Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Aku Tidak Mau Kehilangan


__ADS_3

Dengan perlahan Zahra turun dari tempat tidur, Inggrid sepertinya sudah terlelap saat ini, dan Zahra bisa keluar untuk bisa menemui Bian.


Zahra berjalan mengendap keluar kamar, membuka dan menutup pintunya dengan sangat hati-hati, Zahra tidak bisa seperti itu meski memang Zahra lebih membutuhkan Inggrid dari pada Bian.


Sesaat ia melihat sekitar, sampai akhirnya ia memasuki kamarnya perlahan, rupanya Bian masih terjaga di dalam sana, ia terdiam duduk di sofa.


"Bian," panggil Zahra.


Bian menoleh, ia segera bangkit dari duduknya, dengan segera ia menarik Zahra dan memeluknya.


Sungguh itu membuat Zahra senang, tapi pelukan itu tak lantas bisa membuat Zahra bangga jika Bian mau menerimanya.


"Kenapa kamu belum tidur?"


"Kenapa kamu ikut saja dengan Oma, kamu lupa dengan siapa kamu ada disini?"


"Aku minta maaf, aku hanya tidak mau kalian ribut terus."


Bian diam, ia melirik ponselnya yang tampak menyala, memang tanpa suara hanya saja lampunya yang mendadak terang.


Tapi Bian mengabaikannya, ia memilik fokus pada Zahra untuk saat ini, lagi pula itu lebih penting untuk kehidupannya sendiri.


"Jangan pernah meninggalkan rumah seperti tadi, apa kamu tahu bagaimana aku pusing mencari kamu?"


"Kamu perduli padaku?"


"Diamlah, bodoh."


Zahra diam, masih saja seperti itu perkataan Bian, mungkin memang Bian tidak akan bisa menghargainya.


"Bisa kamu tidak mengulangi itu?"


Zahra melepaskan pelukan Bian, keinginan untuk membalas pelukannya harus Zahra tahan kuat.


"Semua tergantung padamu, kamu yang bilang kalau semua atas kehendak mu."


"Tapi aku tidak pernah meminta mu pergi."


"Tapi sikap mu membuat aku ingin melakukannya, aku sudah bilang kalau aku selalu berusaha menghargai kamu, tapi apa balasan untuk aku?"


"Jadi kamu mau balas dendam?"


Zahra tersenyum sekilas, mungkin saja itu benar, tapi Zahra belum tahu harus dengan cara seperti apa agar bisa membuat Bian menyesal.


"Apa tidak cukup dengan semuanya, Oma sudah mengambil semuanya sekarang, aku sudah tidak punya pekerjaan lagi."


"Itu tugas kamu untuk mengembalikan kepercayaannya, kamu selalu ingatkan aku agar hati-hati dalam melangkah, tapi semua ini terjadi karena kecerobohan kamu sendiri."


"Jangan berani menceramahi ku, kamu mau kurang ajar lagi."

__ADS_1


Zahra menggeleng, sudah cukup, Zahra tidak mau berdebat lagi, ia sudah sangat lelah dan ingin istirahat saja.


"Bisa kita tidur saja, kita bisa bicarakan ini besok lagi."


"Benarkah, mentang-mentang aku sudah jadi pengangguran, jadi kita bisa bicara kapan saja semau kamu."


"Bian berhenti, tidak bisakah kamu berfikir lebih baik lagi tentang ku, aku tidak pernah banyak tingkah, selama ini aku selalu diam dan mengkuti semuanya, tapi kamu justru besar kepala dengan semuanya."


"Lalu kamu mau apa?"


"Kalau kamu terus seperti ini, aku menyerah sekarang juga, aku tidak akan perduli lagi dengan rumah ini, aku tidak perduli meski harus jadi gelandangan di jalanan sana, yang penting aku bisa bebas dari tekanan kamu."


"Dan kamu berani melakukannya?"


"Tentu saja, jika kamu bisa melakukan semua semau kamu, aku juga pasti bisa, dan aku hanya butuh sedikit keberanian untuk melakukannya."


Bian menyipitkan matanya, tentu saja Bian masih ingat betapa Zahra menolak pernikahan itu sejak awal.


Sepertinya Zahra akan bisa membuktikan ucapannya, dan saat itu terjadi Bian sendiri yang akan susah.


"Apa yang kamu fikirkan, kamu masih membutuhkan aku untuk bisa mendapatkan kekuasaan, jadi sudah seharusnya kamu juga menghargai aku."


"Lalu kamu mau aku lakukan apa?"


"Tidak ada apa pun, aku hanya minta dihargai sebagaimana kamu mau dihargai, bukankah aku selalu melakukan itu mau bagaimana pun buruknya sikap kamu."


Bian kembali diam, apa bisa Bian melakukan itu, Bian merasa tidak akan bisa berlaku baik pada Zahra.


"Oke, aku berusaha lebih baik lagi terhadap kamu."


"Semoga saja kamu bisa."


"Jangan besar kepala."


"Itu juga berlaku untuk mu, saat nanti semua dikembalikan padamu, batasan akan tetap ada untuk kelakuan kamu."


Bian mengangkat kedua alisnya, apa Zahra sedang mencoba menekannya sekarang, ia pasti merasa memiliki kekuatan lebih untuk bisa melawan Bian.


Inggrid harus pergi dari rumah mereka, Bian mengangguk, itu benar, semua pasti akan lebih baik jika Inggrid tak lagi ada bersama mereka.


"Boleh aku istirahat, dan sebaiknya kamu juga istirahat sekarang."


"Silahkan, tidurlah dengan nyenyak, bukankah kamu lelah."


Bian berjalan kembali ke sofa, ia berbaring di sana tanpa melirik Zahra lagi.


Melihat hal itu, Zahra hanya menggelengkan kepalanya, ia pun berjalan dan berbaring di kasur sana, tidak ada yang ingin difikirkannya saat ini, Zahra hanya ingin istirahat.


----

__ADS_1


"Bian kemana sih, apa benar dia sudah tidur."


Sintia menoleh, ia mendelik kesal mendengar kalimat Vanessa, sejak tadi Sintia diabaikan karena Vanessa begitu sibuk berkirim pesan dengan Bian.


"Dia memang selalu tidur cepat?" tanya Vanessa.


Sintia tak menjawab, ia justru berbalik membelakanginya, malas sekali terus menerus membahas Bian.


"Sintia, aku bertanya padamu."


"Dan apa kamu fikir aku tahu jawabannya, aku sejak tadi disini sama kamu."


"Tapi kamu bilang, kamu sudah kenal dia sebelum ini."


"Ya tapi aku tidak tinggal serumah sama dia jadi bagaimana aku bisa tahu."


"Kamu kenapa sih, judes banget?"


"Ngantuk."


Vanessa menggeleng, ia memilih sibuk dengan ponselnya saja, berhadap jika Bian memang masih akan membalas pesannya.


Tapi setelah lama menunggu, balasan pesan itu tak kunjung datang, Vanessa mulai mengantuk, melirik orang di sampingnya yang mungkin sudah terlelap, Vanessa memilih untuk ikut berbaring saja.


"Hilang kan?"


Vanessa menoleh, ternyata Sintia masih terjaga juga.


"Gampang banget jatuh cinta."


"Memang bisa diatur, bukankah itu selalu terjadi begitu saja."


"Tapi harus masuk akal juga, aku sudah kasih tahu kamu tentang lelaki itu."


"Tapi aku gak perduli, aku tetap akan dengan pemikiran ku."


Sintia berbalik, nada bicara Vanessa terdengar begitu serius, apa mungkin Vanessa benar-benar sudah tertarik dengan Bian.


"Kalau kamu suka sama dia, jangan minta aku untuk berhenti, aku sudah katakan jika kita akan bersaing dengan sehat."


"Bersaing saja kamu dengan Istrinya."


Sintia kembali membelakangi Vanessa, biar saja seperti itu, karena sepertinya Sintia memang sudah mulai tertarik untuk melupakan Bian.


Kehadiran Vanessa pasti akan jadi hiburan terbaik baginya, dengan melihat Bian berantakan dalam hidupnya, karena Vanessa dan Zahra.


"Aku doakan kamu bisa jadi bersama Bian."


"Jangan membodohi ku, doamu pasti kebalikannya."

__ADS_1


Sintia tersenyum, ia lantas memejamkan matanya, terserah saja mau berfikir seperti apa.


Vanessa turut membelakangi Sintia, mungkin memang Vanessa juga menyukai Bian, sehari kebersamaan mereka memang tidak bisa dilupakan begitu saja oleh Vanessa.


__ADS_2