
"Frans, apa kamu sudah mendengar kabar tentang Zahra?" tanya Isma.
Frans menggeleng, ia menggeser gelas yang disimpan Isma di sampingnya.
"Apa dia sudah kembali?" tanya Isma seraya duduk.
"Aku tidak tahu, Zahra sepertinya tidak mendapatkan ponselnya kembali, aku tidak bisa menghubunginya sampai saat ini."
Keduanya mengisi piring makan sendiri, makan malam kali topik pembahasan mereka adalah Zahra.
Isma begitu ingat bagaimana prustasinya Bian saat datang ke rumahnya mencari Zahra, dan saat ini Isma sengan menginat wanita itu.
"Apa Bian tidak meminta bantuan mu?"
"Tidak, biarkan saja dia kan sudah lapor polisi, tinggal tunggu hasilnya."
"Mama khawatir dengan anak itu, kenapa bisa dia melarikan diri seperti itu, bukankah masalahnya sudah selesai."
"Mama tahu sendiri, masalah Zahra bukan hanya wanita itu saja, tapi juga banyak masalah lainnya termasuk pribadi mereka juga."
Isma diam, memang benar, Zahra memang terlalu banyak masalah, pantas saja jika dia sampai mengalami depresi.
Tapi nasib baik Tuhan masih menjaganya, hingga depresinya sembuh kembali, tapi malangnya masalah yang dialaminya tak kunjung usai.
"Frans, apa kamu pernah berfikir kalau sebaiknya mereka berpisah saja?"
"Bicara apa Mama ini?"
"Mungkin karena Zahra juga yang belum dewasa, sehingga masalah kerap datang padanya, dia pasti belum paham benar tentang kehidupan."
"Dia akan paham setelah dia mengalami dan menjalani, bahkan sampai bisa melewati, tanpa itu sampai kapan pun dia tidak akan mengerti."
Isma mengangguk, ia meneguk minumanya, memang benar juga pemikiran Frans itu.
Tapi rasanya kasihan sekali dengan Zahra, wanita itu harus tertekan dan menderita sepanjang hidup rumah tangganya.
Isma jadi ingat dengan kisah Frans sendiri, bukankah perpisahan Frans dan istrinya telah membuat Frans jadi lebih baik sekarang.
"Mama berfikir memang mereka harus berpisah, Zahra akan bisa damai kalau mereka berpisah."
"Melepaskan cinta itu tidak semudah yang dibicarakan, Zahra bertahan karena cintanya, dan melepaskan cintanya pun bukan hal mudah."
"Dia bisa mengikuti cara mu dulu."
Frans kembali diam, kenapa jadi membahas itu bukankah semua sudah berlalu, dan Frans sudah melupakan semuanya.
Isma tersenyum, ia meraih tangan Frans, mengusapnya lembut karena Isma tahu Frans masih lemah jika mengingat itu.
"Permasalahan akan selalu ada, dan jalan keluarnya pun pasti ada, kalau masalah Zahra terus ada karena dia bertahan, bukankah bukan tidak mungkin kalau perpisahan yang akan membebaskan dia, itu juga kisah mu dulu."
"Mama benar, memang sama saja, tapi mungkin jalan keluar untuk kisah Zahra bukan perpisahan, buktinya sampai saat ini mereka masih saja bersama."
"Kebersamaan mereka hanya dusta, Mama yakin itu."
Frans menggeleng, ia balik mengusap tangan Isma, ada apa dengan wanita itu tiba-tiba saja membahas Zahra.
Bahkan Isma sampai berfikir dan seolah memaksa jika mereka harus berpisah, itu tidak seharusnya karena Isma bukan siapa-siapa yang bisa memutuskan hubungan itu.
__ADS_1
"Bu Zahra, pasien sadar, Bu."
Zahra mengangkat kedua alisnya, ia melirik Dion seraya tersenyum.
"Itu kabar bagus," ucap Dion.
"Silahkan Bu, Ibu boleh masuk."
"Apa saya juga boleh masuk?" tanya Dion.
"Dokter hanya mengizinkan satu orang saja."
Zahra menepuk pundak Dion, kasihan sekali lelaki itu, tapi biarlah karena mungkin Zahra juga hanya sebentar di dalam.
Zahra lantas memasuki ruangan dan melihat pasien itu bersama dengan dokter, setelah kedatangan zahra, dokter itu pamit dan menyerahkan semuanya pada Zahra.
"Permisi," ucap Zahra pada wanita itu.
Dengan mata yang seperti masih enggan terbuka, wanita itu menoleh dan terdiam menatap Zahra.
"Hallo, kamu sudah lebih baik, apa kamu bisa mendengar ku, aku senang kalau kamu juga bisa menjawab ku."
Zahra menoleh saat tangan wanita itu terangkat meraih dan menarik tangannya, dengan ekspresi bingung Zahra bergerak mendekat.
"Telepon," ucapnya susah payah.
Zahra mengernyit, telepon, apa maksdunya, apa mungkin wanita itu membutuhkan telepon.
"Maaf tapi ponsel ku hilang, apa ada yang lain?"
"Kamu bahagia?"
"Dia bahagia."
"Aku tidak mengerti, kemana maksud bicara mu itu?"
"Aku melihat kalian bahagia."
Zahra sedikit mundur, apa wanita itu kehilangan akal sehatnya, kalimatnya sangat sulit dimengerti.
Wanita itu tersenyum perlahan dengan tetap menatap Zahra, tapi senyuman itu justru membuat Zahra merinding.
"Aku tahu kalian bahagia."
"Kalian siapa, kamu sedang berusaha bercerita, coba tolong katakan siapa nama mu dan dimana keluarga mu, biar aku bawa mereka kesini."
"Shafira."
"Lalu keluarga mu?"
"Shafira."
Zahra merapatkan bibirnya, wanita itu terasa menakutkan, sepertinya Zahra harus berbicara dengan dokter terlebih dahulu.
Zahra mengangguk seraya tersenyum, entah apa yang harus difikirkannya yang jelas Zahra takut dengan wanita itu.
"Shafira, aku harus temui Dokter dulu, aku harus tahu akibat dari kecelakan ini, mungkin aku bisa mengerti maksud kamu."
Zahra beranjak, tapi tangan itu menahannya kuat, bahkan baru saja Shafira sadar tapi tenanganya sudah sekuat itu.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Zahra mulai tidak tenang.
"Telepon."
"Kamu perlu telepon, kamu membutuhkan ponsel, sebentar aku pinjam punya teman ku dulu, dia ada di luar."
Zahra melepaskan tahanan Shafira dan segera keluar ruangan, ia bergidik ngeri mengingat wanita itu.
"Ada apa?" tanya Dion.
"Aku boleh pinjam ponsel mu, sepertinya dia mau menghubungi keluarganya."
"Oh ya sudah gak masalah, ambillah."
Zahra menerimanya dan kembali memasuki ruangan, ia memberikan ponselnya pada Shafira.
"Telepon."
"Telepon kemana, aku tidak mengerti."
"0 8 1."
Zahra mengangkat kedua alisnya, sepertinya ia mengerti dengan itu.
Zahra mencatat angka yang disebutkan Shafira, meski lambat tapi rangkaian kontak itu akhirnya sempurna.
"Siapa dia?" tanya Zahra.
"Telepon."
Zahra mengangguk perlahan, baiklah semakin banyak bicara hanya membuatnya semakin takut saja.
Zahra segera menghubungi nomor itu, sesaat menunggu panggilan itu dijawab juga.
"Selamat malam, apa ini keluarga Shafira?"
Zahra diam, satu detik .... dua detik .... tiga detik Zahra tak juga mendapatkan jawaban.
Zahra melirik layar ponselnya sesaat, panggilan itu masih berlangsung tapi kenapa tak ada suara.
"Hallo, selamat malam apa ini dengan keluaga Shafira, hallo."
"Dia bahagia," ucap Shafira.
Zahra menoleh, kenapa jantungnya seketika tidak aman, ada apa sebenarnya.
"Hallo, kalau ini benar keluarga Shafira, tolong datang ke Rumah Sakit Bina Bhakti, Shafira dirawat disini karena kecelakaan dan kondisinya tidak baik."
Zahra secepat kilat menutup sambungannya, ia kembali menatap Shafira, wanita itu perlahan tersenyum.
Tapi lagi-lagi Zahra merasa ngeri dengan senyuman itu, Zahra berpaling sesaat dan kembali dengan tersenyum.
"Kalian bahagia, aku melihat kalian bersama."
"Melihat ku, aku bahkan tidak mengenal mu."
"Telepon."
Zahra menggeleng, ia menghela nafasnya panjang, ini tidak masuk akal, Zahra memilih pergi tanpa pamit pada Shafira.
__ADS_1