Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Bertemu


__ADS_3

"Ini mau kemana sih, jauh banget ah."


"Kenapa sih berisik banget kamu ini."


Zahra berdecak tanpa menjawab lagi, kini keduanya tengah menikmati perjalanan, Bian sejak tadi mengendarai mobilnya seperti tanpa tujuan.


Zahra sudah mulai bosan berada di dalam mobil tersebut, kapan Bian akan menghentikannya, dan dimana mereka akan berhenti nanti.


Bian melihat di sampingnya, akhirnya mobil Kemal terlihat juga di sana, mereka akhirnya pergi bersamaan dengan mobil berbeda.


"Ingat ya, nama kamu nanti Ayra, jangan sampai salah."


"Iya, aku ingat, itu kan memang nama aku, mana mungkin aku lupa."


"Bagus kalau kayak gitu."


Zahra mendelik tanpa mengatakan apa pun lagi, kenapa harus seperti itu, lagi pula Zahra juga sudah terbiasa dengan sebutan Ayra.


Dua mobil itu berhenti di salah satu halaman rumah, memang luas dan bangunannya pun begitu mewah.


Zahra akui itu memang lebih besar dibanding dengan rumahnya, tapi biarkan saja Zahra tidak peduli dengan itu.


"Ayo keluar," ucap Bian.


Zahra melihat Kemal dan Kania yang keluar dari mobil di sebelahnya, mereka juga datang, kenapa Bian tidak katakan soal itu sejak tadi.


"Ayo turun, kebanyakan bengong."


"Papah kamu juga ikut."


"Ya ikutlah, ini kan mau ketemu sama Nenek, Mamahnya Papah."


Zahra mengangkat sebelah alisnya sekilas, masa bodoh mau ketemu siapa, Zahra hanya malas saja menghadapi mereka berdua.


Zahra yakin jika Kemal masih marah padanya, dan Zahra tidak ingin ada masalah lagi kali ini.


"Ayo turun, perlu aku gendong?"


"Jangan macam-macam."


"Ya sudah makanya."


Keduanya lantas keluar, Zahra tersenyum hormat pada Kemal dan Kania di sana, sesuai dengan terbakan Zahra jika kemal memang mengabaikannya.


Hanya Kania yang dengan senang hati membalas senyuman Zahra, sedangkan Kemal berlalu begitu saja meninggalkan mereka.


"Cantik sekali kamu," ucap Kania.


"Terimakasih, Tante."


"Ayo kita masuk."


Zahra mengangguk dan mengikuti Kania bersama dengan Bian, mereka memasuki rumah dan melihat Kemal bersama seorang wanita di sana.


Wanita itu tidak terlalu tua, dan memang terlihat masih sangat fresh.

__ADS_1


"Bian," sapa Inggrid.


Bian tersenyum dan salam padanya, Bian melirik Zahra dan memintanya untuk melakukan hal yang sama.


Zahra sedikit mendekat dan turut menyalami Inggrid.


"Siapa kamu?" tanya Inggrid.


"Ayra."


"Ayra."


Inggrid tersenyum dan terdiam meneliti Zahra, Zahra memang perempuan pertama yang dibawa Bian ke hadapannya, setelah sebelumnya Inggrid mendengar tentang Sintia, tapi sekarang justru Ayra yang berdiri di hadapannya.


"Cantik," ucap Inggrid seraya mengusap pundak Zahra.


Zahra tersenyum dan melirik Bian, lelaki itu tampak menatapnya tanpa celah, apa mungkin jika Bian akan melupakan perjanjian mereka, dan akan mencintai Zahra lebih dari semuanya.


"Ayo duduk, duduk saja kita ngobrol ya."


Mereka mengangguk dan mengikuti Inggrid untuk duduk, Inggrid meminta mbak rumah untuk membawakan suguhan bagi mereka semua.


"Kenapa tidak kasih kabar dulu kalau mau datang?" tanya Inggrid.


"Bian juga mintanya dadakan, Mamih." ucap Kania.


Inggrid mengangguk dan kembali melirik Zahra, sepertinya Inggrid suka dengan wanita yang dibawa ke hadapannya saat ini.


"Sebentar, Oma mau tebak, ini pasti calon istri kamu kan, Bian?"


"Kalian mau menikah kapan?"


"Secepatnya."


Mereka melirik Bian dengan kompak, begitu juga dengan Zahra, bukankah Zahra juga mengatakan akan menikah minggu depan pada pekerja salon itu.


Dan sekarang pun Bian mengatakan akan menikah seceparnya dengan Zahra, apa itu pertanda jika memang mereka akan segera bersatu.


"Oma setuju, bagaimana kalau minggu depan?"


Zahra mengernyit, itulah kalimat yang sama dengan yang diucapkannya tadi, tapi tidak mungkin bisa secepat itu karena yang akan mereka langsungkan adalah pernikahan, bukan lamaran.


"Mamih tanya dulu, siapa wanita itu, dan dari mana asal usulnya," ucap Kemal.


Inggrid menoleh, kenapa seperti itu, lagi pula kan Bian yang memilih dan sudah pasti gak akan sembarangan.


"Papah ngomong apa sih?" tanya Bian.


"Kenapa, memang benar kan, kami saja tidak mengenal wanita itu, bagaimana bisa kita menikahkan kalian begitu saja."


Inggrid melirik Bian, apa maksudnya tidak mengenal, lalu bagaimana bisa Bian memutuskan untuk menikahi wanita itu.


"Apa maksudnya, Bian?" tanya Inggrid.


Bian menoleh, apa maksudnya apa, Bian harus jelaskan apa.

__ADS_1


"Dia bukan calon istri kamu?"


"Ayra pilihan aku, dan aku mau menikahi Ayra, tidak perlu lama, kalau memang Oma setuju minggu depan, Bian tidak ada masalah."


Zahra menelan ludahnya dengan susah payah, apa maksud Bian, kenapa harus secepat itu memutuskan pernikahan.


"Tapi, kenapa Kemal berkata seperti itu?"


"Papah memang tidak mengenal Ayra, selama ini Bian memang tidak pernah mengenalkan Ayra pada mereka."


"Kenapa seperti itu?"


"Ya karena pada akhirnya kita akan bertemu juga, yang terpenting adalah Bian mau menikah, Bian siap menikah seperti permintaan Oma kan."


Inggrid mengangguk perlahan, itu memang benar, Inggrid memang tidak menentukan standart wanita yang harus jadi istri Bian.


Inggrid hanya ingin Bian segera menikah, sebelum Inggrid percayakan perusahaan padanya, dan sepertinya Bian tidak sembarangan memilih wanita.


"Silahkan, jamuannya."


Mereka melihat mbak rumah yang menata suguhannya di meja, setelah itu mbak rumah kembali pergi meninggalkan mereka semua.


"Ayo silahkan diminum, Ayra ayo minum."


"Iya, Oma."


Mereka dengan kompak mengambil gelasnya masing-masing, dan meneguk minumnya.


Kemal melirik Zahra yang kebetulan melirik Kemal juga, Zahra seketika berpaling saat tatapannya bertemu dengan tatapan Kemal.


Kemal sedikit tersenyum dan menggeleng, entah apa yang difikirkan tentang Ayra saat ini, yang jelas sikap Ayra membuat Kemal merasa lucu.


"Bagaimana Oma, Oma setuju kan Bian sama Ayra?" tanya Bian.


Inggrid diam, kalimat Kemal tadi telah mengusik fikirannya saat ini, mungkin saja Ayra bukan wanita baik sehingga Kemal berkata seperti itu.


"Bian tidak akan salah memilih, Bian yakin Ayra akan jadi wanita kesayangan Oma."


"Apa benar seperti itu?" tanya Kemal.


Mereka menoleh bersamaan, ada apa dengan Kemal, kenapa harus seperti itu saat seperti ini.


"Papah, sudahlah," ucap Kania.


"Papah hanya mengingatkan Mamih saja, kalau memang setuju ya silahkan saja."


"Memangnya kamu tidak setuju?" tanya Inggrid.


"Gak, aku gak setuju, aku gak tahu siapa dan dari mana wanita ini, dia tiba-tiba datang dan langsung diperkenalkan sebagai calon istri Bian."


"Pah, namanya Ayra, dan Bian sudah jelaskan semuanya," ucap Bian.


"Jelaskan apa, kamu hanya katakan kalau kamu menyukai dia, dan kamu mau menikahi dia, itu saja kan."


"Ya itu memang benar."

__ADS_1


Zahra mengusap tangan Bian, tidak perlu berdebat saat ini, Zahra tidak mau dianggap sebagai penyebab keributan mereka.


__ADS_2