
Tok tok tok .... Bian menoleh saat kaca mobilnya diketuk dari luar, Bian membukanya dan tersenyum seraya bersalaman dengan Dion.
Lelaki itu ada di sana juga sekarang, tapi apa yang dilakukannya, tidak mungkin jika Dion akan ke salon juga.
"Ngapain disini?" tanya Dion.
"Ayra, di dalam."
"Ayra?"
Bian mengangguk dan membuka pintu, setelah Dion bergeser, Bian pun keluar dan melihat sekitar.
"Sendirian?"
"Ya, begitulah, malas memang tapi ya mau gimana lagi."
"Cari pacar makanya."
Dion hanya sedikit tersenyum menanggapi kalimat tersenyum, Dion memang selalu terlihat acuh soal pasangan, tapi mau bagaimana pun juga Dion tidak mungkin seperti itu terus.
"Sudah lama disini?" tanya Dion.
"Lumayanlah, sebentar pagi pasti keluar."
"Mau kemana, sudah dirombak lagi?"
"Ketemu Nenek, harus cantik dong, harus dewasa masa iya nanti mereka lihat Zahra seperti bocah."
Dion mengernyit, kenapa seperti itu, menurut Dion, penampilan Zahra cantik meski tidak di makeup.
"Emmm .... ya sudah kalau gitu, aku duluan pergi ya."
"Eh, mau kemana?"
"Pergilah, ngapain disini, cuma diam saja."
"Okelah, memang benar ngapain juga disini kalau cuma diam saja."
Dion mengangguk dan berlalu meninggalkan Bian di sana, baru beberapa langkah saja kaki Dio terayun, kini telah kembali berhenti saat telinganya mendengar suara Zahra.
"Bian," panggil Zahra.
Bian menoleh dan tersenyum, begitu juga dengan Dion yang terdiam di belakang mobil Bian.
Dua lelaki itu terdiam mematung saat Zahra berjalan menjauhi Salon dan menghampiri Bian, Zahra telah kembali dewasa seperti saat malam pertemuan itu.
Bian meneliti dari bawah sampai ke atas, memang benar jika Zahra sangat cocok dipadukan dress selutut seperti itu.
"Bian," panggil Zahra lagi.
Bian mengerjap dan berpaling sesaat, ada apa dengan Bian, kenapa harus seperti itu melihat Zahra.
"Kamu kenapa?" tanya Zahra.
"Kenapa apanya, gak apa-apa, sudah ayu masuk."
Zahra mendelik saat Bian begitu saja memasuki mobilnya, menyebalkan, kenapa tidak membukakan pintu untuk Zahra.
"Ayo masuk," ucap Bian.
Zahra menghembuskan nafasnya sekaligus dan berjalan ke belakang mobil, biarkan saja Bian menunggu lama di dalam sana.
Langkah Zahra terhenti saat melihat Dion yang masih berdiri di sana, Zahra tersenyum dan mengangguk hormat pada Dion.
"Kamu disini juga," ucap Zahra.
Dion tak menjawab, ia hanya fokus menatap Zahra saat ini.
__ADS_1
Zahra melihat dirinya sendiri, apa yang salah dari dirinya dan kenapa Dion melihatnya seperti itu.
"Dion," panggil Zahra.
"Cantik."
Zahra mengernyit, apa itu artinya jika Dion sedang terpesona dengan penampilan Zahra.
"Cantik .... maksudnya?"
"Hah .... oh enggak."
Dion berpaling seraya mengusap wajahnya, Dion melihat sekitar, kenapa Dion masih di sana bukankah tadi Dion sudah berjalan untuk pergi.
"Kamu kenapa sih?" tanya Zahra.
Dion menoleh dan menggeleng, apa yang harus dikatakannya jika kenyataannya Dion suka dengan penampilan Zahra saat ini.
"Aneh."
"Aneh .... aneh gimana, biasa saja gak ada yang aneh."
Zahra mengangkat kedua bahunya sekilas, entahlah mungkin memang hanya perasaan Zahra saja jika Dion itu aneh saat ini.
Tiiid .... keduanya tersentak saat Bian dengan sengaja menekan klaksonnya.
"Berisik," ucap Zahra seraya memukul mobil tersebut.
"Kamu di suruh masuk," ucap Dion.
"Iya memang, ya sudah aku masuk ya."
Dion mengangguk dan memberi Zahra jalan untuk lewat, tapi Dion menahannya saat Zahra akan menghilang di balik mobil itu.
"Kenapa?" tanya Zahra.
Zahra kembali mengernyit, apa maksudnya, kenapa bicara seperti itu.
"Kalian hanya untuk sementara."
"Ini, ada apa ya?" tanya Bian.
Dion seketika melepaskan genggamannya di tangan Zahra, keduanya menoleh bersamaan melihat Bian di sana.
"Kamu masih disini?" tanya Bian pada Dion.
Dion mengangguk, lelaki itu terlihat salah tingkah saat Bian dengan jelas menatapnya.
"Ngapain?"
"Itu .... emmm tadi Zahra ...."
"Tadi aku hampir jatuh, Dion bantu aku."
Dion mengangkat kedua alisnya, Zahra membantunya saat ini, baguslah semoga Bian percaya dan tak perlu bertanya apa pun lagi.
"Kamu gak apa-apa kan, ada yang luka?" tanya Bian.
"Gak ada, aku baik-baik saja, kan hampir jatuh bukan terjatuh, jadi aku baik-baik saja, Dion kan sudah bantu aku."
Dion tersenyum saat Bian kembali meliriknya, entah apa yang ada di fikiran Bian sekarang, tapi yang jelas Bian harus segera membawa Zahra pergi dari tempat itu.
"Ya sudah, ayo masuk."
"Iya, ayo."
"Duluan ya," ucap Bian pada Dion.
__ADS_1
Dion mengangguk dan kembali melirik Zahra saat Bian telah berlalu.
"Maaf ya," ucap Dion.
"Gak apa-apa, ya sudah aku duluan ya, takut Tuan Muda marah."
Keduanya tersenyum bersamaan, Dion mengangguk dan membiarkan Zahra memasuki mobil, kali ini Dion benar-benar melihat mereka pergi.
"Aah apaan sih, kenapa harus seperti itu tadi."
Dion mengusap wajahnya asal, apa yang difikirkannya, Zahra adalah calon istri Bian jadi mana boleh kalau Dion sampai menyukainya.
"Tapi Zahra memang cantik, dia benar-benar terlihat dewasa, beda dari penampilan biasanya."
Dion tersenyum dan menggeleng, kakinya kembali terayun meninggalkan tempat tersebut, kali ini tidak ada lagi yang menahan langkahnya sehingga Dion bisa benar-benar pergi dari sana.
----
"Dion ngomong apa tadi?" tanya Bian.
Zahra menoleh tanpa menjawab, apa Zahra harus katakan yang sebenarnya, tentang apa yang dikatakan Dion padanya tadi.
"Kenapa diam, jawab dong."
"Memangnya kenapa?"
"Ya dia ngomong apa, apa juga yang dilakukan sama kamu?"
"Aku sudah bilang tadi, Dion bantu aku saat hampir terjatuh."
"Yakin, hanya itu saja?"
"Yakin, memangnya harus ada apa lagi?"
"Ya mana aku tahu, kalau aku tahu terus untuk apa aku tanya sama kamu sekarang."
"Emmm .... mungkin saja kamu cemburu."
Bian seketika tertawa mendengar kalimat Zahra, apa benar seperti itu dan apa mungkin Bian merasakan hal itu.
"Kamu suka sama Dion?"
"Kok aku?"
"Buktinya, kamu bisa bicara seperti itu?"
Zahra diam, kenapa jadi Zahra yang menyukai Dion, kalau Bian tahu apa yang tadi Dion katakan pasti Bian akan marah.
Tapi apa mungkin Bian marah, tapi kenapa juga harus marah, mereka kan tidak ada hubungan apa-apa.
"Kenapa diam?" tanya Bian.
"Aku gak suka sama Dion, tapi kalau Dion yang suka sama aku gimana?"
Bian seketika menghentikan laju mobilnya, dan melirik Zahra.
"Apaan sih, kenapa seperti itu nyetirnya?"
"Bicara apa kamu tadi?"
"Apa, aku bilang kalau Dion yang suka sama aku gimana?"
Bian merubah posisi duduknya jadi menghadap Zahra.
"Berarti tadi, Dion ada katakan sesuatu kan sama kamu?"
Zahra diam, kenap jadi seserius itu, memang apa salahnya kalau Dion suka sama Zahra.
__ADS_1
"Jawab, bilang apa Dion sama kamu, Zahra?"