Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Tidak Bisa


__ADS_3

Bian kembali saat jam 7 malam, Zahra yang sejak awal diam di rumah, bertahan di kamarnya tanpa melakukan apa pun juga.


"Zahra, kamu sudah tidur?" tanya Bian.


Zahra menoleh dan duduk, sejak tadi Zahra hanya rebahan saja tanpa kesibukan apa pun.


"Kamu nangis?" tanya Bian seraya duduk di depan Zahra.


"Tidak."


"Tapi mata kamu seperti itu, kenapa?"


Zahra diam, pertanyaan Bian membuat perasaannya terusik.


"Ada apa, kenapa nangis?"


"Untuk apa bertanya, apa kamu sedang berusaha memperhatikan aku?"


Bian mengernyit, ia berpaling dan bangkit, kakinya terayun ke kamar mandi.


"Aku hanya perduli, jangan menganggap lebih tentang itu."


Zahra melirik pintu, padahal Bian bisa mengatakan itu saat tadi ada di depannya, kenapa, apa setidak mau itu Bian berbicara dengan Zahra.


"Tidur, jangan berfikir apa pun atau kamu akan kecewa nantinya."


Zahra kembali berbaring, tidak masalah, Zahra memang ingin diam, bukan ingin banyak bicara.


"Apa yang dikatakan Oma, kamu pasti bicara banyak dengannya seharian ini, jangan sampai kamu mengatakan hal yang salah."


Zahra memeluk guling, ia diam tanpa menjawab, memang salah, Zahra telah salah karena menceritakan kebenarannya pada Inggrid.


"Jadi benar kamu melakukan kesalahan, kenapa hanya diam saja."


Zahra memejamkan matanya, berisik sekali, apa susahnya duduk di depan Zahra kalau memang ingin berbicara.


"Kamu tidak mau mendengarkan aku?"


Zahra tak bergeming, Bian akan kembali memperlakukannya kasar jika tahu apa yang dikatakan Zahra pada Inggrid.


"Zahra."


Bian keluar dan melihat Zahra yang sudah berbaring.


"Benarkah kamu sudah tidur?"


Bian duduk kembali di sampingnya, menatap wajah Zahra yang matanya terpejam itu.


"Zahra, kamu tidak mendengar ku?"


Zahra membuka matanya dan melirik Bian, apa yang harus dikatakannya sekarang.


"Ada apa, kamu kenapa?"


"Aku gak apa-apa."


"Jangan bohong, apa saja yang kamu lakukan dengan Oma."


"Apa yang harus aku lakukan memangnya?"


"Lalu apa yang kalian bicarakan?"


"Kenapa kamu berisik sekali, kalau kamu tidak bisa percaya sama aku, sebaiknya tidak perlu bertanya padaku, tanyakan saja semuanya pada Oma."

__ADS_1


"Zahra, aku serius."


"Tidak ada."


Zahra kembali menutup matanya, biarkan saja Bian mau berfikir seperti apa, Zahra memang mengakui kesalahan atas kejujurannya tadi.


"Kamu sudah makan?" tanya Bian.


"Belum, tapi aku sudah kenyang karena ngemil."


"Baguslah, jangan menahan lapar."


"Kamu saja makan, kamu pasti belum makan kan?"


"Aku juga sudah makan di jalan tadi, aku mau istirahat."


Zahra kembali bangun, ia lantas turun dengan membawa bantal dan selimutnya.


"Mau kemana?"


"Kamu mau istirahat kan, silahkan saja, aku tidur disana saja."


Bian melirik sofa di sana, mungkin saja Zahra pegal-pegal jika tidur di sana terlalu sering, kasihan juga.


"Ayo sana tidur."


"Kamu disini saja."


Zahra menoleh, niatnya untuk melangkah pun urung, Zahra diam menantap Bian.


"Tidur disini saja, aku tidak masalah, aku tidak akan berbuat aneh-aneh."


Zahra duduk, selimut itu kembali disimpan, sedangkan bantalnya bertahan di pangkuan Zahra.


"Zahra, kamu sudah dewasa, masa iya kamu tidak bisa mengontrolnya."


"Memang tidak bisa, aku tidak bisa membatasi hati aku, perasaan aku untuk siapa, aku tidak bisa atur."


"Jadi benar kamu menyukai ku?"


"Iya, aku memang menyukai mu."


Bian seketika berpaling seraya mengusap wajahnya, kenapa semudah itu, kenapa Zahra melupakan perjanjian mereka.


"Aku minta maaf, tapi aku tidak tahu kenapa bisa seperti ini."


Bian menoleh, tapi itu tidak boleh berlanjut, Zahra harus bisa membenci Bian, dan menghilangkan perasaan sukanya.


"Zahra, aku ...."


"Tidak masalah, tentang ini biar jadi urusan ku, kamu tetap saja dengan hidup kamu."


"Zahra, kita akan setiap hari bersama, bagaimana bisa kamu secepat itu menyukai aku?"


"Tenang saja, aku akan berusaha menyukai lelaki lain, dan saat itu terjadi, kamu jangan coba halangi aku."


Bian mengangguk setuju, silahkan saja kalau memang itu bisa menghilangkan perasaan suka Zahra terhadap dirinya.


"Silahkan saja, tapi kamu harus hati-hati, jangan sampai mereka tahu."


"Aku mengerti."


"Baiklah, sekarang tidur, aku juga lelah mau istirahat, kamu tidur disini saja semua akan baik-baik saja."

__ADS_1


Zahra mengangguk, ia lantas naik dan kembali berbaring, Bian juga turut berbaring untuk menghilangkan pegal tubuhnya.


"Bagaimana pekerjaan hari pertama?"


Bian menoleh, ia tersenyum penuh bahagia, melihat itu Zahra ikut tersenyum.


"Semua baik-baik saja, aku bisa mengerjakan semua dengan baik."


"Aku tahu kamu hebat, dan seharusnya Oma tidak meragukan kehebatan kamu."


Bian diam, senyumannya tak hilang dari bibirnya, Bian mengusap kepala Zahra.


"Terimakasih, kamu sudah mau membantu ku untuk semua ini."


Zahra mengangguk, ia lantas memejamkan matanya, usapan tangan Bian membuatnya merasa hangat, Zahra ingin itu.


----


"Hai."


Dion berdecak saat melihat Sintia, menyesal sekali Dion membuka pintu saat ini.


"Apa kabar?"


"Gak usah banyak bicara, aku tidak mau mendengar apa pun."


Sintia tersenyum, benarkah seperti itu, tapi Sintia tidak akan mau diam selama Dion tidak mau membantunya.


"Pulang saja, aku sedang sibuk."


"Tunggu dulu, kenapa sih, gak sopan banget sama tamu seperti itu sikapnya."


Dion menunduk sesaat, berisik sekali, kenapa Sintia jadi mengganggunya terus menerusnya seperti itu.


"Dion, aku sudah bilang kalau aku tidak akan berhenti sampai kamu mau membantu aku."


"Bantu apa, memisahkan Bian dan Zahra, itu tidak akan pernah aku lakukan."


"Apa benar seperti itu?"


"Tentu saja, aku cukup waras untuk tidak iri dengan kebahagiaan orang lain."


Sintia tersenyum, ia berpaling sesaat dan tersenyum menatap Dion.


"Apa benar kamu tidak menyesal dengan pernikahan mereka?"


"Tidak, tidak sama sekali, penyesalan itu hanya akan dirasakan oleh orang yang tidak menerima kenyataan."


"Dan kamu, termasuk orang yang berlapang dada untuk kenyataan buruk?"


"Sintia, aku tidak ada waktu untuk membahas ini, karena semua bukan urusan ku sama sekali."


Sintia tersenyum, baiklah, Sintia masih harus sabar menghadapi Dion, tapi itu tidak masalah selagi Sintia masih bisa melakukannya.


"Silahkan kamu pulang, jangan bertamu malam-malam, apa lagi jika pemilik rumah tidak mau menerima kamu."


"Baiklah, aku tidak akan membahas mereka, tapi biarkan aku tetap disini, aku mau ada teman bicara."


Dion diam, ia tahu jika itu hanya alasan Sinti saja agar tidak pergi dari rumahnya, tapi dari pada ribut, lebih baik Dion iyakan saja selama omongannya bisa di percaya.


"Oke, terserah kamu saja, tapi tetap buktikan omongan kamu."


"Oke, aku janji."

__ADS_1


Dion mengangguk, ia mempersilahkan Sintia untuk masuk, semoga saja wanita itu memang tidak menjengkelkan.


__ADS_2