
Bian menghampiri kedua orang tuanya yang terlihat menunggu di ruang tamu sana, Bian diam berdiri tanpa berkata apa pun, ia masih sangat kesal karena Zahra yang pergi begitu saja.
"Dari mana kamu, kenapa lama sekali?"
"Jalanan macet," ucap Bian malas.
"Duduk kamu," ucap Kania.
Bian menurut saja, ia melihat sekitar, apa mungkin Zahra ada di rumah mereka, tapi untuk apa, rasanya sangat tidak mungkin.
"Apa yang kamu cari, kemana Istrimu itu, kamu hanya datang sendirian saja?" tanya Kemal.
Bian diam, malas sekali ia menjawab, entah dimana wanita itu sekarang dan Bian sangat jengkel dengannya.
"Kalian bertengkar, kenapa bisa, bukankah kamu begitu mencintainya?" tanya Kania.
"Sebenarnya ada apa suruh aku kesini, kalau tidak ada yang penting, lebih baik aku pulang saja."
"Benarkah, apa bertemu dengan orang tua mu itu suatu yang tidak penting?" tanya Kemal.
"Lalu ada apa, aku juga ada urusan sendiri."
"Kenapa Oma marah, apa yang kamu lakukan pada wanita itu, kenapa bisa Oma berniat untuk memberikan perusahaan pada orang lain, bukankah kemarin kamu sudah mulai mengurusnya?"
Bian tak menjawab, pertanyaan Kemal hanya membuatnya semakin kesal saja, Bian sudah berusaha melupakan itu sampai nanti ia menemukan Zahra.
"Kenapa Bian, apa kamu tidak bisa menjawab, dan perlakuan seperti apa yang kamu lakukan pada Istrimu itu, kenapa Oma sampai semarah itu?"
Bian tetap diam, apa maksudnya, apa mungkin Inggrid yang mendatangi mereka dan mengatakan semuanya.
"Kamu ceraikan saja dia, percuma kamu bertahan kalau hanya ribut saja," ucap Kania.
"Tidak, jangan berani kamu melakukan itu."
Keduanya menoleh bersamaan, apa yang dikatakan Kemal, bisa sekali ia berkara seperti itu.
"Papa."
"Apa, kalau Bian pisah sama wanita itu, berarti semua akan ikut hilang, apa Mama lupa dengan yang diucapkan Mami tadi?"
"Biarkan saja mereka pisah, Bian bisa menikah lagi nanti, tentunya dengan wanita yang lebih baik lagi."
"Tidak ada yang lebih baik dari wanita itu bagi Mami, kalian jangan sembarang memutuskan seperti itu."
Kania berpaling, aneh sekali, padahal Kemal sendiri yang begitu menolak pernikahan mereka, tapi sekarang justru Kemal yang mempertahankannya.
"Kamu harusnya mengerti dengan keharusannya Bian, kamu yang memilih wanita itu, dan seharusnya kamu paham harus seperti apa."
__ADS_1
"Seperti apa memangnya, aku sudah jadi Suami untuknya."
"Suami seperti apa, kalau kamu sudah menjadi seperti seharusnya, lalu kenapa Oma sampai seperti itu?"
Bian diam, apa yang harus dikatakannya, Bian akan kena marah jika mereka tahu yang sebenarnya.
"Tidak perlu banyak menyangkal, apa pun kesalahan Istri kamu itu, tidak ada alasan untuk kamu memperlakukannya dengan buruk, kamu harus ingat kalau ada Oma yang begitu menjaganya."
"Papa apa sih, kenapa jadi membela dia seperti itu?"
"Ya memang itu kebenarannya, tadi Mama yang bilang kalau Papa jangan lepaskan apa yang sudah jadi milik Papa."
"Ya tapi bukan berarti harus memaksakan Bian dengan wanita itu."
"Siapa yang memaksa, keadaan yang memaksa, dan keadaan ini pun dia sendiri yang pilih."
"Tapi Mami juga mau mereka pisah, Papa lupa kalau tadi Mami suruh kita agar mengatakan pada Bian supaya mereka cerai saja."
"Dan kamu akan kehilangan semuanya, kamu mau hidup susah?"
Kania seketika diam, ada apa dengan mereka berdua, kenapa jadi berdebat seperti itu, dan mana mau Kania hidup susah dengan alasan apa pun.
Bian mengusap wajahnya, kemana ia harus mencari Zahra sekarang, dan bolehkah jika Bian mengakui malas mengurusinya.
"Bian," panggil Kemal.
"Selesaikan masalah kamu dan Istri kamu itu, berhenti membuat Oma marah, imbasnya akan datang juga sama Papa."
"Ya."
"Seharusnya memang kamu itu menikah dengan Sintia, dia pasti bisa jadi Istri terbaik buat kamu."
Bian mengernyit, apa lagi maksud Kania, saat ini kekesalannya terhadap Zahra belum juga berkurang, dan Kania sudah mengatakan hal menjengkelkan lainnya lagi.
"Kamu harus tanggung jawab untuk pilihan kamu, suka tidak suka kamu harus bertahan dengan wanita itu," ucap Kemal.
"Ya, sampai kapan kalian akan mengomel seperti ini, aku tahu harus seperti apa sekarang."
"Bagus, jangan sampai kamu menyusahkan kita hanya karena kebodohan kamu itu."
Bian berdecak seraya berpaling, menyesal sekali Bian datang sekarang, kalau tahu akan diomeli seperti itu, lebih baik Bian meneruskan saja mencari Zahra.
"Bagaimana sekarang, apa dia sudah bisa hamil?"
Pertanyaan Kania semakin menambah kejengkelan Bian, bagaimana bisa Zahra hamil jika Bian baru menyentuhnya kemarin malam.
"Bian, jawab."
__ADS_1
"Aku gak tahu, kenapa mempertanyakan itu padaku, apa itu semua bisa aku yang atur."
"Wanita itu pasti sulit hamil, kalian sudah menikah dua bulan, tapi belum ada tanda jika dia hamil, apa-apaan ini."
Bian menghembuskan nafasnya sekaligus, berisik sekali Kania ini, sebenarnya apa yang diinginkannya, dia ingin Bian dan Zahra berpisah, tapi sekarang dia justru menggebu agar Zahra cepat hamil.
"Aku akan pergi saja, bukankah semua sudah selesai?"
"Mau kemana kamu?" tanya Kemal.
"Aku mau mencari Zahra, entah kemana wanita itu pergi," ucap Bian seraya bangkit.
"Dia pasti kabur-kaburan untuk bisa menyenangkan dirinya sendiri, dan dia sengaja menyusahkan kamu," ucap Kania.
"Tapi mau apa pun itu, jangan pernah berani berlaku buruk lagi, atau kamu akan tahu akibatnya nanti," tambah Kemal.
Bian berpaling, kenapa jadi Bian yang tertekan sekarang, seharusnya Bian tetap bisa santai menjalani harinya, bukan tertekan seperti saat ini.
Zahra benar-benar membuat Bian jengkel, lihat saja apa yang akan dilakukannya saat nanti bertemu lagi.
"Aku pergi."
"Kamu ingat perkataan Papa?"
"Iya."
Bian berlalu begitu saja meninggalkan keduanya, sudah cukup, kepala Bian bisa pecah jika terus mendengar ocehan orang tuanya itu.
"Apa maksud kamu Zahra harus cepat hamil?"
Kania menoleh, itu memang permintaan Kania sendiri, dan Kania telah berbohong terhadap Bian.
"Kenapa diam?"
"Mama sengaja meminta itu, Mama yakin Bian dan Zahra hanya sedang berpura-pura saja dengan pernikahan mereka."
"Apa maksudnya?"
"Bian dan Zahra pasti bekerja sama untuk membohongi Mami, mereka rela menikah hanya karena tujuan masing-masing."
"Tujuan apa?"
"Papa mana mungkin tidak mengerti, tentu saja, Bian dengan tujuannya atas perusahaan dan Zahra dengan tujuannya atas rumah itu."
"Lalu kenapa malah meminta Zahra untuk hamil?"
"Mama mau mereka jujur, mereka sedang berbohong dan tidak ada cinta seperti apa yang mereka katakan."
__ADS_1
Kemal menggeleng, entahlah Kemal tidak bisa mengerti dengan arah fikir Kania saat ini, yang jelas Kemal tidak terima jika mereka berpisah.