"Aku memang merasakannya sekarang."


Kania tersenyum dan mengangguk, baguslah kalau memang seperti itu, berarti keadaan memang sudah membaik.


Dan mungkin memang penerimaan yang sempat mereka lupakan, dan itu yang membuat permasalahan jadi besar.


"Kamu sudah memaafkan Bian?"


"Iya."


Zahra tersenyum seraya mengangguk, tentu saja bukankah sejak awal Zahra selalu memaafkan semuanya.


Kania menarik Zahra dan memeluknya, ini sungguh sangat indah, Zahra merasakan hal manis yang bertubi-tubi, benarkah semua penderitaannya telah berakhir sekarang.


"Kamu simpan ini baik-baik, semua sudah kembali padamu," ucap Kemal.


Kania melepaskan pelukannya, Zahra tersenyum dan mengangguk, itu sangatlah membuatnya bahagia.


"Terimakasih banyak, aku akan menjaganya dengan baik, dan Bian, aku akan berusaha membahagiakannya."


"Semoga kalian bahagia."


Zahra bangkit, ia berjalan mendekati Kemal dan memeluknya begitu saja.


Tidak ada penolakan, Zahra memeluk Kemal dari sampiang dan cukup sulit untuk Kemal membalasnya.


Lelaki itu hanya mengusap tangan yang melingkar di dadanya saja, Kania tersenyum senang, semoga saja keadaan baik itu akan selalu terjaga.


 


"Bu, Bu tolong Bu, jangan masuk."


"Lepas apaan sih, gak sopan."


Vanessa memasuki ruangan Bian dengan paksa, bahkan meski security dan beberapa karyawan berusaha menghentikannya.


Bian yang kebetulan sedang ada tamu pun, seketika bangkit dan menghampirinya.


"Ada apa ini?"


"Maaf Pak, saya sudah berusaha menahannya tapi dia terus saja memaksa," ucap security.

__ADS_1


Bian melirik Vanessa, untuk apa lagi wanita itu muncul di hadapannya, keributan apa lagi yang akan terjadi kali ini.


Bian melirik tamunya sesaat, mereka akan berfikir buruk jika sampai terjadi keributan karena Vanessa.


"Oke, bubar," ucap Bian.


Mereka mengangguk dan bubar meninggalkan ruangan Bian, Bian pamit pada tamunya untuk keluar sebentar saja.


Setelah mendapat persetujuan, Bian lantas menarik Vanessa keluar ruangannya, ia menariknya ke belakang.


"Apa lagi sekarang, masih belum cukup semuanya?" tanya Bian melepaskan Vanessa.


"Kamu sama sekali tidak mencari ku, apa yang terjadi?"


"Apa yang terjadi, harusnya kamu mengerti apa yang terjadi."


"Bian ....."


"Diam," sela Bian.


Vanessa mengernyit, ia berpaling sesaat dan kembali menatap Bian.


"Dengar baik-baik, aku minta maaf karena sudah pernah mendekati kamu, pernah menyukai mu dan membuat mu balik menyukai ku, pernah memberi mu harapan besar juga tapi maaf, aku tidak lagi seperti kemarin Van, aku anggap kita selesai bukankah kita tidak pernah ada hubungan."


"Omong kosong apa ini, semua yang terjadi antara aku dan kamu karena kita memiliki perasaan yang sama, bisa sekali kamu bicara seperti itu."


"Tidak, itu hanya kekesalan ku saja terhadap Zahra, aku hanya mencari pelampiasan saja atas ketidak sukaan ku terhadap Zahra, tapi sekarang semua sudah berubah."


Vanessa menggeleng, kalimat Bian sama sekali tidak bisa diterimanya, Bian tidak bisa membuangnya begitu saja.


Bagaimana bisa Vanessa melepaskan Bian setelah semua yang terjadi padanya, Bian tidak akan bisa lepas darinya begitu saja.


"Aku sadar sekarang, Zahra memang pantas untuk aku sayangi dan aku pertahankan, jadi tolong jangan lagi datang untuk mengganggu ku."


"Gak, ini gak bisa, kamu gak bisa seperti ini Bian."


"Tapi aku melakukannya, aku tidak bisa lagi untuk terus berurusan sama kamu, jadi tolong mengerti."


Vanessa menggigit bibir bawahnya, tenang sekali Bian bicara seperti itu, apa lelaki itu tidak bisa mengerti apa yang dirasakannya.


Tapi tidak, Vanessa tidak akan menyerah begitu saja, tekadnya masih kuat untuk memisahkan Bian dan Zahra.


"Maaf Van, tapi aku lagi ada tamu, dan ini penting."


"Aku benar-benar tidak penting lagi buat kamu?"


"Aku hanya minta untuk kamu mengerti, kamu bisa mendapatkan lelaki yang lebih baik dari aku, lebih bisa memperlakukan kamu dengan baik."


Plaakk ....


Vanessa mengepalkan tangannya, ia telah menampar Bian dalam sadarnya.


"Bisa sekali kamu seperti ini, setelah semua ungkapan sayang dan cinta kamu terhadap aku, setelah harapan yang kamu lontarkan terhadap aku, kamu bisa bicara seperti ini sekarang."


Bian memejamkan matanya sesaat, tamparan itu tak berarti apa-apa, asalkan Vanessa bisa pergi dan berhenti mengganggunya.


"Dengar baik-baik, aku tidak akan berhenti sampai disini, aku akan tetap berusaha untuk mendapatkan kamu."


"Vanessa."


"Diam, kalau aku tidak bisa mendapatkan kamu, maka wanita itu juga tidak akan bisa selamanya memiliki kamu, dengar ini baik-baik."


"Vanessa, semua hanya perlu penerimaan."


"Aku tidak bisa terima ini, kamu sudah merasa bahagia dengan Istri mu itu, lihat saja setelah ini apa yang akan terjadi pada kalian atau bahkan keluarga besar kalian."


"Vanessa jaga bicara mu."


Vanessa tersenyum acuh, ia menggeleng tak perduli dengan ucapan Bian.


Tanpa berkata apa pun lagi, Vanessa pergi meninggalkan Bian, kedua tangannya masih mengepal kuat.


"Vanessa."

__ADS_1


Tak ada jawaban, Bian berpaling seraya mengusap wajahnya, apa yang akan dilakukan wanita itu.


__ADS_2