
Inggrid membuka pintu rumahnya, ia sedikit terkejut dengan kedatang dua polisi di hadapannya.
"Selamat sore, Bu."
"Selamat sore, ada apa?"
"Benar ini rumah saudari Zahra?"
"Benar dia Cucu saya, ada apa dengan Zahra?"
Belum sempat polisi itu menjawab, Bian lebih dulu datang dan menghampiri ketiganya.
Bian menatap polisi itu bergantian, kenapa ada polisi lagi, siapa yang akan ditahan kali ini.
"Kenapa dengan Zahra?" tanya Inggrid.
Bian mengernyit, Zahra, benar juga wanita itu tidak memberinya kabar sampai sekarang.
"Katakan," ucap Inggrid.
"Mereka mengalami penculikan sewaktu berbelanja."
Sontak saja itu membuat Inggrid dan Bian syok, kabar macam apa itu, untuk apa polisi mengatakan kalimat seperti itu.
"Apa maksudnya, lelucon macam apa ini?" tanya Bian.
"Ini serius Pak, kami sedang berusaha menemukan mereka."
"Gak mungkin, ini pasti salah."
Bian menoleh, ia segera menahan Inggrid yang tampak menekan dadanya.
Bian membawa Inggrid masuk, dan memanggil Nur untuk mengurusnya terlebih dahulu, sedang Bian kembali menemui polisi itu.
"Maaf Pak, kamu sudah berbicara dengan keluarga Bu Isma, dan mereka mengaku tidak memiliki masalah dengan siapa pun, kami kesini untuk memperjelas kemungkinan saudari Zahra yang sedang bermasalah dengan seseorang."
Bian diam, masalah dengan siapa, Zahra tidak pernah bermasalah dengan siapa pun juga.
Bukankah selama ini, masalah Zahra hanyalah Bian dan keluarganya saja.
"Bagaimana Pak, mungkin ada sedikit penjelasan yang bisa kami dapat.
Bian menggeleng, ia harus berfikir dengan benar tentang segala kemungkinannya, dengan siapa Zahra bermasalah.
Atau mungkin Zahra menutupi sesuatu dari Bian, sehingga Bian tidak tahu apa yang dialami Zahra.
"Bian."
Bian menoleh, ia melihat Frans yang berjalan memghampirinya, tanpa berfikir panjang Bian dengan kasar menarik baju Frans.
"Ini semua ulah mu, apa yang kamu lakukan pada Zahra!" bentak Bian.
"Sabar dulu Pak, jangan emosi seperti ini."
Polisi itu menjauhkan Bian dari Frans, mereka sedang mencari titik terangnya, jadi sebaiknya mereka bisa bersikap lebih baik lagi.
__ADS_1
"Mana Zahra, jangan main-main dengan ku."
"Main-main dengan mu, apa untungnya, Zahra menghilang dengan Ibu ku, jadi jangan sembarangan menuduh ku yang melakukan kekacauan ini."
Bian diam, Isma ikut hilang, apa benar seperti itu, lalu apa yang sebenarnya terjadi, kenapa mereka harus diculik seperti itu.
Frans sedikit tersenyum, ia merasa terkejut dengan emosi Bian yang seperti itu, tipis sekali kesabarannya.
"Cari Istri ku, temukan dia secepatnya."
"Fikirkan dengan baik, jangan asal bicara seperti itu."
Bian menoleh, tidak bisakah Frans diam sana, seharusnya dia pergi saja untuk mencari ibunya sendiri.
"Ini tidak akan terjadi jika tidak ada masalah diawal, jadi kami minta tolong tetap tenang, kami akan membantu untuk menemukan mereka."
"Hidup Zahra selalu penuh derita, bukankah itu bentuk masalah, dimana saja dia memiliki musuh?" tanya Frans.
"Jaga bicara mu itu, tahu apa kamu soal kehidupan Zahra."
"Aku tahu semuanya, kamu tidak sadar jika begitu mudah Zahra membuka diri untuk ibu ku, dia sudah ceritakan semuanya jadi tidak perlu menutupi apa pun."
Bian mengepalkan kedua tangannya, kalimat Frans hanya memancing emosinya saja, merasa sudah sedekat itu dengan Zahra sampai ia merasa bebas mengatakan semuanya.
"Fikirkan dengan baik, redam emosi mu karena itu bukan yang seharusnya."
Bian memejamkan matanya sesaat, kepalan kedua tangannya kembali terbuka, dimana Zahra sekarang dan bagaimana keadaannya.
"Zahra tidak memiliki musuh, dia bukan wanita seperti itu."
Frans kembali tersenyum singkat, itu sudah pasti dan tidak perlu diragukan lagi.
Bian menoleh, ia menatap Frans dengan jengkelnya, banyak bicara sekali lelaki itu.
"Kenapa, masih tidak terima."
Bian berpaling, apa yang harus difikirkannya sekarang, siapa yang melakukan semua itu dan untuk tujuan apa.
Bian mengusap wajahnya perlahan, ia kembali menatap Frans di sana, ingatannya mulai bergera.
***
"Ini memang noda dari bat yang dipukulkan Vanessa, tapi aku tidak terluka, bat keu hanya terjatuh dan mengenai pundak ku."
"Dia sengaja melakukan itu?"
"Dia mau aku mati," ucap Zahra ragu.
"Lalu kenapa kamu sebut Damar?"
"Kamu tahu itu dari Damar kan?"
"Sintia yang kirim aku pesan."
****
__ADS_1
Bian menunduk sesaat, ia melirik dua polisi itu yang tetap diam di tempatnya.
"Vanessa," ucap Bian.
Mereka saling lirik, Frans tampak mengangguk, keyakinannya tidak mungkin salah.
Bian pasti sumber utama kekacauan saat ini, bagus sekali lelaki itu menyadarinya dengan cepat.
"Ini pasti ulah Vanessa, aku akan menemuinya sekarang."
Frans dengan cepat menahan Bian, dan mendorongnya kembali ke tempat semula.
"Tidak bisakah untuk tidak ceroboh."
"Aku harus temukan Zahra."
"Diam, aku juga harus temukan Mama, tapi dalam keadaan baik-baik saja, bukan celaka, fikirkan akibat buruknya jangan asal melangkah."
Bian memukul pintu dengan kesalnya, kenapa semua terasa menjengkelkan sekali.
"Jadi, apa permasalahannya?" tanya polisi.
"Beberapa hari lalu Zahra bertemu dengan Vanessa, mereka memang sempat ribut karena Vanessa yang berniat mencelakainya."
Frans menyipitkan matanya, bagaimana sekarang kalau keadaannya seperti itu apa yang akan terjadi pada mereka.
"Kami akan mencari saudari Vanessa."
"Tidak, Pak," ucap Frans cepat.
Mereka menoleh bersamaan, apa maksudnya tidak, apa Frans tidak mau ibunya kembali.
"Apa maksud mu tidak?"
"Jangan polisi yang menemui Vanessa, sebaiknya kamu saja yang menemui Vanessa, kita harus berpura-pura tidak tahu tentang ini agar Vanessa tidak menyakiti mereka."
"Kita tidak tahu keadaan mereka sekarang seperti apa, bisa sekali kamu berkata agar Vanessa tidak menyakiti mereka."
"Tidak ada yang terjadi pada mereka, Vanessa pasti masih punya otak untuk tidak bersikap gegabah."
Bian berdecak, ia berpaling seraya menghembuskan nafasnya sekaligus.
Frans membuka ponselnya, bagaimana sekarang, Frans masih harus selesaikan tugasnya di rumah sakit.
"Sepertinya itu lebih baik, Pak Bian bisa meminta bertemu dengannya, kami akan membantu memantau dari jauh."
"Hal buruk bisa saja terjadi, tapi hal baik tidak mungkin juga tidak terjadi, berdoa sambil berusaha itu yang bisa kita lakukan sekarang ini," ucap Frans.
Ia juga mengkhawatirkan kondisi Isma, tidak akan rela Frans jika sampai Isma terluka.
Setelah kehilangan papanya, Isma adalah satu-satunya orang berharga dalam hidupnya, Frans tidak akan bisa memaafkan siapa pun yang berani mencelakai Isma.
"Bian, kamu kunci dari semua ini, melangkah dengan benar," ucap Frans.
"Diamlah, aku sedang memikirkannya sekarang, jangan membuat ku pusing kalau tidak bisa untuk membantu."
__ADS_1
Seharusnya Bian memang melarang Zahra untuk pergi tadi pagi, mungkin saja semua ini tidak akan terjadi.
Vanessa sudah sangat keterlaluan, wanita itu telah mengabaikan toleransi yang Bian berikan setelah hampir mencelakai Zahra.