
"Kenapa kamu tidak mendengarkan saya, kamu berani mengabaikan saya?"
Ketika sore datang, langit sudah mulai kehilangan terangnya, Inggrid telah kembali ke rumah sedangkan Zahra masih entah dimana keberadaannya.
"Kamu bisa temukan dia sekarang?"
"Maaf Bu, tapi tadi Non Ayra pergi bersama Den Dion."
"Mereka tidak bersama, saya sudah hubungi Dion, kenapa kamu ini tidak mengerti?"
Nur hanya bisa menunduk mendengarkan kemarahan Inggrid sejak tadi, entah kemana Zahra, karena ia terlambat pulang.
Padahal tadi Zahra mengatakan akan pulang sebelum Inggrid pulang, Nur jadi merasa bersalah, ia juga khawatir dengan keadaan Zahra.
"Kamu lihat, ponselnya tidak bisa dihubungi, apa tanggung jawab mu?"
Nur tak bisa berkata apa pun, kalau memang tidak bisa mencari kabar, apa lagi yang bisa mereka lakukan selain berdoa yang terbaik untuk Zahra.
Untuk mencari pun, Nur tidak tahu harus kemana, bukankah mencari orang hidup itu lebih menyusahkan.
"Kalau sampai Zahra kenapa-kenapa, kamu yang akan saya salahkan."
"Maaf Bu."
"Maaf saja terus, dengan kamu mengulang kata maaf seperti itu, apa Zahra mendadak datang?"
"Tidak, Bu."
Inggrid menggeleng, heran sekali, padahal Inggrid sudah ingatkan apa pun alasannya Zahra tidak boleh keluar.
Kenapa hanya karena ada Dion, Nur begitu saja melupakan amanat Inggrid, kemana wanita itu kenapa masih belum kembali.
"Kembali ke dapur, gak bisa apa-apa juga kan?"
"Permisi, Bu."
Inggrid lantas duduk, ia diam berfikir kemana kemungkinan Zahra pergi, karena sangat tidak mungkin jika Zahra pergi menemui Bian.
----
Ditengah kekhawatiran dan keributan Inggrid di rumah, Zahra justru masih asyik bersama dengan Damar.
Mereka kini ada di pusat perbelanjaan, Mall adalah pilihan terakhir Zahra sebelum ia kembali pada kemelut kegelisahannya.
"Hey itu besar, harusnya kamu bisa lebih mudah mengambilnya," eluh Zahra.
Mereka sedang ada di depan box capit boneka, sudah berkali-kali Damar mencoba tapi tetap gagal, Zahra jadi gemas sendiri.
"Ayolah, habis waktu percuma."
"Diamlah, aku harus fokus."
__ADS_1
"Fokus apa, kamu sedang ujian militer?"
Mendengar kalimat Zahra, Damar seketika tertawa, ia melepaskan kendali capitan itu hingga membuat bonekanya terlepas begitu saja.
Zahra yang melihatnya jadi kesal, mereka sudah menghabiskan uang untuk membeli koin, kenapa tidak dapat satu pun.
"Apa kamu tidak bisa diam, aku harus fokus."
"Fokus fokus, bilang saja kamu tidak bisa, awas."
Zahra sedikit mendorong Damar agar berpindah dari posisinya, Zahra mulai memegang kendalinya, ia menatap boneka yang diinginkannya itu dan mulai meraihnya.
Damar tersenyum melihat wajah serius Zahra, kalau memang mau boneka itu, kenapa harus pusing-pusing mengambil di sana, Zahra bisa membeli langsung di toko boneka.
"Nah kan, lihat ini, lihat."
Zahra heboh sendiri saat ia berhasil mengangkat bonekanya, Damar mengangguk seraya menyilangkan tangannya di dada.
Ia menantikan keberhasilan Zahra saat ini, apa wanita itu benar-benar bisa, setelah sejak tadi mengomel tanpa henti padanya.
"Aaaa," jerit Zahra.
Satu detik kemudian, tawa Damar terdengar begitu renyah, Zahra gagal, boneka itu nyaris masuk lubang tapi telah lebih dulu terjatuh.
Zahra mengerucutkan bibirnya seraya menatap Damar, lelaki itu begitu puas mentertawakannya saat ini.
Wleee .... Damar menjulurkan lidahnya sekilas, ia kembali tertawa, memang wanita kemampuannya hanya mengomel saja.
"Bonekanya lucu, dia tahu orang yang menginginkannya itu sangatlah bawel, sehingga dia tidak mau ikut dengan mu."
Zahra berdecak seraya menghentakan kakinya, menjengkelkan sekali lelaki itu, bisa dia mengatai Zahra seperti itu.
Zahra lantas berlalu begitu saja, untuk apa lagi di sana, bukankah bonekanya tidak mau ikut dengan Zahra.
"Hey, tunggu, aku masih ada satu koin lagi, Ayra."
Zahra tak perduli, ia terus saja melangkah pergi, Damar menggeleng, seperti itukah wanita kenapa menggemaskan sekali.
Damar kembali memasukan koinnya, ia terdiam menatap boneka itu, kesempatan terakhir Damar mungkin akan berhasil.
"Baiklah, hey kau jangan buat dia kembali bersedih, ayo kemari ikut dengan ku."
Damar mulai menggerakan kendalinya, ia meraih bonekanya dengan hati-hati, sebelah matanya tertutup dengan menggigit bibir bawahnya, Damar membawa boneka itu berpindah.
"Buatlah Ayra tersenyum, yaaa ini benar, uuuh Ayra," teriak Damar heboh sendiri.
Ia melirik belakangnya, kemana wanita itu, dia benar-benar pergi meninggalkannya.
Damar lantas mengambil boneka yang berhasil di dapatkannya, itu boneka yang diinginkannya, boneka kucing besar yang memang menggemaskan.
"Kerja sama yang baik, kau sangatlah manis, buat dia tersenyum, kau mengerti?"
__ADS_1
Damar menggerakan kepala bonekanya, tanda persetujuan dari sang boneka, ia tersenyum lantas berlari untuk menemukan Zahra.
"Ayra," teriak Damar.
Wanita itu tengah melihat-melihat tas di sana, apa lagi yang dilakukannya, apa belum puas berkeliling, dan sampai sekarang tangannya masih saja kosong, hanya ada buah yang dibelinya saja.
"Ayra, kamu lihat ini?"
Zahra mengernyit, ia menatap boneka itu, apa benar Damar mendapatkannya dari box tadi, dia terlihat bodoh saat bermain.
"Dia mau ikut dengan mu," ucap Damar memberikan bonekanya.
"Kamu beli ini kan?"
"Gak, aku berhasil culik dia dari komplotannya."
"Bohong."
Damar diam, ia menarik kembali bonekanya karena Zahra tidak mau menerimanya, Damar lantas menarik Zahra kembali ke tempat box itu.
Zahra tersenyum, saat melihat isi box itu memang sudah tidak ada boneka tadi lagi, ia berbalik menatap Damar dan boneka itu bergantian.
"Dia berpesan padaku, kamu jangan terlalu cerewet atau dia akan minta dikembalikan pada komplotannya."
Zahra sedikit tertawa, ia merebut bonekanya begitu saja, dengan tingkah bocahnya Zahra pergi seraya melompat-lompat asal.
Damar jadi ikut tertawa, lucu sekali wanita itu, apa dia masih bocah kenapa seperti itu tingkahnya.
"Baiklah, terimakasih sudah sediakan senyuman untuk wanita itu, kalian luar biasa."
Damar menepuk-nepuk box itu seraya melihat semua boneka di dalamnya, ia mengangguk dan berlalu menyusul Zahra.
Inggrid tak bisa duduk dengan tenang, saat ini ia berada di luar menantikan kedatangan Zahra.
Langit yang benar-benar telah gelap, tentu saja membuat Inggrid semakin cemas.
"Kemana perginya anak itu, apa yang dilakukannya di luar sana."
Inggrid tak bosan menghubungi kontak Zahra yang tak kunjung aktif, entah apa maksudnya sampai Zahra bisa melakukan itu.
"Apa aku lapor polisi saja."
Inggrid berdecak seraya menggeleng, kenapa harus serba polisi, tidak bisakah mereka selesaikan masalahnya sendiri.
Lama berselang, taxi berhenti di luar gerbang sana, Inggrid segera melangkah dan membuka gerbangnya.
"Zahra," panggil Inggrid.
Zahra yang keluar bersamaan dengan Damar itu menoleh, Zahra tersenyum seraya melompat dan memeluk Inggrid.
__ADS_1
Inggrid justru menatap Damar di sana, tidak mungkin salah jika itu Damar, lalu kenapa Nur berkata Zahra pergi dengan Dion.