
Bian keluar dari mobilnya dan langsung memasuki rumah Vanessa, ia sudah mengirim pesan pada wanita itu sewaktu di jalan, dan Vanessa memintanya langsung masuk saja.
Bian berjalan menelusuri rumah untuk bisa menemui Vanessa, sesuai pesan yang dikirim Vanessa, sepertinya Bian telah menemukan kamar wanita itu.
"Permisi," ucap Bian seraya mengentuk pintu.
"Masuk saja."
Bian tersenyum, itu suara Vanessa, benar tidak mungkin salah.
Bian lantas membuka pintu, ia melihat Vanessa yang berbaring di kasur sana.
"Kamu serius datang?"
"Apa itu, aku sudah disini."
"Apa Istrimu tidak marah."
Bian hanya mengangkat kedua bahunya sekilas, apa itu harus difikirkannya, rasanya sangat tidak perlu.
Bian menyentuh kening Vanessa, memang panas, dan itu artinya Vanessa tidak berbohong tentang keadaannya.
"Maaf, semalam aku mengganggu mu."
"Tidak masalah, aku tidak akan melarang mu untuk itu."
Vanessa tersenyum, jelas saja ia merasa senang dan merasa menang, karena Bian meninggalkan istrinya demi dirinya.
"Kamu sudah makan, apa sudah ada obat?"
"Ada, aku sudah selesaikan itu sejak tadi."
"Baguslah, kamu mau tidur saja?"
"Aku mau sama kamu, kalau aku mau tidur, untuk apa aku meminta mu datang."
Bian tersenyum seraya mengangguk, ia lantas duduk di samping Vanessa, Bian telah terang-terangan tentang Vanessa di depan Zahra.
Bian juga sudah mengabaikan Inggrid yang berusaha menghalangi langkahnya, meski Inggrid tidak tahu kemana tujuan langkah Bian tadi.
"Kamu tidak apa-apa datang kesini?"
"Sudahlah, tidak perlu pertanyakan itu, lebih baik sekarang kamu istirahat lagi saja, aku temani kamu disini."
"Bian, tentang pernikahan kamu ...."
"Aku bilang diam, istirahat saja."
"Tapi aku tidak bisa."
"Lalu kamu mau apa?"
"Aku mau kamu tinggalkan wanita itu."
Bian mengernyit, Vanessa memang tidak tahu sama sekali tentang alasan Bian menikahi Zahra, tapi sebaiknya Vanessa memang tidak perlu tahu.
"Aku mau kamu sendiri, sesuai dengan kalimat pertama yang kamu ucapan sama aku dulu, bukan sudah beristri seperti ini."
"Aku gak bisa."
"Kamu mencintainya, lalu kenapa kamu buat aku menyukai mu juga?"
"Karena aku memang menyukai mu."
"Kalau begitu tinggalkan saja dia."
"Diamlah, aku kesini bukan untuk membahas itu, pembahasan semacam ini hanya akan membuat kepala mu pusing saja."
Vanessa tersenyum, itu memang benar, tapi Vanessa memang menginginkan semua itu, dan mungkin saja Bian akan memenuhi keinginannya itu.
Bian melihat sekitar, sepertinya memang nyaman berada di kamar itu, istirahatnya pasti akan tenang.
__ADS_1
"Kamu kenapa?"
"Tidak, aku hanya berfikir kalau tidur disini pasti akan nyenyak."
"Kamu mau tidur?"
"Aku baru saja bangun."
Vanessa mengangguk, mungkin akan lebih menyenangkan hatinya jika mereka tidur bersama, lagi pula Bian sepertinya tidak memperdulikan apa pun, termasuk juga istrinya sendiri.
"Bian, katakan sama aku, pernikahan kalian hanya terpaksa kan?"
"Untuk apa masih membahas itu?"
"Agar aku tahu, dan aku tidak akan bertanya apa pun lagi."
"Aku memang menginginkan Istri ku."
"Kamu bohong."
"Diamlah Vanessa, atau aku pulang lagi saja agar kamu bisa berhenti berbicara."
"Silahkan saja, aku bisa menyusul mu kalau memang aku mau."
Bian berdecak, masih saja menjawab wanita itu, tapi biarkan saja karena Bian juga tidak akan mau menjawabnya.
Rahasianya bersama Zahra, cukup Dion dan Inggrid yang tahu, sisanya tidak perlu ikut campur apa pun.
Zahra tak bisa melepaskan pelukannya di tangan Inggrid, dengan mata yang terus mengamati sekitar, Zahra merasa risih ada di tempatnya saat ini.
Inggrid membawanya ke perusahaan miliknya, menurut penjelasan Inggrid, itu adalah perusahaan yang begitu diinginkan Bian dan keluarganya.
"Selamat pagi, Bu," sapa salah satu orang di sana.
"Pagi," jawab Inggrid.
Inggrid membawanya memasuki ruangan, apa yang harus difikirkan Zahra, rasanya Zahra ingin keluar dari tempat tersebut.
"Duduklah, lepaskan pegangan mu ini."
"Oma, untuk apa kita kesini?"
"Ayo duduk."
Zahra melepaskan tangan Inggrid, ia lantas duduk sesuai permitaannya.
Sesaat kemudian, Inggrid turut duduk di samping Zahra, ia tersenyum menatap ekspresi tak nyaman dari cucunya itu.
"Kamu sudah melihat tempat ini?"
"Lalu kenapa?"
"Oma mau kamu yang urus ini."
Zahra mengernyit, kalimat macam apa itu, bisa sekali Inggrid berkata seperti itu padanya.
"Kamu bisa kan?"
"Untuk apa Oma bertanya, jelas saja aku tidak bisa, aku tidak pernah melakukan semua ini."
"Tapi sepertinya, mulai sekarang kamu harus belajar."
"Oma, itu tidak mungkin, jangan membuat keadaan aku semakin sulit, aku harus fokus untuk membuat Bian menerima ku."
"Dan ini salah satu caranya."
Zahra kembali mengernyit, cara apa, jika Zahra yang mengurus perusahaan, Bian pasti akan marah, dan perusahaan pasti akan hancur.
Kebodohan Zahra dalam berbisnis akan membuat semua berantakan, dan pasti akan merugikan semua orang.
__ADS_1
"Permisi."
"Masuk," ucap Inggrid.
Zahra menoleh, ada seorang lelaki yang datang menghampiri Inggrid.
"Permisi, Bu."
"Duduklah."
Lelaki itu mengangguk dan duduk di hadapan keduanya, Zahra tidak berniat untuk berbicara, lagi pula tidak ada urusan dengannya juga.
"Kamu masih ingat alasan saya memanggil mu hari ini?" tanya Inggrid.
"Tentu saja."
"Ini wanita yang saya maksud, dia belum pernah mengurus pekerjaan, jadi dia masih buta pemahaman tentang perusahaan."
Lelaki itu menatap Zahra, jelas saja itu membuat Zahra semakin tidak nyaman, dengan tatapan Bian saja terkadang membuat Zahra risih, apa lagi lelaki itu.
"Kamu bisa untuk saya percaya?"
"Bisa, Bu, saya akan lakukan yang terbaik."
"Dia cukup pintar untuk mengerti sesuatu dengan cepat, jadi kamu tidak akan kesulitan untuk mengajarinya."
"Apa maksudnya?" tanya Zahra.
"Kamu ikuti saja apa yang Oma inginkan."
"Tapi apa?"
"Oma sudah katakan, kamu urusan perusahaan ini."
"Tapi ...."
"Diamlah."
Zahra melirik lelaki itu, kenapa dia setuju saja dengan perintah Inggrid, harusnya dia juga sempatkan untuk bertanya pada Zahra.
"Dia orang kepercayaan Oma, dia yang selama ini mengurus perusahaan saat Bian tak bisa melakukannya."
"Biarkan saja dia yang mengurus, kenapa harus aku?"
"Karena Oma lebih percaya sama kamu dari pada anak itu."
"Bian akan marah sama aku."
"Kita lihat nanti."
Zahra menunduk, akan seperti apa lagi penderitaannya kali ini, kenapa Inggris egois sekali dengan keputusannya itu.
Inggrid melirik lelaki itu, keduanya tersenyum, entah rencana apa yang mereka sedang jalankan, sehingga harus membuat Zahra merasa terancam.
"Jadi kapan dia mulai ada di ruangan ini."
"Besok."
Zahra kembali melirik Inggrid, benar-benar tidak bisa dimengerti, bahkan Zahra belum mengatakan semuanya pada Bian.
"Besok kamu harus bangun pagi, dan segera kesini setelah urusan rumah selesai, tapi selesai atau tidak selesai kamu harus tetap kesini sebelum jam 8."
"Oma ...."
"Oma hanya tinggal dua hari ada bersama kamu, jadi sebaiknya kamu menurut saja."
"Saya akan membantu mu, tenang saja."
Zahra melirik lelaki itu, siapa dia, Zahra tidak sedikit pun berminat untuk berurusan dengannya.
Bian akan sangat marah jika tahu semua ini, Zahra yakin jika Inggrid tidak memberi tahu Bian soal ini sebelumnya.
__ADS_1