Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Percayalah


__ADS_3

Mereka sudah tidak sabar menantikan Bian keluar dari dalam sana, Kemal, Kania, Vanessa, Sintia, Damar dan Dion, mereka ada di sana sekarang.


Mendengar kebebasan Bian akan ada hari ini, mereka begitu semangat untuk menjemputnya, tapi tetap saja Zahra tidak terlihat ada diantara mereka.


Meski begitu, tak lantas mengurangi kebahagiaan mereka atas kebebasan yang akan Bian dapatkan.


"Aku datang," ucap Bian.


Mereka menoleh bersamaan, panantian yang dirasa begitu panjang akhirnya usai, lelaki itu ada di depan mereka sekarang.


"Inilah yang seharusnya terjadi sejak lama," ucap Damar.


Bian menoleh, ia merasa heran kenapa lelaki itu ada diantara mereka, siapa dia.


"Syukurlah, kamu sudah kembali bebas sekarang," ucap Kemal.


"Jangan mengulang kesalahan mu lagi, atau hukumannya akan lebih berat dari pada kemarin," ucap Sintia.


Bian mengangguk, ia lantas memeluk mereka bergantian, bahkan meski Bian tidak tahu siapa Damar, ia tetap saja memeluknya.


"Jadilah lebih baik," ucap Sintia.


Bian tersenyum, ia melirik Sintia dan Vanessa bergantian, tanpa ragu Bian memeluk keduanya bersamaan.


Sintia tampak tersenyum dengan pelukan itu, tapi Vanessa terlihat kesal karena ia harus membagi pelukan Bian dengan sepupunya itu.


"Ayra mana?" tanya Bian melepaskan pelukannya.


Tak ada yang menjawab, sejak awal mereka tidak melihat Ayra, dan tidak ada kabar apa pun darinya.


"Apa dia menyesal dengan keputusannya, aku bisa balik masuk kalau dia menyesal."


"Mana bisa seperti itu, dia sedang menunggu mu di rumah," ucap Damar.


Bian kembali diam menatap Damar, lelaki itu tahu Zahra, bukankah Damar yang sempat dilihatnya saat pertengkaran hebat kala itu.


Bian tidak mendapatkan penjelasan apa pun tentang lelaki itu, tapi sepertinya Zahra menyukainya.


"Tidak perlu banyak bicara, ayo kita pulang sekarang, kita akan lihat Ayra dan kita akan berbahagia disana," ucap Kania.


Mereka mengangguk setuju, setelah berbincang beberapa candaan, mereka lantas pergi meninggalkan tempat menyebalkan itu.


Mereka akan merayakan kebebasan Bian dengan makan besar, dan sudah seharusnya mereka menikmati itu.


 


"Non Ayra, semuanya sudah siap, mungkin mau dilihat dulu, takutnya ada yang kurang."


Pintu terbuka, Zahra sedikit tersenyum melihat Nur dibalik pintu.


"Silahkan, Non."


"Tidak perlu, kalau memang sudah selesai, tinggal menunggu mereka datang saja."


"Non Ayra tidak keluar?"


"Tidak, kepala ku sakit, aku mau di kamar saja, sebaiknya Bibi bersama mereka disana."


Nur mengangguk, itu bukan masalah, Nur akan membantu mereka.


Tapi Nur tidak melihat jika Zahra baik-baik saja, wanita itu tidak tampak bahagia bahkan setelah suaminya dibebaskan.

__ADS_1


"Perlu Bibi panggilkan Dokter?"


"Tidak, aku tidak apa-apa, jangan khawatir."


"Tapi Non Ayra tidak terlihat baik-baik saja."


"Tidak, sudahlah, Bibi sebaiknya turun, mereka akan sampai sebentar lagi."


Nur kembali mengangguk, ia lantas pamit dan kembali turun, mungkin Zahra akan turun saat mereka datang nanti.


Nur berharap itu benar, agar Nur bisa melihat Zahra senang, bukankah mereka begitu senang saat tahu Bian akan dibebaskan.


"Bibi, Bian pulang," teriak Kania.


"Welcome back home," teriak Dion.


Nur berlari menghampiri mereka semua, ia tersenyum melihat Bian, lelaki itu memang tampak buruk, tapi yang penting sekarang Bian sudah bebas.


Bian tersenyum, ia lantas memeluk Nur beberapa saat, tentu saja Bian juga merindukan mbak rumah satu itu.


"Selamat datang kembali, Den," ucap Nur.


"Terimakasih banyak."


Nur mengangguk, ia mempersilahkan mereka untuk masuk saja, pesanan Kania sudah disiapkan Nur sejak tadi.


Mereka semangat untuk segera sampai di meja makan, tapi Bian tampak bertahan di tempatnya.


"Ayra mana?"


"Non Ayra di atas, sepertinya dia sedang sakit sekarang."


"Benarkah?"


Bian mengetuk pintu dan membukanya perlahan, ia melihat Zahra yang duduk di depan meja rias sana.


Zahra juga melihat kedatangan Bian dari cermin di depannya, ia tetap diam saat Bian berjalan mendekatinya.


Gemuruh dijantungnya tidak bisa dihindari, entah harus diartikan seperti apa perasaan Zahra saat ini.


"Ayra, aku kembali, kamu tidak menyambut ku sama sekali, apakah itu artinya kamu menyesal dengan keputusan mu?"


"Aku tidak bisa menyesali apa pun, mereka lebih menginginkan mu dari pada aku."


"Aku tidak bisa berfikir seperti itu, bahkan meski sedikit saja."


Zahra memejamkan matanya saat Bian membungkuk dan memeluknya, untuk apa seperti itu, Zahra tidak menginginkan itu.


"Kamu takut dengan ku?"


Tak ada jawaban, mungkin Bian sudah tahu jawabannya sendiri.


Bian mengeratkan pelukannya, bukankah ia sudah mengatakan jika rindunya cukup besar untuk Zahra.


"Aku minta maaf, aku tahu kalau kamu masih berfikir aku berbohong, tapi aku tidak sedang berbohong saat ini."


Zahra membuka matanya, ia melepaskan pelukan Bian dan bangkit dari duduknya.


Bian terlihat mundur, ia tidak akan membiarkan Zahra pergi darinya lagi, mau bagaimana pun Bian akan berusaha membuktikan ucapannya.


"Kamu sebaiknya bersama mereka sekarang, bukan disini."

__ADS_1


"Aku kesini untuk mengajak mu bergabung, kamu sudah membuat aku ada disini, jadi kita harus sama-sama."


"Aku tidak mau, aku mau tidur sekarang, kepala ku sakit."


"Kalau begitu biar aku pijat."


Zahra menggeleng, ia membalik tubuh Bian dan mendorongnya hingga ke pintu.


"Kamu temui mereka, aku mau tidur."


Zahra membuka pintunya, tapi Bian kembali menutupnya, ia menarik Zahra agar bersandar di pintu tersebut.


Apa Bian terlihat begitu menyeramkan, kenapa Zahra seperti berusaha menghindarinya.


"Aku bisa kembali ke sel kalau kamu menyesal, aku sudah katakan itu."


"Jangan terus mengulang kalimat yang sudah aku jawab sebelumnya, itu hanya membuang waktu."


"Lalu aku harus bicara apa, aku mengatakan rindu pun kamu tidak percaya."


Zahra menunduk, ia hanya ingin Bian diam saja dan segera pergi dari pandangannya.


Zahra sudah katakan kalau ingin tidur, apa lagi yang sulit dimengerti dari ucapannya itu.


"Ayra."


Zahra menoleh, ia semakin merapatkan tubuhnya ke pintu, kedua tangan Bian menguncinya di sana.


"Aku sudah bilang, tolong keluar, aku mau tidur."


"Dengar baik-baik, semua hal buruk yang aku lakukan, mungkin masih sangat kuat diingatan mu hingga menghilangkan semua kepercayaan mu, tapi jika kamu tidak merubah keputusan mu untuk membebaskan ku, aku akan berusaha membuktikan kalau aku tidak akan lagi mengecewakan mu."


Zahra diam, dua pasang mata itu bertemu dalam jarak yang tak berarti, bagaimana bisa Zahra tidak percaya padanya, sampai saat ini kepercayaan masih sama, Zahra masih bodoh untuk membedakan bohong dan jujurnya Bian.


"Bukankah selalu ada kesempatan untuk seseorang berubah, entah itu perubahan buruk atau pun perubahan baik, kamu pasti mengerti itu."


Zahra tetap diam, perasaannya yang amat kacau cukup untuk membungkam mulutnya.


Zahra ingin marah, ingin berlaku kasar padanya, tapi semua itu masih kalah oleh perasaan rindu yang ada untuknya.


"Ayra, sekali saja, katakan kalau kamu juga merindukan aku, aku pernah dengar itu dari Mama, tapi aku mau kamu sendiri yang mengatakannya."


Semakin tak terkontrol, sisi baik dan sisi buruk Zahra beradu, berkecamuk menekan dirinya saat ini, kepalanya semakin sakit dirasakannya.


"Katakan, sekali saja kamu katakan, aku akan pergi setelahnya, aku janji."


"Pergi."


"Satu kalimat saja, atau paling tidak kamu jawab pertanyaan ini, kamu merindukan ku?"


"Bian, pergi."


"Hanya satu kata saja, apa itu sulit, kamu terlalu berbelit."


Zahra memejamkan matanya, menghela nafasnya panjang, pandangannya mulai kabur sekarang.


"Zahra, apa kamu merindukan ku?"


"Iya."


Bian tersenyum, seperti itu harapannya, dan Zahra mengabulkannya.

__ADS_1


Bian menyentuh pipi Zahra, perlahan ia mencium keningnya hangat, sentuhan itu perlahan menghilangkan gemuruh amarahnya terhadap Bian.


Zahra memang masih lemah, atau mungkin akan selamanya lemah jika dihadapkan dengan Bian.


__ADS_2