Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Makian


__ADS_3

Kemal berusaha menenangkan keluarga Sintia, mereka tidak boleh sampai marah sekarang, karena Bian mungkin saja sedang bercanda.


"Maaf Om, Tante, dan kalian semua, tapi ini keputusan aku, aku memilih Ayra untuk jadi pasangan hidup aku."


"Cukup Bian!" bentak Kania yang bangkit dari duduknya.


Mereka menoleh bersamaan, Zahra merasa tidak enak hati berada diantara mereka, kenapa Zahra justru membuat hubungan mereka berantakan.


"Kamu, untuk apa kamu datang kesini, apa kamu tidak mampu berkaca kalau kamu tidak diinginkan disini," ucap Kania pada Zahra.


"Tapi aku ...."


"Ayra, aku yang ajak, jadi Mamah tidak perlu memarahinya, kalau mau marah silahkan marah sama aku."


"Bian."


"Sudah cukup," ucap Zahra yang turut bangkit.


"Maaf jika memang kehadiran aku membuat suasana menjadi rusak, tapi aku ada disini sekarang karena ajakan Bian, aku tidak tahu kalau disini sudah ada kalian semua."


Bian memejamkan matanya sesaat, untuk apa Zahra banyak bicara, apa Zahra lupa jika Bian hanya memintanya diam saja.


"Kalau begitu silahkan pergi," ucap Kania.


Zahra mengangguk dan beranjak dari tempatnya, tapi Bian menahannya dengan cepat.


"Kamu, aku yang bawa kesini, jadi kamu pergi harus aku juga yang antar."


Zahra diam dan melirik Sintia di sana, kasihan sekali wanita itu hanya diam menunduk mendengarkan perdebatan saat ini.


"Duduk," pinta Bian.


Zahra menoleh dan mengangguk, Zahra kembali duduk dan diam.


"Aku hanya ingin ungkap kebenaran saja, aku tidak bisa memaksa untuk berpura-pura menerima Sintia, lebih baik aku katakan ini dari pada harus terus menerus menyakiti Sintia."


"Omong kosong," ucap Novi.


Bian menoleh dan terdiam menatap wanita itu.


"Kamu hanya beralasan saja, kenapa kamu tidak mau memberi kesempatan untuk Sintia membuktikan semuanya, kamu harusnya mau mencoba membuka hati kamu untuk Sintia."


"Tapi aku gak bisa, Tante."


"Ya itu karena kamu tidak mau mencoba, kamu memang tidak bertanggung jawab, kamu tidak akan pernah bisa bertanggung jawab jika kelakuan kamu terus seperti itu."


Bian mengernyit, kelakuan seperti apa maksudnya, kenapa seperti itu perkataannya.


"Kamu tidak pernah peduli dengan perjuangan Sintia, dia selalu berusaha menarik perhatian kamu, apa susahnya kamu menerima semua itu?"


"Mamah, sudah cukup," ucap Sintia.


"Tidak bisa, kalau seperti ini, mereka memang sengaja mempermalukan kita."

__ADS_1


Kemal mengusap wajahnya perlahan, apa yang telah dilakukan putranya itu sangat memalukan, Kemal benar-benar dibuat kecewa olehnya.


"Bian, kamu pasti akan menyesal karena telah sia-siakan Sintia sekarang, saya pastikan itu."


"Penyesalan itu biar menjadi urusan ku saja, dari pada aku harus menyakiti Sintia disetiap waktunya, lebih baik aku mundur dari sekarang."


"Sudahlah, diam saja kamu," ucap Novi.


"Mamah, sudahlah, gak ada gunanya marah seperti ini."


Sintia bangkit dan melirik Zahra juga Bian disana.


Zahra seketika menunduk, Zahra tidak siap jika harus mendapatkan amarah dari Sintia sekarang.


"Dia cantik, dan pasti lebih baik dari pada aku, makanya kamu bisa menyukainya dengan cepat," ucap Sintia.


Bian melirik Zahra sekilas, memang benar, wanita di sampingnya memang cantik dan Bian pun baru menyadari hal itu saat keluar dari salon tadi.


"Semoga pilihan kamu paling tepat, semoga bisa bahagia," tambah Sintia.


"Aku akan bahagia, karena aku akan menikah dengan wanita yang memang aku inginkan."


Sintia mengangguk dengan sedikit tersenyum,mungkin benar jika keputusan Bian adalah yang terbaik.


"Kalau gitu aku permisi, ayo, Mah."


Novi mengernyit, kenapa hanya seperti itu saja respon Sintia untuk perlakuan Bian.


"Ayo Mah, Pah."


"Tapi tunggu dulu, Sintia," ucap Kania.


"Tidak apa, Tante," ucap Sintia.


"Ini sangat keterlaluan, kalian telah keterlaluan memperlakukan kami seperti ini, kalian akan menyesal atas semua ini," ucap Fadli


Kemal tak mampu berkata apa pun pada mereka, Bian sudah sangat mempermalukan dirinya di hadapan mereka semua.


"Permisi dan terimakasih untuk semua ini, semoga kalian semua bahagia," ucap Fadli.


Mereka lantas berlalu begitu saja meninggalkan Bian dan keluarganya di sana, Kania menggeleng dan berjalan menghampiri Zahra.


Kania menarik Zahra dengan kasarnya, setelah Zahra berdiri, Kania kembali mendorongnya duduk.


"Mamah, apa-apaan sih," ucap Bian.


"Apa, kenapa, kamu mau marah sama Mamah sekarang, ayo marah."


Kemal bangkit dan berlalu meninggalkan mereka begitu saja.


"Perempuan tidak tahu diri, tidak punya malu kamu, harusnya saat kamu tahu kalau ini adalah pertemuan keluarga, kamu pergi saat itu juga," ucap Kania.


Zahra hanya diam menunduk, baru awal saja sudah seperti ini, bagaimana kalau nanti Zahra telah menikah dengan Bian.

__ADS_1


Mereka akan setiap hari bertemu, dan pasti akan setiap hari juga Zahra mendapatkan luapan kebencian seperti itu.


"Pergi, kenapa masih diam saja."


Kania mendorong pundak Zahra, Bian bangkit dan menarik Zahra untuk bangkit juga.


"Mamah, tidak bisa larang aku untuk menikah dengan Ayra, karena keharusannya hanya aku harus menikah, bukan harus menikah dengan siapa."


"Diam kamu, berani sekali kamu membantah Mamah kamu sendiri."


"Karena Mamah tidak pernah mau mengerti apa yang aku mau, Mamah tidak memberi ku kebebasan untuk hal ini."


"Ya karena Mamah tahu mana yang terbaik buat kamu."


"Sintia bukan yang terbaik buat aku, Mah."


"Lalu siapa, apa wanita ini yang terbaik buat kamu, siapa dia dan dari mana dia, gak jelas."


"Namanya Ayra, dia perempuan hebat, Mamah tahu sekarang Arya hidup sendiri, orang tuanya sudah meninggal tapi dia masih bisa menjalani hidupnya sendiri, dia kuat dan mandiri."


Kania menyipitkan matanya, kenapa seperti itu penjelasannya, Kania jadi teringat dengan sosok wanita yang diusirnya dari rumah tersebut.


"Mamah, bilang Sintia yang terbaik buat aku, Sintia hanya akan merepotkan aku saja, dia manja tidak bisa apa-apa."


"Berani kamu berkata seperti itu tentang, Sintia."


"Kenapa tidak, itu memang kenyataannya."


"Bian ...."


"Cukup," ucap Zahra menengahi mereka.


"Tidak perlu bertengkar, aku yang salah disini, aku tidak bisa mengerti situasi."


"Bagus kalau kamu sadar diri, pergi sekarang."


"Ayra, gak akan pergi," ucap Bian.


"Sudahlah Bian, bicarakan semuanya baik-baik jangan emosi, tidak akan ada solusi."


"Kalau kamu pergi, aku juga ikut pergi."


"Bian, sudahlah."


"Enggak, aku sudah bilang, kamu datang sama aku dan pulang sama aku."


Zahra diam, kenapa Bian juga jadi turut memarahinya sekarang, Bian malah sama saja dengan ibunya itu.


"Mamah, ingin Ayra pergi, berarti Mamah juga ingin aku pergi."


"Jangan main-main kamu."


"Aku gak main-main, Mah."

__ADS_1


"Bian, sudah," ucap Zahra.


Zahra diam, begitu juga dengan dua orang itu, mereka terdiam dengan saling menatap satu sama lain.


__ADS_2