
Kemal mengernyit melihat Kania yang membawa Inggrid keluar ruangan, di sana juga ada Nur, sedang apa pembantu itu.
Kemal mempercepat langkahnya menyusul mereka, entah ulah apa lagi yang dilakukan Inggrid sekarang, Kemal akan marah jika wanita tua itu memaksa untuk pulang lagi.
"Mau kemana kalian?"
Langkah mereka terhenti, Kemal menghalangi jalannya.
"Awas kamu," ucap Inggrid.
"Mami mau kemana, kalian mau bawa Mami kemana, dan kamu apa yang kamu lakukan disini?"
Nur melirik Kania sekilas, ia terlalu takut untuk menjawab pertanyaan Kemal.
"Awas, kamu sangat menghalangi jalan, berhenti bersikap seolah kamu paling benar, Kania jalan," ucap Inggrid.
Kania menggeleng pada Kemal, lantas kembali mendorong kursi rodanya.
Kemal tidak mengerti dengan itu, tapi ia tidak akan diam saja, kakinya berjalan mengikuti mereka.
"Saya harus masuk," ucap Damar.
"Silahkan saja, tapi jangan terlalu ribut."
Damar mengangguk, ia lantas membuka pintu, tapi seketika itu Damar diam karena Inggrid memanggilnya.
Damar berbalik dan melihat mereka semua, bagaimana bisa secepat itu mereka datang menyusul.
"Berani kamu masuk mendahului saya?" tanya Inggrid.
Damar mengangguk, ia lantas menyamping untuk memberi jalan.
"Terimakasih sudah membawa Zahra kesini, tapi dia masih memiliki keluarga," ucap Inggrid.
Damar kembali mengangguk, tentu saja ia tahu itu, tadi Damar ingin masuk karena memang tidak ada mereka di sana.
"Kenapa dengan wanita itu?" tanya Kemal.
Inggrid sedikit menoleh, berani sekali lelaki itu melontarkan pertanyaan bodohnya.
"Bisakah kamu panggilkan security?"
"Security?" tanya balik Damar.
"Saya mau dia pergi dari sini, suaranya hanya membuat kepala saya sakit."
Mereka kompak melirik Kemal, termasuk juga dengan dokternya, merasa tersinggung dengan itu, Kemal menatap balik mereka semua dengan kesal.
Damar berpaling, tentu saja ia tidak bisa melakukan itu, tidak ada hak apa pun untuknya ikut campur.
"Mami, biar aku yang membawanya keluar."
"Bagus, itu pilihan yang terbaik."
Kania mengangguk, itu memang yang terbaik karena Kania tidak mau ada keributan lagi yang akan membuat Inggrid kembali drop.
Kania meminta Nur agar membantu Inggrid, setelahnya ia mengajak Kemal untuk pergi.
"Kenapa harus seperti itu, aku juga sama mau melihat wanita itu."
"Sudahlah, Papa."
"Gak, aku akan tetap disini untuk mengetahui kabarnya, kenapa juga dengan wanita itu?"
"Bawa saya masuk, Bi," ucap Inggrid.
Nur mengangguk dan mendorong Inggrid memasuki ruangan, ia sempat memberikan boneka yang dibawanya pada Damar.
__ADS_1
Damar sempat melirik Kania dan Kemal, tapi mau bagaimana pun Damar juga ingin tahu keadaan Zahra.
"Kamu mau masuk?" tanya Kania.
"Nanti saja, aku tunggu saja disini."
Kania mengangguk, ia kembali mengajak Kemal pergi, tapi lelaki itu tetap saja menolaknya.
Kemal memilih masuk menyusul Inggrid tanpa perduli dengan Kania, melihat hal itu Kania juga harus masuk agar bisa menahan Kemal kalau ia melewati batas lagi.
"Saya permisi," ucap Dokter.
"Mereka masuk semua, apa tidak masalah?"
"Seharusnya tidak boleh, tapi saya yakin mereka cukup dewasa untuk membiarkan pasien tenang."
Damar mengangguk, dokter lantas pergi, masih banyak pasien yang harus diperiksanya.
Damar melihat sekitar, lalu untuk apa dia di sana kalau tidak bisa melihat Zahra, apa bisa Damar masuk saja menyusul mereka.
"Kenapa Zahra diam saja?" tanya Inggrid.
"Sejak keributan hari itu, Non Ayra memang jadi seperti ini, dia tidak melakukan apa pun, bahkan tidak makan dan minum."
"Apa maksudnya, dan kamu membiarkannya saja?"
"Saya selalu siapkan makanannya, saya juga buatkan beberapa makanan ringan, tapi Non Ayra tetap tidak mau, dia hanya tidur saja."
Inggrid melirik kemal, apa yang terjadi pada Zahra saat ini, Inggrid hanya akan menyalahkan putranya itu.
Dia bersalah dalam hal ini, entah bagaimana caranya agar Inggrid bisa memaafkan lelaki itu, bahkan meski ia memohon sekali pun.
"Kenapa melihat ku seperti itu?" tanya Kemal.
Kania menoleh, seharusnya Kemal diam saja tanpa bicara apa pun juga.
"Kamu lihat, ini ulah mu sendiri, seperti itu cara mu memperlakukan perempuan, pantas saja anak mu buruk karena ternyata Bian memang mewarisi sikap dan sifat mu."
"Diam," sela Kania.
"Tidak perlu ada lagi keributa kali ini, ayo kita pulang saja."
Kania menarik Kemal untuk pergi, tidak ada gunanya mereka di sana, lagi pula Kemal sudah melihat keadaan Zahra saat ini.
Inggrid memijat keningnya, pusing sekali hidupnya saat ini, kenapa masalah terus saja datang tanpa henti.
"Ibu baik-baik saja?" tanya Nur.
"Iya, saya baik-baik saja."
Inggrid kembali menatap Zahra, mengajaknya berbicara berharap akan mendapatkan jawaban.
Tok .... Tok .... Tok
Keduanya melirik pintu, Inggrid melirik Nur bermaksud untuk bertanya.
"Mungkin saja itu Den Damar."
"Lelaki itu masih disini?"
"Dia begitu khawatir dengan keadaan Non Ayra, apa tidak bisa Ibu izinkan dia untuk masuk dulu?"
Inggrid diam, kenapa lelaki itu masih saja berurusan dengan Zahra, bukankah urusan mereka sudah selesai.
Ketukan pintu itu terdengar kembali, Inggrid lantas meminta Nur untuk membukanya, biarkan saja Damar masuk untuk kali ini.
"Baik, Bu."
__ADS_1
Nur lantas membukakan pintu, dan memang benar itu Damar.
"Masuk, Den."
"Terimakasih banyak."
"Silahkan."
Damar lantas masuk, ia melirik Inggrid di sana, begitu jelas tatapan tidak sukanya itu, tapi Damar tidak bisa perdulikan itu sekarang.
Damar menghampiri keduanya, ia melihat Zahra yang masih memejamkan matanya, bukankah dokter sudah sampaikan jika kesadaran Zahra sudah kembali.
"Apa Ayra kembali tak sadarkan diri?" tanya Damar.
"Entahlah," ucap Inggrid.
"Sepertinya kita harus panggil Dokter lagi."
"Coba saja," ucap Nur.
Damar mengangguk, ia lantas beranjak, tapi Zahra seketika menahannya.
Damar menoleh, ia melirik mata Zahra dan tangan Zahra bergantian, matanya tetap terpejam tapi tangannya bergerak.
"Ayra," panggil Damar.
Perlahan mata itu terbuka, Damar melirik dua orang itu sesaat, ia tersenyum melihat Zahra yang mau membuka matanya.
"Are you oke?" tanya Damar senang.
Zahra melirik boneka dalam dekapan Damar, ia mengingat boneka itu, Damar mengikuti arah pandang Zahra dan segera memberikan bonekanya.
"Dia mencari mu, dia menunggu mu, dia berharap kabar dari mu, dia begitu kesal karena kamu tidak juga menjemputnya."
Zahra menerimanya, setelah puas menatap bonekanya, Zahra perlahan tersenyum, ia teringat perjuangan Damar saat mendapatkan boneka tersebut.
"Dia marah, dia sudah minta dikembalikan pada komplotannya, tapi aku menahannya dengan seribua rayuan."
Zahra menoleh, berusaha mempertahankan senyumannya, saat air mata mulai menggenangi pelupuk matanya.
"Dia merindukan mu, aku tahu kamu juga merindukannya, makanya aku bawa dia menemui mu, kamu harus tahu kalau dia sangat senang."
Zahra berpaling, ia memeluk boneka tersebut, Damar kembali melirik dua orang itu, dan mengangguk saat sadar Inggrid tengah menatapnya.
"Aku bisa pergi sekarang," ucap Damar.
"Saya harus istirahat, kepala saya sakit, tolong temani Zahra untuk sebentar saja."
Damar diam, kalimat Inggrid cukup membuat Damar tidak nyaman, mungkin saja wanita itu terpaksa dengan perkataannya.
"Non Ayra belum makan sejak beberapa hari,,Bibi tidak mampu membujuknya untuk makan selama itu," ucap Nur.
"Tidak masalah, biar aku coba membujuknya."
Nur tersenyum, respon Zahra terhadap Damar cukup baik dibanding terhadap mereka semua.
Semoga saja Damar bisa membuat Zahra lebih baik lagi, karena pasti masih ada satu sisi yang bisa membuat Zahra lebih tenang.
"Bawa saya kembali ke kamar," ucap Inggrid.
"Baik, Bu."
Nur memutar kursi rodanya, dan mendorongnya keluar, mungkin saja Inggrid butuh pemeriksaan lagi saat ini.
Damar kembali melirik Zahra, kedua matanya kembali terpejam, ia begitu nyaman memeluk bonekanya.
"Ayra, kamu tahu, dia selalu menemani aku makan di rumah, dan itu membuat ku sangat lahap makan, dia berpesan kalau sekali-kali dia mau temani kamu makan juga."
__ADS_1
Zahra tak merespon, ia bertahan dalam sikap batunya lagi, Damar mengangguk dan menarik kursinya untuk duduk.
Damar berkutat dengan ponselnya dan membiarkan Zahra dengan keinginannya, beberapa saat lagi Damar akan kembali mengganggunya.