Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Aku Melanggarnya


__ADS_3

"Untuk apa memaksa ku pulang, apa ini harus dibiarkan terus menerus?"


"Diamlah Sintia, kamu terlalu jauh ikut campur, kalau memang kamu berharap kebebasan Bian, kamu khayalkan saja sendiri tentang itu."


"Jadi fikiran mu sama dengan wanita itu, aku seperti ini karena aku perduli pada Ayra."


"Kamu hanya menekannya saja."


Sintia mengernyit, ia menggeleng, kenapa tidak ada yang percaya padanya, bukankah Sintia sudah katakan kalau sekarang ia tak lagi mengharapkan Bian.


"Kamu mau pulang atau mau kemana?"


"Aku mau pulang, kemana lagi kamu fikir?"


"Mungkin saja mau bertemu Bian."


Sintia mendelik, untuk apa menemui Bian, lelaki itu terlalu aneh baginya sekarang, dan Sintia tidak mau melihatnya.


"Pasien atas nama Ayrazahra masih ada disini?"


Langkah Dion seketika menghentikan langkahnya, ia membiarkan Sintia pergi lebih dulu darinya.


Nama yang disebutkan itu terlalu jelas di telinganya, Dion menoleh dan melihat Damar di sana.


"Lelaki itu ...."


Dion diam, ia ingat sewaktu Zahra minta turun untuk menemui lelaki itu.


"Damar."


Dion mengangguk, bukankah itu yang disebut Damar oleh Zahra, Dion tidak mungkin salah orang.


"Terimakasih, Sus."


"Sama-sama, Pak."


Damar mengangguk, lantas pergi setelah mendapatkan kepastian jika Zahra masih ada di sana.


Dion masih memperhatikannya, banyak sekali yang dibawanya itu, apa semua itu untuk Zahra, siapa lelaki itu sebenarnya.


"Dion," panggil Sintia.


Dion yang hendak menyusul Damar, rupanya harus gagal karena Sintia kembali ke dalam.


Sintia tampak kesal menunggu Dion di sana, kali ini masih gagal untuk Dion mengetahui tentang Damar.


"Kenapa kamu?" tanya Sintia.


"Gak, ngapain balik lagi."


"Buka kunci mobilnya, jadi aku bisa masuk."


Dion menggeleng, ia lantas berjalan lebih dulu, kenapa tidak menunggu saja di sana, mengganggu sekali wanita itu.


Sintia sempat melihat sekitar, siapa yang menghentikan langkah Dion, tapi Sintia tidak melihat siapa pun yang dikenalnya di sana.


Sintia berdecak, lantas pergi menyusul Dion, bisa saja lelaki itu justru meninggalkannya di rumah sakit.


"Ayra," panggil Damar.


Zahra melirik pintu, tentu saja ia mengenali suara itu.


"Permisi."


Zahra mengangkat kedua alisnya saat pintu terbuka, Damar tersenyum melihat Zahra yang sedang duduk di sana.


Baguslah kedatangannya tidak mengganggu istirahat Zahra, melihat bawaan Damar itu cukup membuat Zahra heran.


"Bukankah gaji mu sudah habis kemarin?"


Damar turut melihat bawaannya, ia tersenyum seraya menggeleng, dengan hati-hati Damar menyimpan semuanya.


"Kamu sudah makan?"


"Tentu saja, tadi Suster kirim makanan kesini."


"Kamu suka?"


"Terpaksa."


Damar mengangguk, baiklah, tidak masalah bukankah makanan rumah sakit tidak begitu enak.

__ADS_1


Damar melihat boneka di samping Zahra, boneka itu tetap bersama Zahra, baguslah Zahra menjaganya dengan baik.


"Apa dia menanyakan ku?"


"Mana mungkin, dia milik ku untuk apa bertanya tentang mu?"


"Yaaa baiklah, aku terima itu."


Keduanya tersenyum, Damar lantas duduk dan melihat sekitar.


"Kamu sendirian saja?"


"Aku memang ingin sendiri, aku sudah katakan itu."


"Aku minta maaf, aku melupakan kesepakatan kita, aku sekalian lewat makanya mampir kesini."


"Dari mana?"


"Dari Rumah Sakit sebelah."


Zahra diam, bukankah itu rumah sakit jiwa, apa Damar telah menengok ibunya di sana.


"Bagaimana keadaannya sekarang?"


"Tetap sama saja, tapi aku tidak mengerti kenapa pihak rumah sakit membiarkannya pulang."


"Pulang?"


Damar mengangguk, Zahra turut mengangguk, semoga saja memang itu keputusan terbaik.


Dokter lebih tahu harus seperti apa memperlakukan pasiennya, makanya diizinkan pulang pun pasti karena sudah sepantasnya.


"Baiklah lupakan, aku pusing memikirkan itu, jangan pernah kamu datangi mereka."


"Ih, kenapa jadi aku?"


"Ya karena kamu selalu saja memikirkan orang lain dari pada dirimu sendiri."


"Itu kemarin, sekarang tidak lagi."


Damar tersenyum seraya mengangguk, baguslah kalau memang seperti itu, Zahra memang harus berubah demi kebaikannya sendiri.


Meski itu sulit, tapi jika Zahra bisa maka semua akan sangat menguntungkannya, Damar yakin itu.


"Bawa apa saja?"


"Banyak, kamu mau apa, ini semua makanan ringan, aku gak bawa makanan berat."


"Karena banyak pasti tetap saja berat."


Damar mengangguk, ya itu benar, terserahlah Zahra mau bicara apa.


Damar mulai membuka makanannya, Zahra memang sudah makan, tapi bukankah makanan rumah sakit itu hanya sedikit.


"Mau yang mana?"


"Yang kotak itu apa?"


Damar meraihnya, dan memberikannya pada Zahra, itu hanya semacam kacang panggang.


"Makanlah, kamu sudah sehat kan, bisa makan sendiri?"


"Bisa, besok aku pulang."


Damar tersenyum, baguslah kalau seperti itu, untuk apa juga lama-lama di sana.


Zahra tampak menikmati cemilannya, itu lumayan untuk menghilangkan bosannya.


"Enak?"


"Yaaa, kamu gak makan, kamu beli semua ini buat ku?"


"Yaa, karena kamu lagi sakit, jadi harus banyak makan biar cepat kuat."


Zahra mengangguk, ia akan membalasnya nanti, itu tidak susah, jika memang Zahra bisa pasti akan membalasnya.


"Kamu harus makan, ayo makan bareng aku."


"Baiklah."


Damar ikut menikmati cemilannya, ternyata memang enak rasanya.

__ADS_1


Keduanya asyik berbincang ditengah mulut yang sibuk mengunyah, Damar melempar kacangnya keatas dan langsung diterima mulutnya.


Melihat itu, Zahra mengikutinya, tapi sayang Zahra tak bisa melakukan itu.


"Biar aku yang lempar."


"Hah?"


"Aaaa, buka mulut mu."


Zahra menurutinya, dengan hati-hati Damar melemparnya dengan tubuh yang sedikit mundur.


"Tepat," ucap Damar seraya bertepuk tangan.


Zahra tersenyum, ia mengangguk sambil mengunyah, bisa juga seperti itu.


"Sekarang aku coba, mana buka mulut mu."


Damar mengikutinya juga, Zahra sediki tertawa karena berhasil melakukannya.


"Ini terlalu mudah, biar aku menjauh dulu."


Damar mengambil sebagian kacangnya dan menggenggamnya, ia mundur menjauhi Zahra.


"Ngapain?" tanya Zahra.


"Ayo buka mulut mu."


"Gak, jauh banget, maju sini."


Damar mengangguk dan maju sedikit, ketika Zahra membuka mulutnya, Damar kembali melemparnya, tentu saja ia berhasil, Zahra mengacungkan jempolnya.


Tapi sebaliknya, Zahra justru tidak bisa melakukan hal yang sama, lemparannya melenceng jauh.


"Apa itu?" tanya Damar heran.


Zahra mengerucutkan bibirnya, kenapa seperti itu saja tidak bisa.


"Biar aku coba lagi."


"Oke."


Zahra mengulangnya berkali-kali, tapi tetap saja gagal, banyaknya lemparan itu justru menyakiti wajah Damar.


Tapi karena hal itu Zahra justru tertawa puas, apa yang telah dilakukannya, kasihan sekali lelaki itu, tapi Zahra tidak mau menghentikannya.


"Hey, sayang makanannya," ucap Damar.


"Jangan tutup mulut mu."


Satu lemparan, dua lemparan, hingga lemparan ketiga akhirnya Zahra berhasil melakukannya.


"Emmm, uhuk uhuk."


Damar justru membulatkan matanya seraya menekan tenggorokannya.


"Eh, kenapa, ada apa?"


"Uhuk uhuk uhuk."


Damar maju, lemparan Zahra membuat bulatan kecil itu meluncur lurus ke tenggorokannya, dan membuat Damar tersendak.


"Eh hahaha, kenapa seperti ini."


Zahra tidak bisa menahan tawanya, ia menepuk tengkuk Damar berulang kali, lelaki itu tetap saja terbatuk-batuk.


"Apalah ini, Damar," ucap Zahra sedikit menjerit.


Tapi tawanya tetap tidak bisa hilang, Zahra merasa itu lelucon menarik.


"Uhuk uhuk."


Damar menegapkan kepalanya, Zahra mengernyit dan melihat bulatan kecil itu di telapak tangan Damar.


Sesaat keduanya sama-sama terdiam menatap bulatan kecil itu, hingga mereka saling lirik dan tertawa bersama.


Damar tampak menunduk ke pangkuan Zahra di tengah tawanya, sedangkan Zahra memilih menengadahkan kepalanya agar bisa lebih lepas tertawa.


"Kurang ajar sekali makanan ini," ucap Damar asal tanpa merubah posisinya.


Zahra menoleh, tangannya terangkat memijat tengkuk Damar, meski begitu Zahra tetap bertahan dalam tawanya.

__ADS_1


Ketika itu pintu mendadak terbuka, Kania dan Inggrid telah kembali ke sana, keduanya terdiam melihat Zahra dan Damar di sana.


__ADS_2