Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Bagaimana Seharusnya


__ADS_3

"Zahra tidak kembali semalaman?" tanya Kania.


Bian mengangguk membenarkannya, sikap baik yang berusaha ditunjukan Bian tak lantas bisa mempertahankan Zahra.


"Kemana dia, mana mungkin dia kabur lagi."


"Kenapa kalau dia kabur, dia bisa melakukan apa sajanm dengan kaki yang dimilikinya," ucap Inggrid.


"Mami, apa Mami setuju dengan perpisahan mereka?" tanya Kemal.


"Jelas saja tidak, tapi sepertinya memang itu sudah keharusannya, jadi biarkan mereka berpisah."


Kalimat Inggrid membuat mereka merasa sangat heran, kalau mereka berpisah maka Inggrid juga tidak akan lagi sedekat kemarin dengan Zahra.


"Mami tidak menyayangi wanita itu lagi?" tanya Kania.


"Mami menyayanginya lebih dari apa pun, dan Mami tidak mau dia terus menderita karena ulah kita semua, sudah waktunya kita membebaskan dia."


"Aku tidak mau," ucap Bian cepat.


Inggrid diam menatap Bian dengan jengkelnya, lelaki itu yang selalu mengacaukan semuanya.


Sekarang dia juga yang tidak mau ditinggalkan, kenapa egois sekali satu manusia itu.


"Oma, selalu bisa meluluhkan Zahra, kenapa sekarang Oma justru seperti ini," ucap Bian kesal.


"Oma selalu berusaha meyakinkan dia, menjanjikan kebahagiaan untuk dia, tapi apa yang kamu lakukan?"


"Aku ...."


"Kamu selalu saja menghancurkan harapannya, kamu selalu merusah semuanya, membuat semua perkataan Oma hanya omong kosong dalam pemikiran dia, sekarang kamu masih menyalahkan Oma?"


Bian diam, tidak ada yang menyalahkannya sama sekali, Bian hanya ingin Inggrid membuat Zahra kembali tanpa gugatan perceraian itu.


Inggrid berlalu begitu saja, banyak hal yang dikorbankannya demi rumah tangga Bian, tapi pada akhirnya tetap saja masalah yang didapatkannya.


"Lalu kemana wanita itu sekarang?" tanya Kania.


Bian menoleh sekilas, apa yang harus dikatakannya, tidak ada yang Bian ketahui tentang wanita itu.


"Apa kamu tidak bisa sekedar menahannya untuk tidak pergi?" tanya Kemal.


Bian menggeleng, ia berlalu begitu saja tanpa mengatakan apa pun, jangan membuat Bian semakin pusing dengan pertanyaan yang tak seharusnya.


"Bian, kamu mau kemana?" tanya Kania.


Kania menoleh saat Kemal duduk di sana, sudah Kania katakan kalau mereka harus pergi sejak semalam.


Sekarang bukankah sudah terlambat, Zahra sudah pergi dan entah akan kembali lagi atau tidak.


 


Isma berjalan cepat menyusuri lorong rumah sakit, ia panik karena mendengar Frans di rumah sakit saat ini.

__ADS_1


"Mana, dimana anak saya?" tanya Isma.


"Anak Ibu siapa namanya?"


"Frans, Frans namanya mana dia sekarang?"


"Tidak ada pasien atas nama Frans disini."


Isma mengernyit, omong kosong macam apa itu, bukankah Frans mengatakan rumah sakit tersebut.


Isma menggeleng, ia lantas berlalu tanpa menunggu informasi jelas dari orang di depan sana.


"Frans," panggil Isma asal.


Kemana lelaki itu, kenapa informasinya tidak jelas sekali.


"Frans."


"Mama," panggil Frans.


Isma menoleh, ia heran dengan Frans yang berdiri di sana dalam kondisi baik-baik saja.


Apa yang dilakukan Frans di sana kalau memang ia sehar, Isma berjalan mendekat, ia mendapati Zahra yang berbaring di kursi itu.


"Zahra."


"Dia bersama ku semalam, biarkan dia tertidur sebentar, baru 10 menit saja."


"Apa yang kalian lakukan disini?"


Frans menarik Isma memasuki ruangan, tatapannya seketika terarah pada tubuh yang terbaring di sana.


Jelas saja Isma terkejut saat tahu siapa sosok tersebut, ia menutup mulut dengan punggung tangannya.


"Aku tidak menyangka dia akan kembali hadir dalam hidup ku," ucap Frans.


"Bagaimana bisa, dan kenapa Shafira seperti ini?"


"Dia mencoba bunuh diri beberapa waktu lalu, dan Zahra yang melihat kejadiannya, Zahra membawanya kesini dan sampai hari ini."


Isma diam, Zahra lagi, saat dirinya sendiri sedang dalam masalah besar tapi masih saja sempat memikirkan orang lain.


Isma melirik Frans, kalau Zahra semalaman bersama Frans, itu artinya Zahra tidak pulang ke rumah, lalu bagaimana dengan Bian.


"Apa aku salah kalau aku merasa senang karena dia kembali?"


"Kenapa kamu biarkan Zahra tetap disini, harusnya kamu suruh dia pulang, bukankah kamu tahu masalah apa yang sedang dihadapinya saat ini?"


"Aku sudah memintanya pulang semalam, aku tawari dia untuk diantarkan tapi dia menolak, dia ingin disini dan melihat perkembangan Shafira."


"Dia tahu siapa Shafira?"


Frans mengangguk pasti, semua sudah Frans ceritakan sepanjang malam, tidak ada lagi yang membuat Zahra bingung dengan sosok Shafira.

__ADS_1


"Biarkan di tidur dulu, dia mengaku pusing, mungkin karena semalaman tidak tidur dan juga karena bebannya sendiri, aku akan mengantarkannya pulang saat dia bangun."


Isma mengangguk, terserah saja, Isma kembali menatap Shafira di sana yang begitu memprihatinkan.


Bagaimana bisa wanita itu kembali, bukankah dia dibawa pergi ke luar negeri oleh orang tuanya, dan kenapa juga harus sampai bunuh diri.


"Apa kata Dokter?" tanya Isma.


"Benturan di kepala Shafira akan membuatnya kehilangan kesadaran dalam jarak singkat, patah tulang di tangan, dan Shafira juga kehilangan sedikit suaranya, ia tampak sulit berbicara."


"Lalu?"


"Tidak ada lagi, Shafira masih bernasib baik, ingatannya baik-baik saja, semua aman di luar luka itu."


Isma diam, pertemuan yang sangat buruk, bertahun-tahun lamanya berpisah, dan saat bertemu justru dalam keadaan seperti ini.


Kasihan sekali, tapi semoga saja ini tidak akan mengganggu Frans lagi, semoga saja mental Frans akan tetap normal.


"Frans."


"Aku akan menunggunya sampai pulih, kalau memang bisa aku sendiri yang akan merawatnya."


"Bagaimana dengan keluarganya?"


"Tidak ada siapa pun, Zahra bilang saat menemukan Shafira tidak ada satu indentitas pun yang dibawanya, bahkan ponsel pun tidak ada."


Isma kembali diam, apa pun itu harapannya hanya satu, Frans tidak akan berubah meski apa pun yang akan terjadi setelah hari ini.


Isma berjalan kembali keluar, Frans yang melihat itu juga mengikutinya.


"Zahra, kamu ...."


Isma segera menahan Zahra yang nyaris terjatuh, ternyata wanita itu sudah bangun dari tidurnya.


"Kamu mau kemana, duduk dulu.


Keduanya duduk bersamaan, Frans tampak diam menatap keduanya.


"Kamu kenapa, kepala kamu sakit lagi?"


Zahra mengangguk, ia menunduk dengan mata yang terpejam kuat.


Apa mungkin penyakitnya kembali, bukankah sakit kepala dan pusing itu selalu dirasakan Zahra saat depresi dialaminya.


"Zahra, sebaiknya kamu periksa dulu," ucap Frans.


"Tidak, penyakit ku memang tidak akan bisa sembuh, obat-obatan itu tidak ada artinya sama sekali."


Frans dan Isma saling lirik, kisah ZHra juga memang menyedihkan bagi mereka, kenapa tidak ada yang bisa hidup damai dan bahagia.


"Aku mau pulang, apa Shafira sudah sadar?"


"Belum, biar aku antarkan kamu pulang, ayo."

__ADS_1


"Tidak perlu, aku bisa sendiri, jangan menambah masalah ku lagi, aku akan bertemu dengan orang bermasalah, jadi biarkan aku sendiri saja."


Zahra kembali bangkit, ia berjalan perlahan meninggalkan keduanya, langkah yang tampak begitu sulit membuat mereka khawatir.


__ADS_2