Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Bawa Segera


__ADS_3

Risa yang berniat menaiki tangga harus berputar arah, suara denting bel memang mengharuskannya untuk membuka pintu.


Gelas yang dibawa untuk Vanessa seketika terjatuh dan pecah, dua polisi itu kembali ada di hadapannya.


"Selamat siang, Bu."


"Ada apa lagi ini, bukankah mereka sudah kembali," ucap Risa panik.


"Dia ada di kamar, bawa saja."


Mereka menoleh bersamaan, kalimat Rian membuat Risa mengernyit, apa maksud bicaranya itu.


"Silahkan, Pak."


"Permisi, Bu."


"Tidak, kalian tidak boleh masuk, saya pemilik rumah ini jadi saya berhak melarang siapa saja yang masuk."


Rian tanpa permisi menarik Risa menjauh dari ambang pintu, tidak ada guna seperti itu karena Rian sudah memutuskan semuanya.


Dua polisi itu berjalan masuk, mereka tak perduli dengan teriakan Risa yang berusaha menghentikannya.


"Diam," ucap Rian.


Risa berontak hingga bisa terlepas dari Rian, keduanya bertahan dalam tatapan satu sama lain.


"Ini sudah keputusan ku, biarkan dia pergi."


"Apa Papa tidak waras, bisa sekali melakukan ini pada Vanessa."


"Lebih baik Papa yang melakukan ini, dari pada mereka semua yang melakukannya."


Risa menggeleng, itu bukan jawaban yang benar, bagaimana bisa seorang ayah memasukan anaknya ke dalam penjara seperti itu.


"Lepas," jerit Vanessa.


Risa menoleh, ia segera menutup pintu menghalangi polisi itu untuk keluar.


"Mama."


"Gak, lepaskan anak saya, kalian tidak bisa membawanya begitu saja."


"Mama, awas."


Risa menepis Rian yang hendak kembali menariknya, ia menarik Vanessa dari kedua polisi itu.


Seketika itu Vanessa memeluknya seraya terisak, Risa menatap tiga orang itu bergantian, menjengkelkan sekali.


"Biarkan dia dibawa, semua sudah ada aturannya," ucap Rian.


"Gak, Mama gak bisa biarkan ini terjadi, Vanessa akan tetap di rumah ini."


Rian berdecak, Risa hanya akan membuatnya marah jika terus seperti itu.


Rian menariknya paksa, menjauhkan Vanessa juga yang kembali ditahan polisi.


"Aku gak mau, aku akan minta maaf, aku gak mau seperti ini," ucap Vanessa.

__ADS_1


"Bawa dia," ucap Rian.


"Gak," jerit Vanessa dan Risa bersamaan.


Vanessa benar-benar dibawa pergi dua polisi itu keluar dari rumah, Risa tetap saja tidak bisa terima itu meski sedikit.


"Mama."


"Gak, lepas, Pak hentikan," teriak Risa.


"Lepas, lepas aku mohon, lepas."


"Ada apa ini?"


Langkah mereka terhenti, Vanessa menyipitkan matanya melihat keluarga Bian datang.


Risa dan Rian juga tampak keluar, Risa kembali menarik Vanessa dari dua polisi itu, memeluknya erat tanpa berniat melepaskannya.


"Ada apa ini?" tanya Bian.


"Kami diminta untuk membawa Vanessa sekarang," ucap polisi.


"Itu memang seharusnya," sahut Kania.


"Gak, tolong jangan lakukan ini," ucap Risa.


Mereka tak melihat Zahra ikut datang, kemana wanita itu, apa tidak ada yang bisa menemukannya.


Bagaimana keadaannya sekarang, bukankah Risa sudah membantunya bebas, atau mungkin Zahra ada bersama wanita yang kala itu ikut disekap.


"Bian, aku minta maaf, aku tidak mau seperti ini."


"Aku minta maaf, aku tahu aku salah."


Risa menunduk, ia menutup mulutnya agar tak sampai terisak, kasihan sekali putrinya itu.


"Aku mohon," ucap Vanessa.


Bian berpaling, penyesalannya mengenal Vanessa memang tidak bisa dihindarkan.


Bian menyesal dengan itu, penyesalan yang benar-benar dari dalam hatinya, Bian tidak ingin lagi berurusan dengannya.


"Bian, aku mohon."


"Zahra harus dirawat di Rumah Sakit karena ulah mu, kamu fikir itu bisa dimaafkan begitu saja."


"Aku akan merawatnya, aku janji, aku akan merawarnya sampai kembali sehat."


"Omong kosong," sela Inggrid.


Vanessa menoleh, sejak awal wanita tua itu memang tidak menyukainya, Vanessa sadar dan tidak akan menghindarinya.


Rian menarik Vanessa dan menjauhkan dari mereka semua, Rian sudah melaporkannya pada polisi dan tidak perlu lagi Vanessa memohon seperti itu.


"Aku gak mau, Papa harus mengerti itu."


"Diam, dan pergi sekarang."

__ADS_1


Vanessa menggeleng, Rian mengembalikan Vanessa pada dua polisi itu, meminta agar mereka segera membawa Vanessa saja.


"Jangan seperti ini," ucap Isma.


Mereka menoleh, bagaimana bisa wanita itu datang sekarang.


Kedatangan Isma telah menepis pemikiran Risa, tak ada Zahra bersamanya, jadi benar jika Zahra sedang dalam kondisi buruk.


"Bukankah disini saya dan Zahra korbannya, jadi bisakah saya dan Zahra saja yang memutuskan semuanya," ucap Isma.


Frans diam saja berdiri di samping Isma, kedatangan mereka karena permintaan Zahra sendiri.


Beberapa saat lalu, Isma dan Frans menemui Zahra di rumah sakit, perbincangan mereka telah membuat Isma menemui Vanessa sekarang.


"Apa pun yang terjadi kemarin, Zahra sudah menerimanya, dia memaafkan semuanya, dan dia berharap masalahnya selesai setelah kebebasan kami."


Kalimat Isma membuat mereka merasa heran, bahkan keluarga Bian sendiri, Zahra tidak berbicara apa pun tentang Vanessa pada mereka.


Isma mengangguk, harus selalu ada maaf untuk setiap kesalahan, bukankah kesempatan kedua selalu bisa didapatkan semua orang.


"Kalian dengar itu, jangan berani membawa anak saya pergi," ucap Risa pada polisi.


"Sebaiknya kalian temui Zahra saja, walau bagaimana pun mungkin kata maaf akan memperbaiki keadaan saat ini," sahut Isma.


Bian menghembuskan nafasnya perlahan, Zahra pasti akan memaafkannya, bukankah wanita itu selalu murah maaf.


Zahra akan sadar jika merasa pernah ada dalam keadaan yang lebih buruk lagi, jadi mungkin perlakuan Vanessa tidak ada apa-apanya dengan semua yang pernah dialaminya dulu.


"Kami kesini sesuai perintah, jadi hanya yang meminta datang yang bisa membuat kami pergi," ucap polisi.


Risa melirik Rian, apa lagi yang difikirkan lelaki itu sekarang, apa dia masih akan keras memenjarakan anaknya sendiri.


"Kenapa hanya diam saja?" tanya Risa.


"Anak itu telah membuat ku malu, biarkan saja dia pergi."


Risa menggeleng, buruk sekali kalimatnya itu, Risa tak habis fikir Rian bisa berkata seperti itu.


"Mungkin Zahra sedang menunggu niat baik kalian, bukankah Ibu mengatakan akan menemui kami setelah semua membaik," ucap Isma.


Risa mengangguk, itu memang benar adanya, dan Risa belum sempat melakukan itu sampai hari ini.


"Di Rumah Sakit mana dia sekarang?" tanya Vanessa.


Mereka semua diam, Inggrid tampak melirik Bian, apa lelaki itu akan percaya jika Vanessa tidak akan lagi berbuat jahat pada Zahra.


"Aku akan kesana, dimana dia?" tanya Vanessa.


"Itu tidak perlu kamu lakukan, Zahra tidak akan mau melihat mu," ucap Kania


"Biarkan saja Bu," sahut Isma.


Kania menoleh, Isma terlihat menghampiri seraya tersenyum pada Kania.


"Ibu harus tahu kalau Menantu Ibu itu baik hati, dia tidak akan bisa membenci seseorang secara berlebihan, dengannya semua pasti akan kembali baik."


Kania tak menjawab, tapi itu tidak akan menjamin jika Vanessa tidak mengulang kesalahannya lagi.

__ADS_1


Bisa saja wanita itu akan semakin memanfaatkan kebaikan Zahra, dan yang terjadi berikutnya akan semakin buruk lagi dari pada saat ini.


__ADS_2