Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Manusia Paling Bodoh


__ADS_3

Gemuruh jantung Zahra sudah tak terkendali lagi, kesabarannya sudah tak ada lagi, Zahra tidak bisa mengungkapkan luka hatinya saat ini.


Apa Zahra adalah manusia paling bodoh, ia tahu suaminya sedang menggila dengan wanita lain, tapi ia hanya diam saja menjadi penonton setia.


Zahra sudah sangat sabar menghadapi Bian selama ini, bahkan ketika ia tahu perasaan Bian justru diberikan untuk Vanessa, Zahra masih menerimanya dengan senyuman.


"Aku tidak pernah merasakan ini."


"Tapi ini menyenangkan."


Zahra mendengar kalimat mereka sudah tak tenang, hembusan nafas yang mulai kacau, dan pergerakan yang semakin liar.


Berulang kali Zahra menelan mudahnya susah payah, ia sedikit berfikir, kenapa ia tak menangis, kemana air matanya yang selalu dengan mudahnya membanjiri kedua pipinya.


"Bian, tolong lebih cepat."


"Santai saja, kita baru saja memulainya."


Zahra memajukan langkahnya, ia berdiri di depan pintu yang terbuka, bahkan pergerakan Zahra tak lantas mengganggu mereka.


Kebodohan Zahra tak bisa diingkari lagi, Zahra sangat tidak bernyali, tapi apa ada yang bisa mengerti perasaannya saat ini, keadaan terasa sangat menekannya hingga semua terasa gelap.


"Baju mu buruk sekali," ucap Bian.


"Biar ku bantu."


Kaki Zahra bergetar, seluruh tubuhnya terasa dingin, bisakah detak jantungnya berhenti sekarang.


Zahra seperti terkena kutukan, ia merasa sulit untuk bergerak, mengontrol diri untuk ada disatu perasaan dan pemikiran saja tidak mampu, apa lagi untuk bertindak.


"Indah sekali."


Zahra berpaling saat Bian melemparkan baju Vanessa, lelaki itu tampak menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


Sesekali wanita itu tertawa, entah kemana otak mereka, tak akan ada yang bisa mengerti itu.


"Zahra, Damar mau pulang, kamu mau ...."


Kalimat Inggrid tak terselesaikan karena malihat Bian dan Vanessa yang seketika bangun, mereka melirik Zahra bersamaan.


Keterkejutan Zahra tadi, tak akan sebanding dengan Bian dan Vanessa kali ini, bukankah mereka lebih buruk lagi.


"Apa-apaan ini?" ucap Inggrid syok.


Bian seketika turun dan menghampiri Inggrid, bersamaan dengan itu tubuh Inggrid ambruk pada tahanan Damar di belakangnya.


"Oma," ucap Bian panik.


Inggrid berusaha menahan sakit di dadanya ssat menatap Bian, dengan sisa tenaganya ia menampar Bian hingga akhirnya kesadarannya benar-benar hilang.


"Ibu, Bu Inggrid," ucap Damar tak kalah panik.


"Oma, Oma bangun."


Plakkk ....


Suara tamparan itu terdengar bersamaan dengan jeritan Vanessa, dua lelaki itu menoleh bersamaan.


"Rendah sekali dirimu," ucap Zahra seraya menarik Vanessa dari kasurnya.


"Zahra," panggil Bian.


"Kenapa ada wanita seperti mu di dunia ini?"


Zahra mendorongnya dengan kuat, sejak tadi ia tidak bisa melakukan apa pun, untuk sekedar bernafas saja rasanya sudah sangat sulit.

__ADS_1


Sekarang semua telah kembali, kemarahan Zahra tidak bisa ditahan lagi, mereka sudah sangat merendahkan dirinya.


"Tidak punya malu, murahan sekali kau ini, beraninya berbuat hina di kamar ku," jerit Zahra.


Bian bangkit dan segera menghampiri Zahra, ia menahan Zahra yang meraih lampu tidur di meja sana.


Tanpa perduli siapa pun, Zahra menendang kaki Bian hingga terjatuh, ia lantas melemparkan lampu yang digenggamnya kearah Vanessa.


Beruntung wanita itu bisa menghindar, jika tidak maka kepalanya akan terluka, lampu itu rusak setelah membentur lemari dan lantai.


"Kurang ajar!" bentaknya Zahra.


"Ayra," panggil Damar.


"Memalukan sekali kelakuan mu, dimana harga dirimu sebagai wanita?"


Zahra menjambaknya dengan kuat, jika Zahra tak berani berbuat kasar pada Bian, maka biarkan Zahra melampiaskan semuanya pada Vanessa.


"Ada apa ini?" tanya Nur.


Damar menoleh, baguslah wanita itu datang, Damar mengangkat Inggrid dan meminta agar disiapkan tempat lain.


Tanpa berfikir, Nur langsung mengarahkan Damar ke kamar Inggrid sendiri.


"Segera panggil Dokter, jangan lama sepertinya ini sangat berbahaya."


"Baik."


Damar kembali meninggalkan kamar, biar saja Inggrid sudah ada yang menemani sekarang.


Ia kembali ke kamar Zahra, entah masalah apa karena Damar memang tidak tahu apa-apa, tapi yang jelas ia harus membantu menghentikan keributan itu.


"Zahra, sudah cukup."


"Lepas, lepas Bian, aku tidak bisa lagi diam sekarang, kalian sudah melewati batas, kalian benar-benar tidak punya otak, lepas," jerit Zahra.


Ia bertahan dengan emosinya saat ini, mereka sudah menyakitinya lebih dari pada rasa sakit akibat luka di tangannya.


Damar menarik selimut dan segera menghampiri Vanessa, ia membalutkan selimut itu pada tubuhnya, kasihan jika seperti itu.


"Ada apa ini, tidak bisakah lebih tenang sedikit?" tanya Damar.


"Untuk apa menolongnya, untuk apa menutupi tubuhnya seperti itu, dia tidak punya malu, dia tidak punya harga diri jadi biarkan dia telanjang saja."


"Ayra diam, lihat luka mu sekarang."


Bian melepaskan tahanannya, ia melihat telapak tangannya yang memang berdarah, darah apa kenapa bisa seperti itu.


Merasa dibebaskan, Zahra secepat kilat mendorong Damar menjauh dari Vanessa, Zahra menarik selimut itu, karena tidak dilepaskan Vanessa, Zahra menyeret selimut itu untuk membawa Vanessa keluar.


Sakit dari lukanya memang begitu kuat dirasakan Zahra, tapi itu sama sekali tidak mengurangi emosi dan tenaganya.


"Zahra, hentikan," teriak Bian.


"Berani sekali kamu menghina ku seperti ini, aku sudah berusaha sebaik mungkin menghadapi mu selama ini, tapi seperti ini tingkah mu."


"Zahra hentikan, aku minta maaf, Zahra."


"Zahra, hentikan," ucap Bian menyusul.


Tak mau terlambat, Zahra mendorong tubuh Vanessa hingga terguling di tangga sana.


Hal itu sontak membuat Damar dan Bian berteriak bersamaan, bisa sekali Zahra sampai melakukan itu.


"Vanessa/Ayra," teriak Bian dan Damar bersamaan.

__ADS_1


Mereka berlari, kali ini air mata Zahra kembali mengalir saat melihat Bian berlari menuruni tangga demi bisa membantu Vanessa.


"Ayra," panggil Damar menyentuh pundak Zahra.


Air mata yang membuat penglihatan Zahra sedikit buram, tak lantas membuat Zahra berpaling dari Bian dan Vanessa di sana.


Benar, Bian telah membohonginya, kakinya tidak sakit karena baru saja ia melihat Bian berlari dengan lancarnya menuruni tangga.


"Ayra, kenapa kamu lakukan ini, kamu sudah mencelakakan orang lain."


Zahra tak menggubris kalimat Damar, air matanya sudah cukup untuk menemani emosinya saat ini, Zahra tak perlu lelaki itu.


"Vanessa," teriak Bian.


Zahra tersenyum pilu, Bian begitu menunjukan kekhawatirannya pada wanita yang tak berdaya dipangkuannya.


Sedikit pun Bian tak meliriknya, setelah semua yang dilakukannya, Bian tak sedikit pun memperdulikannya.


"Ayra," panggil Damar.


"Bian," panggil Zahra.


Damar mengernyit, ia melirik Bian yang pergi dengan menggendong Vanessa.


"Bian," teriak Zahra.


"Bian seharus kamu lihat aku disini, Bian tolong kembali, Bian aku mohon kembali."


Tubuh Zahra perlahan ambruk, ia terus saja memanggil Bian, memintanya untuk kembali tanpa harus memperdulikan Vanessa.


Damar mungkin mengerti, bisa saja itu kekasihnya yang berselingkuh dengan saudara perempuannya.


"Ayra, jangan seperti ini."


"Bian kamu kembali, Bian," jerit Zahra prustasi.


Sekeras apa pun Zahra berteriak, tak lantas membuat Bian kembali ada dipenglihatannya.


Damar menggeleng, ia melihat darah itu semakin banyak mengotoro pakaian Zahra, perban putih itu telah berubah warna sekarang.


"Ayo bangun, kita harus obati luka kamu."


"Gak."


"Ayra, kamu tidak boleh mengabaikan diri kamu sendiri."


"Gak, aku bilang enggak," jerit Zahra seraya mendorong Damar.


Tenaga Zahra masih ada, ia bangkit dan berlari menuruni tangga, Zahra harus menghentikan Bian.


Ia melihat sekitar halaman, kemana mereka pergi, kenapa cepat sekali menghilangnya.


Tiidd ....


Zahra menoleh, ia melihat Bian yang memasuki taxi, dengan cepat ia berlari keluar halaman.


"Bian, jangan pergi," teriak Zahra.


Tapi sayang, tak ada hasil apa pun, taxi itu melaju meninggalkannya dengan membawa Bian dan Vanessa.


Zahra masih tetap berteriak, berharap Bian merasa kasihan padanya, atau mungkin sopir taxi yang perduli padanya dan mau menghentikan laju taxinya.


"Ayra," panggil Damar yang menyusul.


"Bian."

__ADS_1


Damar sempat melihat taxi itu sekilas, karena saat itu juga taxi berbelok dan hilang dari pandangan.


Tangis Zahra kembali menarik fokusnya, Damar, ia menahan tubuh Zahra yang hendak ambruk, ini cukup membuatnya pusing, tapi tidak ada celah juga untuknya bertanya.


__ADS_2