Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Tiba-tiba Saja


__ADS_3

Bian terusik dari tidurnya, ia merasakan sentuhan yang terasa melebihi suhu hangatnya.


Perlahan matanya terbuka, ia melirik tangan yang menyentuh pipinya, meraihnya dan menggenggamnya.


"Kenapa seperti ini?" tanya Bian pelan.


"Kamu akan terlambat ke Kantor, cepat bangun."


Bian menoleh, ia melihat wajah pucat Zahra di sana, tentu saja ia segera bangun.


"Kamu kenapa?"


Zahra menggeleng, ia menarik tangannya dan kembali menutupinya dengan selimut.


"Kamu sakit."


"Pusing sedikit."


Bian melirik jam di dinding sana, sudah jam 6, kenapa Zahra membangunkannya siang sekali.


"Cepat mandi."


Bian menoleh, ia menyentuh kening Zahra, panas sekali suhunya, ada apa dengan wanita itu bukankah semalam baik-baik saja.


"Kamu harus ke Dokter."


"Tidak, aku hanya ingin tidur lagi saja, cepat mandi dan makan bareng Oma."


"Kamu juga harus makan, kamu punya obat?"


Zahra mengangguk, Bian turut mengangguk, baguslah kalau begitu, mungkin akan sembuh dengan obat tersebut.


Zahra kembali memejamkan matanya, saat ini tubuhnya benar-benar terasa tidak enak, Zahra tidak tahu harus seperti apa.


"Aku mandi dulu."


Tak ada jawaban, Bian lantas pergi ke kamar mandi, Zahra bergerak mencari kenyamanan yang tak kunjung didapatkan setelah beberapa saat.


Ini memang tidak bisa dimengerti, Zahra tiba-tiba saja seperti itu padahal semalam masih sangat baik-baik saja.


"Ayra, kamu sudah bangun, kenapa belum keluar?" tanya Inggrid.


Zahra tak menjawab, biarkan saja mungkin Inggrid akan berfikir kalau Zahra masih tidur.


"Ayra, kamu tidak bangun, bagaimana dengan Bian, dia tidak bekerja hari ini?"


Zahra bangun, ia berjalan perlahan dan membuka pintunya.


Inggrid mengernyit, melihat wajah pucat Zahra, pagi hari kenapa seperti itu rupanya.


"Kamu kenapa?"


"Tidak, aku hanya pusing saja, Bian sudah bangun dia sedang di kamar mandi sekarang."


"Kamu sakit, ayo kita ke Dokter saja."


"Tidak Oma, aku baik-baik saja jangan khawatir, aku perlu tidur sebentar lagi dan pasti akan kembali baik."


"Jangan sepelekan penyakit, cepat pakai jaket, kita berangkat."


Zahra tersenyum seraya menggeleng, ia berpegang pada pintunya kuat.


Kepalanya sakit dan juga pusing, itu memang terasa aneh, karena sangat tiba-tiba.

__ADS_1


"Zahra, sebaiknya ...."


Kalimat Bian tak selesai, ia melihat Zahra di ambang pintu sana, dengan segera Bian menghampirinya.


"Kenapa kamu disini, bukankah kepala mu pusing."


"Bawa dia ke Rumah Sakit," ucap Inggrid.


"Tidak, aku tidak mau kemana-mana, nanti saja kalau sampai sore masih seperti ini, baru aku mau periksa."


Bian dan Inggrid saling lirik, bukankah memang seperti itu, Zahra masih kerap memaksakan dirinya.


Bian menggeleng, ia lantas membawa Zahra kembali ke tempat tidur, Zahra ingin istirahat jadi untuk apa berdiri di sana.


"Tidur saja, nanti Bibi bawakan sarapannya kesini."


"Iya."


Bian menarik selimutnya dan menutupi setengah tubuh Zahra, ia kembali menghampiri Inggrid di sana.


"Aku akan pulang saat siang nanti, kalau dia masih seperti itu, aku akan bawa dia ke Rumah Sakit."


"Pemikiran yang bagus, semoga saja dia tidak apa-apa."


Bian mengangguk, semoga saja, mungkin Zahra harus istirahat sehingga diberi sakit seperti itu.


Inggrid lantas pergi, ia kembali ke kamarnya, nanti mereka akan bertemu di ruang makan, untuk sarapan bersama.


 


"Aduh, maaf maaf, saya tidak sengaja."


Damar mengangguk, ia membantu Marvel membereskan selembaran yang berantakan itu.


"Ah terimakasih."


Marvel tersenyum seraya mengangguk, ia menerima tumpukan kertas yang diberikan Damar.


"Sekali lagi terimakasih, saya sedang buru-buru sehingga tidak sempat lihat kanan kiri."


"Tidak masalah, tapi itu seperti lowongan pekerjaan?"


"Benar sekali, saya sengaja cetak ini untuk diberikan pada banyak orang."


"Benarkah, saya boleh meminta satu saja."


"Oh silahkan, ambillah ambil, mau banyak juga tidak apa-apa."


Damar mengangguk, ia meraih beberapa lembar kertas tersebut dan membacanya.


Ada lowongan dibeberapa bagian, itu pasti perusahaan baru, karena lowongannya masih banyak.


"Kamu berminat?" tanya Marvel.


"Saya sedang bekerja sebenarnya."


"Oh baiklah, lupakan saja mungkin kamu bisa berikan itu pada teman-teman mu yang lain."


"Apa ini perusahaan baru?"


Marvel mengangguk pasti membenarkannya, itu memang benar adanya, dan Marvel memutuskan untuk melengkapi setiap bagiannya.


Damar melihat sekitar, sepertinya tempat itu tidak jauh dari rumahnya, Damar bisa sedikit menghemat waktu.

__ADS_1


"Apa disana disediakan mes?"


"Sayang sekali tidak, saya belum memikirkan tentang itu."


Damar mengangguk, ia malas jika harus tinggal bersama dengan orang tua angkatnya.


Tapi Damar juga sudah bosan bekerja di pabrik tempatnya sekarang, jam kerja yang bergilir membuat Damar tidak tenang.


"Kalau saya melamar kesini, bisa?"


"Bukankah kamu sedang bekerja?"


"Kalau disini diterima, saya bisa lepaskan pekerjaan sekarang."


Marvel diam, apa bisa seperti itu, dia belum tentu merasa nyaman bekerja dengan Marvel nantinya.


Dan dia akan kesulitan mendapatkan pekerjaan lain lagi, tapi Marvel juga membutuhkan orang saat ini.


"Jangan khawatir, saya cukup bertanggung jawab atas pilihan saya," ucap Damar.


"Baiklah, kamu bisa bawa cv lamaran kamu ke alamat tertera, lebih cepat lebih baik."


"Oke, terimakasih sebelumnya."


"Ya, sama-sama, kalau gitu saya duluan."


Damar mengangguk dan memberi jalan untuk Marvel melangkah, ia kembali membaca selembaran itu.


Mungkin Sintia akan mau menerimanya jika Damar karyawan kantoran, bukankah jam kerjanya jadi sama seperti Sintia.


Mereka bisa memiliki waktu bersama lebih banyak, Damar tersenyum, ia mengangguk dan kembali melangkah seraya memainkan ponselnya.


 


"Pak Marvel, pagi-pagi sudah kesini?"


"Iya, saya harus kerjakan sesuatu pagi ini."


"Silahkan, Pak."


Marvel lantas masuk, belum ada siapa pun di sana, karena memang waktu masih pagi.


Marvel memasuki ruangannya dan duduk di kursi kejayaannya, ia merapikan barang bawaannya di meja dan mulai membuka berkas pekerjaannya.


Kriinggg .....


Marvel segera meraih ponselnya, rupanya ada panggilan dari Inggrid.


"Selamat pagi Bu Inggrid," sapa Marvel.


Ia diam mendengarkan kalimat Inggrid, pagi seperti itu Inggrid sudah menghubunginya, itu memang tidak biasanya.


"Baik Bu, saya juga sudah di Kantor saat ini."


Marvel tersenyum mendengar Inggrid yang sedikit terkejut, itu bukan masalah, bukankah Marvel sedang merintis bisnisnya.


Tentu saja Marvel perlu berjuang lebih keras, demi bisa meraih sukses secepatnya, jadi selagi mampu Marvel akan lakukan yang terbaiknya.


"Ini baik-baik saja, masih dalam batas kemampuan."


Marvel sedikit tertawa karena kepercayaan dirinya, tapi itu adalah cara untuk menyemangati dirinya sendiri.


"Baik Bu, saya akan menunggu."

__ADS_1


Sambungan terputus, Marvel menyimpan ponselnya dan kembali pada pekerjaannya.


Inggrid akan datang saat siang, entah siapa yang akan dia bawa, yang jelas Inggrid sudah tahu tentang lowongan pekerjaan yang dibuat Marvel hari ini.


__ADS_2