
Inggrid melempar gelas yang digenggamnya sejak tadi, sudah terlalu lama ia menunggu untuk hasil yang tak kunjung datang.
Kemal dan Kania begitu terkejut dengan pecahan gelas tersebut, keduanya saling lirik dan segera duduk dikedua sisi Inggrid.
"Sampai kapan kalian akan diam saja?" tanya Inggrid kesal.
"Mami, sabar dulu, bukankah kita harus menunggu kabar dari Bian sekarang," ucap Kemal.
"Dia tidak mencari Zahra, apa kalian tidak mengerti, dia tidak akan perduli dengan wanita itu meski sedikit saja."
"Mami, Bian sudah berubah," ucap Kania.
Inggrid menggeleng, ia bangkit dan berlalu begitu saja, bagaimana bisa Kemal dan Kania membiarkannya begitu saja.
Keduanya segera menyusul dan menghentikan wanita tua itu, rasanya tidak akan ada hasil meski mereka pergi menyusul.
"Mami, jangan seperti ini," ucap Kemal.
"Diam kamu, kamu senang dengan keadaan ini, menantu yang kau benci sudah tidak ada."
"Mami, tidak seperti itu," sela itu.
"Jangan banyak bicara, kalian fikir ini berguna?"
Kania menghela nafasnya panjang, entah kemana Bian karena sampai sekarang belum juga memberi kabar.
Entah berhasil atau tidak menemukan Zahra, seharusnya Bian memberi mereka kabar terlebih dahulu.
"Mami, kita tanyakan pada Polisi saja," ucap Kemal.
"Itu sama sekali tidak berguna, kalian diam saja biar Mami yang cari mereka."
"Mami, Mami akan kerepotan kalau pergi juga sekarang," sahut Kania.
Inggrid menatap keduanya dengan jengkel, mereka terus saja menahan Inggrid, tapi mereka sendiri tidak melakukan apa pun.
Benar-benar tidak berguna, diam menunggu hanya membuang waktu saja, dan Inggrid tidak bisa biarkan itu terus menerus.
"Mami, aku akan hubungi Frans," ucap Kemal.
"Jangan terlalu banyak rencana."
Kemal mengangguk, ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Frans.
Satu kali, dua kali, tak ada jawaban untuk panggilan itu, Kemal melirik Inggrid yang tampak semakin kesal.
"Tidak ada jawaban, biar aku coba lagi."
Kemal kembali mengulang panggilannya, Kania berusaha mengajak Inggrid untuk duduk, tapi wanita tua itu tetap saja menolak.
Saat ini Inggrid hanya ingin melihat Zahra, dan mereka harus bisa membuat Inggrid mendapatkan keinginannya.
"Tetap tidak ada jawaban, bukankah bisa saja mereka sudah menemukan Zahra sekarang?" tanya Kemal.
"Itu sudah seharusnya," ucap Inggrid dingin.
"Mami, kita tunggu saja sebentar lagi, mereka pasti akan menghubungi balik kesini," ucap Kania.
Inggrid tak menjawab, itu sama sekali bukan keinginannya, Inggrid hanya ingin pergi untuk bisa menemukan Zahra lebih cepat.
__ADS_1
Kania melirik Kemal, lelaki itu tampak mengangguk, tentu saja mereka harus bisa membawa Inggrid kembali duduk dan mau menunggu.
-----
"Tidak, lepaass," jerit Vanessa.
Risa, Zahra, dan Isma menoleh bersamaan, mereka melihat Rian yang menyeret Vanessa dengan begitu kasarnya melewati mereka.
"Itu berlebihan," ucap Isma.
Risa tampak menunduk sesaat, apa yang harus dikatakannya, Rian memang tidak bisa dihentikan jika sudah marah.
"Dia anak perempuan, tidak boleh diperlakukan seperti itu," tambah Isma.
Zahra menekan dan meremas perutnya, sampai saat ini ia masih harus menahan semua rasa sakitnya.
Perihal Vanessa, Zahra sama sekali tak merasa kasihan, baginya itu adalah hukuman yang harus didapatkannya sekarang.
"Kenapa Ibu diam saja, bukankah itu Anak kandung Ibu?" tanya Isma.
Risa mengangguk, ia menatap keduanya bergantian, betapa malu Risa dengan mereka berdua.
Sebisa apa pun mereka menunjukan sikap baik, tetap saja Risa merasa malu dengan perlakuan putrinya.
"Jangan buang waktu, emosi terkadang bisa saja membuat hal paling buruknya terjadi, jangan sampai penyesalan menghampiri diakhir nanti," ucap Isma.
"Saya akan temui kalian nanti."
"Bukan masalah, terimakasih sudah membantu kami."
Risa sedikit menggeleng, ia kembali menatap Zahra, wanita itu begitu lemah, tapi Isma menahannya untuk membawa Zahra ke rumah sakit.
"Tidak perlu bicara dengan ku, bukankah Vanessa sedang membutuhkan Ibu," sela Zahra.
Risa diam, ia melirik Isma sesaat, wanita itu mengangguk dan tanpa kalimat apa pun lagi, Risa berlalu meninggalkan keduanya.
Isma melirik Zahra, memeluk erat, ini sangat menyedihkan baginya sendiri.
"Biar Mama telepon Frans," ucap Isma melepaskan pelukan.
Tak ada jawaban, Zahra hanya diam saja dengan segudang rasa sakitnya.
Disisa baterai ponsel yang ada, Isma sadar itu tidak akan cukup untuk menghubungi Frans, Isma hanya mengirimkan lokasinya saat ini pada lelaki itu.
"Seharusnya ini bisa," ucap Isma pelan.
Sepertinya keburuntungan ada bersama Isma, ponselnya mati setelah pesan itu terkirim, Isma sedikit tersenyum.
"Zahra, Mama rasa disini ada toilet, kamu bisa sedikit membersihkan dirimu."
Zahra mengangguk, mungkin itu benar dan Zahra memang menginginkan itu.
"Biar Mama antar."
"Tidak, aku bisa sendiri."
"Kamu yakin?"
Zahra mengangguk, begitu juga dengan Isma, ia membiarkan Zahra pergi darinya.
__ADS_1
Isma melihat sekitar, kemana mereka semua, apa penjaga itu juga turut pergi sekarang.
"Sebaiknya aku cari sesuatu yang bisa mengisi perut, kasihan Zahra."
Isma kembali melirik arah pergi Zahra, wanita itu sudah tidak ada sekarang, Isma bangkit dan turut melangkahkan kakinya.
----
Bian dan Frans dibuat kesal oleh antrian pengisian bahan bakar, disaat genting seperti saat ini, mobil Frans justru kehabisa bensin.
"Ini terlalu panjang, apa kau tidak sadar?" tanya Bian kesal.
"Sejak tadi kau hanya marah-marah saja, apa itu solusi?" tanya balik Frans.
Bian diam, mereka sudah mendapatkan pesan Isma, dan malangnya tempat itu telah terlewat jauh oleh keduanya.
Mereka harus putar arah, tapi ternyata mobil Frans justru mati dan itu sangatlah menjengkelkan.
"Apa mobil ini bisa ditinggalkan saja?" tanya Bian.
"Bisa saja, asal jelas penitipannya."
"Kamu bayar mereka untuk mengurusnya, kita pergi dengan taxi saja."
Frans diam, baru kali ini ia akan meninggalkan mobilnya, tapi biarlah asalkan ia bisa segera bertemu dengan Isma.
Bian menghampiri salah satu pekerja di sana, berbincang sesaat sampai Frans datang dan memberi uang untuk kesepakatannya.
"Seharusnya kau bisa dipercaya," ucap Frans.
"Saya akan menjaganya."
Bian menepuk pundak Frans, ia mengajak Frans untuk segera pergi saja.
Keduanya lantas berlalu, mereka pergi dengan menggunakan taxi di sana, meminta cepat diantarkan ke tempat yang sesuai titik lokasi yang didapat.
"Ponselnya kembali tidak aktif, apa yang terjadi di sana," ucap Frans.
"Tidak ada apa pun yang terjadi, sebaiknya kau diam saja."
Keduanya diam, Frans hanya berbicara saat sopir meminta petunjuk jalan, sekarang mereka hanya harus segera sampai selebihnya tidak perlu mereka fikirkan.
"Tempat apa ini?" tanya Frans melihat sekitar.
Setelah menghabiskan beberapa waktu, taxi memang berhenti, mereka sampai di depan bangunan tua.
"Setahu ku ini dulu perusahaan kain," ucap Bian.
"Tempat ini memang kerap dijadikan untuk kejahatan," sahut sopir taxi.
Keduanya menoleh setelah sempat saling lirik, itu bukan yang ingin didengar mereka.
"Tempat ini sudah terkenal dengan segala sisi buruknya, sudah banyak kejadian di tempat ini."
"Diamlah, mereka akan baik-baik saja disana," ucap Bian.
"Bapak tunggu kami kembali, kalau sampai ada apa-apa, tolong usahakan untuk mendapat bantuan," ucap Frans.
"Silahkan, Pak."
__ADS_1
Keduanya lantas keluar, dengan langkah hati-hati mereka memasuki area bangunan tersebut.