Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Jangan Lakukan


__ADS_3

"Untuk apa kamu kesini?" tanya Dion.


Vanessa diam, saat keluar dari rumah Bian tadi, Vanessa tak sengaja bertemu dengan Dion, dan lelaki itu menahannya agar tidak langsung pergi.


"Aku tanya, untuk apa kamu datang kesini?"


"Untuk menemui Bian, kenapa, ada masalah sama kamu?"


"Apa kamu lupa kalau Bian ...."


"Sudah menikah?" sela Vanessa.


Dion diam, kalau wanita itu tahu, lalu untuk apa dia datang ke rumah Bian, atau mungkin dia memang sengaja ingin mencari masalah.


"Kenapa menatap ku seperti itu, aku baru tahu beberapa menit lalu kalau Bian sudah menikah."


"Jangan berbohong."


"Untuk apa berbohong, itu memang kenyataan dan kamu harus tahu kalau aku tidak percaya dengan pernikahan mereka."


"Apa maksud kamu?"


"Kamu fikir sendiri, seorang Istri mengetahui Suaminya dekat dan menyukai wanita lain, dan saat wanita itu datang berniat untuk menemui Suaminya, dia izinkan begitu saja bahkan dia yang antarkan wanita itu menemui Suaminya, apa itu hubungan yang benar?"


Dion tak bergeming, ia bergelut dengan fikirannya sendiri, apa maksudnya, kenapa Zahra melakukan itu.


Tidak mungkin, Vanessa pasti sedang berbohong, bukankah Zahra mengharapkan Bian, jadi bagaimana mungkin Zahra membiarkan wanita lain mengganggu Bian.


"Kamu tidak percaya?"


"Diamlah."


"Kenapa, tadi kamu bertanya, setelah aku jawab, kamu malah suruh aku diam, ada apa dan kamu juga siapa?"


"Itu bukan urusan kamu."


"Kalau begitu, tidak perlu juga mengurusi urusan ku, biarkan aku pergi."


"Tidak bisa."


Vanessa berpaling sesaat, ia memang ingat tentang sosok Dion yang sempat dilihatnya sewaktu makan bubur pagi dulu.


Lelaki itu tak lain teman Sintia juga, tapi Vanessa tak perduli, karena tidak ada urusan sama sekali dengan lelaki itu.


"Jangan ganggu mereka."


"Maksudnya apa?"


"Kamu juga seorang wanita, bagaimana mungkin kamu bisa melukai hati sesama wanita?"


"Melukai?"


"Vanessa sudahlah jangan berlagak bodoh."


Vanessa tersenyum seraya mengangguk, ia melihat sekitar, ingin sekali Vanessa pergi dari lelaki itu.


"Jangan ganggu mereka, kalau kamu sudah tahu tentang pernikahan mereka."

__ADS_1


"Aku gak perduli, aku sudah bilang itu, dan aku gak percaya tentang pernikahan mereka."


"Vanessa."


"Apa, kamu siapa mau mengaturku, apa kita saling mengenal, ada urusan apa kita sekarang?"


Dion menghembuskan nafasnya sekaligus, baiklah dia adalah sepupu Sintia jadi pantas saja jika orangnya sama-sama sangat menjengkelkan.


"Bian yang salah, kenapa dia tidak jujur sejak awal, dan kenapa juga dia terus chat aku dengan kata-kata manis sampai membuat ku menyukainya, dan sekarang apa yang aku lakukan hanya untuk perasaan ku sendiri."


"Kamu mau egois terhadap wanita lain?"


"Kenapa tidak, melihat respon Zahra tadi, aku yakin mereka tidak saling cinta, bisa saja mereka menikah karena perjodohan, atau syarat lain dari keluarganya, dan mereka hanya terpaksa melakukan pernikahan itu."


Dion kembali diam, itu memang benar, Bian memang terpaksa menikahi Zahra, tapi tidak dengan Zahra sendiri.


Vanessa terlihat begitu serius memperhatikan Dion, sepertinya ada yang salah juga dengan lelaki itu, tapi entah apa.


"Aku harus pulang, sudah tidak ada lagi yang mau dibicarakan?"


"Ada, dan tetap sama, jangan ganggu mereka, kamu jangan lagi berurusan dengan Bian."


"Ada apa kamu ini, kenapa, apa alasannya, aku sudah jelaskan kalau pernikahan mereka pasti hanya kebohongan saja."


"Lakukan saja, jangan lagi mengganggu mereka berdua."


"Aku tidak mengganggu keduanya, aku hanya mengganggu Bian, karena urusan ku memang sama dia."


"Ya itu sama saja."


"Aneh tahu gak, kamu baru ketemu sudah seperti ini, apa urusannya?"


Vanessa tersenyum, itu tidak bisa memberi penjelasan apa pun untuknya, dan Vanessa tidak akan mau mengikutinya.


Kakinya terayun begitu saja, meski Dion mencoba menahannya, tapi Vanessa lebih cepat menepisnya, sehingga mereka berpisah.


"Ssss arght."


Dion menendangkan kakinya tanpa tumpuan, kenapa harus seperti itu, Bian memang sudah sangat keterlaluan.


Dion sudah membiarkan mereka dengan kehidupannya, bahkan meski saat perasaan memaksanya untuk menemui Zahra, Dion selalu menepisnya.


"Kurang ajar sekali lelaki itu, bagaimana Zahra sekarang, dia pasti sedang kecewa."


Dion melihat rumah Zahra dari kejauhan sana, tidak ada yang keluar, mereka semua bertahan di dalam sana.


Apa mungkin jika Dion berkunjung saja kesana, sekedar memastikan jika Zahra memang baik-baik saja, setelah semua jelas Dion akan segera pergi.


"Sepertinya itu tidak ada salahnya, mereka tidak akan menolak kedatangan ku, bukankah kedatangan Vanessa juga diterima dengan baik."


Dion mengangguk, ia melihat sekitar, dan segera berjalan mendekati rumah.


Harapan begitu sama dengan Vanessa, bisa bertemu Zahra tanpa halangan apa pun juga, dan semoga saja itu semua bisa didapatkan olehnya.


"Permisi," ucap Dion seraya menekan bel.


Sesaat kemudian pintu terbuka, dan terlihat Bian yang membukakan pintu, keduanya sama-sama terdiam.

__ADS_1


"Siapa yang datang?" tanya Inggrid menghampiri.


Bian sedikit bergeser memberi jalan, saat melihat Inggrid, Dion segera salam padanya.


"Untuk apa kesini?" tanya Bian malas.


"Kenapa, Oma yang suruh dia kesini, kamu keberatan?"


Bian diam, ia berpaling tanpa berniat menjawab lagi, Dion tersenyum karena sepertinya keinginannya bisa jadi nyata.


"Ayo masuk, kamu mau bertemu Zahra?"


"Tidak, aku mau bertemu Oma."


"Sekalian saja, Zahra pasti mau menemui kamu, ayo masuk."


Inggrid menarik Dion masuk, kedua tangan Bian terlihat mengepal kuat, menjengkelkan sekali, apa Vanessa bekerjasama dengan Dion untuk mengganggunya hari ini.


Bian mengusap wajahnya, ia lantas masuk menyusul keduanya, Bian akan lihat seperti apa respon Zahra saat bertemu dengan Dion.


"Duduk dulu."


"Terimakasih Oma."


"Zahra, kamu kesini dulu sebentar," panggil Inggrid.


Dion lantas duduk, ia menoleh melihat Bian yang turut duduk di sampingnya, sungguh itu sangat tidak diinginkannya sama sekali.


"Zahra."


"Iya Oma, ada apa?"


Zahra diam saat melihat Dion di sana, untuk apa lelaki itu datang, bukankah Zahra sudah katakan untuk tidak menemuinya lagi.


"Apa kabar?" tanya Dion.


Zahra tersenyum seraya mengangguk, apa mungkin memang Inggrid yang meminta Dion untuk datang.


"Zahra, kamu ditanya," ucap Inggrid.


"Aku baik-baik saja, apa kamu melihat aku tidak baik-baik saja?"


Dion tersenyum seraya menggeleng, tapi itu tak begitu saja membuat perasaannya tenang, bisa saja Zahra sedang berbohong pada semuanya.


"Kamu temani Dion dulu, Oma mau ke dapur sebentar."


"Biar aku saja yang bawakan minumnya."


"Tidak perlu, Oma suruh kamu duduk temani tamu."


Zahra hanya mengangguk saja, ia lantas duduk di samping Dion, setelah kepergian Inggrid, Bian bangkit dan berpindah duduk di tengah Zahra dan Dion.


"Ngapain sih?" tanya Dion.


"Kenapa, apa masalahnya, aku mau dekat dengan Istri ku."


Bian dengan sengaja merangkul Zahra, hal itu cukup membuat keduanya menggeleng, apa benar Bian tak rela jika Dion mendekati Zahra.

__ADS_1


Zahra menggeleng cepat seraya berpaling, tidak boleh lagi Zahra berfikir tentang hal yang hanya akan membuatnya berharap saja.


__ADS_2