
Kania menghampiri Kemal di ruang kerjanya, ia sudah mendengar semua tentang Bian dan Zahra dari Inggrid.
Ia belum sempat kesana, karena memang baru mendengar kabarnya beberapa menit lalu.
"Papa," panggil Kania seraya duduk.
"Ada apa?"
"Zahra, dia benar-benar menggugat cerai Bian kali ini."
Kemal mengernyit, ia memutar kursinya menghadap Kania yang duduk di sampingnya.
Kemal memang sibuk akhir-akhir ini sehingga tidak sempat menemui mereka, tapi ini kabar yang tak ingin didengarnya sama sekali.
"Zahra sudah mendaftarkan perceraian mereka, minggu depan ada panggilan mediasi untuk keduanya."
"Mereka pasti kembali, Bian pasti bisa meyakinkan wanita itu."
"Tidak, Mama rasa kali ini semuanya memang berbeda, Zahra sudah tidak lagi mau merubah keputusannya."
Kemal diam, apa benar seperti itu, apa benar cintanya untuk Bian sudah tidak ada lagi sekarang.
Wanita itu selalu bertahan selama ini, kenapa disaat Bian mau berubah, ia malah memilih berpisah seperti itu.
"Apa dia masih tidak bisa hamil?" tanya Kemal.
"Yang bermasalah bukan Zahra, tapi Bian sendiri, dan lelaki itu juga tidak mengobatinya sampai sekarang."
Kemal menggeleng, jika saja Bian bisa membuatnya hamil, perpisahan ini pasti tidak akan terjadi.
Lalu harus bagaimana mereka sekarang, tidak ada apa pun yang bisa dilakukannya, wanita itu memang memiliki hak untuk memilih.
"Kita harus kesana, kita harus bicara dengan Zahra," ucap Kania.
"Apa itu bisa berpengaruh?"
"Kita coba saja, Zahra itu pasti masih menyayangi Bian, akan ada cara untuk membuatnya luluh kembali."
Kemal menatap Kania, jika yang dicintainya saja tidak bisa meluluhkannya, apa lagi mereka yang tak pernah sebaik itu padanya.
Kania menggeleng, seberapa besar kebencian mereka kala itu pada Zahra, bukankah saat ini sudah tidak lagi, dan mereka harus bisa membuktikan semuanya.
"Papa, ayo."
"Ini sudah malam, kamu mau buat wanita itu marah lagi."
Kania balik diam, lalu kapan, bagaimana kalau mereka terlambat nantinya.
Kania juga tidak mau mereka berpisah, untuk saat ini Kania juga mau berusaha untuk itu.
"Besok pagi saja kita kesana, mungkin sekarang mereka sedang istirahat, atau mungkin sedang sama-sama berfikir untuk langkahnya."
"Besok Papa pasti ke Kantor."
"Papa bisa pergi setelah makan siang, sudah sekarang kamu istirahat saja."
Kania menghembuskan nafasnya berat, Kania ingin pergi sekarang juga tapi kenapa Kemal tidak mendukungnya sama sekali.
Kemal menggeleng, ia kembali menghadap laptopnya, berkutat di sana melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
"Papa juga sudah waktunya istirahat."
"Iya, sebentar lagi."
Kania menggeleng, ia berlalu lebih dulu, semua sudah jelas jika Kemal tidak mau menamaninya malam ini.
"Mama jangan bercanda," ucap Frans.
"Hal seperti ini bisa kamu anggap bercanda?"
Frans diam, Isma baru saja selesaikan ceritanya tentang Bian dan Zahra.
Bagaimana bisa Frans percaya itu, bukankah sebelumnya Isma sempat berkata kalau mereka memang lebih baik berpisah.
"Zahra sudah tidak mau berubah lagi, dia sudah ke Pengadilan itu."
"Gak mungkin, Zahra pasti hanya sedang emosi saja."
"Kalau hanya sedang emosi, harusnya dia bisa luluh dengan permohonan Bian, Mama lihat sendiri betapa keras dia dengan keputusannya."
Frans diam, apa Frans harus menemuinya sekarang, tapi bagaimana caranya karena tidak ada ponsel yang bisa dihubunginya.
Dan lagi, Frans juga ada urusan yang lebih penting malam ini, urusan yang begitu sangat mengganggunya beberapa waktu ini.
"Frans, kenapa kamu diam saja?"
"Aku tidak tahu harus bagaimana, aku harus temui Zahra tapi aku harus menunggu waktunya."
Isma menggeleng, kenapa juga Zahra tidak membeli ponsel baru, bukankah benda kecil itu sangat penting untuk dimiliki.
"Mama, aku harus pergi sekarang."
"Pergi kemana, bukankah kamu bilang harus menunggu waktunya?"
"Tidak, aku tidak akan menemui Zahra sekarang, ada hal lain yang lebih penting bagiku."
"Hal apa?"
"Aku minta maaf, aku belum bisa cerita sekarang, aku belum mendapatkan kejelasan apa pun."
Isma mengernyit, kenapa terdengar begitu serius, apa Frans sedang dalam masalah, tapi masalah apa.
Frans bangkit seraya memakai jaketnya, sikap dan kalimat Frans justru semakin membuat fikiran Isma kacau.
"Aku pergi dulu."
"Kamu harus janji, kamu akan pulang dalam keadaan baik."
Frans sedikit tertawa mendengarnya, ada apa dengan Isma, Frans pergi bukan untuk berperang.
"Frans."
"Iya Mama, aku janji akan kembali dengan keadaan baik."
Frans memeluk dan mencium pipi Isma sekilasan, ia lantas berlalu meninggalkannya, tidak ada waktu untuk menunda karena Frans butuh kepastian.
__ADS_1
"Ssss aaaa," jerit Vanessa.
Wanita itu begitu stres memikirkan cintanya sendiri, Bian sampai saat ini tidsk bisa dihubungi.
Semua telah diblokir oleh lelaki itu, Vanessa juga kesulitan keluar rumah karena ulah orang tuanya itu.
"Kalian semua memang menjengkelkan," jerit Vanessa lagi.
Ia mengacak tempat tidurnya, kamarnya sudah seperti gudang yang tak terurus saat ini.
"Bian, bisa sekali kau melakukan ini."
Vanessa terduduk di samping ranjangnya, kenapa jadi ia yang menderita sendiri saat ini, kemana lelaki itu yang dulu selalu ditemaninya saat susah.
Sangat tidak tahu berterimakasih, setelah hidupnya membaik, justru Vanessa yang terbuang sia-sia.
"Aku tidak bisa terima ini, kalian semua harus hancur."
"Tutup mulut mu itu," ucap Rian yang mendadak masuk.
Vanessa diam tanpa menoleh, Rian yang biasa pergi ke luar kota pun mendadak bertahan di rumah.
Lelaki itu justru menyuruh orang lain untuk mengurus bisnisnya, jelas saja itu semakin membuat Vanessa prustasi.
"Masih tidak sadar dengan kesalahan hidup mu sendiri, Vanessa."
"Aku tidak bersalah, sedikit pun aku tidak bersalah, mereka yang bersalah, mereka yang membuat ku bersalah."
"Ada apa lagi ini?" tanya Risa menyusul.
Rian menoleh sesaat, wanita itu datang pasti hanya untuk membela anaknya yang tidak tahu diri.
"Kenapa, ada apa lagi?"
"Kenapa apa, menurut mu kenapa dengan semua ini, ini semua kegilaan dia," ucap Rian.
"Papa," panggil Risa.
Rian menoleh, tatapan tajam dari Risa tak lantas membuatnya menyesali ucapannya, Vanessa memang sudah melewati batasannya.
"Dia mencintai Suami wanita lain, apa Mama bisa terima jika itu terjadi pada Mama sendiri, nasib baik wanita itu tidak memperpanjang masalah kemarin, tapi Anak kamu ini malah terus saja menyalahkan mereka."
Risa menggeleng, ia berjalan menghampiri Vanessa, turut duduk dan memeluknya hangat.
Vanessa sudah kacau, kenapa masih saja diperlakukan tidak baik, itu tak lantas akan membuatnya jadi lebih baik.
"Aku harus pergi sekarang, apa Mama tidak bisa membantu ku?" tanya Vanessa kesal.
"Mau kemana malam-malam seperti ini, ini sudah waktunya kamu istirahat, sudahlah Vanessa yang sudah kamu terjadi biarkan saja terjadi, sekarang kamu jalani hidup kamu sendiri, fokus."
Vanessa menodorong Risa, itu bukan kalimat yang diharapkannya, Vanessa hanya ingin keluar dari rumah dan menemui mereka semua.
Rian menggeleng, ia lantas menarik Risa keluar kamar, mengunci pintu itu dari luar, berbicara dengan orang yang fikirannya sedang tidak waras memang tidak ada gunanya.
"Papa, tidak perlu seperti ini."
"Diam kamu, apa kamu tidak sadar kelakuannya sudah keterlaluan, dia bisa keluar kalau sudah kembali waras, sehat."
Rian berlalu dengan membawa kunci kamarnya, Risa menggeleng, ada apa dengan lelaki itu kenapa keras sekali terhadap anaknya sendiri.
__ADS_1