
Bian kembali bersama Dion dan juga Sintia, dua orang itu tak sengaja bertemu Bian dan memutuskan untuk ikut saja.
Mereka ingin menjengkuk Inggrid juga, terutama Sintia yang belum pernah menjenguknya sejak awal.
"Oma, ada Sintia ...."
Kalimat Bian tak selesai, ia terdiam melihat mereka semua di sana, Zahra dan dua polisi itu.
Sintia dan Dion saling lirik, wanita itu sudah berhasil ditemukan sekarang, beruntung sekali karena mereka bisa langsung melihat Zahra dikedatangannya pertama.
"Zahra, kamu sudah kembali."
Zahra tak bergeming, ia bahkan tak menoleh sejak pertama mendengar suara Bian.
Lelaki itu segera menghampiri, ia jongkok dan memeluk Zahra yang terduduk di depannya, sama halnya dengan Inggrid tadi pelukan Bian juga terasa begitu erat.
Dion tampak berpaling karena hal itu, rasa keberatannya kembali kuat saat melihat Bian dan Zahra.
"Jangan lagi pergi, apa kamu tidak memikirkan kami disini," ucap Bian.
Tak ada respon, Zahra hanya diam saja, hal seperti ini tak lagi berarti baginya sekarang.
Inggrid melirik mereka berdua, tentu saja sikap Dion bisa dimengertinya, dengan begitu Inggrid bisa menyimpulkan sendiri apa yang melintas difikirannya.
"Maaf, kalau begitu kami permisi," ucap polisi.
Mereka menoleh bersamaan, Zahra seketika mendorong Bian dan bangkit dari duduknya.
"Saya ikut," ucap Zahra.
Bian dan Inggrid bangkit bersamaan, apa maksudnya kalimat Zahra.
"Kami sudah membawa Ibu kembali, dengan begitu tugas kami sudah selesai."
"Saya tidak mau disini, Bapak tidak tahu apa yang saya alami disini, saya bisa saja melaporkan mereka semua."
Sontak saja kalimat Zahra membuat pemikiran dua polisi itu kabur, mereka tahu tentang data diri Bian yang sempat ditahan karena kasus KDRTnya.
Zahra menunduk sesaat, bagaimana caranya agar ia bisa benar-benar bebas dari mereka, sekarang tak ada lagi sedikit pun niat untuk bertahan.
"Pak, kami akan bicarakan ini terlebih dahulu," ucap Bian.
"Ini masalah keluarga, kami akan berusaha sebaik mungkin," tambah Inggrid.
Polisi itu hanya mengangguk, mereka tidak akan bergerak tanpa perintah, tugas mereka saat ini telah usai jadi tidak ada lagi urusan di sana.
Mereka lantas pamit dan pergi meninggalkan mereka semua, mereka akan kembali bergerak saat tugasnya diharuskan.
__ADS_1
"Zahra, aku ...."
"Aku memang salah, kepergian ku kurang jauh, aku tidak ingin kembali tapi mereka menemukan ku, aku akan pergi lagi."
"Jangan, jangan pernah lakukan itu, aku akan berubah bukankah aku sudah katakan itu."
Zahra diam, ia melirik Sintia dan Dion di sana, dua orang itu apa tidak bisa membawa Zahra pergi.
Dion, lelaki itu apakah tak lagi menginginkan dirinya, Zahra akan berterimakasih jika mereka bisa membawanya pergi.
"Zahra, Oma memang bersalah karena tidak bisa membantu mu kala itu, tapi Oma tidak pernah mau kamu pergi seperti kemarin."
"Lalu Oma mau aku seperti apa, diam disini dengan dia, dengan orang yang sama sekali tidak mampu berubah."
Mata Zahra seketika panas, emosinya mulai naik karena keadaannya sendiri.
Kali ini Inggrid tidak lagi mampu untuk mempertahankan sisi baiknya, Zahra sudah turut merasa kecewa terhadapnya.
"Zahra ...."
"Diam, aku tidak pernah berfikir lagi untuk memaafkan mu sekarang."
"Kebencian mu terhadap Bian, apa akan diberlakukan juga untuk Oma?" tanya Inggrid.
"Iya," ucap Zahra tegas.
"Oma hanya semakin melemahkan aku, memikirkan Oma hanya berimbas pada penderitaan ku saja, apa Oma tidak mengerti itu?"
Sintia melirik Dion, fokus lelaki itu tak sedikit pun berpaling dari Zahra, mau bagaimana lagi mungkin memang harapan itu masih ada.
"Kalian semua hanya menjebak ku disini, kalian membawa ku kesini, mengurung ku disini dan memperlakukan ku dengan tidak adil disini, apa kalian merasa sehebat itu?"
Zahra dengan cepat mengusap air matanya yang melintas di pipi kirinya, Zahra harus kuat, tidak boleh lagi lemah dan itu harus dibuktikannya.
"Zahra, untuk semuanya aku ...."
"Aku tidak mau mendengar mu lagi."
"Tapi apa pun alasannya kita tetap harus bicara."
"Kamu fikir itu berarti, berbicara dengan mu sama sekali tidak ada artinya, semua hanya omong kosong."
Bian mengangguk perlahan, sudah seharusnya Bian membiarkan Zahra dengan emosinya saat ini.
Bahkan Inggrid pun membiarkannya saja, wanita itu selalu mampu membuat Zahra mengerti, tapi sepertinya kali ini tidak lagi.
"Kamu ingin aku disini, aku akan disini tapi hanya untuk menyelesaikan semuanya, tidak akan ada lagi permintaan dari ku, aku akan berjalan dengan keinginan ku sendiri."
__ADS_1
"Zahra," panggil Sintia.
Zahra menoleh, Sintia yang memanggilnya tapi mata Zahra justru tertarik untuk menatap Dion.
"Kemarahan tidak akan memberi hasil terbaik, kamu baru saja datang sebaiknya kamu istirahat dulu dan kembali berfikir nanti," ucap Sintia.
Zahra berpaling, bahkan sampai Sintia selesaikan kalimatnya, Zahra tak sedetik pun melihatnya.
Apa yang difikirkannya, kenapa Zahra justru berfikir hal lain tentang Dion.
"Aku tidak perlu istirahat, ini pemikiran ku, ini keputusan ku dan jangan coba untuk merayu ku lagi."
"Tapi Zahra, aku tidak ...."
"Berhenti, semakin banyak bicara, kamu hanya membuat ku semakin muak."
Zahra berlalu dari semuanya, ia pergi kearah pintu keluar, jelas saja jika wanita itu akan pergi lagi.
"Zahra," panggil Sintia dan Dion bersamaan.
Tanpa buang waktu, Dion berbalik dan menyusulnya, pergerakan Dion jelas saja membuat fikiran Bian kabur.
Dengan segera ia beranjak dari tempatnya, tapi Sintia justru menahannya juga.
"Tidak ada gunanya, kamu dengan perkataan Zahra, semakin kamu banyak bicara dia akan semakin muak dengan mu, itu artinya dia tidak mau melihat mu atau sekedar mendengar suara mu."
"Lalu aku harus biarkan lelaki itu yang mendekatinya?"
"Disini hanya perlu kepercayaan, utamakan kepercayaan mu pada mereka berdua, semua akan baik-baik saja."
Bian menepis tangan Sintia, ia berbalik dan pergi menaiki tangga rumahnya.
Sintia menggeleng, ia berjalan menghampiri Inggrid di sana, wanita tua itu mendadak duduk saat Sintia menyentuh pundaknya.
"Dia bahkan membenci Omanya sendiri," ucap Inggrid.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku rasa kali ini Zahra akan benar-benar membuktikan ucapannya."
Sintia turut duduk, ia menatap Inggrid yang bertahan dengan tatapan kosongnya itu.
Sintia mengangguk paham, tapi mau bagimana pun Zahra memang memiliki hak pilihannya sendiri.
"Kita yang mengakui menyayangi Zahra, tidak akan selamanya dan sepenuhnya bisa mengatur dia, Oma, Zahra juga memiliki hak hidupnya sendiri dan kita harus mengerti itu."
"Lalu saya harus melepaskannya."
"Cerita hidup tidak ada yang tahu, bahkan untuk hari esok kita tidak tahu, terkadang rencana hari ini untuk hari esok belum tentu terjadi, Zahra akan berfikir keras untuk semuanya dan hasilnya nanti kita hanya harus menerimanya."
__ADS_1
"Dia tidak punya siapa-siapa."
"Pemikiran itu yang membuat Zahra bertahan selama ini, tapi sekarang dia sadar bahwa dengan memiliki kita semua, tak lantas membuat kehidupannya sempurna bahkan merasa indah sedikit saja sepertinya tidak."